
"Sayang, ngapain?" tanya Radit saat dia sampai di halaman rumah.
"Tabur garam. Kan ini malam selasa kliwon, Dit. Kemarin kita udah diwanti wanti buat tabur garam ke bawah jendela sama pintu, bagian luar. Biar setannya nggak bisa masuk," jelas Aretha masih melakukan hal itu hingga selesai semua.
"Oh gitu. Aku malah nggak tahu kalau ini malam selasa kliwon, sayang. Udah selesai tabur garamnya? Kalau belum sini aku bantu," kata Radit.
"Udah selesai kok. Ya sudah, kita masuk aja dulu. Sebentar lagi magrib."
"Ayo, Sayang."
Radit lantas merangkul pinggang Aretha. Berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau mandi pakai air hangat, Sayang?" tanya Aretha saat mereka memasuki kamar untuk meletakkan tas serta jas Radit.
"Eum, nggak usah, Sayang. Aku mandi air dingin aja. Biar segar. Lagipula belum terlalu malam. Oh ya, gimana tadi Pak Slamet sama Mas Ratno? Ada keluhan nggak mereka selama kerja hari ini?"
"Nggak ada kok, Sayang. Tapi hari ini mereka cuma bongkar reruntuhan kamar mandi aja katanya. Besok baru mulai bangun ulang. Soalnya banyak tembok yang rusak. Heran deh. Kamar mandi itu habis kena gempa atau gimana sih? Kok bisa begitu bentuknya."
"Mungkin pas pembangunan nya memang kurang material, jadi gampang rusak, Sayang."
"Masa sih? Kok aneh."
"Udah udah. Jangan berpikiran aneh aneh. Aku mandi dulu, ya," ucap Radit lalu mengecup kening Aretha.
Sambil menunggu suami nya selesai mandi, Aretha memutuskan membuat kopi. Suara azan terdengar samar samar. Walau rumah mereka tidak dekat dengan masjid, tetapi seruan panggilan salat itu bisa terdengar.
"Mau jamaah nggak, Sayang?" tanya Radit begitu keluar dari kamar mandi, masih dengan beberapa bagian tubuh yang masih basah karena air wudhu.
"Kayaknya aku haid deh, Dit. Aku mau cek dulu. Kamu salat sendiri aja, ya," ucap Aretha.
"Oh oke, Sayang. Aku ke kamar duluan, ya."
"Iya."
Saat berada di kamar mandi, Aretha merasa ada yang mengetuk pintu. Tapi karena suara itu terdengar samar, maka dia pikir itu bukan berasal dari pintu kamar mandi. "Siapa, ya? Kok ada tamu malam malam begini. Masih magrib lagi," gumam Aretha. Dia lantas mempercepat kegiatannya di kamar mandi dan segera keluar.
Begitu sampai di dapur, Aretha kembali menajamkan pendengaran. Dia meyakinkan lagi kalau suara tadi memang berasa dari pintu dan memang nyata. Ketukan itu masih terdengar. Samar namun terus berulang.
"Iya, bener. Ada tamu." Aretha bergegas berlari kecil ke ruang tamu. Suara itu masih terdengar tapi dia justru berhenti sambil berpikir.
'Jangan buka korden! Jangan sampai bisa melihat ke luar!'
Kalimat itu masih terngiang di kepala Areta. Dia masih ingat Betul apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Katanya dia tidak boleh melihat sosok jin yang berkeliaran di desa itu. Mereka tidak boleh saling tatap, karena itu akan berbahaya. Dia tahu, dan yakin, kalau ancaman itu bukan sekedar isapan jempol belaka, tetapi sebuah kenyataan yang tidak perlu ia buktikan. Aretha tentu tidak sebodoh itu untuk membuka pintu rumahnya hanya untuk melihat siapa yang datang.
"Nggak mungkin manusia. Sebaiknya aku biarkan saja." Aretha kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Radit.
Namun saat sampai di ruang tengah suara ketukan itu seakan berpindah. Aretha tengak tengok ke segala arah. Dia ingin memastikan di mana sumber suara itu berasal. Hingga dia pun mendongak ke atas. Karena dia yakin, kalau suara itu kali ini berasal dari lantai dua.
