Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
20. ujian


__ADS_3

Minggu depan, kami akan menghadapi ulangan semester satu.


Hari ini seperti biasa kami berkumpul di kantin untuk sarapan dan ngobrol. Kantin merupakan tempat nongkrong favorit kami dan meja ini adalah meja khusus kami. Bahkan beberapa orang seolah enggan duduk di sini, walau kami tidak berada di kantin sekali pun.


"Cobain deh, Tha. Enak nih." Radit menyuapiku dengan mie goreng yang dia pesan tadi.


"Em ... Iya enak," sahutku sambil mengunyah mie tersebut.


"Ya ampun mie goreng doang segitu enaknya, ya? Perasaan rasanya ya gitu gitu aja," sindir Dion.


"Yon, beda kali kalau yang makan mereka berdua. Mie goreng nya berasa spaghetti restoran." Danu tertawa mengejek.


"Dasar jones!" ejek Radit ke mereka.


Ya beginilah kami kalau sudah berkumpul, saling ejek satu sama lain tapi kami selalu kompak.


"Eh liburan besok kita jalan-jalan yuk. ke mana gitu," pinta Kiki.


"Setuju tuh," sahut Dedi.


"Ke mana maunya?" tanya Danu.


"Asal jangan di dalam kota, ya. Bosen gue. Sumpah. Cuma adanya gunung mulu. sekali - kali kita ke pantai gitu," gerutu Doni.


"Kalau gitu berarti ke pantai Teluk Penyu aja?" tanyaku memberi pilihan termudah.


"Ya jangan di situ juga kali, Tha. Pantainya sekarang kotor, kurang asyik. Kita cari yang banyak wisatanya juga. Bukan cuma pantai aja," kata Doni.


Ini anak kebanyakan permintaan deh.


"Raja ampat?!" saran Dion.


"Ogah ah. Kejauhan," tolak Kiki.


"Bali aja deh," celetuk Kak Arden.


Mereka diam beberapa saat lalu mengangguk setuju.


"Sekalian ketemu Opa gue. Sama om Wayan," kata Kak Arden lagi.


"Iya bener, Kak. Lama banget ya kita nggak ketemu Om Wayan," balasku.


"Lah, memangnya rumah Om kalian besar? Kita bersepuluh lho ke sana. Atau dekat sama hotel?" tanya Doni.


"Eh... Bersebelas, Don!" sela Radit.


"Kok sebelas?" Doni bingung lalu menghitung kami satu persatu.


"Sepuluh, Radit, ah! Elu bisa ngitung kagak sih!" gerutu Doni.


"Calon kakak ipar gue kagak elu hitung? Noh," sergah Radit sambil menunjuk Mba Alya dengan dagunya yang baru masuk ke kantin bersama teman - temannya.


Kami semua menoleh ke arah yang Radit tunjuk.


Dan kami serempak ber-oh ria.


Sementara itu, Kak Arden langsung terpaku pada gadis pujaan nya.


"Eh, kakak ipar? Elu pede banget, Dit. Sumpah!" celetuk Dedi ngakak.


"Iyalah. Harus. Gue yakin kok. Kenapa? Mereka itu cocok banget loh," kata Radit.


"Bukan soal Arden sama Alya, tapi elu yakin bakal nikah sama Aretha?" cela Dedi sambil bersiap kabur.


"Kurang ajar!" Radit beranjak sambil menggenggam botol saus.


"Eh, damai, damai! Daripada gue dijurus sama elu. Gue dukung deh. Hehe," balas Dedi sambil cengengesan.


Aku melirik ke Radit, dia malah  menatapku sambil tersenyum.


"Eh jadi gimana nih? Yang tadi? Kita nginep di rumah Om elu, Den?" tanya Danu mengulangi pembahasan ini.


"Eum, Lihat nanti deh. Kayaknya sih cukup rumahnya. Paling kalau yang nggak kebagian kasur gelar tiker aja. Apa pasang tenda," ujar kak Arden.


"Ya ampun. Serasa camping aja kita, ya. Camping di Bali. Wuih...," celetuk Danu.


"Tapi diobrolin dulu deh, Kak, sama Om Wayan. Gimana baiknya," saranku.


Kak Arden mengangguk.


Lalu bel masuk berbunyi, dan kami beranjak dari kursi nyaman ini dan segera ke kursi panas. Huft.


Radit menarik tanganku yang hendak pergi. "Bareng, Tha. Aku bayar dulu," katanya.


Setelah dia membayar, kami lalu kembali ke kelasku. Doni dan Kiki sudah berjalan di depan kami. Sedangkan Kak Arden dan yang lain sudah entah ke mana.


"Aretha...."


"Hm?"


"Nanti temenin aku, ya, ke rumah Ester," kata nya membuat langkahku terhenti.


"Ngapain?" tanyaku sebal.


"Ih, jangan bete dulu dong. Dia ultah, aku diundang. Makanya aku ajak kamu. Habisnya aku males kalau ke sana sendiri. Lagian nanti kamu marah lagi," sindirnya.


Eh, tapi bener juga sih. Hehe.


