
"Rapat apa, Dit?" tanya Aretha saat Radit baru saja pulang dari kantor dan memberi kabar. Kalau dia akan segera pergi ke Balai pertemuan warga untuk membahas sesuatu.
"Itu, Sayang. Soal hilangnya Gibran kemarin malam. Kalau nggak salah tadi aku baca di grup RT akan ada informasi susulan mengenai hal itu. Jadi aku pikir aku juga harus ikut. Apalagi kita kan sekarang sudah jadi bagian dari warga desa sini. Gimana? Nggak papa kan kalau aku pergi ikut rapat sama warga desa yang lain?" tanya Radit meminta izin.
"Iya, nggak apa apa kok, Sayang. Nggak sampai tengah malam, kan?"
"Insya Allah enggak. Tapi, kamu beneran nggak apa apa kalau aku tinggal sekarang?"
"Iya, aku nggak apa apa. Lagian ini bukan malam selasa dan jumat kliwon, jadi rasanya lebih aman," tukas Aretha.
"Oke deh. Aku mau mandi dulu, nanti langsung ke sana."
Balai pertemuan warga memang sengaja dibuat untuk acara seperti ini. Baik itu arisan, rapat antar anggota atau pertemuan pertemuan lain yang bersifat umum. Tempat ini dibuat sekitar 5 tahun lalu oleh mahasiswa yang kkn di sana.
Kegiatan kkn mahasiswa memang sedikit banyak memberikan dampak positif bagi desa yang didatangi. Terlebih lagi desa itu termasuk agak terpencil dan sedikit jauh dari kota.
Semua warga sudah datang. Ada meja besar di ujung utara ruangan yang memanjang ke samping, dengan kursi kursi di belakangnya. Sementara di bagian tengah ruangan diisi dengan kursi kursi untuk warga desa yang hadir. Kursi dengan meja akan diisi oleh pengurus dan tetua desa.
"Mas Radit, ikut juga. Saya kira nggak ikut," ucap Ratno yang ternyata duduk di sampingnya.
"Iya, Mas Ratno. Kebetulan saya sudah pulang tadi. Jadi saya ikut," jelas Radit.
"Soalnya tadi pas saya pulang, Mas Radit belum di rumah, jadi saya pikir nggak ikut."
"Iya, nggak lama setengah masak Ratno pulang saya juga pulang ke rumah," tutur Radit.
Obrolan basa basi mereka terhenti setelah ketua RT memulai acara tersebut. Ucapan sambutan ditujukan untuk menyambut warga desa yang hadir malam itu. Dan Saat memasuki inti acara Pak RT pun mulai membahas Apa yang hendak diskusikan dengan warganya.
"Saya mengumpulkan semua warga desa di sini malam hari ini untuk membahas mengenai hilangnya Gibran beberapa hari yang lalu. Kita sudah dibantu oleh pihak kepolisian serta beberapa dari Pondok Pesantren untuk mencari keberadaan Gibran yang sampai sekarang belum diketemukan. Dan ternyata dari pihak keluarga Gibran akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi kepada anak tersebut."
Penjelasan dari Pak RT langsung mendapat tanggapan dari warga yang lain. Mereka saling tatap dengan ekspresi kecewa. Sekalipun Gibran bukan anak maupun saudara dekat mereka, tetapi tentu hilangnya Gibran membawa kesedihan mendalam bagi semua orang.
"Sebenarnya saya tidak dan belum ingin menyerah. Hanya saja kita juga tidak tahu kenapa harus mencari keberadaan Gibran. Apalagi kita semua tahu kalau kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di Desa kita, dan biasanya untuk orang maupun anak yang hilang dan tidak segera diketemukan dalam 24 jam pencarian, artinya anak tersebut kemungkinan besar tidak akan pernah ditemukan lagi. Sebenarnya saya berat mengatakan hal ini, tetapi itulah kenyataan yang harus kita Terima."
Tidak ada orang yang berkomentar. Mereka menayangkan hal itu, tetapi pada kenyataannya apa yang dikatakan Pak RT memang ada benarnya. Akhirnya hari itu, malam itu juga, warga desa pun menghentikan pencarian Gibran. Keluarga Gibran tidak ada yang hadir di pertemuan tersebut. Karena sudah diwakilkan langsung oleh Pak RT.
"Hem, kasihan sekali anak itu. Padahal Gibran itu anak baik. Pasti keluarga sangat terpukul dengan kejadian ini," ucap Ratno masih menatap ke arah depan.
