Hello Presdir

Hello Presdir
Extra Part 4


__ADS_3

Jarum jam telah menunjuk angka dua belas, saatnya makan siang. Anak itu masih asyik dengan mobil, kereta pesawat, puzzle, dan mainan lainnya di ruang kerja papanya yang telah disulap sedemikian rupa.


"Cacing- cacingku sudah lapal," ucapnya cedal. Kedua tangannya memegang perut yang mengisyaratkan supaya diisi.


"Kita cali papa dulu..."


Aksa menyusuri ruang kerja papanya, tak lupa juga mencarinya di bawah meja, tapi tak kunjung menemukan lelaki yang ia panggil papa.


"Papa dimana?"


"Papa nggak dimakan cicak, kan?" Aksa menatap cicak yang lewat di depannya, perutnya terlihat besar, sepertinya Papa sedang berada di sana, pikir Aksa.


Anak itu menangkap cicak yang terus saja berlari menghindarinya. Aksa tertawa lepas karena kesulitan menangkap cicak. Ia tak peduli jika dirinya telah membuat ruangan berantakan. Semua barang yang berada di sana tersenggol saat dirinya berlari. Berantakan!


"Yeyyyy aku menangkapmu! Cekalang keluarkan papa..."


Aksa menggelitik perut cicak supaya cicak segera mengeluarkan papanya. Tapi Papanya tak kunjung keluar, yang ada malah ekor cicak itu putus.


"Ahhhhh, ekormu lepas! Aku telah membuatmu sakit. Maafkan aku cicak..." Aksa terlihat sedih melihatnya. Ia segera mengambil tisu dan membalut cicak itu. Melakukan hal yang sama seperti Mamanya ketika dirinya terluka. Lalu, meletakkannya ke dalam botol susu yang telah habis, biar tidak lari, katanya.


"Kita tunggu papa datang ya, nanti ke rumah sakit..." Perasaan bersalah menyelimutinya, mungkin ekor cicak itu terputus karena kelelahan kejar- kejaran dengannya tadi.


Anak itu duduk di sofa, menyangga dagunya dengan kedua tangan, matanya tak henti menatap botol susunya yang terdapat cicak di dalamnya. Ia takut jika cicaknya itu mati karena tak kunjung dibawa ke dokter.


"Papa kok nggak dateng ya cicak, pasti kamu lagi nahan sakit. Tunggu sebentar ya, kamu jangan mati dulu, aku takut kalau dihantui kamu."


Aksa semakin khawatir, karena Papa maupun Mamanya tak kunjung datang menghampirinya. Mereka sibuk dengan dunianya masing- masing. Keno tengah melangsungkan rapat, sedangkan Aira mungkin dalam perjalanan kemari setelah acara pembukaan toko baru.


Mata Aksa tak sengaja melihat ponsel papanya yang tergeletak di atas meja. Ia pun berusaha mengambilnya. Tak sampai meskipun dirinya telah berjinjit dan melompat, meja terlalu tinggi.


"Aduh cicak, sepertinya aku harus minum susu lebih banyak lagi biar tinggi," ucap Aksa.


Dia tetap berusaha menggapainya, namun tak kunjung dapat. Malah ia tak sengaja menyenggol tinta printer yang tengah terbuka tutupnya dan berada di sebelah ponsel. Tinta itu tumpah, mengalir mengotori lantai.

__ADS_1


"Kalelpul (Colourful)" pekiknya girang.


Tinta berwarna merah, kuning, biru dan hitam bercampur ke lantai yang berwarna putih itu. Aksa langsung mendekat, memainkan tinta itu hingga tak terasa, lantai semakin kotor.


Anak itu tertawa riang, memainkan tinta dan mencoba menggambari lantai. Ruangan Keno sudah tak layak dipandang lagi, berantakan dan sekarang lantai ternoda karena tinta yang dijatuhkan Aksa tadi.


"Aksa, ayo makan sayang. Maafin Mama ya baru datang..." ucap Aira memasuki ruangan Keno. Ia tersentak melihat ruangan yang sudah seperti kapal pecah dan tak mendapati anak serta suaminya.