Aku mikir dulu sebentar.

__ADS_1


"Tapi, Dit. Aku males ketemu dia," rengekku.


"Tenang aja. Kan ada aku. Mau ya,  Tha. Please," pintanya memohon.


"Ya udah deh. Jam berapa sih?" tanyaku.


"Jam 7 malem."


"Iya udah, oke. Nanti pulang sekolah kamu ijin dulu sama bunda," tukasku.


"Siap! Yuk, balik ke kelas." Dia lalu menggandeng tanganku dan mengantar ke ruang kelasku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sampai kelas, semua sudah siap dengan ulangan hari ini.


Wajah mereka terlihat tegang tegang karena ini pelajaran yang cukup sulit.


Setelah kertas soal dibagikan kami segera mengerjakan dengan teliti dan fokus.


Selama 30 menit berjalan, keadaan aman terkendali. Semua masih fokus dengan kertas soal di depan sambil memikirkan jawaban yang paling benar. Hingga saat aku masih sibuk mengerjakan, tiba tiba ada yang menyeletuk.


"Ih bau wangi," kata salah satu teman di kelas yang duduk tepat  di depanku.


Saat ujian seperti ini, kami duduk sendiri sendiri sekarang. Jadi tidak ada teman sebangku, otomatis aku jauh dari Kiki.


Aku mendongak melihatnya yang sedang mendengus mencari sumber bau nya.


Dan masuklah sosok wanita yang biasa kulihat. Sosok wanita tanpa tangan.


Buru buru aku menunduk lagi karena malas melihatnya. Dia terus saja memutari kelas dan sama seperti biasanya, mencari tangannya.


Aku berusaha untuk terus fokus dengan soal di hadapanku.


Tapi, sosok itu malah sekarang berdiri di samping mejaku.


Aku tetap menunduk.


"Eh... Tha! Kamu nyium bau wangi kan?" tanya Desya yang duduk di depanku.


"Ada yang pakai parfum mungkin " kataku masih tetap menunduk, berpura pura fokus dengan soal di depanku.


"Ih, siapa yg pakai parfum gini? Kamu ngaco deh!!" katanya tak yakin.


"Kalian berdua ngapain malah diskusi? Kerjain sendiri- sendiri!" bentak bu guru.


Desya kembali menghadap depan.


Ku tutup wajahku sebagian agar tidak melihatnya, dan berharap agar dia cepat-cepat pergi.


Namun bulu kudukku terus meremang, yang menandakan dia masih ada di sini.


"Pergi!!" kataku dengan suara pelan.


Bukannya menyingkir, dia malah makin mendekat.


'Tanganku mana? Tanganku."


"Cari sendiri!" jawabku ketus.


Desya menoleh padaku, "kenapa kamu, Tha?" tanyanya agak bisik bisik juga.


Aku hanya tersenyum padanya. Desya akhirnya kembali menatap depan.


"Jangan ganggu aku. Please, aku lagi ujian ini loh. Nyari tempat lain aja kenapa sih!" kataku sambil melirik sosok itu.


'Bantu cariin.'


"Males! " kataku sinis.


Dia lalu menjauh tapi malah mendekat Desya dan berdiri di depan desya. Desya terpaku melihat ke depannya.


Aku curiga kalau Desya melihat sosok ini juga. Terkadang sosok makhluk astral akan menampakkan diri pada orang yang dia kehendaki.


Desya diam mematung, badannya bergetar hebat. Namun tidak bersuara apa-apa.


"Desya. . Kamu kenapa?" tanya bu guru yang melihat Desya aneh.


Dia terus diam.


Desya spontan teriak keras sekali.


Teman teman yang lain panik. Banyak yang ngeri melihat Desya.


"Kesurupan nih anak!!"


"Ih... Serem."


"Kenapa lagi dia?"


Aku melotot sosok itu yang makin kurang ajar karena menampakan dirinya di depan Desya.


"Pergi kamu!" jeritku kepada dia.


Aku sudah tidak peduli lagi akan dianggap aneh oleh yang lain.


Aku sudah muak.


Melihat kertas ulangan yg susahnya minta ampun membuat mood ku buruk, dan dia malah membuat moodku makin buruk.

__ADS_1


Semua orang di kelas menatapku bingung. Bahkan beberapa anak yg duduk di dekatku dan Desya malah berlari  menjauh.


Aku berdiri dan mendekat ke Desya. Berbisik ditelinga, mengumandangkan azan lirih sambil terus menatap sosok di depan kami. Dia malah menyeringai padaku seakan Apa yang kulakukan tidak berpengaruh apa pun, dan dia seperti sedang menantangku.


Desya makin berteriak histeris namun tak lama dia pingsan, dan tubuhnya roboh ke samping.


Kutahan tubuhnya yang makin berat.


"Dan! Yon! Bantuin," teriakku ke mereka yang duduk paling belakang. Mereka berdua melongo dan tak lama mengangguk cepat. Kondisi kelas sudah tidak lagi kondusif lagi. Beberapa siswa keluar kelas, aku juga menyuruh bu guru pergi saja, semakin sedikit manusia di dalam kelas. Akan mengurangi kemungkinan lain orang yang kesurupan.


