Hello Presdir

Hello Presdir
Sepucuk Surat


__ADS_3

Mentari pagi kembali menyapa. Aira sudah siap memasak sarapan untuk Keno. Dengan cekatan, ia menyiapkan semua bahan yang diperlukan.


Baru mau memulai, ia mendengar bel berbunyi. Segera ia mematikan kompor dan berjalan menghampiri orang yang memencet bel.


"Selamat pagi Nona Aira Madali yang cantik jelita tiada tara, baik hati, tidak sombong, tapi cerewet dan galaknya minta ampun." ucap orang itu membungkukkan badannya.


"Hufffttt, Pak Dodit itu memuji atau meledek sih sebenarnya."


"Saya memuji tapi sekalian mengejek, ya lumayan ngirit ongkos haha."


"Apaan coba, mau apa ke sini lagi, Pak?"


"Ini ada kiriman dari Nyonya Mira lagi untuk Nona Aira." seru Pak Dodit menyodorkan buket bunga besar dan paper bag kepada Aira.


"Lagi? Kenapa mama jadi sering ngirimin bunga sama makanan sih."


"Oh untuk itu saya tidak tempe, sebaiknya Nona tanyakan sendiri kepada beliau."


"Tempe terus, engga bosen apa. Bilangin makasih ya sama Mama, kalau bisa jangan ngirim bunga lagi. Makanannya aja yang banyak." Aira langsung menutup pintu dan meninggalkan Pak dodit yang masih berdiri menatap kepergiannya.


"Saya belum pamitan, dasar anak muda jaman sekarang tidak ada akhlak. Tak tahu terima kasih, sudah untung saya mau mengantarnya kemari." gerutu Pak Dodit.


Aira membuka pintu lagi dan berteriak, "Aku masih mendengarnya, berhenti merutuki ku." serunya melototkan mata dan berkacak pinggang.


"Baiklah- baiklah, anak muda memang selalu menang huh."


***


Aira tersenyum memandangi sejenak rangkaian bunga tulip putih yang dikemas dengan wrapping paper berwarna coklat dan dihias dengan pita berwarna merah muda membuat tampilannya terlihat begitu cantik.


Pada dasarnya, tulip adalah bunga kebahagiaan yang membangkitkan perasaan bahagia pada diri seseorang. Bunga ini juga menunjukkan awal baru, kedamaian, dan pengampunan. Sebagai pilihan bunga yang sempurna untuk meminta maaf pada seseorang.


"Mama mengirimkan bunga tulip putih? Mama benar- benar meminta maaf padaku?" gumam Aira tidak percaya.


Aira semakin dibuat heran dengan mamanya. Kemarin Mama mengirimkan buket bunga Hyacinth yang juga memiliki simbol untuk menyampaikan permintaan maaf kepada orang yang dicintai.


Di belakang buket bunga tulip putih itu terselip amplop berwarna merah muda. Aira mengambil dan melihat isi amplop itu yang isinya adalah sepucuk surat. Tak berpikir panjang, Aira langsung membaca surat dari mamanya itu.


Untuk Aira, Putri Mama Tersayang


Hello Aira sayang, hari ini kau baik- baik saja kan, Nak? Mama harap kau selalu baik- baik saja dan selalu dalam lindungan Tuhan. Amin.


Kau mungkin bertanya- tanya kenapa akhir- akhir ini Mama mengirimkan bunga dan makanan untuk mu. Kau tahu sendiri bukan makna bunga "Hyaciant" dan "Tulip Putih" hehe, yaitu sebagai simbol permintaan maaf. Iya, maksud Mama juga begitu. Mama hanya ingin meminta maaf kepadamu. Salah Mama kepada Aira banyak sekali.


Mama akan sedikit bercerita kepadamu, hehe.


Saat itu Mama sama Papa menikah karena dijodohkan oleh Nenek dan Kakek mu. Tentu saja itu membuat hati Mama sakit, Mama harus menikah dengan cara paksa bersama orang yang sama sekali tidak Mama kenal sebelumnya.


Mama dan Papa berusaha menerimanya bahkan kami juga sudah melakukan hubungan suami istri, tapi cinta tidaklah mudah tumbuh di hati Papa dan Mama. Masih sangat sulit sekali menerimanya hingga akhirnya kami memutuskan untuk bercerai. Tapi waktu itu Mama malah dinyatakan hamil.


