Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
19. kegelisahan Armand


__ADS_3

"Jadi gitu? Hem, padahal ini masih siang, ya. Bisa bisanya mereka muncul dan mengubah wujudnya," ucap Sule.


"Tapi kenapa berubah jadi gue sih? Kenapa nggak Sule, Dolmen, atau yang lain kek gitu!" hardik Derry seakan akan tidak terima dengan apa yang terjadi.


"Ya mana gue tahu!" cetus Armand.


"Tapi ngomong ngomong soal Pak Sobri, dia lagi ngapain di goa itu, ya?" tanya Ike.


"Iya, kenapa kamu nggak lihat aja tadi, Man? Malah kabur! Kan tinggal sedikit lagi," timpal Khusnul.


"Heh! Dibilang gue takut!" tukas Armand.


"Tumben bener lo penakut!"


"Iya, karena gue masih manusia. Masih punya rasa takut!"


"Udah udah. Nggak usah berdebat. Kita bahas dulu soal Pak Sobri," tandas Khusnul.


"Gimana kalau kita ke goa itu aja?" tanya Sule.


Pertanyaan Sule membuat teman temannya yang lain beralih menatapnya. Mereka melotot dengan ekspresi serius.


"Gila lo! Mau ngapain?" tanya Mey.


"Iya ih. Serem tahu! Nggak mau ah!" sahut Indy.


"Kalian aja kalau gitu. Aku mending masak makan malam buat kalian nanti. Itupun kalau kalian pulang," tambah Rahma.


"Eh, tapi bener juga tuh. Kita harus coba ke sana! Sekarang gini ya, bayangin aja deh kalian. Selama ini kita udah percaya banget sama yang namanya Pak Sobri. Selama ini pun kalau kita kesulitan tentang makhluk halus, kita pasti lari ke dia. Tapi kalau tiba-tiba dia benar-benar melakukan sesuatu di tempat itu artinya...." kalimat Dolmen belum tuntas ia ucapkan. Dia menatap teman temannya untuk melihat reaksi mereka semua.


"Artinya bisa aja banyak hal. Yang jelas itu urusannya dia, bukan urusan kita! Jadi lebih baik kita nggak usah ikut campur sama urusan orang lain!" pekik Fendi dengan wajah serius.


"Tapi, Fen. Kalau ternyata dia melakukan ritual-ritual aneh di goa itu gimana? Bisa aja semua ini memang ulah Pak Sobri sejak awal. Karena di desa ini yang bisa ngerti mengenai makhluk halus dan semacamnya itu kan cuma dia? Jadi bisa aja kan kalau ternyata selama ini dia yang membuat perjanjian dengan iblis atau mungkin dia memanggil setan-setan ke desa ini?" tanya Cendol.


"Untuk apa dia memanggil setan ke desa ini? Nggak ada untungnya!" sahut Fendi lagi.


"Loh siapa tahu! Lo tahu kan, yang namanya dukun di kota itu masih laku banget apalagi di desa seperti ini. Apalagi di sini masih kenal banget sama yang namanya mistis dan sesajen. Siapa tahu dengan banyaknya hal hal mistis, membuat dia laku sebagai dukun?"


"Tapi yang saya tahu, dia nggak pernah mematok uang untuk mengobati seseorang. Jadi alasan kalian itu nggak masuk akal!" tegas Fendi dan membuat teman temannya diam.


"Udah. Kita pulang aja dulu. Udah sore," kata Armand sambil melirik ke Fendi.


Proker tersebut pun berakhir saat matahari hampir tenggelam. Seluruh orang yang ikut andil dalam pembangunan sumur dan kamar mandi akhirnya meninggalkan tempat itu. Begitu pun dengan para mahasiswa kkn. Semua pulang ke tempat masing masing.


"Langsung ke sungai aja kali, ya. Sebelum gelap. Kotor banget nih gue!" hardik Dolmen.


"Iya. Ambil peralatan mandi dulu lah, baru ke sungai," sahut Sule.


"Kamu ikut mandi, Yang?" tanya Derry pada Ike.


"Enggak ah. Besok pagi aja."

__ADS_1


"Iya, masa mandi bareng kalian, enak di kalian dong!" cetus Indy.


