
Pernikahan Hana dan Raka berlangsung khidmat. Semua orang tampak menikmati acara itu, kecuali Raka. Dia benar- benar belum bisa menerima pernikahan ini, dia belum bisa menerima kalau dirinya saat ini sudah sah sebagai suami Hana.
Setelah acara selesai, Raka dan Hana langsung menuju kamar untuk beristirahat setelah melayani para tamu yang jumlahnya sangat itu, mereka tampak kelelahan.
Raka merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Hana, ia masih memikirkan kondisi Aira saat ini apalagi saat Hana bercerita kalau semalam Aira dihajar habis- habisan dengan Papanya. Raka merasa sangat bersalah karena ulahnya malah membuat Aira menderita. Ia mencoba menghubungi Aira, namun ponselnya selalu tidak aktif. Ia semakin khawatir dengan Aira, bagaimanapun juga Raka adalah dalang dari semuanya.
Raka beranjak dari ranjangnya dan hendak keluar mencari pelayan yang sempat ia suruh untuk menghancurkan pesta pernikahan.
"Kak Raka mau kemana?" jerit Hana saat Raka hendak memutar knop pintu.
"Tidak perlu tahu, ini bukan urusan mu."
Hana terduduk lemas, ia tidak menyangka jika Raka terus saja dingin kepada Hana. Ia pikir, setelah menikah sikap dingin Raka akan mulai menghilang dan mencoba membuka hatinya untuk Hana.
"Sampai kapan kak kamu seperti ini, seberapa besar cinta mu dengan kak Aira sampai- sampai kau sulit untuk melupakannya dan tak ingin membuka hati sedikitpun dengan ku kak, hiks..." Hana terisak meratapi punggung Raka yang mulai menghilang.
Raka tampak tegesa- gesa, ia bahkan menabrak pelayan yang sedang sibuk kesana kemari membereskan pesta. Dan akhirnya Raka menemukan sosok yang dicarinya. Ia langsung menarik lengan bi Firda dan mencengkramnya kuat membawanya keluar mencari tempat yang sepi.
"Tu-Tuan, kenapa Tuan menyeret saya kemari." Wajah Firda pucat pasi seraya meringis kesakitan karrna kedua lengannya dicengkram kuat oleh Raka.
"Kenapa kau mengatakan kalau Aira yang sudah menyuruh mu untuk menghancurkan pesta !!! Katakan !!!" seru Raka berapi- api.
"Bukankah aku hanya menyuruh mu untuk menghancurkan pesta saja !!! Tapi kenapa kau malah memfitnah Aira !!!" Emosi Raka sudah memuncak, dia mencekuk leher pelayan itu dan menghempaskan badannya ke dinding.
"Dasar bodoh, Aira jadi dihajar oleh orang tuanya bahkan diusir gara- gara mulut mu ! Sialan !!" Raka melepas tangannya dari leher pelayan itu karena ia tersengal dan hampir kehabisan nafas.
"Uhuukkk uhuuukkk, Ma- maafkan sa- saya. Saat itu saya sangat ketakutan sekali ketika semuanya sudah mengetahui kalau saya lah yang menghancurkan pesta itu. Dan mereka bertanya kepada saya siapa yang menyuruh untuk menghancurkannya. Saya bingung tidak tau harus menjawab apa." jelas Bi Firda menundukkan kepalanya.
"Lalu semua keluarga berfikir kalau Nona Aira lah yang menyuruh saya melakukan itu. Jadi saya mengiyakannya, karena saya ingin cepat keluar dari masalah itu. Saya takut dihajar oleh Tuan Andi. Ma- maafkan saya."
"Bodoh !!! Harusnya kau mengatakan yang sebenarnya, kalau kau berkata jujur pasti Aira tidak akan dihajar habis- habisan dengan pak Andi." Rahang Raka mengeras melihat semua penuturan bi Firda.
Plaaakkk....
plaakkkk....
Raka menampar kedua pipi Firda dengan sangat keras, hingga terhempas ke lantai.
"Gara- gara kau, Aira diusir dari rumah dan mendapatkan siksaan !"
Plakkkk....
Lagi- lagi Raka menampar pipi pelayan itu.
"Apa yang terjadi, kenapa kau menampar pelayan itu?" tanya Pak Andi menghampiri Raka dan Firda.
"Om, tante..."
"Raka, ada apa nak? Kenapa kau menampar Bi Firda? Apa dia melakukan kesalahan kepada mu?" tanya Bu Mira.
