Hello Presdir

Hello Presdir
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Kringgggg....kringgggg


Suara alarm seperti biasa selalu berdering setiap jam 04.00 pagi. Menjadi andalan untuk membangunkan tidur Aira. Berusaha mengerjapkan matanya mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, tak lupa mematikan alarm yang sangat berjasa saat pagi tiba.


Perlahan namun pasti ia segera masuk ke kamar mandi menuju westafel dan menyalakan air. Dengan air yang masih dingin dia membasuh wajahnya berharap kantuknya berkurang.


"Segarnyaaa..." lirih Aira.


Suara adzan subuh berkumandang, Aira segera mengambil wudhu dan melaksanakan solat subuh. Bertemu dengan Sang Pencipta, mencurahkan segala suka duka yang menimpa. Mensyukuri dan tetap berdoa supaya diberikan kehidupan yang lebih baik lagi.


Setelah solat, Aira langsung mandi dan mempersiapkan dirinya berangkat bekerja. Kemudian ia menuju dapur membuat sarapan untuk Keno. Ia memasak dengan riangnya, bersenandung, dan selalu tersenyum. Menumis bumbu nasi goreng dengan melantunkan lagu moodnya sedang sangat baik.


"Aduhh aduhhh masak sambil senyum- senyum sendiri." goda bi Ijah.


"Apa sih bi."


"Loh ini sudah ada salad, sandwich, pancake, omelet dan nak Aira masih masak nasi goreng? Kenapa banyak sekali."


"Iya bi, biar Keno seneng. Lagian besok udah engga masakin buat Keno."


"Wah iya, nak Aira cepet nikah dong sama tuan Keno biar kembali ke rumah ini lagi. Lumayan bibi kalau pagi engga perlu masak, kan nak Aira yang selalu buat sarapan."


"Ohh jadi bibi engga suka Aira pergi dari sini karena nanti pekerjaan bibi nambah karena harus membuatkan sarapan untuk Keno, hm gitu yaaa...."


"Anu, itu....Engga gitu juga kok non." ucap Bi Ijah sedikit takut.


"Hahaha, engga papa kali bi. Santai aja lagi."


"Hehe iya, sini biar bibi yang lanjutin. Nak Aira bangunin tuan Keno saja."


"Kenapa engga bangunin aku sih." seru Keno dengan langkah gontai menuruni tangga dan masih mengenakan piyama.


"Anak manis sudah bangun ternyata. Ini baru mau ke kamar kamu." ucap Aira tersenyum kepada Keno.


"Yauda ayo ke kamar, kamu belum siapin baju aku kan."


"Belum, ayo. Kamu harus mandi sekarang juga, terus sarapan deh." Keno merangkul pinggang Aira menuju ke kamarnya.


"Ih Ken, geli. Lepasin ngga."


"Apaan sih, cuma pegang pinggang juga masa geli."


"Ih emang geli kok, ngeselin deh. Jangan pegang lagi." ucap Aira menepis tangan Keno.


Namun, Keno malah semakin mengeratkannya dan malah menggelitiki pinggang Aira sampai tertawa terbahak- bahak.


"Ihh udah geli, kamu ngeselin deh." seru Aira dan masih tertawa.


"Ngeselin tapi kamu juga sayang kan." goda Keno.


"Enggak ! Udah sana mandi." Aira mendorong Keno masuk ke kamar mandi.


"Sini ikut masuk."


"Enak aja !"


"Ayooo."


"No !" Aira menghentak- hentakkan kakinya pergi meninggalkan Keno yang masih tertawa karena berhasil menjahili Aira.


***


Di meja makan...


Keno mengernyitkan dahinya tatkala melihat menu sarapan yang disiapkan Aira. Bagaimana tidak, biasanya Aira hanya membuatkannya satu menu saja tapi dengan jumlah yang banyak. Tapi untuk kali ini Aira menyiapkan banyak menu untuk sarapan.


"Kenapa banyak sekali makanan? Apa kamu mau mengundang orang se-komplek ini untuk sarapan di sini?"


Aira tertawa mendengarnya, "Iya kok kamu tahu sih."