"Ye, kalian juga enak, liatin kita mandi!" sahut Dolmen.


"Kita mandi besok aja deh. Udah mau gelap. Sekalian siapin makan malam aja. Kalian aja yang mandi, kan badan kalian kotor semua tuh," ucap Rahma.


"Iya bener. Udah kalian aja sana. Tapi jangan lama lama. Serem," sahut Khusnul.


"Iya."


Setelah sampai rumah, para pria langsung mengambil handuk, pakaian ganti, dan peralatan mandi lainnya. Mereka segera pergi ke sungai, karena tubuh mereka yang kotor setelah ikut proker pembuatan sumur tadi. Sekalipun mereka sudah cuci tangan dan kaki sebelum pulang, tapi tetap saja tubuh mereka perlu mandi karena kotor dan berkeringat.


Alhasil di rumah hanya tinggal para gadis. Mereka lantas membereskan rumah dan memasak untuk makan malam nanti. Sebelum pulang, ada warga yang memberikan jagung, singkong dan ubi untuk mereka.


"Eh, gimana kalau nanti malam kita bakar bakaran aja?" tanya Rahma.


"Iya ya. Hitung hitung refreshing setelah kita penat sama urusan kkn," sahut Mey.


"Iya. Bener bener. Pasti seru!" tukas Indy.


"Oke. Siapin aja bahan bahannya. Nanti kalau mereka udah pulang, tinggal bikin api buat bakaran nya di luar," timpal Ike.


"Untung kemarin aku beli mentega sama saus sambal!" pekik Khusnul semangat.


Mereka pun siap siap untuk membuat acara bakar bakaran di luar. Tanpa alat pemanggang, hanya menggunakan tungku yang dibuat dari dua batu besar yang di satukan dan bagian tengahnya diberi ranting ranting dan kayu untuk bahan bakarnya. Mereka begitu antusias. Lepas dari kegiatan yang itu itu saja membuat mereka merasa bersemangat. Seakan akan apa yang mereka hendak lakukan bagai liburan singkat untuk melepas penat.


Di tempat lain, para pria sudah sampai di sungai. Mereka segera melepas pakaian dan hanya memakai celana pendek saja. Bahkan Cendol dan Dolmen tidak malu hanya memakai ****** ***** saja. Tubuh mereka kotor, karena hari ini semua turun tangan mengerjakan proker di sumur dan kamar mandi umum. Keringat setelah mencangkul di bawah terik matahari cukup membuat bau badan mereka tidak sedap lagi.


"Ngomong omong, goa nya di sebelah mana sih, Man?" tanya Derry sambil tengak tengok.


"Kenapa?"


"Nggak usah tanya kenapa. Nurut aja kali ini!" kata Armand tegas.


Sejak sampai di sungai, Armand tampak tegang tidak seperti biasanya. Teman temannya mengira kalau dia masih teringat dengan kejadian di goa pagi tadi. Mereka pun maklum dan tidak akan membahas hal itu saat ini. Apalagi di tempat yang sangat berdekatan dengan lokasinya.


Tiba tiba ada beberapa orang yang berjalan mendekati mereka. Tiga pria tua itu membawa ember dengan handuk yang disampirkan di bahunya. Dolmen berdeham sambil memberikan isyarat ke arah datangnya orang orang itu. Mereka sadar kalau salah satu yang datang adalah orang yang sedang menjadi perbincangan di antara mereka sejak tadi.


"Wah, baru pada mandi ini? Sudah selesai belum, Mas, pembuatan sumur nya?" tanya Pak Sobri dengan ramah seperti biasanya.


Sikap Pak Sobri inilah yang membuat mereka tidak langsung menilai pria tua itu dengan pandangan negatif di tengah gempuran gangguan makhluk halus selama ini.


"Eh, iya, Pak. Baru selesai untuk hari ini. Karena masih banyak yang harus diselesaikan," sahut Sule.


"Maaf ini, Mas. Saya nggak pernah ikut kerja bakti di sana. Soalnya ladang saya sudah mulai akan panen jadi saya agak sibuk. Ini saja saya baru selesai dari ladang, sama mereka ini," tunjuk Pak Sobri ke arah dua teman sebayanya.


