Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
4. Mey kesurupan


__ADS_3

Semua orang sudah masuk ke kamar masing masing. Insiden bayangan yang terlihat di rumah bekas bunuh diri membuat mereka ketakutan. Dua kamar yang sudah diisi para wanita tampak tertutup pintunya sejak mereka masuk tadi. Sementara sisanya sudah menggelar kasur lantai di ruang tamu. Hanya saja posisi mereka sedikit masuk ke dalam, tidak berani terlalu dekat dengan jendela dan pintu. Hanya Arman saja yang berani tidur di kursi yang letaknya justru dekat dengan jendela. Sepertinya dia memiliki keberanian yang patut diacungi jempol. Bahkan di saat teman temannya belum bisa tidur dengan tenang, Arman justru sudah mendengkur karena kelelahan akibat kegiatan selama seharian tadi.


Sekalipun waktunya tidur, lampu petromak sengaja tidak dimatikan. Sehingga suasana di sekitar tetap terang. Walau demikian tidak berpengaruh banyak bagi Arman. Bahkan hanya Arman satu satu nya orang yang tidak lari saat teman temannya menjerit akibat bayangan yang tampak di rumah bekas bunuh diri. Dia justru berjalan santai sambil mengejek teman temannya lalu menutup pintu dan menguncinya.


Pukul 02.00 dini hari. Tiba-tiba Indi berlari keluar kamar sambil menjerit ketakutan. Dia terus meminta tolong sambil berusaha membangunkan teman-teman yang tidur di ruang tamu. Alhasil karena tindakannya itulah, mereka semua pun terbangun dengan malas-malasan.


"Apaan sih, Ndi! Gila! Masih ngantuk banget gue!" runtuk Dollmen.


"Tolongin! Tolongin! Itu... Itu," ucap Indi sambil menunjuk ke arah kamarnya.


"Kenapa? Itu apa?" tanya Arman.


Sayangnya Dery dan Cendol justru berbalik badan, melanjutkan tidur tanpa berniat mengetahui apa yang terjadi pada Indy.


"Man, si Mey! Mey kesurupan kayaknya deh! Coba lihat!" pinta Indy panik.


"Hah? Mey? Serius?" tanya Dollmen yang tiba tiba duduk, lalu menyibak selimutnya dan berlari ke kamar mereka berdua.


"Kok bisa sih?" tanya Arman yang akhirnya mengikuti Dollmen.


Begitu sampai di dalam kamar rupanya perkataan Indy ada benarnya. Karena kini mereka melihat Mey sedang melotot sambil mengeram dengan posisi merangkak. Dollmen yang sudah sampai lebih dulu tidak berani masuk ke dalam. Dia hanya sampai di depan pintu kamar dan hanya memperhatikan Apa yang Mey lakukan.


"Duh, kok bisa gini sih? Mana gue nggak tahu cara menangani orang kesurupan!" ucap Arman sambil garuk garuk kepala.


"Terus gimana dong, Man! Masa mau dibiarin aja sih?" tanya Indy.


Tiba tiba Mey yang sejak tadi hanya diam di posisinya mendadak melompat dan kini mendarat tepat di atas tubuh Dollmen. Dollmen pun berteriak histeris.


"Tolong! Man! Arman! Tolongin gue! Buruaan!" pintanya.


"Man, gimana?" tanya Indi ikut panik.


Sementara Arman justru masih diam, sambil, berpikir keras. Dia lantas segera maju dan berusaha melepaskan tangan Mey yang terus menerus memegangi leher Dollmen.


"Mey, lepasin! Lepas! Kasihan Dollmen. Nanti mati! Mey! Maemunah! Heh! Ya Allah gusti."


Keributan ini membuat teman-teman yang ada di luar pun akhirnya ikut masuk ke dalam. Khusnul, Ike dan Rahma terkejut saat melihat adegan itu.

__ADS_1


Dery pun ikut terbangun karena penasaran.


"Tolongin gue, Dodol!" kata Arman menoleh ke Dery yang justru diam saja.


"Gue pikir lo bisa tanganin sendiri, Man! Hehe!"


"Kalau bisa, udah lepas nih dari tadi!" omel Arman.