Radit keluar dari kamar, masih memakai sarung dan peci. Wajahnya tampak bersinar saat dia selesai salat. Itu membuat Aretha betah menatapnya. Tapi tidak untuk malam ini.
"Kenapa, Sayang?" tanya Radit heran melihat Aretha seperti orang bingung.
"Kamu dengar suara itu?" tanya Aretha yang masih fokus pada ketukan pintu.
"Ada tamu?" tanya Radit.
"Aku sih nggak yakin kalau tamunya manusia, Dit. Seluruh warga desa ini nggak akan keluar malam ini. Mereka sudah tahu kalau ini malam Selasa Kliwon."
" Jadi maksud kamu siapa? Apakah itu adalah Jin yang meneror Desa ini?" tanya Radit langsung berasumsi.
"Bisa jadi. Tapi tadi waktu aku di kamar mandi seorang ketukan pintu ini berasal dari pintu depan. Aku tadi sempat ke ruang tamu tapi nggak aku buka pintunya dan aku juga nggak lihat keluar. Tapi pas aku balik ke sini suaranya justru pindah ke lantai atas. Coba kamu dengarkan, apa dugaanku benar?" tanya Aretha.
Mendengar hal itu Radit pun diam sambil memperhatikan ke lantai atas. "Iya, sepertinya suara itu memang berasal dari atas. Tapi kenapa keras ya? Nggak mungkin kan kalau jin itu sudah masuk ke salah satu di kamar lantai atas?" tanya Radit.
"Hem, entahlah, Dit. Aku juga nggak tahu dan nggak berani untuk memeriksanya."
" Tapi semua pintu jendela dan gorden di setiap ruangan sudah ditutup, kan? Kalau nggak salah itu anjuran mereka ke kita kemarin?"
"Aku udah cek di lantai bawah, tapi... aku belum sempat cek lantai 2. Sebelumnya aku udah tanya ke Pak Slamet, Katanya sih semua udah ditutup dan dikunci. Tapi... kalau memang iya kenapa ada suara berisik itu di kamar. Sepertinya di kamar utama, iya, kan?"
"Hem, iya sepertinya. Apa perlu aku periksa?" tanya Radit.
__ADS_1
"Jangan!" jerit Aretha.
"Oke. Kita biarkan saja?"
"Aku telepon Pak Slamet dulu untuk memastikan. Takutnya dia lupa," ucap Aretha.
"Oke, Sayang."
Mereka berdua tampak cemas dengan situasi yang sedang dihadapi. Karena ketukan itu semakin kencang dengan intensitas yang sering.
Areta pun menghubungi nomor telepon Pak Slamet. Hanya beberapa detik saja telepon itu tersambung dan sudah terdengar suara pria di seberang.
"Assalamu'alaikum?" sapa pria tersebut. Namun dilihat dari suaranya sepertinya hidupkan Pak Slamet.
"Waalaikumsalam. Maaf, Pak Slamet ada?" tanya Aretha.
"Bapak sedang di kamar mandi, Mbak. Gimana? Apa ada hal penting? Biar saya panggilkan."
"Ini... Anak Pak Slamet?"
"Betul, Mbak. Saya Ridho."
"Eum, gini tolong tanyakan ke Bapak, tadi pintu di kamar utama lantas atas sudah ditutup belum, ya? Pintu balkon dan jendela?"
"Oh, sebentar saya bilang Bapak dulu. Mbak, tunggu sebentar, ya."
"Iya."
Suara hening, hanya ada bunyi gemerisik sinyal karena udara di sekitar. Tapi tidak butuh waktu lama, Rido kembali tersambung dengan Aretha.
"Mbak, ini Bapak sudah keluar."
"Halo, Mbak Aretha? Pintu balkon sudah saya tutup kok. Memangnya kenapa, Mbak?"
"Gini, Pak. Saya sama suami saya mendengar suara ketukan pintu di kamar utama. Sepertinya berasal dari dalam kamar. Apa jangan-jangan jin itu sudah masuk ke kamar utama ya pak?"
"Astagfirullah. Yang benar, Mbak? Tapi saya sudah menutup pintunya dan mengunci jendela nya juga. Tapi... Saya tanya Ratno dulu, karena dia yang terakhir keluar dari sana tadi."
