
"Halo Om, ada apa?"
"Aira tolong ke rumah sakit sekarang juga, Ellen nak...Ellen..." ucap Papa Ellen seraya menangis tersedu- sedu.
"Apa yang terjadi, Om? Aira akan segera ke sana."
Aira langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas menuju ke rumah sakit bersama Sandi dan Mega. Perasaannya tidak tenang, sesuatu pasti telah terjadi dengan Ellen. Mega dan Sandi ikut panik dibuatnya, mereka berusaha menenangkan Aira yang sudah menangis tersedu- sedu.
Aira dan sahabatnya langsung berlari menuju ruangan Ellen. Di sana sudah ada Keno dan Papa Ellen yang duduk di samping brankar.
"Ele..."
"Aira, terima kasih sudah datang di saat- saat terakhirku." ucap Ellen tersendat.
"Bolehkah aku memelukmu, Aira?"
Aira mengangguk, ia pun mencondongkan tubuhnya memeluk Ellen yang berbaring di brankar.
"Terima kasih sudah menemaniku dan menjadi temanku. Kau sangat baik, aku akan menunggumu di akhirat nanti."
Ellen berpaling dan menghadap ke arah Keno, "Ken, terima kasih telah menjagaku. Aku sangat menyayangi mu, semoga kau bisa mendapatkan wanita yang baik untuk mendampingi mu."
"Papa, jangan menangis. Maaf Ellen harus segera pergi, Mama sudah menunggu Ellen. Ellen dan Mama akan menunggu Papa, kita akan kembali berkumpul di akhirat nanti. Ellen sangat menyayangi Papa, Ellen bangga dengan Papa, terima kasih sudah merawat dan selalu menjaga Ellen."
Semua yang ada di ruangan itu menangis meneteskan air mata begitu deras termasuk juga Sandi dan Mega. Aira memegang tangan Ellen dengan gemetar, ia tak mau kehilangan Ellen.
"Ele, bertahanlah. Aku akan segera menemui dokter. Aku akan mendonorkan jantung ku untukmu Ele, ku mohon bertahanlah." ucap Aira dengan bibir gemetar.
Ellen tersenyum dan menggeleng, "Tidak Aira, tidak. Kau tidak perlu melakukan apa- apa untukku, aku sudah sangat senang karena kau ada di sini di saat terakhirku. Aku akan menemui Mama ku."
"Argghhh, arghhh..."
"Aa- Airaa, Keno tuntun aku, tuntun aku Aira..." ucap Ellen tersengal.
Aira menggeleng dan air matanya menetes lebih deras. Aira dan Keno mendekatkan bibirnya di telinga Ellen. Aira di sebelah kanan dan Keno di sebelah kiri. Mereka pun menuntun Ellen mengucapkan kalimat syahadat.
"La illaha illallah." ucap Keno dan Aira pelan namun tetap didengar dan dapat diikuti Ellen walaupun terbata- bata. Mereka membimbing Ellen dengan diselingi isakan tangis.
Setelah selesai mengucapkan syahadat, Ellen mulai kehilangan kesadarannya. Suara ECG terdengar satu nada, membuat Aira menggelengkan kepalanya tak percaya kalau sahabatnya telah pergi secepat itu.
"Selamat jalan, Ele. Kau sudah tak merasakan sakit lagi, kau sudah sembuh. Maaf aku tidak bisa mendapatkan donor jantung untukmu." lirih Keno, air matanya membanjiri pipi mulusnya.
"Ellen sayang, selamat jalan, Nak. Selamat bertemu Mama, tunggu papa ya. Kita akan segera bertemu lagi. Papa menyayangimu, Nak. Papa akan berusaha mengikhlaskan mu, selamat jalan anakku sayang." ucap Papa Ellen, ia menciumi seluruh wajah anaknya yang telah pucat pasi tak bernyawa.
"Selamat jalan, Ele. Wanita terkuat yang pernah aku temui. Kau pergi dengan senyum, pasti kau senang karena tidak merasakan sakit lagi kan? Maaf Ele, aku telat mendonorkan jantung untukmu. Harusnya aku yang pergi, harusnya aku yang di posisimu Ele." ucap Aira mencium kening Ellen lembut.
