Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
28. Kembali ke rumah


__ADS_3

"Terima kasih banyak, Kyai, Pandu, Syarif. Semua nya Terima kasih bantuannya. Kalau nggak ada kalian, kami mungkin akan kesulitan menghadapi mereka," Ucap Armand.


Pagi ini rombongan Kyai akan pulang kembali ke pesantren. Setelah malam yang panjang, mereka pun akan kembali ke aktivitas masing masing.


"Sama sama, Mas Armand. Kami membantu sebisanya saja. Semoga hal hal seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari. Tapi ... Boneka ini, saya serahkan ke Mas Armand saja, ya. Karena seperti nya Mas Armand orang yang tepat untuk menyimpannya."


Kyai Gofar memberikan bungkusan kain putih itu ke Armand. Pemuda tersebut nampak ragu ragu menerimanya. Bayangkan saja, mendapatkan titipan boneka yang berisi iblis sakti di dalamnya tentu bukan hal membahagiakan. Itu bukan hadiah yang bisa langsung diterima dengan tangan terbuka.


"Tapi, Kyai... Kenapa harus saya yang menyimpannya? Bukan, kah, benda ini agak berbahaya. Kalau suatu saat nanti dia kembali keluar dari boneka ini, lalu apa yang bisa saya lakukan?" Tanya Armand yang langsung menolak boneka itu.


Kyai Gofar tersenyum. "Saya mengerti kegelisahan Mas Armand. Tapi menurut saya, benda itu akan lebih aman ada di tangan, Mas. Selaku keturunan dari kakek buyut terdahulu. Simpan ditempat aman, yang tidak bisa diketahui orang lain. Jadi benda itu akan aman dan makhluk itu tidak akan keluar lagi."


"Tapi kalau misal suatu saat nanti dia keluar bagaimana, Kyai?"


"Hm, jika dia keluar lagi, dia pasti akan datang ke sini. Dan tugas kita mengembalikan dia kembali masuk ke dalam. Selagi saya masih hidup, saya akan terus membantu. Tapi jika saya sudah tidak ada, nanti keturunan Mas Armand lah yang akan mengurusnya."


"Keturunan saya? Maksudnya anak saya gitu, Kyai? Saya punya pacar saja belum. Hehe."


"Nanti. Keturunan Mas Armand merupakan anak anak hebat. Anak cucu semua. Walau mereka akan menghadapi kisah mengerikan seperti ini, tapi saya yakin mereka bisa melewatinya dengan baik. Saran saya, kalau nanti Mas Arman menikah dan memiliki anak, dan anak Mas Arman sudah menunjukkan gejala sensitif terhadap makhluk halus, sebaiknya bawa mereka belajar ilmu agama lebih dalam, agar kelak mereka bisa mengatur kemampuan itu dengan baik sesuai syariat islam."


"Baik, Kyai. Saya akan ingat nasehat, Kyai."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum."


Desa Kalimati lebih ramai dari biasanya. Ada banyak aparat polisi yang datang karena kasus penistaan agama yang dilakukan perangkat desa. Juga dugaan pembunuhan berencana yang sudah terjadi selama bertahun-tahun di sana. Sampai sampai Pak Gubernur juga datang untuk melihat langsung ke lokasi. Banyak warga desa yang ternyata tidak mengetahui apa yang telah dilakukan pemimpin desa mereka selama ini. Untungnya keributan ini hanya berlangsung sementara saja. Karena hanya dalam satu minggu berikutnya semua orang sudah tidak lagi membahas masalah tersebut.


Kepala desa sudah digantikan dengan orang lain secepat itu. Kini orang yang menjabat benar benar seorang pemimpin yang sangat kompeten. Jika harta bisa membuat seseorang gelap mata, tidak berlaku bagi Kepala Desa yang baru. Karena dia sudah memiliki kekayaan sebelum masuk ke dunia politik. Kini tugas kepala desa yang baru sangat banyak untuk bisa memajukan desa Kalimati menjadi lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Sumur dan kamar mandi umum sudah selesai dibangun. Tepat 2 minggu sebelum kkn mereka selesai. Warga juga sudah memanfaatkan fasilitas tersebut untuk kehidupan sehari hari. Kepala desa pun menyarankan agar warga mulai meninggalkan sungai sebagai kegiatan mandi dan mencuci, lalu memanfaatkan sumur dan kamar mandi umum tersebut. Agar keseimbangan alam lebih terjaga dan tidak mudah rusak.