"Baik, Mbak."
Dering telepon berbunyi beberapa kali hingga akhirnya telepon pun diangkat oleh Ratno.
"Ya, Pak? Ada apa?" tanya Ratno.
"Tadi pintu, jendela, dan korden di kamar utama rumah Mbak Aretha sudah kamu tutup, kan?"
"Sudah kok, Pak. Pintu dan jendela. Memangnya kenapa?"
"Ada yang ketuk pintu di kamar utama, Mas Ratno. Saya rasa itu dari dalam kamar. Suaranya mirip orang ketuk pintu. Tapi mana mungkin ada orang di kamar atas, kan?"
"Eh, Mbak Aretha juga ada rupanya. Iya, Mbak, seingat saya sudah saya tutup semua kok. Tapi... Astaga! Ya Allah, Mbak! Saya lupa!" pekik Ratno.
"Lupa apa, Mas?"
"Korden nya belum saya tutup!" jerit Ratno. Dia pun berkali kali meminta maaf atas keteledoran nya. Bahkan Pak Slamet ikut memarahinya habis habisan.
"Ya sudah. Nggak apa apa, Mas."
Telepon di akhiri secara sepihak oleh Aretha.
"Gimana, Sayang?" tanya Radit.
"Huft, pintu dan jendela udah ditutup sih, tapi... Korden nya belum, Dit. Rupanya cuma karena korden aja, makhluk itu bisa masuk ke kamar atas," ucap Aretha.
"Astaga! Serius? Jadi bener kalau yang di atas sana makhluk itu?"
"Iya."
Kedua nya lantas diam dengan pikiran yang kalut. Ketukan pintu yang awalnya pelan, berubah menjadi keras. Bahkan kini terkesan ingin mendobrak pintu tersebut.
Radit menatap Aretha lalu berlari ke tangga agar bisa sampai di pintu kamar tersebut. Begitu sudah sampai di atas, Radit menahan pintu itu agar tidak terbuka. "Pintu ini dikunci, kan?" tanya Radit setengah menjerit.
__ADS_1
"Eum, nggak tahu. Tunggu, aku ambil kuncinya dulu!" Aretha bergegas mengambil kunci yang ada di laci nakas kamar. Kunci itu merupakan kunci cadangan semua ruangan di rumah itu. Dia lantas berlari menyusul Radit, dan memasang kunci ke tempatnya. Aretha hapal ke arah mana seharusnya pintu itu jika sudja terkunci. Ternyata pintu kamar itu belum dikunci, dan dia berhasil menguncinya tepat waktu. Tapi Radit tetap menahan pintu itu karena dorongan dari dalam masih cukup kuat. Dia khawatir jika makhluk itu akan berhasil merangsek masuk ke rumah mereka setelah menerobos pintu kamar utama. Aretha pun membantu suaminya dengan mendorong bufet yang ada di dekat mereka dan mendorongnya.
"Sayang, kuat nggak?" tanya Radit saat melihat istrinya sedikit kewalahan mendorong benda besar itu.
"Kuat kok. Kamu tahan sebentar lagi!" Aretha bersusah payah mendorong meja itu hingga akhirnya berhasil sampai di depan pintu. Radit lantas membantu Aretha hingga akhirnya pintu itu tertahan oleh bufet yang cukup berat.
"Kuat nggak ya, buat nahan pintu ini?" tanya Aretha sambil memperhatikan pintu yang terus menerus di dorong dari dalam.
"InsyaAllah kuat, Sayang. Kita bantu dzikir dan doa aja, yuk," ajak Radit.
Aretha mengangguk lalu mereka berdua turun dan memilih duduk di sofa ruang tengah sambil membaca alquran. Karena Aretha sedang haid, dia hanya melantunkan dzikir dengan tasbih pemberian Ibunya. Walau Radit seorang mualaf, tapi bacaan tajwid nya cukup bagus. Tentu saja setelah digembleng oleh Yusuf, dia bisa mengikuti ilmu yang diberikan dan sudah ia terapkan dalam kehidupan sehari hari. Kini mereka makin kompak dan solid terutama dalam menghadapi makhluk tak kasat mata.