Walau Ratno mungkin berbicara sendiri, tetapi Radit yang mendengarnya juga akhirnya memberikan komentarnya.
"Sudah berapa banyak anak yang hilang karena makhluk itu, Mas?" tanya Radit.
"Kalau tidak salah, totalnya ada sekitar 10 orang dalam 3 tahun terakhir ini."
"3 tahun terakhir? Memangnya sebelum nya tidak ada hal semacam ini, Mas?"
"Sebenarnya keberadaan jin ini sudah menjadi legendaris turun temurun. Dari saya kecil, orang tua saya selalu mengatakan kalau saya tidak boleh keluar saat petang, terutama saat magrib. Pintu dan jendela rumah juga harus ditutup sambil mengucapkan basmalah."
"Iya, nenek saya dulu juga sering bilang begitu, walau dulu saya masih menganut agama dan kepercayaan saya sebelumnya. Tetapi nasehat seperti itu ternyata bukan hanya berlaku untuk muslim saja."
"Oh, jadi Mas Radit mualaf?"
"Iya, Mas."
"Jin itu memang dipercaya kerap mengganggu anak kecil dan wanita hamil. Itu pun ada di dalam al Quran, kan?" tanya Ratno. Radit pun mengangguk setuju.
Ummu Sibyan adalah kaum jin dari jantina betina yang suka mengganggu bayi dan anak yang berusia kurang dari 2 tahun serta wanita hamil.
Sebab itulah anak-anak yang baru saja lahir harus diadzankan terlebih dahulu agar bayi itu tidak di ikuti oleh jin ini.
Kerja jin Ummu Sibyan adalah mengganggu bayi yang baru lahir dan anak-anak (biasanya kurang dari 2 tahun) serta wanita yang hamil.
Jin Ummu Sibyan memiliki wajah yang mengerikan dengan mata yang besar dan berjalan di dinding seperti cicak. Ummu Sibyan juga dapat mengikat rahim wanita serta membunuh bayi yang masih dalam kandungan.
Seperti yang di ceritakan dalam kisah βjin Ummu Shibyan Dengan Nabi Sulaiman ASβ, jin ini mengatakan ia bisa masuk dalam rahim seorang perempuan.
Bahkan dapat mengikat rahimnya serta menyumbat dengan tujuan agar perempuan itu tidak mengandung.
"Tapi ... Makhluk itu mulai muncul dengan wujud yang mengerikan seperti itu sekitar 5 tahun lalu. Kami mengira kalau hal semacam itu adalah efek dari kejadian yang terjadi di desa sebelah. Mas Radit pasti tahu, kan?"
"Iya, Mas. Saya paham. Tapi itu artinya jin tersebut memang sengaja datang ke desa ini untuk meneror warga. Begitu, kah?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Kami sudah melakukan banyak hal untuk melindungi desa dari jin tersebut. Segala macam upaya sudah dilakukan. Mulai dari pengajian, doa bersama dan rukiyah sudah kami lakukan. Memang itu membuahkan hasil. Setelah ada pengajian, doa bersama atau pun rukiyah, desa ini tenang, aman dan tentram. Tapi itu hanya berlaku sebentar saja. Jin itu akan kembali lagi. Meneror kami semua."
"Lalu mengenai peraturan yang menyebutkan kalau jin itu hanya keluar saat selasa dan jumat kliwon, siapa?"
"Kami mengadakan mediasi dengan jin tersebut. Dia yang bilang begitu. Jadi kami seperti diberikan peringatan keras pada hari hari tersebut."
"Hem, saya benar benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa hal ini bisa terjadi. Semoga nggak ada lagi korban korban lain nantinya."
"Aamiin. Aamiin."
***
Sejak Radit pergi, Aretha hanya berdiam diri di kamar sambil bermain sosial media. Terhubung dengan teman temannya yang tersebar di penjuru negeri. Walau kini mereka sudah berpencar dengan kesibukan masing masing, tetapi komunikasi tetap lancar. Apalagi ditambah dengan adanya grup Whatsapp yang berisikan teman teman lamanya.
[Wah, keren, Tha. Suasananya seru!] Tulis Kiki saat Aretha membagikan fotonya yang berada di tengah kebun teh. Di tambah dengan pemandangan di belakangnya yang menunjukkan bukit.
[Lo sampai kapan di situ, Tha? Lama? Apa malah pindah selamanya di situ?] tanya Dedi.
[Mau jadi gadis desa lo, ya, Tha?] sambung Ari.
