Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
28 pasar


__ADS_3

POV ARETHA


Sudah sekitar 4 hari kami di sini.


Bali, pulau dewata. Dengan sejuta keindahan yang memanjakan mata.


Sejak kejadian leak waktu itu, sudah tidak ada lagi hal hal aneh yg kami alami selama kami di sini.


Aku sedang menikmati secangkir teh di halaman depan rumah om Wayan.


Seperti biasa, semua orang sibuk sendiri sendiri. Rumah om Wayan yg cukup luas membuat mereka betah dan mengeksplor semua tempat. Kebanyakan mereka foto foto, ada yg sibuk masak di dapur, mba Alya pastinya dan Kiki. Ikut masak bersama mba Alya.


Aneh? Iya aneh memang.


Entah kesambet setan mana dia, mau masuk dapur dan berkutat dengan keluarga bawang dan teman temannya.


Yang kudengar, Kiki ingin bisa memasak makanan kesukaan Doni.


Cinta memang aneh. Dia mampu membuat seseorang rela melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya.


"Tha! Ikut yuk," ajak Radit yg sudah berdiri di dekatku.


"Ke mana?''


"Pasar."


"Hah? males. Enggak ah," tolakku malas-malasan.


"Yah, Aretha. Masa cewek males ke pasar sih. Besok kalau kita nikah, kamu belanjanya di mana?" tanya Radit mulai ngelantur.


Danu dan Doni yang ada di sampingnya terkekeh geli mendengar Radit merajuk manja.


Ini anak mikir nya udah sampai nikah segala. Astaga... *tepok jidat.


"Gampang, kan ada Mang sayur lewat. Jadi gak perlu ke pasar," jawabku santai.


Tempat kedua yg paling tidak ingin ku datangi adalah pasar!


Nomer 1 sudah jelas, rumah sakit.


Terakhir ke rumah sakit saat menjenguk Danu, dan semoga aku tidak menginjakan kaki lagi di tempat seperti itu.


Pasar & rumah sakit itu hampir sama bagiku.


"Ikut lah, Tha. Masa cowok doang yg ke pasar," pinta Danu.


"Iya. Lagian ngapain sih? Ngelamun aja. Tenang, Tha, Radit ikut juga kok," ledek Doni.


"Ya udah yuk. Tapi jangan kelamaan ya." akhirnya aku pasrah.


Kami berencana membuat acara bakar bakaran seperti biasa nanti malam.


Dengan berbekal informasi dari om Wayan, sampai juga kami di pasar.


Baru masuk saja aku sudah langsung pusing. Ku tahan sebisa mungkin.


Beberapa makhluk astral sudah ku jumpai dari awal aku masuk.


Mereka terus menatap tajam padaku. aku terus membaca doa doa dalam hati.


Sementara Danu dan Doni memilih bahan makanan aku hanya bisa diam dan terus mepet ke Radit.


"Tha, kamu gak papa?" anya Radit sedikit cemas.


Aku hanya menggeleng sambil terus menekan kepalaku.


"Kamu sakit?" tanya nya lagi.


"Enggak kok. Nggak papa. Masih lama ga, ya?" tanya ku sambil melihat Danu dan Doni yg sedang bernegosiasi harga daging dengan penjualnya.


*emak emak mode on.


"Eh kak Radit," sapa seorang wanita yg sedang menenteng beberapa kantung kresek di tangannya.


"Lho, Niluh? Belanja juga?" tanya Radit balik.

__ADS_1


Ini kok mereka akrab banget. Siapa sih dia?


Aku hanya melihat Radit dan wanita itu ngobrol akrab. Tatapan sinis terus kulayangkan, walau pada akhirnya mereka berdua tidak menyadarinya. Sial


"Tha!!" Danu menepuk pundakku.


Aku tersentak kaget.


"Ya Allah. Danu ih. Ngagetin aja!!" kataku kesal.


"Lah kamu, ngelamun aja. Dipanggilin dari tadi. Ini kita mau beli berapa, Tha?" tanya Danu sambil menunjukan lobster besar padaku.


"Terserah," jawabku ketus.


"Ya ampun, Aretha. Kira- kira berapa dong.. Kan kamu yg mau bayar," katanya sambil ketawa.


Aku hanya meliriknya tajam.


"Hitung per- orang aja deh. Satu orang satu," saranku.


"Oh gitu. Iya deh." Danu kembali ke pedagang itu dan membeli beberapa lobster.


Doni mendekat.


"Tha... Siapa tuh. Akrab banget sama Radit?" tanya Doni bisik bisik.


"Mana ku tau," Jawabku ketus.


"Ih, cemburu ya," ledek Doni.


"Enggak. Lama banget sih. Cepet yuk balik." aku sudah tidak sabar. Entah karena keadaan pasar yang makin membuat kepalaku berat atau keadaan hati yang makin sesak.


"Halah, cemburu juga. Ngaku aja, Tha. Hayo... Aku bilangin Radit nih ya. Dit! Rad ...! pfftt." langsung ku bekap mulutnya dengan tanganku.


"Teriak sekali lagi aku tonjok muka mu, Don!!" ancam ku serius.


Dia lalu menaikan dua jarinya ke atas.✌ Ku lepas perlahan tanganku.