"Aksa, kamu dimana sayang?" Aira mendengar Aksa yang sedang cekikikan, tapi tak melihat wujud anaknya.


Ternyata Aksa sedang berada di bawah meja, bergulat dengan tinta berwarna warna- warni itu.


"Astaga Aksa!" pekiknya terkejut. Tubuh anaknya yang putih bersih sekarang berubah jadi warna- warni. Bajunya tadi juga kebetulan berwarna putih, dan sekarang berubah.


"Mama kalelpul mama..."


"Colourful ya sayang..." Aira senang melihat tingkah anaknya ini, tapi dirinya juga sedih, apa tinta di tubuh anaknya itu bisa hilang? Yang menempel tak sedikit, banyak, bahkan hampir seluruh tubuh Aksa. Anak itu sudah tak terlihat seperti manusia.


"Sudah ya sayang, kita mandi dulu. Nanti kalau kelamaan takut nggak bisa hilang kan serem." Aira menuntun anaknya memasuki kamar mandi. Jejak Aksa menuju kamar mandi terlihat jelas karena kakinya berlumur tinta.


"Mandi dulu sebentar, Mama sudah bawain makanan buat Aksa."


"Makan dulu mamah...," rengek Aksa, ia tak mau memasuki kamar mandi.


Aira pun terpaksa mengiyakan, ia menyuruh anaknya duduk dan segera menyuapinya. Keno yang baru saja selesai rapat dan masuk ke ruangannya pun terkejut melihat sesuatu di samping istrinya.


"Loh, kok ada makhluk luar angkasa?" tanyanya membuat Aira dan Aksa kesal.


"Ini Aksa papah..."


Keno langsung mengusap dadanya, "Kok kamu jadi tambah jelek sih sayang? Kenapa kamu jadi warna warni gitu?"


"Gara- gara kamu tinggal jadi seperti ini! Tuh lihat ruanganmu!" ketus Aira. Keno bergidik ngeri melihatnya, ia hanya bisa nyengir.

__ADS_1


"Sudah kenyang Mamah..."


Aira pun menghentikan suapannya, ia segera melepas baju Aksa dan menggendong anak itu ke kamar mandi.


"Sayang, bantuin aku mandiin anakmu! Susah ngilangin tintanya..." teriak Aira.


"Iya, tunggu sebentar," sahut Keno.


Mereka terus menggosok tubuh Aksa, memberikan sabun yang banyak supaya tinta cepat hilang. Sudah hampir sepuluh menit di dalam kamar mandi, Aksa juga terlihat menggigil meskipun air yang digunakan air hangat. Aira tak tega melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, ia harus membersihkan anaknya sampai terlihat seperti manusia lagi.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya tubuh Aksa sudah kembali meskipun ada beberapa bagian masih terdapat tinta karena sulit hilang.


"Besok jangan nakal lagi sayang, anteng kalau lagi ditinggal Papa atau Mama," ucap Aira menasihati anaknya seraya memakaikan baju.


"Iya mamah..."


"Kamu tadi ngapain kok tintanya bisa tumpah? padahal kan ada di atas meja?" tanya Keno menyelidik.


"Aksa mau ngampil handphone Papa."


Aksa baru teringat jika ia meninggalkan cicak di sofa ruangan itu. Ia segera berlari ketika Aira sudah selesai memakaikannya baju.


"Aksa jangan bermain lagi!"


"Enggak Mamah..." Aksa kembali ke Mama dan Papanya dengan botol susu di tangannya.


"Kenapa, Sa?" tanya Keno.


"Papa ayo ke rumah sakit. Tadi Aksa main sama cicak, teyus ekor cicaknya putus, kita harus ke dokter sekarang." Aksa menunjukkan cicak yang terbalut tisu.


Aira dan Keno menepuk keningnya, anaknya terlalu baik. Mereka jadi terharu.


"Papa bangga denganmu, Nak. Kamu sangat baik," ucap Keno menyeka air matanya, ia sangat terharu tapi juga jengkel.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit ya, cicaknya belum mati kan, sayang?"


"Belum mati, Mah. Makanya ayo ke rumah sakit sekarang."


__ADS_2