Hello Presdir

Hello Presdir
Empat Bulan


__ADS_3

"Selamat pagi, untukmu si bidadari pemilik hatiku," ucap Keno sembari mengecupi wajah sang istri yang masih terpejam.


Mata Aira terbelalak seketika, mengerjap- ngerjap memandang wajah suaminya yang begitu dekat dan sedang tersenyum memikat.


Apa dirinya tidak salah mendengar tadi? Kenapa suaminya pagi- pagi sudah ngegombal begitu? Aira langsung menempelkan telapak tangannya ke kening suaminya, mengecek suhu badannya siapa tahu saja Keno lagi sakit.


"Apaan sih, sayang..." Keno menarik tangan istrinya dan mengecupinya.


"Kau kesambet ya? Tumben sekali bisa berkata semanis tadi?" tanya Aira terheran- heran.


Keno mencebikkan bibirnya kesal, dirinya sudah berusaha bersikap manis tapi sang istri malah berpikir kalau dirinya kesambet.


"Sudah jangan dibahas lagi, aku jadi malu." Keno langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Aira.


"Kenapa malu sih, ayo ulangi lagi perkataanmu tadi," pinta Aira, ia menggelitik Keno supaya menghadap dirinya lagi.


"Selamat pagi, untukmu si bidadari pemilik hatiku. Sayangku, cintaku, kasihku..." Keno mengulang dengan menunjukkan wajah sok imutnya. Aira malah tertawa melihatnya.


"Sebulan aku diamkan, kau banyak berubah rupanya..."


"Uwuu, anak manisku." Aira gemas dengan suaminya itu, ia menghujani wajah Keno dengan ciuman.


"Jangan marah denganku lagi ya, aku tidak bisa jauh darimu. Hanya kau yang mampu mengerti diriku," lirih Keno.


"Kalau kau nakal ya aku akan memarahimu."


"Tidak boleh marah- marah. Baby, bilang sama mama ya jangan marahin papa." Keno mencium perut Aira yang membuncit.


"Dia kapan keluar ya? Aku sudah tak sabar," ucap Keno seperti anak kecil.


"Kau pikir ini apa? Ah, sudahlah aku mau mandi."


"Ikut sayang..." Keno langsung bangkit mengikuti langkah istrinya.


***


Hubungan Aira dan Keno semakin membaik. Sifat pemarah Keno juga sudah tak separah dulu. Kini lelaki itu berubah drastis, sangat manja, selalu bersikap manis, dan sering menggoda istrinya dengan gombalan- gombalan yang membuat risih. Terkadang Aira terkikik geli melihat Keno yang semakin hari semakin menggila.


Kini, kandungan Aira telah memasuki enam belas minggu. Hari ini akan diadakan acara empat bulanan. Mira dan Maria sangatlah antusias mempersiapkannya, mereka sudah menghias rumah Keno sebagus mungkin.


Halaman rumah Keno sudah disulap menjadi outdoor party, dengan ornamen yang bernuansa putih. Dresscode mereka juga berwarna putih.


Hari itu Aira sudah tampil cantik dengan dress selutut berwarna putih menampakkan perutnya yang menonjol. Rambutnya dikepang rapi ke belakang dengan tambahan flower crown di kepalanya.


Sedangkan Keno, ia sudah terlihat tampan seperti biasanya. Berbalut kemeja berwarna putih dengan celana berwarna beige. Senyumnya tak pernah pudar, wajahnya terlihat sangat bahagia, dan tangannya juga tak lepas menggenggam tangan istrinya.


Acara diadakan secara sederhana sesuai dengan permintaan Aira dan Keno. Dengan dihadiri oleh keluarga terdekat saja, tidak melibatkan rekan bisnis. Mungkin tidak lebih dari tiga puluh orang yang datang.

__ADS_1


Frido datang dengan Niken dan anaknya yang masih dalam gendongan, Mega dengan Sandi, Raka dengan Hana, dan jangan lupakan Alfa. Alfa datang juga dengan Vera, mereka terlihat akur dan terlihat sudah saling mencintai. Aira merasa senang melihatnya, akhirnya Alfa bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.


Acara dibuka oleh Keno sendiri. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran keluarganya. Keno juga menceritakan betapa bahagianya dirinya atas kehamilan sang istri tercinta.


"Semoga Ibu dan babynya sehat selalu ya sampai lahiran nanti," seru Alfa memeluk Aira.


"Iya kak, Amin."


"Dia semakin besar ya, Apakah dia merepotkanmu?" tanya Alfa meraba perut Aira.


Aira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka terus saja mengobrol hingga melupakan Keno dan Vera yang sedari tadi berada di dekat mereka.


Alfa melirik Keno sekilas, ia pun tersenyum. Keno pasti sedang cemburu melihatnya dengan Aira.


"Sepertinya ada yang sedang cemburu nih..." seru Alfa menggoda.


"Siapa yang cemburu, tidak ada yang cemburu!" tukas Keno, ia melipat dadanya dan menatap ke arah lain.


"Oh tidak cemburu ya..." Alfa memeluk Aira dari samping dan mengusap perutnya. "Karena tidak ada yang cemburu, kita bisa lebih lama seperti ini ya, Ra."