Danu dan Dion mendekat dan langsung membawa Desya keluar kelas. Di saat teman teman yg lain satu persatu pergi keluar kelas, tiba tiba Tania yang duduk di belakangku diam sambil menunduk, dia lalu tertawa keras sekali.


Tania kesurupan juga


Kudekati Tania untuk coba menyembuhkannya, namun dia berontak.naku ditendangnya hingga jatuh menghantam meja paling depan.


Aku meringis kesakitan. Tania berdiri, berjalan mendekatiku dengan senyum mengerikan sambil memiringkan kepalanya.


Mereka yang ada di luar kelas histeris karena melihatku dan Tania di dalam hanya berdua. Apalagi mereka tau kalau Tania sedang kesurupan.


Kubaca terus doa doa yg kutau. Namun tidak mempan pada Tania. Aku mencoba untuk menyentuh kepala Tania, namun tanganku dipegang Tania dengan cukup kuat.


Dia malah menghantamkan kepalanya kepadaku.


Aku terbentur kepala Tania dan tembok belakangku .


Rasanya pusing sekali.


"Astaga Aretha!" teriak kak Arden di luar kelas.


Kak Arden masuk dengan Radit lalu kak Arden menarik Tania menjauhiku .


Sedangkan Radit mendekatiku.


"Kamu nggak papa, Tha? Astaga, kok bisa gini?" tanya Radit cemas. Aku masih sadar tapi rasanya tubuhku lemas sekali. Kepalaku berdenyut hebat.


"Bantuin kak Arden, Dit. Dia kuat banget," ucapku sambil menahan sakit di kepala


Radit lalu mendekat ke kak Arden, dan membantu kak Arden memegangi Tania yang terus berontak. Mereka berdua agak kewalahan. Lalu datang lagi Dedi dan Doni. Mereka membantu kak Arden dan Radit.


Beruntung mereka bisa bacaan doa doa seperti kami, jadi Tania dengan mudah dapat dikendalikan. Kak Arden menarik sosok yg merasuki Tania.


Kak Arden juga menatap tajam sosok tangan 1 itu dengan tatapan benci tentunya.


Radit mendekat padaku dan menolongku.


Dia membopongku keluar kelas. Aku tidak tau lagi apa yg terjadi di kelas.


Kepalaku masih terasa sakit.


Radit terus membopongku ke UKS. Sementara Tania di bopong oleh Dedi.


Seluruh sekolah heboh karens kejadian ini, dan ujian tadi akhirnya diulang.


Di UKS Radit mengobatiku.


Dia memijat kepalaku agar pusing yg kurasakan hilang. Tak lupa mencarikan obat pereda sakit untukku.


"Gmn, Tha? Masih sakit?" tanya Radit lembut padaku.


"Mendingan kok," ucapku masih lemas.


"Awalnya gimana sih? kok malah ada kesurupan?" tanya Dedi. Mereka masih ada di UKS menungguku.


Hanya kak Arden yang belum terlihat.


"Ada cewek buntung itu, Ded. Dia nyariin tangannya. Dia nanya ke aku. Ya mana kutau, kan? Lagi mikir ujian, malah ngurusin tangan dia," jawabku sebal.


Dedi malah tertawa kencang.


"Hus!! Nanti elu didatengin mau, Ded??" tanya Doni.


"Eh... Enggak deh. hehe.. Mba, ya mbak.. Ampun deh." Dedi menatap sekeliling dengan was was.


"Kak Arden mana, Dit. Tolong lihat keadaannya. Takut dia kenapa napa," pintaku.


"Biar kita aja yang lihat. Radit di sini nungguin kamu. Takut Tania bangun teus ngamuk lagi," saran  Dedi.


Mereka lalu keluar UKS kembali ke kelas.


"Mau makan apa? Apa mau minum sesuatu? "tanya Radit sambil terus menatapku iba.


"Gak usah. Kamu sini aja. Nggak usah ke mana mana," kataku manja sambil memegang tangan Radit.


Dia senyum lalu mengecup keningku lembut.


"Ya udah aku tungguin di sini. Kamu tiduran aja. Biar sakitnya berkurang."


Aku ada di UKS hingga jam istirahat habis.


Setelah keaadan ku sudah lebih baik, Radit mengantarku ke kelas.


Kami berpapasan dengan kak Arden dan yang lain nya dengan wajah kelelahan.


"Kamu nggak papa kan, Tha?"tanya kak Arden padaku.


"Gak papa.. Kakak habis dari mana?" tanyaku.


"Habis dari sekolah sebelah, nganterin tuh mbak nyari tangannya," jelas kak Arden.

__ADS_1


Memang ada sesuatu yang terhubung antara sekolahku dan SMP yang ada di samping sekolah. Misteri dan rahasia itu seolah menjadi cerita rakyat yang berkembang dan tumbuh subuh di masyarakat. Tentang wanita buntung yang selalu kehilangan tangannya.


__ADS_2