[Hust, udah nggak gadis. π€«] tambah Danu.
[Anjir, si Danu. π€£] timpal Dedi.
[Ye, mang situ masih perjaka?] Aretha mulai muncul saat namanya disebut sebut.
[Masihlah! Pertanyaan Anda menyakiti hati saya, ya Ukhti!] sahut Danu.
[Tha, jelas masih perjaka. Lah kan jomblo seumur hidup dia. Hahaha. ] Dion pun muncul.
[Heh! Ngaca! Emangnya situ kagak!]
Obrolan yang seru walau hanya sekedar di dunia maya. Mereka seakan akan sedang berkumpul bersama seperti yang mereka lakukan dulu.
[Tapi, guys. Rumah yang lagi Aretha tempati itu angker lho guys!]
[Ah, yang bener, Dan! Angkernya Kenapa, Tha? ]
[Yon, bukannya gue kaget kalau Areta itu ketemu sama makhluk-makhluk halus lagi. Tetapi angkernya tuh gimana gue penasaran.]
[ kalau angkernya rumah ini sih gue belum bisa memastikan dengan jelas. Maksudnya gue tahu kalau di rumah ini ada beberapa makhluk yang masih ngumpet-ngumpet tapi memang ada di sini. Tapi yang bikin gue kaget waktu pertama kali datang ke sini cuman satu. Rupanya Desa ini deketan sama Dusun Kalimati.]
[Hah! Serius lo!]
[Eh, bentar. Dusun Kalimati yang mana nih?]
[Itu, yang Danu hampir jadi makanan demit di sana. ]
[Serius, Tha? Sedeket apa?!]
Teman-temannya begitu antusias mendengar kalau Areta tinggal di dekat tempat yang dulu pernah hampir merenggut nyawanya dan Danu.
[Serius. Dan alhasil gue harus menghadapi lagi yang namanya teror Ummu sibyan. Parahnya lagi, teror ini benar-benar lebih gila daripada sebelumnya.]
[Gila gimana, Tha? π Anjir, belum juga cerita gue udah takut, guys!]
[Heh! Laki lo juga di sebelah, napa takut! π ] omel Doni.
[ Jadi, ada satu peraturan di desa ini yang harus ditaati semua orang. Peraturannya sama kayak yang ada di Dusun Kalimati.]
[Oh, yang nggak boleh keluar malam malam?]
[Iya. Cuma bedanya di sini, hal itu berlaku cuma untuk malam Selasa dan jumat kliwon aja. Jadi kalau Selain malam-malam itu biasa aja. Bahkan ada ronda kok di sini. Semua jendela dan pintu benar-benar harus ditutup dan gorden juga jangan sampai dibuka. Ditambah lagi sebelum malam kita diwajibkan menabur garam di dekat pintu dan jendela yang ada di luar. Pokoknya di sini benar-benar ketat banget deh.]
[Terus? Kejadian apa yang gila yang mau lo ceritain tadi?] tanya Kiki tidak sabar.
[Jadi kemarin ada anak kecil yang diculik sama Ummu sibyan. Kalau nggak salah dari yang Gue denger, dia nggak sengaja lihat jin itu di jendela kamarnya. Jadi saling lihat lihatan gitu. Nah, saat itulah Gibran, nama anak itu, di bawa sama jin itu. Sampai sekarang nggak ketemu dan ini udah mau masuk ke hari ketiga. Tapi konon katanya kalau ada anak kecil atau siapapun yang diculik sama jin itu, dan dalam waktu 24 jam nggak ketemu, maka orang itu sudah dipastikan nggak akan bisa ditemukan lagi.]
[Anjir! Jadi itu anak nggak ketemu sampai sekarang, dan dia nggak bakal ketemu selamanya gitu? ]
[Iya. Katanya sih gitu. Cuma gue belum tahu informasi selanjutnya. Ini Si Radit lagi ikut pertemuan warga katanya mau bahas masalah ini. Tapi sampai sekarang belum juga pulang.]
__ADS_1
[Heh! Dit, lo bisa bisanya ninggalin Istri lo di rumah angker kayak gitu sendirian. Jahat banget!] umpat Danu.
[Berisik lo, Dan. Jangan jadi kompor deh lo. ] Radit ternyata sejak tadi menyimak pembicaraan teman-temannya.
[Lah, nyaut, Tha. Itu laki lo suruh balik, Tha.]
[Bentar lagi aku pulang, Sayang. ] kata Radit justru tidak menanggapi perkataan Danu.