"Kenapa belum ada yang dateng, jangan bilang kalau kamu lupa ngundang mereka. Kalau gitu aku mau keluar dulu ya manggil mereka." ucap Keno yang sebenarnya hanya menggoda Aira saja.


"Hufftt, kalau di ajak bercanda malah ngelantur kemana- mana. Sudahlah, kamu mau makan apa."


"Ehm nasi goreng deh sama omelet nya."


Aira pun mengambilkan beberapa centong nasi goreng tak lupa dengan omelet nya ke piring Keno.


"Aku juga mau sandwichnya." seru Keno dengan mulut penuh makanan.


"Iya nanti, habisin dulu itu."


"Aku juga mau pancakenya, pancake, dan salad buahnya juga enak tuh kayanya." Aira hanya menghela nafasnya menghadapi Keno yang melebihi anak kecil.


Beberapa menit kemudian, Keno tampak kekenyangan dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Aduhh kenyang banget." mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


Aira menggelengkan kepalanya tidak percaya karena Keno benar- benar makan banyak dan mencicipi berbagai menu.


"Udah yuk, ke berangkat sekarang aja."


"Tunggu sebentar lagi, aku kan belum makan salad buahnya."


"Kamu kan udah kenyang, nanti malah muntah kalau makan lagi loh."


"Tapi aku pengen saladnya." melihat salad buah dengan parutan keju yang banyak sangat menggiurkan Keno.


"Ehm bagaimana kalau kamu bawa ke kantor aja, jadi nanti kalau kamu udah lumayan lapar kamu makan deh saladnya."


"Boleh deh, ya udah ayo bawa saladnya."


Mereka segera berangkat tanpa di antar mang Dadang. Ya, akhir- akhir ini Keno lebih sering membawa mobilnya sendiri. Di dalam mobil Keno terus menggenggam tangan Aira dan mencium punggung tangannya sesekali hingga membuat Aira geli. Tangan kanan memegang kemudi sedangkan tangan kirinya tidak melepas tangan Aira dan selalu menggenggamnya.



"Ken, jangan dicium ih geli. Fokus nyetir aja lah."


"Kalau aku engga mau gimana?" ucap Keno mengerlingkan matanya.


"Nyebelin banget sih jadi orang."


"Kamu lebih nyebelin, masa pegang sama nyium tangan aja engga boleh sih."


"Lepasin engga !!!" bentak Aira melototkan matanya.


"Engga mau !" seru Keno dam tetap menciumi punggung tangan Aira.

__ADS_1


"Kalau engga mau, aku keluar sekarang juga."


"Keluar aja." Keno tersenyum smirk dan tetap fokus menyetir karena ia pikir Aira tidak mungkin melakukan hal konyol itu. Tapi karena Aira sudah sangat kesal, ia pun nekat membuka pintu mobil dan akan keluar. Dan...


Ciiiiitttttt....


Keno langsung menghentikan mobilnya. Karena mengerem mendadak Aira pun terpental dan kepalanya terpentok ke depan dengan sangat keras.


"Awwwww saaakkkiiiittt...." pekik Aira mengusap keningnya yang langsung memerah.


"Maaf, kamu juga si h main- main aja. Kalau kamu tadi bener- bener lompat dari mobil terus kamu kenapa- kenapa gimana, HAAAAH ?!!!"


Aira menyentil kening Keno, "Harusnya aku yang marah- marah, bodoh ! Kenapa jadi kamu yang marahin aku." ucap Aira menggertakkan giginya karena geram.


"Ya maaf. Aku kan juga engga sepenuhnya salah. Kamu juga salah tau nggak, jadi wajar dong kalo aku marah." ucap Keno membuat Aira mendengus kesal dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Keno menangkup kedua pipi Aira sehingga mereka berhadap- hadapan. Dan...Cuppp ! Keno mencium kening Aira secara lembut.


"Kenapa malah mencium ku ! Bodoh ! Bodoh ! Bodoh !" jerit Aira memukul dada Keno.


"Biar tidak sakit lagi." ucap Keno terkekeh.


Mereka pun melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Kening Aira masih terlihat merah, membuat Keno sangat merasa bersalah. Sesekali ia melirik Aira yang sedang merajuk dan menatap ke jalanan.


"Apa kening mu itu masih sakit?"