Bahkan sekalipun Arman kini dibantu oleh Dery, tetap tidak berhasil membuat Mey melepaskan Dolmen. Mereka berdua bahkan sudah mengerahkan tenaga yang besar, agar bisa memisahkan Mey dengan Dolmen. Bahkan jari Mei saja tidak bisa mereka lepaskan dari leher Dolmen.


"Duh, gimana nih!" pekik Khusnul.


"Coba dibaca bacain!" kata Ike.


"Baca apaan, Ke! Lo coba bacain apa kek! Jangan cuma nyuruh!" kata Dery yang masih berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Mey.


"Eh baca itu aja! Ayat kursi!" kata Ike dengan semangat.


"Ya udah, lo baca, Ike!" ucap Dery.


"Bismillahirrahmanirrahim .... "


"Tunggu! Kenapa harus gue? Kenapa nggak kalian aja!" omel Ike.


"Gue nggak hafal, Ke," ucap Arman.


"Gue cuma hafal Al-Fatihah doang!" tambah Dery.


Mendengar hal itu, Ike melirik tajam kepada dua temannya itu sementara Khusnul dan Rahma ikut memegangi tangan Mey, karena sudah melihat kondisi Dolmen yang mulai lemas.


"Ike! Buruan! Jangan kebanyakan mikir! Mati nanti anak orang nih!" omel Dery.


"Ke, ndeket lagi sini!" suruh Khusnul. Ike pun menurut, dia lalu mulai membaca Ayat tersebut dengan pelan dan cukup dekat dengan telinga Mey.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qqoyyuum" ucap Ike dengan membaca seluruh ayat kursi dengan fasih dan lengkap.


Begitu doa selesai di baca, Mey mulai mengendurkan pegangannya dari leher Dolmen. Tetapi dia masih menjerit dengan histeris. Dolmen yang sudah berhasil terlepas dari cekikan Mey, lalu dibawa mundur menjauh oleh Rahma.

__ADS_1


"Kok masih kesurupan gini sih, Ke?" tanya Khusnul.


"Mana gue tahu!"


"Coba baca doa lain aja, Ke!" kata Arman.


"Doa apaan lagi, Man?"


"Doa buat sembuhin orang kesurupan! Masa lo nggak tahu?" tanya Dery yang kembali membuat Ike kesal.


"Lo aja nggak tahu, kan?" tanya Mey balik sedikit ketus.


"Nul! Inul!" panggil Rahma dari luar kamar.


Merasa dipanggil, Khusnul pun akhirnya bergegas keluar dari kamar dan melepaskan tangan Mey.


"Ini ada apa sih?" tanya Cendol yang tiba-tiba kini sudah muncul di depan pintu kamar. Dia masih tampak lesu dengan wajah orang yang khas bangun tidur. Cendol mengucek ucek mata.


"Mey kesurupan, Cen! Tadi udah gue bacain ayat kursi tapi cuma bisa bikin dia ngelepasin Dolmen. Tapi dia masih kayak gini sama seperti tadi!" jelas Ike.


"Cen, ambilin tali. Dia kuat banget! Gue udah capek," kata Dery.


"Astaga! Kok bisa sih!"


Cendol langsung segera berlari keluar kamar. Dia lantas mencari tali yang diminta oleh Deri. Untungnya bawaan mereka cukup lengkap karena sebuah tali yang cukup tebal kini berhasil diambil oleh cendol dan digunakan untuk mengikat Mey.


Mey diikat di ranjang dengan cukup kuat. Ikatan tersebut memang tidak membuat Mei terlepas lagi. Mulutnya pun disumpal kain. Sehingga jeritannya tidak lagi terdengar nyaring.


Mereka memutuskan untuk keluar kamar berdiskusi tentang tindakan selanjutnya.


"Gimana nih? Masa kita biarin aja Mey kayak gitu? Kasihan tahu!" pekik Indy.


"Ya gimana lagi. Lagi pula nggak ada satupun dari kita yang bisa menyembuhkan orang yang kesurupan kan?" tanya Dery.


"Terus kita bakalan ngebiarin Mei kayak gitu sampai kapan?"


"Mungkin sampai pagi? Karena setelah pagi kita bisa mencari bantuan ke warga desa yang lain.

__ADS_1


Mereka terus mendengar suara teriakan Mey dari dalam kamar. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyembuhkan Mey, dan kini yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu pagi datang untuk melaporkan hal ini ke Pak Kades agar bisa meminta bantuan


__ADS_2