Dia malah tertawa kencang.


Radit lalu mendekati kami setelah berpamitan dengan wanita itu.


"Pada kenapa sih? Berantem mulu kayak anak kecil?" Tanya Radit sambil menatap aku dan Doni bergantian.


"Ini, Dit. Bebeb elu. Tadi dia ...."


Buugg!!


Kuinjak kaki Doni agar diam.


Dia mengerang kesakitan sambil mengumpat macam macam.


"Untung aku lagi nggak pakai high heels, Don. Remuk nanti kaki elu. Rasain!!" kataku kesal.


"Sayang, udah dong. Kasihan Doni. Dia ngapain kamu sih? Nanti aku jewer dia." Radit menarik tanganku menjauh dari Doni.


"Cieee... Sayang," ledek Doni seolah tidak kapok.


Aku mengepalkan tangan ku ke padanya.


Dia lari lalu bersembunyi di belakang Danu yang sibuk dengan belanjaannya.


"Ya ampun, nggak di rumah nggak di sini, berantem mulu. Heran deh!!" celetuk Danu.


"Elu gak tau sih, Dan. Aretha bete kenapa." Doni mulai lagi nih.


Bener bener pengen ngajakin aku berantem kali ya nih anak satu.


Ku tunjuk dia dengan jari telunjukku lalu menghampirinya. Seolah tau apa yang akan kulakukan, dia langsung lari. Otomatis aku mengejarnya.


"Tha! Jangan lari lari, Tha!!!" teriak Radit.


Namun terus saja ku kejar dia yg berlari keluar pasar.


Saat hampir dekat aku langsung naik ke punggungnya dan mengapit lehernya dengan lenganku.

__ADS_1


"Ampun, Tha. Ampun. Sumpah gue gak berani ngelawan elu, Tha. Bisa dibunuh Radit sama Arden nanti.


Damai. Damai," Katanya terus menerus tak berhenti.


"Astagfirullohhaladzim. Ini anak dua. Heran deh.." Danu geleng geleng kepala melihat kami.


Radit lalu mendekat.


"Udah dong, sayang. Diliatin orang tuh. nanti aja di rumah lanjutin lagi gak papa. udah turun yuk," Bujuknya.


"Habisnya Doni nyebelin, Dit," rengekku.


"iya nanti ku jewer ya. Turun ya."


Sumpah mirip anak kecil sekalu nih aku.


Aku lalu turun atas bujukan Radit, dan kami akhirnya pulang ke rumah.


Karena jarak rumah om Wayan dan pasar cukup dekat maka tadi kami sengaja jalan kaki ke pasar


Dan kini kami juga jalan kaki, pulang ke rumah.


Kami lalu melewati sebuah kebun yg luas dan ada rumah kosong yg sudah tidak terawat lagi.


Disekitar sini tidak ada lagi rumah lain.


"Ni rumah pasti horor ya, Tha?" tanya Danu.


Aku hanya menatap rumah itu tanpa menyahut perkataan Danu tadi.


Tidak perlu ditanya lagi, karena saat berangkat tadi, aku seperti melihat bayangan seseorang di jendela rumah ini.


"Wah, bisa buat uji nyali nih," tambah Doni.


"Elu yg mau uji nyali??" tanya Radit.


"Ah, nggak takut gue.. Baru rumah gini doang," kata Foni sombong.


"Heh!! Sembarangan kalau ngomong jangan takabur gitu!!" ucapku .


"Lah bener, Tha.. Gue gak takut kok.. Berani gue masuk sono. Mau bukti??" tantangnya


"Sana, Don! Buktiin coba!!" Danu malah ikut membuat aku pusing.


"Okeee.." saat Doni melangkah ke halaman rumah itu, kutarik tangannya.


"Pilih mana? Masuk ke sana tapi ku tonjok dulu... Apa balik ke rumah??" tanyaku sambil mengepalkan tanganku kepadanya.


"Yah... Elu mah. Kenapa sih.. Siang siang mana ada setan??" katanya sok tau.


"Ya udah sini ku tonjok dulu," kataku serius.


"Sayang ... Udah.. Don!! Udah ah.. Gak usah macem macem!!"kata Radit serius sambil menatap ku lalu gantian ke Doni.


Dduuuggg!!


Sebuah bola yg entah dari mana mengenai punggung Doni.


Kami mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Wah... Nggak beres nih.. Balik aja yuk," ajak Danu lalu langsung lari lebih dulu.


"Bener kan? Ayo Don. Balik aja. Nggak usah aneh aneh," ajak Radit.


Samar samar aku melihat seorang anak kecil berdiri di dekat jendela ruang tamu itu. Dia terus menatap kami tajam, lalu dia melambai kan tangan nya padaku agar aku mendekat.


Aku menggeleng pelan sambil menatapnya.


"Tha.. Kenapa??' tanya Radit lalu ikut melihat ke rumah itu.


"Gak papa.. Ayok balik," ajakku namun masih tetap menatap sosok di sana.


Kami lalu meninggalkan rumah itu dan pulang ke rumah. Sementara Danu sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.


Cepet banget  kaburnya tuh anak.

__ADS_1


__ADS_2