Raka menundukkan kepalanya, "Maaf sebelumnya Om, tante..."
"Ada apa? Kenapa meminta maaf?" tanya bu Mira mengusap bahu Raka.
"Sebenarnya yang menyuruh pelayan ini menghancurkan pesta itu bukanlah Aira. Aira tidak tahu apa- apa tentang penghancuran pesta itu."
"Apa?!!"
Pak Andi dan bu Mira tersentak kaget mendengarnya, mereka masih belum yakin dengan apa yang diucapkan Raka.
"Itu tidak mungkin, pelayan itu sendiri yang mengatakan kalau Aira lah yang menyuruhnya untuk menghancurkan pesta." seru Pak Andi.
"Kamu jangan mencoba melindungi Aira dengan berkata yang tidak- tidak seperti itu, sekarang kembalilah ke kamar temani istri mu." ucap Bu Mira.
"Tidak Om, Tante. Pelayan itu telah berbohong. Dia mengatakan kalau Aira yang menyuruhnya karena ia terdesak, ia sangat ketakutan waktu itu. Percayalah kalau Aira bukan pelakunya."
"Sebenarnya Raka lah yang menyuruh pelayan itu untuk menghancurkan pesta dan Raka juga yang membayarnya bukan Aira."
"Iya itu semua benar Tuan, Nyonya. Maafkan saya..." timpal bi Firda.
Plaakkkk....Plakkkkk
Pak Andi menampar kedua pipi Raka dengan sangat keras, bahkan Raka sampai tersungkur dan kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Untuk apa kau melakukannya!" Rahang pak Andi mengeras saat mengetahui Raka lah yang telah berusaha menghancurkan pesta.
"Maaf om, Raka waktu itu khilaf. Raka belum siap menikah dengan Hana, jadi Raka melakukannya."
"Kurang ajar, gara- gara kamu kami menuduh Aira yang melakukannya." Bu Mira ikut geram dan ia meneteskan air matanya.
"Aira pah, Aira huuuuu huu huuu..." Bu Mira menangis tersedu- sedu memeluk suaminya. Ia merasa sangat bersalah dengan Aira.
"Gara- gara kamu saya sudah menganiaya anak saya sendiri." Pak Andi langsung mengajak istrinya pergi dan meninggalkan Raka yang sedang meratapi kesalahannya.
***
Pak Andi dan Bu Mira menuju ke kamarnya. Mereka menangis mengingat kejadian semalam. Kejadian dimana mereka telah berbuat keji kepada anaknya sendiri. Menampar, menendang, mencekik, bahkan mencambuknya puluhan kali. Mereka menyesal karena tidak percaya dengan anaknya sendiri.
Pak Andi mencoba menghubungi Aira namun ponselnya tidak bisa dihubungi. Pak Andi juga mengerahkan anak buahnya untuk mencari Aira. Namun belum ada hasil juga.
"Airaaa, dimana kamu, Nak. Maafkan mama nak, huuu huuu...." Bu Mira terus menangis, ia sangat menyesal.
"Tenanglah, Sebentar lagi Aira pasti ketemu."
"Kita sudah sangat salah dengannya, dia pasti merasakan sakit yang luar biasa karena perlakuan mu." Bu Mira terus mengingat kejadian semalam, dan mengingat kalau Aira pergi dengan keadaan kacau, lemas tak berdaya, penuh dengan luka.
"Aira maafkan papa nak, ku mohon kembalilah. Hukum papa semau mu, hukum papa, nak." pak Andi juga menangis dan tetap mencoba menghubungi ponsel Aira.
Pak Andi terus mengingat kejadian semalam. Kejadian yang sangat membuat Aira menderita. Anaknya terus meringis kesakitan tapi ia tak menghiraukannya, ia hanya ingin menuntaskan emosinya dengan terus menghajar Aira. Menamparnya berkali- kali dengan sangat keras bahkan anaknya sampai terhempas. Mencekik leher anaknya hingga hampir mati, menendangnya sampai terbentur sudut meja dan pelipisnya berdarah. Dan mencambuknya puluhan kali hingga lemas tak berdaya.
"Papa salah nak. Papa minta maaf sama kamu, tubuh mu pasti sakit semua. Maaf nak, maaf."
Pak Andi dan Bu Mira terus mengucapkan kata maaf. Air mata penyesalan terus mengalir di kedua mata mereka.