"Tidak !" jawab Aira cepat dan sedikit membentak.


"Sepertinya ciuman ku adalah penawarnya."


"Dasar anak nakal." Aira mencubit perut Keno namun Keno malah tertawa senang karena melihat Aira yang merajuk. Menurutnya jika Aira sedang merajuk ia akan terlihat lebih cantik jadi Keno senang sekali menjahili Aira hingga membuatnya marah.


"Udah sampai, engga mau turun?" tanya Keno saat mobilnya sudah sampai di kantor Aira.


"Engga perlu kamu suruh turun, aku juga bakal turun sendiri kali."


"Eh tunggu." seru Keno saat Aira mau membuka pintu mobil. "Nanti kamu jangan pulang ke rumah papa kamu dulu loh, harus nunggu aku. Nanti aku yang ngantar."


"Hm."


"Tunggu."


"Apalagi?"


"Tidak ada, hanya tes pendengaran mu saja." jawab Keno terkekeh membuat Aira mendengus kesal.


"Airaa tungguu."


"Bodo amat Bambang !"


"Aku Keno bukan Bambang !"


"BODO AMAT ! BODO AMAT !" ucap Aira memijat pelipisnya dan langsung berjalan masuk ke kantor.


Setelah memastikan Aira benar- benar masuk ke kantornya. Keno pun melajukan mobilnya kembali menuju Sanjaya Group. Senyum manis terus berkembang dari bibir tipisnya hingga tiba di Sanjaya Group. Melangkah dengan tenang seraya berisul- siul walaupun tidak berirama, seraya memutar- mutar kunci mobil pada jari telunjuknya. Dan satu tangannya menenteng paper bag yang berisi salad buah. Tentu saja itu membuat para karyawan ikut senang melihatnya, karena dulu Keno sangatlah dingin jika ada di kantor.


Ia tidak langsung masuk ke ruangannya, tapi masuk ke ruangan Frido terlebih dahulu. Tanpa mengetuk, Keno pun langsung masuk hingga membuat Frido kaget dan terjatuh dari kursinya. (Si Frido kagetnya lebay haha).


"Tidak sopan ! Masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu."


"Kau kenapa duduk di lantai, apa kursi mu itu rusak atau tidak nyaman sehingga kau lebih memilih duduk di lantai. Kalau memang begitu kenapa kau tidak segera menggantinya." celetuk Keno pura- pura tidak tahu apa yang terjadi.


"Untuk apa kau kemari."


"Ya terserah aku dong mau kemana aja, ingat ya ini kantor keluarga ku, aku presdirnya sekarang."


"Cihhh...sombong mu tiap hari semakin menjadi, sebenarnya apa yang kau makan."


"Berhentilah bicara omong kosong."


"Hm."


"Apa kau sudah menyebarkan informasi jika kita membutuhkan donor jantung untuk Ele?"


"Sudah, tapi belum sampai sekarang belum dapat pendonornya."


"Aku tidak mau tahu ya, pokoknya kau harus segera mencari donor jantung untuk Ele."


"Kau pikir itu akan mudah apa, huh." Batin Frido.


"Apa jika Ellen sudah mendapat donor jantung dan sehat lagi kau akan kembali dengannya? Lalu bagaimana dengan Aira?"


Keno tidak menjawabnya, ia hanya mengangkat kedua bahunya bermaksud tidak tahu.


"Cihhh....sepertinya kau akan memilih dua- duanya. Serakah sekali dirimu."


"Kau diam saja. Jangan ikut campur dengan urusan ku !"


***


Sore pun tiba..


Keno segera pulang ke rumahnya dan akan segera mengantarkan Aira ke rumah orang tuanya. Ia tampak enggan jika Aira meninggalkan rumahnya. Tapi mau bagaimana lagi, jika Aira terus tinggal di rumahnya tanpa ada ikatan pernikahan maka itu sangatlah tidak baik. Keno pun semakin ingin mengikat Aira dengan janji suci pernikahan, tapi untuk Ellen? Ah, dia masih pusing memikirkannya.


"Biar aku yang bawa koper- koper mu." seru Keno langsung membawakan koper- koper Aira.


"Tidak perlu !"