"Baru kali ini kita duduk duduk di teras dengan tenang," Ucap Dolmen.


"Alhamdulillah. Akhirnya teror yang dulu sering kita alami berakhir. Ditambah lagi proker kita juga sudah selesai," Sahut Daniel.


"Ngomong omong kita bisa balik lebih cepet nggak sih? Pengen pulang rasanya," Tutur Mey.


"Ye, enak banget. Ya Tetep harus 3 bulan dong baliknya," Hardik Khusnul.


"Iya, lagian cuma tinggal 2 minggu lagi, Mey. Tahan tahan," Tambah Fendi.


"Tapi kalian udah baik baik aja, kan, Fen, Mey?" Tanya Armand.


"Udah kok. Rasanya udah enteng aja badan. Nggak kayak kemarin kemarin. Berat terus. Mau ngapa ngapain males banget."


"Tapi ngomong omong, gue tetep ngerasa itu rumah serem deh," Kata Derry sambil menunjuk ke rumah kosong tak jauh dari mereka.


"Ya namanya rumah nggak ditempatin lama, ya wajar kesan serem masih melekat. Yang penting nggak ada cewek baju merah itu lagi."


Seketika Sule menghentikan ucapannya. Saat dia melihat di ujung jalan ada seseorang yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Seseorang itu memakai baju merah.


"Tapi, itu siapa, ya?" Tanya Sule sambil terus memperhatikan sosok itu.


Mereka semua ikut menoleh dan sontak terkejut. Saat sosok berbaju merah justru muncul. Dia tidak berjalan, namun melompat dengan lompatan tinggi. Sekali lompat bisa sampai 2-3 meter jauhnya. Sehingga membuat jarak mereka menjadi semakin dekat.


"Aaaahhh!" Jerit mereka bersama sama sambil berlari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Setelah semua orang masuk. Pintu ditutup dan korden ditarik hingga tidak bisa melihat luar. Mereka panik dan ketakutan. Ternyata masih ada sosok wanita berbaju merah tadi.


"Kok dia masih ada di sini!" Pekik Mey.


"Ya kali dia pergi sama iblis itu? Ya enggak lah. Kan yang dikurung cuma iblis itu aja!" Sahut Dolmen.


"Yah, kita belum aman dong!" Rengek Indy.


"Nggak apa apa sih kayaknya. Mungkin memang di sini masih banyak makhluk halus, karena dikelilingi hutan, kan. Tapi sepertinya nggak ada gangguan yang ekstrem seperti sebelumnya."


"Tapi Nil, coba tanya Kyai deh. Kenapa masih ada setan di sini. Bukannya mereka harus nya nggak muncul lagi?" Tanya Cendol.


"Udah, nggak apa apa. Dia udah pergi," Kata Armand yang mengintip dari balik korden.


"Nil, coba deh minta dispensasi sama dosen. Biar kita bisa balik lebih cepet. Toh tugas kita udah selesai semua," Pinta Khusnul.


"Iya, Nil. Lagian kita habis mengalami hal mengerikan, jadi bisa dong kita dikasih keringanan," Tambah Derry.


"Yah, besok deh. Sekarang kita semua tidur aja. Ayo!"


***


Esok harinya, Daniel benar benar menghubungi dosen mereka dan menceritakan keinginan teman temannya. Untungnya apa yang terjadi pada mereka memang membuat gaduh hingga masuk berita nasional. Sehingga para dosen mengizinkan mereka kembali pulang dan tidak harus menunggu sampai dua minggu lagi.


Bus sudah datang dan kini parkir di depan kantor balai desa. Mereka sudah mengemasi semua barang bawaan dan mulai memasukkan ke dalam Bus. Warga dan aparat desa berkumpul untuk melepas kepergian mereka. Bagaimana pun waktu 2 bulan lebih yang mereka habiskan bersama tentu memberikan kedekatan. Tangis hari biru mewarnai kepergian mereka. Warga desa merasa kehilangan saat para mahasiswa itu pergi.


Begitulah hidup, ada pertemuan ada juga perpisahan. Itulah mengapa kita diharapkan bisa menghargai sekecil apapun pertemuan dan tidak menyia nyiakan waktu bersama orang orang terkasih.

__ADS_1


TAMAT!


__ADS_2