
Pagi telah menjelang, Keno mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan sinar yang telah memasuki kamarnya. Betapa terkejutnya ia tatkala mendapati istrinya sudah berada di sampingnya sedang memejamkan mata.
"Sayang..." Keno mengecupi semua bagian wajah Aira dengan lembut, dan memeluknya erat menumpahkan segala kerinduannya.
"Euhhmm..." Aira menggeliat, ia merasa geli ketika ada sesuatu yang basah menempel di wajahnya.
"Selamat pagi sayangku, cintaku, kasihku," seru Keno ketika Aira mulai membuka mata. Ia kembali mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya.
"Selamat pagi juga, sayang." Aira mengecup bibir Keno singkat.
"Kenapa kau sudah ada di sini? Bukankah semalam kau tidur bersama mereka?"
"Memangnya kenapa? Sebenarnya aku tidak benar- benar tidur semalam. Aku sangat risih ketika seranjang dengan mereka," Aira kembali mengingat kejadian semalam, dimana Mamanya yang ngorok, Mama Maria ileran, dan Nenek Ratih yang ngelindur dan berbicara sendiri.
"Jadi, kau tau kalau aku sudah pulang semalam?" Aira mengangguk menanggapi pertanyaan Keno. "Lalu kenapa kau tidak langsung bangun dan menyambutku?"
"Untuk menggerakkan tubuhku saja sulit, apalagi untuk bangun. Mereka benar- benar membuatku dalam kesusahan," jawab Aira terkekeh.
"Kenapa mereka tumben- tumbenan tidur di sini? Pasti ada sesuatu yang membuat mereka kemari," ucap Keno penuh selidik.
"Ti- tidak, tidak ada apa- apa. Mereka hanya ingin menemaniku saja, kau 'kan pergi ke luar kota." Aira gugup saat berusaha menjawab.
"Bukan karena ada baby di sini?" tanya Keno seraya mengusap perut Aira.
Aira menelan ludahnya seketika, kenapa Keno sudah tahu jika dirinya hamil. Padahal ia berusaha untuk menyembunyikannya terlebih dahulu dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Ehm, m- maksudmu bagaimana? Aku benar- benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan tadi." Aira membuang mukanya berusaha menutupi kebohongan yang ia lakukan.
"Jangan membohongiku sayang, aku sudah tahu semuanya. Saat kita melakukan panggilan video kemarin aku sudah curiga denganmu, jadi aku diam- diam menyelidikimu." Keno terus saja mengusap perut datar Aira dengan penuh cinta dan rasa sayang.
"Harusnya kau memberitahuku bukan malah menyembunyikannya. Apa kau tidak menganggapku sebagai suamimu? Aku berhak tahu semuanya tentang dirimu, tapi kau malah begitu denganku." Mata Keno berkaca- kaca saat menatap Aira membuat wanita itu jadi merasa bersalah.
"Bukan begitu, sayang. Maafkan aku karena tak langsung memberitahumu. Sebenarnya aku ingin memberitahu kabar ini sebagai surprise di hari ulang tahunmu nanti, tapi ternyata kau malah sudah mengetahuinya terlebih dulu. Bukankah itu sangat menyebalkan," ucap Aira seraya mencebikkan bibirnya.
Keno tertawa mendengar penjelasan Aira, istrinya sangatlah lucu, pikirnya.
"Yah...jadi nggak surprise ya, kasihan deh kamu," ucap Keno meledek.
"Iya ! Kau sangatlah menyebalkan, pergi sana." Aira mendorong Keno dan langsung membalikkan badannya membelakangi suaminya itu.
__ADS_1
Keno memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menyusupkan kepalanya di leher sang istri.
"Aku sangat senang mendengar kau hamil, rasanya ini kebahagiaan terbesar yang Tuhan berikan untukku. Terima kasih istriku, aku mencintaimu..." lirih Keno.
"Aku juga mencintaimu dengan sangat."
Lama mereka berpelukan, melepas rindu beberapa hari tak bertemu. Keno mencium Aira dalam waktu yang lama, ia benar- benar tak memberi ampun istrinya hingga kesulitan bernafas karena Keno terus mengecupinya.
"Bolehkah aku menyapa Keno Junior?" tanya Keno dengan suara paraunya.
Terlena dengan suaminya, Aira pun mengangguk dan membiarkan suaminya itu berbuat semaunya.