"Apa kau masih marah dengan kejadian tadi pagi?" tanya Keno dengan tatapan sendu. Aira jadi ikutan sedih melihatnya.


"Tidak, sudahlah jangan dibahas lagi. Aku akan berpamitan dulu dengan bi Ijah dan mang Dadang. Kau tunggu saja di mobil." Aira langsung menemui bi Ijah dan mang Dadang yang sedang berada di belakang.


"Bi Ijah, mang Dadang. Aira pamit pulang dulu ya.."


"Sering main ke sini ya nak Aira hiks, kalau bisa cepet nikah sama tuan Keno." kata bi Ijah terisak.


"Bibi jangan menangis, Aira jadi engga tega lihatnya."


"Bibi udah sayang banget sama nak Aira, engga bisa jauh- jauh sama nak Aira sekarang ini. Nanti rumah ini jadi sepi lagi deh."


"Bibi terima kasih udah sayang sama Aira, Aira juga sayang sama bibi." Aira dan bi Ijah pun berpelukan.


"Mang Dadang juga sedih nih, biasanya ada yang ngejahilin dan ngeledekin mang Dadang besok udah engga deh." seru mang Dadang ikut meneteskan air matanya.


"Lah kenapa jadi mellow gini sih, engga banget deh." celetui Aira menggelengkan kepalanya.


"Mang Dadang juga sedih ini masa dari tadi yang di peluk bi Ijah terus sih nak Aira."

__ADS_1


"Engga ada pelukan dari Aira, sini Keno aja yang meluk mang Dadang." Keno langsung menghampiri mang Dadang dan memeluknya. Membuat Aira dan bi Ijah tertawa melihatnya.


"Tuan ini apaan sih, harusnya nak Aira kenapa malah Tuan Keno yang memeluk saya." gumam mang Dadang mengerucutkan bibirnya.


"Aira itu milikku mang Dadang, hanya milikku. Sudah ayo Aira kembali ke asal mu." ajak Keno merangkul Aira.


Mereka pun segera masuk ke mobil dan mulai melajukannya. Tampak di belakang ada bi Ijah dan mang Dadang yang melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.


Mereka menyusuri jalanan di kota yang masih ramai karena banyak pekerja yang baru saja pulang. Karena cukup padat perjalanan pun lebih lama dari biasanya.


"Kamu kenapa diem aja sih dari tadi? Biasanya juga cerewet. Masih marah ya..." tanya Keno yang menyadari bahwa dari tadi Aira hanya diam saja.


"Tidak."


"Kalau tidak kenapa bicaranya ketus gitu."


"Lagi malas bicara."


Keno menghela nafasnya, ia tahu kalau Aira memang masih marah karena tadi Keno mencium keningnya.


"Aku harus gimana biar kamu engga marah lagi? Engga seru tau nggak, dari tadi dicuekin."


"Beliin Mekdi. Sudah seminggu aku tidak makan di sana." ucap Aira dengan mata berbinar.


"Ah tidak, jangan makan itu terus dong tidak baik. Ntar kamu gendut loh."


"Kalau engga mau kenapa tadi nanya kamu harus ngapain biar aku engga marah lagi sama kamu." Aira memarahi Keno dan berkacak pinggang serta melototkan matanya.


"Ah iya iya, kita ke Mekdi sekarang ya.." Keno terpaksa menuruti Aira jika tidak maka ia akan semakin menjadi- jadi marahnya.


Keno pun segera melajukan mobilnya ke MCD terlebih dahulu, yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh. Ia langsung menuju ke layanan Drive thrue. Segera ia berhenti di outlet pesan kemudian memilih menu yang akan dipesan.


"Mau beli apa?"


"Burgernya 5, french friesh juga 5, chocolate float 5, dan choco strawberry pie nya 5." ucap Aira dengan senyum lebar.


"Kau yakin? Kenapa banyak sekali?"


"Yang dua untuk kita, yang lain untuk maid di rumah."


Keno hanya menggelengkan kepalanya, segera ia memesan dan membayarnya. Kemudian memajukan mobilnya ke outlet pengambilan makanan.


Dengan senang hati Aira menerimanya. Segera ia memakan apa yang dipesannya tadi selama perjalanan. Dan tak lupa ia juga menyuapi Keno yang sedang fokus menyetir mobil.