"Iya kak, sampai acara selesai ya," jawab Aira terkekeh geli. Ia juga tahu kalau Alfa sedang menggoda Keno.


Keno semakin panas melihatnya, ia langsung menarik tangan Aira dan pergi menjauhi Alfa.


"Kau mau kemana? Aku bisa mengejarmu," teriak Alfa.


"Aku tidak akan membiarkanmu merebut Aira dariku..." Keno berteriak dan terus berlari tanpa arah. Semua orang yang berada di sana pun tergelak melihat Keno.


***


Mega dan Sandi menghampiri Keno yang tampak kelelahan karena berlari- lari menggendong Aira. Begitu juga dengan Raka dan Hana, mereka juga ikut menghampiri Aira dan Keno.


"Ada yang takut istrinya diambil dokter ganteng nih," ledek Sandi.


Keno hanya memandangnya sekilas dan kembali mengatur nafasnya, kemudian istrinya datang dengan satu gelas jus jeruk untuknya. Segeralah ia meminum jus itu hingga tandas.


"Baru tahu kalau Presdir Sanjaya group itu sangat takut kehilangan sang istri. Padahal Alfa tadi hanya bercanda," seru Raka dengan kekehan kecil.


"Kalian tuh diam saja, jangan meledekku terus." Keno melototkan matanya menatap Sandi dan Raka.


"Hanya mereka yang kau suruh diam? Berarti aku boleh dong meledekmu sepuasnya," sahut Frido berjalan menghampiri Keno.


Keno merasa kesal, semua menyudutkan dan meledeknya. Tak ada satu pun yang berpihak dengannya, istrinya sendiri malah ikut meledek dan tertawa.


"Sayang..." rengek Keno bergelayut manja di lengan Aira.


Sontak, semuanya pun semakin tertawa melihat Keno yang manjanya melebihi anak kecil.

__ADS_1


***


Mira dan Maria berebut mengambilkan makanan untuk Aira. Mereka memasukkan berbagai macam makanan ke piring dan buru- buru memberikannya kepada Aira.


"Sayang, ayo makanlah. Ini sudah siang loh..." seru Mira menyodorkan piring berisi makanan kepada Aira.


"Makan punya Mama Maria saja ya..." Maria menyingkirkan piring Mira dan menggantinya dengan piring berisi makanan miliknya.


"Ishh, kau ini selalu menggangguku. Biarkan anakku memakan punyaku saja," cebik Mira menyenggol lengan Maria.


"Kau makan saja sendiri makananmu itu, biar menantuku makan makanan yang telah kuambilkan."


Kedua wanita paruh baya itu berkacak pinggang dan saling menatap tak suka. Terjadilah adu mulut di antara keduanya. Bram dan Andi pun menepok jidatnya melihat istri mereka selalu saja bertengkar karena memperebutkan Aira.


"Mah, sudah dong..." seru Bram kepada istrinya, tapi wanita itu masih saja serius beradu mulut dengan besannya.


"Mama, sudah jangan bertengkar lagi. Tidak malu apa dilihat anak- anak kita..." Andi juga mencoba menghentikan istrinya, tapi sama saja tak digubris oleh Mira.


Bram dan Andi pun menarik mereka dengan paksa dan membawa kedua wanita itu menjauh. Bram mengajak Maria ke kutub utara, sedangkan Andi mengajak Mira ke kutub selatan supaya mereka tak lagi bertengkar.


Aira menggelengkan kepalanya melihat kedua wanita yang sangat ia sayangi. Ini sudah biasa terjadi, dirinya juga malah senang karena itu berarti kedua Mamanya benar- benar menyayanginya.


Acara demi acara berlangsung dengan baik. Acara empat bulanan ditutup dengan Keno membacakan do'a untuk calon bayinya. Di akhir acara, mereka juga tak lupa menyempatkan untuk berfoto bersama.


"Aku di samping Aira !" seru Mega.


"Tidak boleh, aku yang di sampingnya," ucap Hana.


"Hey, daripada kau berebut mending aku yang di samping Aira," celetuk Hana.


"Kalian ini apa- apaan sih, biarkan aku yang berada di samping menantuku." Maria langsung berdiri di samping kiri Aira. Mira tak mau kalah, ia mengusir Keno yang sudah berdiri di samping kanan Aira.


"Mah, terus aku dimana? Masa aku pisah sama Aira..." lirih Keno dengan nada sedih.


"Kalau tidak mau, mending kamu aja yang motoin sana! Gantiin Pak Dodit," seru Mira dan Maria bersamaan.


Keno menghela nafasnya kasar, ia pun bergabung dengan para lelaki. Semuanya menampilkan senyum bahagia dan berpose sedemikian rupa. Tak hanya sekali saja mereka berfoto, mungkin ada ratusan foto yang diambil. Sampai- sampai Pak Dodit lelah mengambil foto mereka.


Usai foto bersama keluarga besar, Keno pun mengajak istrinya berfoto sendiri di spot foto yang disediakan Mira dan Maria. Ia juga ingin mengabadikan momen mereka berdua tanpa ada orang lain yang menganggu.


"Baiklah sayang, ini giliran kita foto berdua," seru Keno.


"Bertiga, 'kan sama baby juga," ucap Aira meralat perkataan suaminya.


"Iya aku lupa hehe..."


__ADS_1


__ADS_2