"Oh, nggak apa apa kok, Pak. Lagi pula banyak yang bantu di sana. Bapak juga sibuk, jadi lebih baik urus ladang saja. Biar sumur dan kamar mandi umum jadi urusan kami," tambah Dolmen ikut menanggapi.


"Semoga cepat selesai ya, Mas."


"Iya, Pak. Terima kasih banyak," sahut Fendi.

__ADS_1


Pak Sobri menatap Fendi dengan dahi berkerut, dan hal itu ditangkap oleh Armand yang sejak tadi sengaja memperhatikan mereka berdua.


Matahari semakin turun dan cahayanya sudah mulai hilang. Acara mandi pun segera mereka akhiri, karena kebetulan semua sudah bersih dan siap untuk pulang.


"Kami pulang dulu, Pak. Assalam'alaikum," ucap Sule.


"Iya, hati hati. Waalaikumsalam."


Pak Sobri menatap kepergian mereka dengan tatapan penuh arti. Sementara Armand makin diliputi rasa cemas. Dia semakin tidak tenang. Hal pertama yang dia inginkan adalah agar Daniel bisa secepatnya kembali ke desa. Apalagi ini sudah hampir malam.


"Wah, ada apa ini?" tanya Derry begitu mereka sampai di halaman rumah.


"Kita bakar jagung, yuk! Tadi kan dikasih warga agak banyakan. Sekali kali bikin menu yang beda. Jangan dikukus terus, bosen!" kata Ike.


"Asyik! Udah disiapin semua nih?"


"Iya, tugas kalian yang bakar ini semua. Kita udah siapin bahan bahannya!" timpal Khusnul.


"Waduh, PR banget nih!" celetuk Cendol.


"Tenang. Saya jago bikin api kok," sahut Fendi.


"Eh, Fen. Sejak kapan gaya bahas lo berubah kayak si Daniel? Sok formal lo! Nggak cocok!" ledek Cendol.


Tapi Fendi tidak menjawab apapun, hanya menatap Cendol yang tertawa karena berhasil meledeknya.


Armand terus menatap Fendi dengan tatapan tajam. Hingga tiba tiba Derry menarik tangan Armand dan masuk ke dalam rumah. Mereka berdiri di dekat kamar para gadis.


"Ngapain sih?!" tanya Armand agak kesal.


"Lo kenapa sih, aneh banget? Ada apa? Cerita sama gue. Gue yakin banget kalau lo lagi mikirin sesuatu, kan?" tanya Derry.


"Ssst. Iya iya. Hem, jadi gini. Lo ngerasa aneh sama Fendi nggak sih?" tanya Armand sambil berbisik.


"Aneh? Kenapa emangnya?"


"Cara dia ngomong sama cara dia menatap. Beda. Nggak seperti Fendi yang biasanya!" tutur Armand.


Derry diam sambil menatap ke teras rumah di mana ada Fendi yang sedang mereka bicarakan.


"Oh, soal dia ngomong formal? Ah, paling sok sokan dia aja, Man. Dia kan kadang suka gitu. Apa yang aneh?"


"Oke, kalau menurut lo itu cuma buat gaya gayaan dia aja. Tapi, tatapan matanya beda, Der. Lo nggak ngerasain?" tanya Armand antusias.


Teman teman yang lain sibuk di teras guna mempersiapkan acara bakar bakaran. Sehingga tidak ada satu pun yang mendengar perbincangan mereka.


"Maksud lo dia kesurupan lagi? Tapi kalau kesurupan masa dia bisa setenang itu sih. Lihat, kan dia biasa aja, Man. Kalau kesurupan dia pasti udah marah marah, teriak teriak, bahkan melukai salah satu dari kita seperti sebelumnya."


"Ya kan bisa aja, kesurupan nya beda kelas. Nggak semua kesurupan bakal bertingkah brutal kali."


"Hem, kalau pun iya, gimana cara buktiin nya?"

__ADS_1


Mereka berdua diam sejenak sambil berpikir. Tiba tiba pintu dibuka. Keduanya langsung menoleh dan di sana ada Fendi yang masuk sambil membawa sebuah pisau. Armand dan Derry menelan saliva nya dengan wajah tegang.


"Fen, nga——ngapain lo?" tanya Derry.


__ADS_2