Mama tidak terima akan hal itu. Kehamilan itu memang tidak diharapkan oleh Mama. Berbagai cara telah Mama lakukan untuk menggugurkanmu saat itu. Tapi itu selalu digagalkan oleh Nenek mu. Dan Mama mengalah, akhirnya Mama melahirkanmu. Maafkan Mama ya, Nak.


Saat kamu lahir, Mama sangat senang mendengar tangisan mu. Mama berusaha menerima mu, tapi itu sangatlah sulit. Hingga akhirnya kau dirawat oleh Nenek sampai kau besar. Maafkan Mama tidak menemanimu berkembang, bermain, dan menemani belajar. Mama sangat menyesal.


Papa dan Mama berusaha menumbuhkan cinta lagi di hati kami. Setelah kami bisa menerima dan mencintai satu sama lain, kami akan mengambilmu dan melakukan hal yang sama hingga kita bisa berkumpul bertiga.


Papa sudah mencintai Mama tapi Mama belum bisa mencintai Papa. Saat Nenek meninggal kami harus merawatmu, Mama belum bisa menyayangimu sama seperti Papa yang selalu menyayangimu. Entah mengapa Mama selalu jengkel saat melihat kau, Mama selalu menyalahkan kau karena kau Mama gagal bercerai dengan Papa.


Maafkan Mama jika selama ini Mama selalu meluapkan amarah kepadamu, sering berbicara kasar, bahkan juga acap kali memukuli mu. Maafkan juga karena Mama baru bisa menyayangimu saat kau sudah besar.


Dulu mama sangat membencimu tapi sekarang Mama sangat mencintai dan menyayangimu. Mama gengsi jika harus menunjukkan kasih sayang Mama denganmu. Jadi mama selalu dingin kepadamu, bahkan juga mendidikmu sedikit kasar. Maafkan Mama.


Dibalik sikap dingin dan kasarnya Mama itu terselip rasa sayang yang berlebih, Mama hanya ingin kau menjadi manusia yang kuat dalam menghadapi dunia ini. Maaf jika sering membuatmu menangis setiap malam.


Kau pasti berpikir kalau Mama dan Papa lebih menyayangi Hana daripada dirimu. Itu semua tidak benar, kami sangat menyayangimu lebih dari apapun. Rasa sayang kami ke Hana itu semata- mata karena kasihan saja karena masih kecil tapi ayahnya sudah meninggal.


Oh ya, sebenarnya Papa dan Mama sangat mendukung kuliahmu. Tapi karena kau harus tinggal jauh dengan kami, kami tidak rela melepasmu dan takut terjadi apa- apa denganmu jadi kami menolak. Keputusan Mama mengijinkanmu kuliah di luar kota tetapi harus mencari biaya sendiri itu memang salah. Maaf telah membuatmu kesusahan membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Tapi ketahuilah, kami mengirimkan pengawal untuk menjagamu dari jarak jauh. Kami juga selalu memberikan kamu bantuan melalui bos mu karena kami tidak ingin terlalu mencolok akan hal itu. Papa sama Mama senang kamu bisa mandiri, kamu bisa menjalani pahit manisnya kehidupan.


Kami selalu bangga akan prestasi mu semasa sekolah, kami juga bangga kau menjadi reporter ternama di negara ini. Kami bangga karena kau bisa mendirikan toko kue dengan jerih payahmu sendiri hingga sukses seperti sekarang. Kau selalu membuat kami bangga, kau memang anak hebat.


Maaf jika selama ini kami tidak menunjukkan kasih sayang kepada kau dan malah terlihat mengacuhkanmu, tapi percayalah kami itu sangat menyayangimu melebihi apapun.


Mama hanya bisa mendoakan kamu, tetaplah tersenyum sayang. Semoga kau bahagia selalu, Papa dan Mama selalu menunggu mu untuk kembali ke rumah.


#Salam Sayang


Tubuh Aira bergetar, ia tak mampu menahan isak tangisnya. Aira pun menutup mulutnya supaya tidak terdengar isak tangisnya. Ia tidai menyangka jika Mamanya akan berbicara seperti itu.


"Mamah, Aira juga menyayangi Mama huuu huuu huuu." seru Aira, ia tak kuat menahan tangisannya lagi. Ia menangis memeluk buket bunga itu dan surat dari Mamanya.

__ADS_1


Bi Ijah yang melihat Aira menangis pun menghampirinya dan mencoba menenangkan.


"Bi, Ternyata Mama sangat menyayangiku bi hiks hiks."


