Hello Presdir

Hello Presdir
Masih Mengacuhkannya


__ADS_3

Sorenya setelah pulang bekerja, Keno tidak pulang ke rumahnya sendiri, melainkan pulang ke rumah mertuanya. Istrinya pasti akan menginap di sana lagi, jadi ia juga ikut ke sana.


Sesampainya di sana, Keno mendapati istrinya tengah mengobati luka bakar semalam. Hatinya mencelos melihat luka di tangan dan kaki Aira. Ia pun langsung mengambil alih cotton bud dan salep dari tangan Aira.


"Kembalikan !" bentak Aira kepada Keno.


"Biar aku yang mengoleskannya, kau duduk saja yang manis," ucap Keno selembut mungkin.


Aira tak mau disentuh Keno, ia pun pergi meninggalkan lelaki itu.


"Sayang, jangan pergi dulu. Lukamu belum terobati semua..."


"Jangan memanggilku dengan panggilan itu !"


Keno kembali merasakan sakit di hatinya, Aira benar- benar marah dengannya. Bulir air mata pun kembali menetes tanpa permisi.


"Makanya jadi anak tuh jangan nakal ! Rasain tuh dicuekin sama istri, emang enakk," ledek Andi. Ia sedari tadi menguping dan mengintip Aira dan Keno. Andi tak bisa berhenti tertawa melihat Keno yang diacuhkan Aira.


"Jangan meledekku, pah!" ketus Keno seraya menusuk perut buncit Andi dengan jari telunjuknya.


Keno mendapati istrinya tengah duduk di samping ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, ia kembali mendekati wanita itu.


"Aku merindukanmu..." ucapnya lirih seraya mendekap tubuh Aira.


Aira terus memberontak melepaskan, tapi Keno tak mau melepaskannya dan malah mendekapnya erat.


"Apa maumu?! Jangan mendekapku erat seperti ini, kau bisa membuat bayiku tersakiti !" Mendengar kata bayi, Keno pun meregangkan pelukannya. Tangan kanannya terulur untuk mengusap perut Aira, sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh wanita itu. Tak ada penolakan dari Aira, tapi Aira terus saja terdiam mematung.


"Baby, maafkan Papa ya..."


"Bilang sama Mama, marahannya jangan lama- lama. Papa tidak bisa jika didiami seperti ini terus." Keno berkata dengan nada sendu, matanya berkaca- kaca.


Aira bangkit dan hendak keluar kamar, tapi Keno dengan cepat memeluk tubuhnya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, mengusap- usap perut Aira memberikan lelaki itu kenyamanan tersendiri.


"Tolong maafkan aku..." ucap Keno semakin pilu.


Aira masih tak bergeming, Keno semakin takut dengan diamnya Aira. Dia mencoba membalikkan tubuh Aira hingga menghadap dirinya. Menatap lekat wajah istrinya yang terlihat hendak meneteskan air matanya.


"Ku mohon jangan menangis," pinta Keno mengusap air mata yang hampir menetes di pelupuk mata istrinya.


"Aku memang salah, hukumlah aku semaumu, apapun itu. Kau boleh memukuliku, lakukan apa saja asalkan aku mendapatkan maaf darimu." Keno kemudian berjongkok dan memeluk kaki istrinya.


"Aku mohon maafkan aku..." ucap Keno dengan suara paraunya. Lelaki itu tersedu- sedu sama seperti Aira.


Aira langsung menarik tubuh Keno, ia tak tega seorang lelaki seperti Keno bersujud di kakinya dan tersedu- sedu hanya untuk 'maaf'.


"Ku mohon biarkan aku sendiri, aku hanya ingin ketenangan. Jangan mengusikku lagi." Aira angkat bicara, tapi ia tak menatap suaminya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini?"


"Bukan sampai kapan dan berapa lama, tapi sampai kau benar- benar berubah dan menyadari kesalahanmu. Kau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, aku telah memberikanmu kesempatan tapi kau terus saja mengulangi kesalahan yang sama."


"Maafkan aku, aku benar- benar lelaki bodoh."


***

__ADS_1


Keno menatap ke arah taman, dilihatnya Aira tengah duduk bersila di kursi panjang tengah taman itu. Memejamkan matanya dan menengada ke langit yang kala itu tak berbintang.


Keno melangkahkan kakinya menghampiri sang istri. Wajah pucat Aira, matanya yang bengkak karena menangis terlihat sangat jelas. Tak kuasa menatapnya, Keno teringin sekali untuk memeluknya lagi, bermanja- manjaan setiap malamnya dan bercanda hingga tertawa lepas.


Aira membuka matanya perlahan, parfume Keno yang sangat dikenali Aira membuatnya tersadar. Ia pun menoleh ke arah Keno yang sedari tadi menatapnya diam- diam.


"Sayang..." lirih Keno.


Aira berdiri dan memakai sandalnya, melangkah tanpa ada satu kata yang terucap dari bibirnya. Hati Keno semakin teriris melihatnya.


***


"Sayang, aku sudah membawakanmu makan malam. Ayo makanlah..." Keno meletakkan nampan yang berisikan makanan di samping Aira yang kala itu tengah berselonjoran di ranjangnya.


"Aku akan pergi, tapi berjanjilah jika kau akan memakan dan menghabiskan makanan itu." Keno berlalu meninggalkan kamar sang istri. Aira yang saat itu memang sedang lapar pun langsung melahap makanan itu.


Diam- diam, Keno mengintipnya dari sebalik pintu. Senyumnya tersungging melihat istrinya begitu lahap makan.


"Hati- hati, nanti bintitan matamu !" seru Andi menghampiri Keno yang sedang mengintip.


"Biarin aja."