"Terima kasih atas waktu- waktu yang telah kita habiskan bersama. Semoga kau bahagia di sana Ele, aku akan selalu mendo'akanmu."
"Ele, aku minta maaf. Harusnya aku bertindak lebih cepat supaya kau tetap berada di dunia ini bersama kami." ucap Keno terisak pilu.
"Ikhlaskan Ellen, Nak. Jangan terus menyalahkan diri kalian. Jangan bersedih biar Ellen juga tidak sedih melihat kalian. Om yakin ini jalan yang terbaik untuk Ellen, kita tidak boleh memaksakan dia untuk tetap hidup jika sakit terus menyerangnya."
Wanita kuat itu telah pergi dengan senyuman, dia tak lagi merasakan sakit di tubuhnya. Semua kenangan yang tercipta tak akan sirna begitu saja, hanya tubuhnya saja yang pergi, Ellen akan tetap ada di hati mereka semua.
__ADS_1
***
Karangan bunga ucapan berduka cita berjajar di sepanjang jalan hingga ke depan pintu gerbang rumah Ellen.
Siang nanti Ellen akan dimakamkan. Banyak pelayat berdatangan di rumah Ellen, semua larut dalam duka. Ellen orang baik, tapi Tuhan sangat menyayanginya hingga di saat masih muda dan karirnya melejit ia harus kembali menghadap-Nya.
Lantunan do'a dari bibir para pelayat terus terdengar, banyak yang mengantarkan do'a untuk kepergian Ellen. Aira dan Keno terus berada di samping jenazah Ellen, mereka sangat kehilangan sosok wanita itu. Mereka ingin menghabiskan saat- saat terakhir bersama Ellen.
Tiba saatnya Ellen dimakamkan, banyak pelayat yang turut mengantarkan Ellen ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aira tampak berat melangkahkan kakinya menuju ke pemakaman. Tubuhnya lemas, ia dipapah Mega dan juga Sandi.
Saat Ellen di masukkan ke liang lahat, Aira semakin menangis ketika mengingat besok sudah tak ada hari- hari menyenangkan lagi bersama Ellen. Tak ada canda tawa yang tercipta saat mereka bersama.
Keno yang mengumandangkan adzan untuk Ellen pun tak kuasa menahan air matanya. Bibirnya bergetar saat mengumandangkannya. Sedikit demi sedikit tanah mulai menutupi tubuh Ellen. Wanita itu benar- benar telah pergi meninggalkan dunia dan orang- orang yang menyayanginya.
Aira dan Keno mulai menaburkan bunga ke gundukan tanah. Tangan mereka bergetar, tangis dari para kerabat dan teman semakin pecah.
Mereka kembali mengirimkan do'a untuk Ellen, satu persatu pelayat pun pergi meninggalkan makam. Tinggalah Papa Ellen, Keno, dan Aira saja yang masih setia memandangi nisan yang bertuliskan ELLEN VARADITA.
"Aku tidak menyangka, pertemuan kita begitu cepat, namun perpisahan juga ikut mengiringinya begitu cepat. Ellen wanita penuh luka namun tetap mampu bertahan hingga nafas terakhir. Aku temanmu, sahabatmu, keluargamu. Aku menyayangi mu Ellen, Maaf aku tidak cepat dalam bertindak. Selamat Jalan Ellen, aku sangat kehilangan akan sosok seperti mu." lirih Aira mengusap nissan Ellen lembut. Ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan makam bersama papa Ellen.
Keno masih belum bergerak dari tempatnya, ia terus memandangi gundukan tanah yang masih basah itu.
"Selamat Jalan Ellen, terima kasih atas waktu- waktu yang telah kita lalui selama ini. Maaf jika aku banyak salah denganmu. Aku menyayangi mu, aku tidak akan melupakan mu. Bahagialah Ellen, sampai bertemu di dunia selanjutnya." tutur Keno, ia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Ellen. Sesekali menengok ke makam Ellen, enggan rasanya untuk meninggalkannya.
Aira dan Papanya Ellen mulai meninggalkan makam.
"Aira, sebelum pergi Ellen menitipkan sesuatu untuk kamu." ucap Papa Ellen.