"Iya nak Aira, semua orang tua itu menyayangi anaknya. Tapi mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda- beda." tutur bi Ijah mengusap kepala Aira.


Beberapa saat kemudian, ponsel Aira berbunyi karena ada telefon masuk. Segera ia mengusap air matanya dan mengambil ponselnya. Ternyata yang menelefon adalah papanya.


"Halo Aira." seru Pak Andi dengan sedikit panik.


"Iya pah? Kenapa papa panik speerti itu?" tanya Aira ikutan panik.


"Mama nak Mama..." ucap Pak Andi terisak.


"Pah, Mamah kenapa? Tidak terjadi hal buruk kan sama Mama?"


"Mama sakit, tadi dia pingsan. Kalau kau mau, kemarilah."


"Ka- katakan di rumah sakit mana. Aira akan kesana sekarang juga."


Setelah sambungan telefon terputus Aira langsung meminta kunci mobil Keno.


"Mau kemana?" tanya Keno tapi Aira terus berlari tidak menggubrisnya.


"Mau ke rumah sakit, Tuan. Katanya Mamanya nak Aira sakit." jawab bi Ijah.


"Ya udah bi, Keno nyusul ke rumah sakit dulu ya." Keno langsung mengemudikan mobil lainnya menyusul Aira. Tapi di jalanan ia tidak menemukan Aira.


"Dia pasti ngebut, masa iya baru sebentar engga ketemu tuh anak." ucap Keno. Ia khawatir dengan Aira karena Aira pasti mengebut ketika menyetir mobil.


***


Sesampainya di rumah sakit, Aira langsung menuju ke ruangan VVIP dimana Mamanya dirawat. Ia berlari hingga menabrak orang- orang yang berpapasan dengan dirinya.


"Pah, Mah..." seru Aira ketika sudah membuka pintu ruangan.


"Ayo kemari." ucap Pak Andi tersenyum senang akan kedatangan Aira.


Aira langsung berlari dan memeluk Mamanya yang sedang berbaring di brankar dengan erat. Air matanya tumpah seketika, begitupun dengan Bu Mira. Pak Andi juga ikut berkaca- kaca melihat keduanya.


"Mama kenapa bisa sakit, pasti Mama kelelahan."


"Mama memasak terus untuk Aira, tapi kenapa Mama malah tidak makan. Mama tidak kasihan dengan tubuh Mama." ucap Aira menangis.


Bu Mira tersenyum dan tangannya mengusap air mata Aira. "Mama tidak apa, Nak. Jangan khawatirkan Mama. Kata dokter tadi Mama hanya butuh istirahat saja. Besok Mama juga sudah boleh pulang kok."


"Mama harus jaga kesehatan, jangan sakit lagi. Aira tidak mau Mama sakit."


"Tuh dengerin anak kamu. Sekarang makanlah yang banyak, biar cepet sembuh." ucap Pak Andi.


"Mama belum makan? Biar Aira yang suapin ya." Aira lalu mengambil mangkok bubur yang ada di atas nakas samping brankar. Menyuapi Mamanya dengan penuh cinta.


"Aira.."


"Iya Mamah..."


"Ehm kamu sudah membaca surat yang Mama selipkan di buket bunga tadi pagi?" tanya Bu Mira meremas jarinya sedikit ketakutan.


"Tentu saja sudah, kenapa memangnya mah?"


"Apa kau tidak membenci Mama?"


"Kenapa membenci? Tidak ada kata itu di dalam hidup Aira mah. Aira tidak pernah membenci siapapun."


"Papa minta maaf ya sama kamu. Papa janji tidak akan berbuat seperti waktu itu lagi." ucap Pak Andi membelai kepala Aira.


"Maafkan Mama juga ya, Nak. Mama banyak salah sama kamu, tapi kamu selalu memaafkan Mama." ucap Bu Mira meneteskan air matanya.


Aira langsung memeluk mamanya lagi dan menghujani wajah Mamanya dengan ciuman. "Aira sangat menyayangi Mama, i love you so much."


"Papa engga nih?" seru pak Andi melipat tangannya di dada.


Aira dan Bu Mira terkekeh melihat Pak Andi cemburu. "Aira juga sayang sama Papa kok jangan ngambek dong. I love you papa. Muachhh..." Aira mengecup kedua pipi Pak Andi lalu mereka bertiga berpelukan.