"Sudah jangan ngintipin anakku lagi, ayo tidur." Andi menarik tangan Keno dan mengajaknya pergi dari kamar Aira.


"Aku mana bisa tidur tanpa Aira, aku akan tidur setelah Aira tertidur."


"Biarkan Aira tidur sendiri, ayo tidur dengan papa."


"Astaga Papa yang bener aja dong, masa iya Keno tidur dengan Papa," ucap Keno, ia bergidik ngeri. Sedangkan Andi malah tertawa terbahak- bahak.


***


"Sayang, bolehkah aku tidur denganmu?" tanya Keno dengan nada sendu.


"Tidak boleh ! Tidur sana sama Pak Dodit, satpam depan," jawab Aira ketus.


"Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kau."


"Halah! Kemarin- kemarin juga kau tidak tidur denganku, kau malah tidur nyenyak saat bersama Tiara dan Livka."


"Sayang, lihatlah mataku ini. Sudah seperti panda, kan? Aku tidak bisa tidur sendiri, kau mau sampai kapan membiarkanku tidak tidur nyenyak?"


"Sampai matamu copot!"


"Hiks...jahat..."


"Kau lebih jahat!" Aira menarik selimutnya dan membelakangi Keno.


***


Selama sebulan ini, Aira masih saja mengacuhkan suaminya. Tapi, Keno tetap berusaha dan membuat Aira memaafkannya. Keno juga banyak berubah, dia bisa menyiapkan segala keperluannya sendiri. Dan saat pulang kantor yang biasanya dasi, tas, jas, dan yang lainnya berserakan, kini lelaki itu mau membereskannya.


Keno juga lebih lembut dari sebelumnya, dia tak pernah marah- marah lagi. Keno benar- benar mau mendapatkan maaf dari istrinya, tapi Aira masih belum bisa memaafkan kesalahan lelaki itu. Ia pernah memberinya kesempatan, dirinya selalu memaafkan apapun kesalahan yang diperbuat Keno. Tapi lelaki itu malah selalu mengulang hal yang sama.


***

__ADS_1


Setiap malam, lelaki itu selalu tidur setelah istrinya tidur. Dirinya memang tidak bisa tidur jika tak ada istrinya, jadi dia mengalah dan menunggu Aira terlelap dulu. Dan dia selalu terbangun sebelum Aira karena jika istrinya itu tahu semalaman ia tidur dengannya pasti akan marah besar.


Kali ini Keno bangun terlambat, Aira bangun terlebih dahulu darinya. Wanita itu sebenarnya tahu jika suaminya selalu tidur dengannya, tapi ia hanya pura- pura tak tahu dan tertidur lelap.


"Maaf, aku hanya masih takut kejadian- kejadian itu terulang lagi," lirih Aira membelai pipi suaminya.


Bohong jika wanita itu tidak merindukan Keno, dirinya sangat rindu. Sebulan ini dirinya benar- benar mendiamkan suaminya. Suaminya selalu memperhatikannya tapi dia tak menggubris dan bersikap acuh.


Aira mengecup kening suaminya begitu lama sebelum meninggalkan kamar, air matanya pun menetes seketika. Ia benar- benar merindukan lelaki itu.


Keno menggeliat, merasakan sesuatu yang basah di keningnya. Ia pun terkejut tak mendapati Aira di sampingnya. Keno menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul lima pagi, biasanya dia bangun jam tiga pagi dan melanjutkan tidurnya di kamar lain.


"Ahh! Aira pasti tahu kalau aku tidur dengannya semalam," gumamnya mengusap wajahnya kasar. Ia takut kalau Aira semakin marah dengannya.


***


Pagi itu Keno terlihat senang karena mendapati istrinya di meja makan. Padahal selama sebulan ini istrinya selalu membawa sarapannya ke kantor. Tak mau mengganggu Aira, Keno pun mengalah. Dia memilih untuk sarapan di kantornya saja, karena jika dia ikut bergabung ke sana pasti Aira akan langsung pergi.


"Mau kemana? Kenapa tidak sarapan?" tanya Aira membuat langkah Keno terhenti seketika. Lelaki itu pun membalikkan badan, menundukkan wajahnya, ia takut menatap wajah istrinya.


"A- aku sarapan di kantor saja," jawab Keno terbata- bata.


"Duduklah !"


Keno mencoba mencerna perkataan istrinya. Aira menyuruhnya duduk menikmati sarapan bersama, apa dia tidak salah dengar?


"Kok malah bengong? Kemarilah, Nak," seru Mira.


Keno mengangguk, dengan ragu ia menarik kursi di samping istrinya. Aira mengambilkan makanan ke piring Keno. Keno pun terkejut dengan perlakuan istrinya, Apa istrinya itu sudah tak marah lagi dengannya? Pertanyaan itu terus saja berputar di kepalanya.


Sarapan pun selesai, Keno memberanikan diri mengajak istrinya berbicara.


"Ehm, Apa kau sudah tidak marah lagi denganku?" tanya Keno ragu. Ia meremas jarinya karena gugup.


"Tentu saja," jawab Aira.


Keno sangat lega mendengarnya, senyumnya merekah sempurna, ia bangkit dan hendak memeluk istrinya itu. Tapi...


"Tentu saja aku masih marah!" tambah Aira, ia berlalu meninggalkan Keno yang tangannya sudah siap untuk memeluk dirinya.


Keno pun langsung lesu, senyumnya kembali memudar. Mira dan Andi yang melihatnya pun tertawa terpingkal- pingkal.


"Masih marah ya dia, jangan seneng dulu," ledek Andi tertawa puas.


.


.


.


.


.


Rekomendasi novel bagus👍👍👍

__ADS_1



__ADS_2