Baru saja mau melepas kancing piyamanya, kedua sejoli itu dikejutkan dengan suara ledakan hingga membuat aktivitas mereka terganggu.
"Sayang..." lirih Keno dengan nada memelas.
"Kita lihat dulu aja, nanti dilanjut lagi." Aira langsung beranjak dari ranjang dan mencari sumber suara ledakan itu.
"Hay, sayang. Selamat pagi," seru Maria dengan riangnya. Ia tengah berusaha menempelkan balon- balon ke dinding bersama Mira. Sudah dipastikan jika suara tadi adalah suara balon yang meletus.
Ruang santai di rumahnya sudah dihias dengan tirai yang memancarkan lampu kerlap kerlip, balon- balon, dan juga mawar yang tersusun indah. Juga terdapat meja yang sudah penuh dengan makanan seperti cupcake, donat, pie, cake pop, dan makanan- makanan lainnya yang sudah tersusun dengan rapi di cake dan cupcake stand.
"Ayihhh, kenapa rumahku jadi seperti ini? Ada acara apa ini?" tanya Keno yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kami sengaja membuat acara kecil- kecilan ini untuk menyambut kedatangan cucu pertama kami," jawab Mira santai.
"Sudah sana, kalian mandi dulu saja. Pakai baju yang serasi," ucap Maria.
***
Aira dan Keno menurut saja dengan apa yang dikatakan Mama mereka. Kini, mereka telah bersiap untuk pesta kecil- kecilan yang dipersiapkan Maria dan Mira itu.
Aira sudah memakai dress putih senada dengan kemeja yang Keno kenakan. Mereka bergandengan tangan menuju ke ruang santai yang telah disulap menjadi ruang untuk party.
Bram, Andi, Maria, Mira, Ratih, dan keluarga lainnya termasuk Sandi dan Mega telah berada di sana menanti kedatangan pasutri itu.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan? Babynya kan baru berusia satu bulan, kenapa mereka sudah membuat pesta seperti ini?" bisik Aira kepada Keno.
"Tentu saja tidak berlebihan, ini cucu pertama di keluargaku dan keluargamu, kan? Sudah pasti mereka sangat menantikan kedatangannya, jadi mereka akan menyambutnya dengan baik," jawab Keno.
__ADS_1
Acara berlangsung dengan santai dan penuh rasa kekeluargaan. Mulai dari bernyanyi bersama, berjoget, dan yang lebih utama adalah berdoa untuk Aira dan bayinya. Semuanya tampak memancarkan raut wajah bahagia.
"Terima kasih sudah menyiapkan semua ini, kami sangat menyayangi kalian. Dan semoga Keno junior sehat sampai lahiran nanti," ucap Keno di akhir acara.
"Kami sudah pasti akan mendo'akan kalian," seru Bram.
"Iya, dan mulai sekarang kau harus bersiap untuk menuruti apa yang diinginkan istrimu selama kehamilan ini," ucap Andi dengan diselingi tawanya.
"Semoga Aira ngidamnya aneh- aneh ya, biar si Keno itu kewalahan menghadapinya," sahut Bram menggelakkan tawa semuanya.
Raut wajah Keno langsung masam, dia menyejajarkan tubuhnya dengan perut Aira.
"Baby, jangan aneh- aneh ya ngidamnya. Jangan buat papa kesulitan nanti," lirih Keno seraya mencium perut Aira, membuat wanita itu terkekeh karena merasakan geli.
"Aira sayang, semoga kamu ngidamnya yang aneh dan susah ya. Hukum saja anak Mama itu," ucap Maria penuh semangat.
"Siap, Mama."
Mereka terus saja bercanda dan tertawa lepas. Bahkan, mereka juga berencana membuat acara seperti itu setiap bulannya untuk mengabadikan momen perkembangan si kecil.
"Aku mencintaimu dengan sangat, terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan merubahnya yang semula gelap menjadi penuh warna," lirih Keno.
"Terima kasih juga sudah hadir dan menjadi lelaki terbaik setelah Papa. Aku sangat menyayangimu, aku selalu berdo'a supaya hanya maut yang memisahkan kita. Aku benar- benar takut kehilanganmu," ucap Aira meneteskan air matanya.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan. Terima kasih istriku, bidadari pemilik hatiku," ucap Keno memeluk istrinya erat.
.
.
.
.
.
Udah dua episode loh🥴
__ADS_1
Like, komen, dan vote jgn lupa ya🤗