"Apa, Om?"
"Terima kasih, Om. Ellen tidak memiliki kesalahan dengan Aira. Aira juga sangat senang bisa berteman dengan Ellen."
"Om yang sabar ya, kita harus bisa mengikhlaskan kepergian Ellen. Om bisa menganggap Aira seperti anak om sendiri. Walaupun Ellen dan Mamanya sudah tidak ada di samping Om tapi di sini masih ada Aira. Anggap saja Aira seperti anak om sendiri."
Pria berkacamata bundar itu terenyuh, ia langsung memeluk tubuh Aira. "Terima kasih, Nak. Om menyayangimu, Om akan menganggapmu seperti anak Om sendiri."
***
Malam harinya setelah acara tahlilan di rumah Ellen selesai, Keno duduk di jendela kamarnya. Ia membiarkan angin malam menyentuh tubuhnya. Menatap ke atas dimana langit penuh dengan bintang, rasa penyesalan karena tak kunjung mendapatkan pendonor untuk Ellen pun kembali menghampirinya.
"Sayang, ayo makanlah dulu. Sejak tadi pagi perutmu hanya terisi air putih saja."
Keno memeluk tubuh mamanya, Bu Maria yang mengerti kesedihan anaknya pun hanya bisa mengusap kepala Keno memberikan ketenangan.
"Dia pergi karena aku, Mah. Ellen pergi karena aku tak kunjung mendapatkan pendonor untuknya." lirih Keno dengan tatapan kosong.
"Ini bukan salahmu. Kau sudah sangat berjuang untuk mendapatkan pendonor, tapi takdir berkata lain. Tuhan menyayangi Ellen, ia tidak mau Ellen terus merasakan sakit makanya ia menjemput Ellen."
"Tapi Keno tetap merasa bersalah, Mah. Keno tidak berguna sama sekali."
"Jangan terus menyalahkan dirimu, kamu tidak salah sayang." ujar Bu Maria mengecup kening Keno.
"Sekarang mereka benar- benar pergi meninggalkan Keno. Ellen pergi untuk selamanya, dan Aira pergi karena kebodohan Keno. Mereka tidak akan kembali lagi, Mah."
__ADS_1
"Masih ada Aira, dia sangat mencintaimu. Dia tidak akan meninggalkanmu. Sekarang kau harus berusaha meminta maaf dengan Aira, Mama yakin kalau Aira akan memaafkanmu. Dia tidak akan meninggalkan orang yang ia cintai begitu saja."
Di sisi lain, Aira masih merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Bu Mira. Ia belum bisa melupakan Ellen, walaupun ia dengan Ellen baru saja bertemu namun mereka sangat menyayangi satu sama lain.
Alfa, Sandi, dan Mega berada di rumah Pak Andi. Mereka berusaha menghibur Aira namun Aira tetap saja masih bersedih.
"Ikhlaskan dia sayang." Bu Mira sudah berkali- kali mengucapkan kalimat itu kepada anaknya. Namun tak membuat Aira bergeming sedikitpun.
"Mah, harusnya Aira yang pergi. Ellen akan tetap hidup dengan jantung Aira."
"Ssttt, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Mending kamu pergi jalan- jalan sama Alfa, Sandi, dan Mega. Atau kau ingin pergi bersama Keno? Biar Papa yang menelponnya." ujar Pak Andi yang masih asyik bermain catur dengan Alfa.
Aira tak menghiraukan Papanya, ia menutup matanya berusaha untuk tertidur dan berharap semoga besok lebih baik.
Tak dapat ku bendung,
Tangisku mengucur,
Tak tertahankan,
Isak membalut badan,
Kau pergi begitu cepat,
Pergi tanpa isyarat,
Menyisakan luka yang teramat,
Ini cobaan yang cukup berat,
Sampai berjumpa di ruang mimpi,
Sakitmu telah usai, senyummu telah kembali,
Selamat jalan sahabat baikku,
Selamat tertidur panjang sahabatku,
Jangan lupakan aku,
Jangan lupa akan kisah masa lalu,
Selamat jalan, selamat tertidur panjang, selamat tinggal Ellen Varadita.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya kakakðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