[Iya, Sayang. Hati hati ya pulangnya. Udah selesai belum? Hasilnya apa?]
[Sial! Jiwa jomblo gue bergetar hebat! π] Dion menanggapi.
[Lebay deh! Perasaan dari dulu gue sama Radit kayak gini di depan kalian, nggak apa apa deh. Kenapa sekarang jadi baperan gitu? ]
[Soalnya udah karatan, Tha. Jomblo nya udah mengakar. Jadi penyakit hati jadinya.] timpal Dedi.
[Iya, Pak Radit. Hasilnya gimana itu! Gue juga nungguin jawaban lo dari tadi!] tukas Kiki.
[Ya sesuai sama apa yang dibilang sama Areta tadi. Pencarian Gibran sudah dihentikan. Karena keluarga korban udah mengikhlaskan. Mereka Paham banget kalau Gibran itu udah nggak akan mungkin ditemukan lagi. Itu sih yang mereka bilang tadi. Padahal polisi juga udah bantu pencarian. Doa bersama juga udah dilakukan. Hem, kasihan sih menurut gue. Nggak kebayang gimana jadi orang tuanya. ]
[Tapi kenapa pakai culik anak sih? Bukannya cuma ganggu biasa gitu, ya? ] tanya Doni.
[Heh! Enak banget ente bilang 'ganggu biasa aja'! Lo belum ngerasain sih diganggu sama jin itu! ] omel Danu.
[Ah, yang penting lo masih hidup, Dan. Udah, jangan dendaman gitu kenapa sih!]
[Itu kenapa konsepnya jadi kayak wewegombel, Dek? Itu bener Ummu sibyan apa wewe gombel?] tanya Arden yang baru muncul.
[Itu juga yang aku bingung, Kak. Padahal sebelum dia culik Gibran, itu jin justru udah masuk ke rumahku. Dia ada di lantai dua, kamar utama. Tapi aku sama Radit terus doa sama zikir. Dia pergi, tapi malah culik anak kecil. π₯² aku bener bener ngerasa salah jadinya. π]
[Kenapa harus merasa bersalah? Apa yang kamu lakukan itu udah benar. Kamu cuma berusaha untuk mempertahankan diri dari gangguan jin itu. Tapi kalau ternyata jin itu justru menyerang orang lain, ya itu resikonya. Hem, semoga anak itu diberikan yang terbaik.]
[Serius? Itu jin udah masuk rumah lo? Kok bisa? ]
[Kan kamar atas lagi direnovasi. Nah, tukang yang benerin ternyata lupa nggak tutup gorden. Nah Jin ini tuh bakalan bisa masuk ke rumah dengan mudah kalau dia bisa melihat kondisi di dalam rumah itu. Serem nggak sih? π₯² Tapi salah gue juga nggak periksa lagi. ]
[Rumah lo angker gimana?] tanya Dion.
Setelah pertanyaan itu muncul tiba-tiba ada suara pintu yang ditutup dengan cukup keras seperti dibanting dengan tenaga yang besar. Jantung Areta meredup sangat kencang. Dia bahkan menahan nafas sambil berusaha untuk mendengar lagi suara lain yang mungkin bisa ia dengar selain suara pintu yang ditutup tadi.
[Tha?]
[Itu barusan siapa, ya, yang nutup pintu keras banget? Yang, cepet pulang! π] kata Aretha.
[Eh, pintu mana, Tha? Serius? ]
[Atas kayaknya. Kamar utama yang kemarin dimasukin jin itu. ]
[Ummu Sibyan kali? ]
[Ini malam kamis wage, Dion! ]
[Oh iya, kah? Gue ampe lupa nama hari. ]
[Bentar, aku jalan pulang nih. Kunci pintu kamar ya. ]
[Njir, suasananya kok jadi tegang gini, kayak film horor. ]
[Guys, kalian temenin gue ya. Biar gue nggak takut.]
[Tenang, Tha, kita nggak ke mana mana kok. Di sini terus nemenin lo. Sambil doa, Aretha.]
[Dek, kamu lagi kotor, ya? ] tanya Arden.
[Iya, aku lagi haid.]
[Pantas. Kakak bantu doa dari sini.]
[Kita juga bantu doa, Tha. ]
Aretha yang fokus dengan kondisi di sekitar nya, terutama bagian luar kamarnya, lantas mendekat ke pintu.
__ADS_1
"Kok kayak ada yang lari larian di ruang tengah, ya?" tanyanya pada diri sendiri.