Merasakan kehangatan yang selama ini Aira inginkan. Matanya kembali berkaca- kaca. "Terima kasih Tuhan, aku selalu bersyukur atas apa yang telah kau berikan. Ku mohon jangan hilangkan kehangatan ini lagi." ucap Aira dalam hati.


Saat sedang asyik berpelukan tiba- tiba ada seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Yang tak lain adalah Keno.


"Kenooo !!!" jerit mereka bertiga seraya melepas pelukan. Merasa kesal karena ada orang yang mengganggu mereka bertiga.

__ADS_1


"Hehe maaf..." tak merasa bersalah, ia langsung mencium tangan Pak Andi dan Bu Mira bergantian dan meletakkan buah yang dibawanya ke atas nakas.


"Kenapa repot sekali."


"Tidak kok pah. Oh ya Mah, gimana kondisinya sekarang? Apa sudah lebih baik?"


"Sudah lebih baik, terima kasih sudah menjenguk Mama."


"Hey apa kau sudah sarapan? Ayo sarapan dulu." tanya Keno kepada Aira.


"Jadi kau belum sarapan sayang?" tanya Bu Mira.


"Belum mah, tadi baru mau makan makanan dari Mama eh papa udah telefon. Jadi belum sempat hehe."


"Kau sarapan dulu saja sayang, kau juga harus berangkat ke kantor bukan. Pergilah, biar Papa yang menunggu Mama." ucap Pak Andi.


"Hm baiklah, nanti kalau sudah selesai bekerja Aira akan kembali lagi ke sini." Memeluk Mamanya enggan pergi dari sana.


"Aira berangkat dulu ya, Mah." Aira mencium kedua pipi Mamanya.


"Iya, berhati- hatilah. Jangan lupakan sarapan mu."


"Engga pamit papa nih?"


"Pamit dong papah ku sayang. Muachhh." Aira lalu meninggalkan ruangan itu hendak menuju ke kantin rumah sakit untuk sarapan.


"Seneng deh liat kalian akur gitu." celetuk Keno.


"Hm, aku sangat senang. Akhirnya kehangatan dari sebuah keluarga bisa aku rasakan. Ternyata mereka juga menyayangi ku, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan."


"Aku juga akan selalu mendoakan supaya kalian diberi kebahagiaan terus."


Mereka berjalan bergandengan dengan mesra, tiba- tiba ada seseorang yang memanggil Aira. Sontak Keno dan Aira pun menoleh ke orang yang memanggil.


"Kak Alfaaaa..." jerit Aira senang ternyata orang yang memanggilnya itu kak Alfa.


"Hay bocil." seru Alfa mengacak- acak rambut Aira.


"Kakak aku bukan bocil, aku sudah besar. Kak Alfa kok disini? Apa kakak sudah tidak bekerja di Rumah Sakit Sanjaya lagi?."


"Aku hanya mengantar keponakan ku saja tadi, dia perawat di sini. Kalau kau kenapa pagi- pagi sudah ke sini? Apa ada yang sakit?"


"Iya kak, Mama sakit. "


"Semoga lekas sembuh, maaf aku belum bisa menjenguknya sekarang. Oh ya, kau sudah mau pulang?"


"Belum kak, kami mau ke kantin dulu untuk sarapan. Apa kakak mau ikut?"


"Ehheeem.." Keno berdehem. Ia kesal merasa diabaikan sejak tadi.


"Boleh, kebetulan aku juga belum sarapan." Alfa menggandeng tangan Aira mengajaknya berjalan menuju kantin. Namun segera ditepis oleh Keno.


"Jangan menyentuhnya."


"Kau siapa kenapa melarang- larang. Terserah aku dong."


"Sepertinya kau tidak mengetahui ku ya, aku ini Keno Arka Sanjaya. Bagaimana? Sudah tahu?" ucap Keno dengan senyum smirk.


"Jadi kau itu anaknya pak Bram? Lalu apa hubunganmu dengan Aira sehingga kau melarang ku menyentuhnya."


Keno tak menjawabnya lagi ia langsung menarik tangan Aira meninggalkan Alfa yang mencova menerka hubungan Keno dan Aira yang terlihat dekat.


"Tunggguuuuu !!!" teriak Alfa seraya berlari mengikuti langkah Aira dan Keno.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like nya yaa hehe, vote juga kalau mau wkwk...


Baca novel karya Lina Agustin juga yuk


🤗🤗🤗

__ADS_1



__ADS_2