Hingga tengah malam, mereka terus melantunkan ayat suci Al-Quran dan dzikir berharap perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya Aretha mulai lelah.
"Aku capek, Dit. Ngantuk," katanya sambil mengucek mata.
"Ya sudah, kamu tidur aja. Biar aku yang lanjutkan."
"Eh, tapi... Kok udah nggak berisik, ya? Apa dia udah pergi?" tanya Aretha.
"Eh iya ya. Bener juga. Sepertinya dia memang udah pergi, Sayang. Aku periksa dulu ke atas!" kata Radit antusias.
"Eh, jangan! Bahaya!" cegah Aretha dan langsung menahan tangan Radit agar tidak pergi.
"Nggak apa apa, sayang. Aku akan hati hati. Kamu tunggu sini aja, ya."
"Enggak! Aku mau ikut kamu!"
Tapi tiba tiba kini suara kentongan terdengar nyaring. Suara itu berasal dari jalanan di depan rumah mereka. Tidak hanya suara kentongan saja, tapi teriakan dari beberapa orang mulai terdengar.
"Itu... Ada apa, ya, Dit? Sepertinya itu suara warga desa!" kata Aretha.
"Iya, aku pikir juga gitu. Kita periksa ke depan aja gimana?" tanya Radit meminta persetujuan istrinya.
"Iya, kita lihat ke depan!"
Mereka berdua lantas keluar dari rumah tanpa berpikir panjang. Karena merasa yakin kalau suara yang mereka dengar itu adalah berasal dari warga desa yang melintas di depan rumah mereka. Rupanya benar kalau ternyata beberapa warga sedang berbondong-bondong lewat di jalan depan rumah mereka sambil membawa obor. Banyak warga yang ikut. Ini membuat pasangan suami istri itu heran.
"Bukannya mereka bilang jangan keluar rumah malam ini, ya?" tanya Aretha heran.
"Iya. Apa mungkin salah hari, Yang?"
"Enggak mungkin. Kalau salah hari, itu tadi yang di kamar atas siapa dong?"
"Iya ya. Coba aku tanya mereka."
Radit mendekat ke jalan raya diikuti Aretha. Dia mencegat salah satu warga karena penasaran pada apa yang terjadi.
"Mas, ada apa, ya?" tanya Radit.
"Itu, Mas. Ada anak kecil yang dibawa sama ummu Sibyan. Ini kami lagi cari dia!" jelas pemuda yang ikut menabuh kentongan di barisan paling belakang.
"Kok bisa? Terus apa kalau kita keluar begini, dia nggak akan muncul? Bukannya kita nggak boleh keluar rumah, ya?" tanya Aretha.
"Kalau sudah ada korban, maka dia akan bersembunyi bersama korbannya. Kali ini anaknya Pak Dirno. Dia masih berumur 8 tahun. Kami lagi coba cari anak itu."
"Ya ampun. Kami ikut, ya, Mas!" kata Radit. Saat dia menoleh ke Aretha,
Istrinya pun mengangguk cepat.
"Boleh, Mas. Ayo, cepat! Jangan sampai tertinggal barisan di depan," katanya lagi.
Mereka bergegas mengejar orang orang yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Suasana desa yang seharusnya sudah sepi, mendadak menjadi ramai. Hampir sebagian besar orang keluar dari rumah untuk mencari keberadaan anak yang hilang itu.
"Kenapa konsepnya jadi mirip wewe gombel, ya?" tanya Aretha sambil berjalan mengikuti barisan di depan.
"Iya, memang begitu, Mbak. Dulu jin itu nggak pernah begini. Paling gangguannya hanya sampai anak anak rewel saja. Tapi sekarang dia sudah berani mengambil anak anak di desa ini."
"Apa sebelumnya pernah ada kejadian seperti ini juga, Mas?" tanya Radit.
"Pernah. Tapi untung anak itu ketemu. Makanya setelah dengar kabar itu, kami semua harus cari anak itu sampai ketemu. Karena kalau sudah pagi, maka kemungkinan kecil untuk bisa ditemukan lagi."
__ADS_1
"Ya Ampun. Semoga anak itu ketemu, ya."