"Awww, ini jari ku bukan burgernya." pekik Aira ketika jarinya digigit Keno.


"Ya maaf, kan engga liat." ucap Keno berbohong padahal ia sengaja menggigit jari Aira.


Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah Pak Andi (Ayah Aira). Mereka segera turun dan langsung masuk ke rumah. Rumah yang sudah dihias sedemikian rupa untuk pernikahan Hana yang akan dilangsungkan lusa nanti. Aira tampak sedih melihatnya, Papa dan Mamanya juga tengah sibuk mempersiapkannya.


"Harusnya aku yang menikah duluan dan bukan Hana. Papa dan Mama juga kenapa ikutan repot menyiapkannya, pernikahannya sangat mewah sekali walaupun dilangsungkan di rumah." batin Aira saat melihat rumahnya di dekorasi dengan tema militer. Pernikahan yang dulunya diimpikan oleh Aira dan Raka.


"Airaa, Kenoo." jerit Pak Andi dan Bu Mira menghampiri Aira dan Keno serta memeluk keduanya.


"Akhirnya kamu pulang juga dan akan menetap di sini. Awas saja kalau mau tinggal sendiri lagi." ucap Bu Mira.


"Engga mah engga !!!" balas Aira.


"Ah kalian ini, jangan membuat calon menantu ku lelah karena berdiri di sini. Ayo kita segera masuk nak Keno." kata pak Andi seraya merangkul Keno mengajak ke dalam.


Beberapa saat kemudian, Adzan maghrib berkumandang. Seisi rumah itu pun tampak menghentikan pekerjaannya sejenak dan langsung menunaikan solat maghrib berjamaah di mushola rumah Pak Andi.


Setelah solat, Pak Andi mengajak Keno untuk ke gazebo rumahnya bermain catur. Mereka sangat akrab dan sesekali tertawa. Aira yang melihatnya pun ikut senang.


"Siapa yang menang nih? Kayanya seru banget." tanya Bu Mira menghampiri mereka seraya membawakan nampan berisi minuman dan cemilan.


"Tentu saja papa dong mah." ucap Pak Andi membanggakan dirinya.


"Jadi kau kalah, Ken?" tanya Aira menahan tawanya.


"Sebenarnya aku hanya mengalah saja, tidak enak masa iya mengalahkan calon mertua."


"Halah ngeles aja kamu." sahut pak Andi. Mereka pun tertawa.


Tampak keceriaan dari wajah mereka, bersenda gurau hingga tertawa terbahak- bahak. Terus mengobrol mendekatkan diri satu sama lain dan tak menghiraukan waktu yang semakin larut.


"Sudah malam Pah, Mah. Keno harus pulang sekarang."


"Apa tidak mau menginap di sini saja untuk semalam?" tanya bu Mira yang enggan jika Keno pulang.


"Keno masih ada pekerjaan, besok Keno akan main ke sini lagi kok. Tenang saja." Aira pun mengantarkan Keno ke depan.


"Kamu jaga diri baik- baik ya, ingat ! Jangan lupa makan atau sampai telat makan. Vitaminnya di minum, istirahat yang cukup jangan kerja terus." ucap Aira.


"Aku tidak yakin jika tidak ada kau." ucap Keno mengusap kepala Aira.


"Jika sudah sampai, kabari aku."


"Pasti, ah aku jadi tidak mau pulang. Aku ingin bersama mu terus."


"Lebay deh, haha."


"Peluuuukkkk." rengek Keno. Dan mereka pun berpelukan.


"Heyyyy, jangan lama- lama pelukannya." teriak Pak Andi. Sontak mereka pun melepas pelukan dan jadi malu sendiri.


"Astaga, papa sama mama mu ganggu aja sih."


"Haha, udah engga papa. Sana pulang nanti kemaleman lagi."


"Baiklah. Aku pulang dulu ya, rindukan aku selalu." goda Keno mengerlingkan matanya.


"Tidak mau." ucap Aira bercanda.


"Hati- hati di jalan anak manis." seru Aira seraya melambaikan tangannya saat mobil Keno mulai keluar dari rumahnya.


.


.


.


.


.


Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, hehe :):):)


__ADS_2