"Aku tidak akan menganggap mu sebagai anak lagi. Kau bukan anakku dan jangan panggil kami papa dan mama lagi. KAMI TIDAK SUDI MEMILIKI ANAK SEPERTI KAU !!!"
"Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki mu ke rumah ini lagi. Anggap saja kau tidak pernah mengenal kami."
__ADS_1
Perkataan itu terus terngiang di kepala mereka berdua. Mereka telah mengusir anaknya sendiri, mengusir anak semata wayangnya.
"Kembalilah nak, maafkan mama huuuu. Mama sangat menyayangi mu, kembalilah huuu huuu huuu..."
Tak hanya Pak Andi dan Bu Mira saja, Hana dan Mamanya juga merasa bersalah karena telah menuduh Aira.
***
Di rumah Keno...
Aira sudah nampak melupakan kejadian semalam, senyum manisnya sudah kembali seperti biasanya. Malam ini Mega dan Sandi akan menginap di rumah Keno. Rumah Keno menjadi sangat ramai padahal hanya bertambah dua orang saja. Kenapa begitu? karena pasutri itu suka sekali bertengkar dan menjahili bi Ijah dan mang Dadang, jadilah rumah ramai.
Keno, Sandi, dan mang Dadang mengobrol di taman depan. Sedangkan Aira, Mega, dan bi Ijah berkumpul di ruang televisi menyaksikan drama Thailand favorite author (Eh bukan, maksudnya mereka bertiga). Dimana pemainnya adalah James Jirayu dan Taew Natapohn.
"Lihat itu James Jirayu ganteng banget aduhhh cocok deh kalau sama Taew Natapohn." ujar Mega.
"Iya nak Mega, James Jirayu mirip banget sama mang Dadang hihi." seru bi Ijah membuat Aira dan Mega tertawa terbahak- bahak.
"Bi Ijah ku sayang, James Jirayu itu lebih mirip sama si Sandi, suamiku."
"Tidak nak Mega. Lebih mirip dengan mang Dadang. Lihat itu tampan, hidungnya mancung, bibir tipis, senyumnya mirip sama mang Dadang. Cuma satu yang engga mirip, mang Dadang item kalo dia putih hahaha."
"Isshh bibi, dibilangin mirip sama suami ku kok ngeyel sih."
"Mirip suami bibi, nak Mega."
Aira hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan bi Ijah dan Mega yang berebut siapa yang lebih mirip dengan aktor tampan tersebut.
"Padahal lebih mirip dengan Keno, mungkin itu malah kembarannya." celetuk Aira membuat kedua orang itu berhenti berdebat sejenak.
"Siapa bilang, jelas- jelas mirip suami ku." protes Mega.
"Astaga nak Mega, itu lebih mirip dengan suami bibi."
"Suami ku."
"Suami bibi."
"Si Sandi."
"Mang Dadang."
Mereka terus saja berdebat dan melupakan film yang sedang berputar di televisi. Aira memijat pelipisnya dan segera meninggalkan mereka berdua yang berdebat tidak jelas.
"Loh kok ke sini sih, Ra. Kenapa?" tanya Keno saat Aira bergabung dengannya, Sandi, dan juga mang Dadang di taman.
"Pusing dari tadi dengerin mereka debat terus, engga ada habisnya."
"Siapa?" tanya Sandi dan mang Dadang bersamaan.
"Cieee barengan nihh yeee." goda Keno.
"Apaan sih lo, gaje." seru Sandi memukul kecil lengan Keno.
"Siapa lagi kalau bukan istri kalian berdua. Noh lagi pada ngerebutin James Jirayu, aktor Thailand yang gantengnya engga ketulungan itu." seru Aira sedikit kesal.
"Ini pasti istrinya mang Dadang duluan yang mulai nih, wahh engga bener nih." celetuk Sandi menggelengkan kepalanya.
"Pasti bi Ijah duluan."
"Nak Mega dulu yang pasti itu."
"No ! Bi Ijah duluan."
"Nak Mega!"
"Bi Ijah."
Aira dan Keno menepuk keningnya karna pusing dengan kelakuan dua orang itu. Mereka memilih untuk meninggalkannya. Membiarkan mereka berdebat sampai mulut mereka berbusa.
"Jalan- jalan keliling komplek yuk." ajak Keno yang kemudian Aira mengiyakannya.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan menyusuri komplek perumahan Keno. Menikmati malam yang penuh bintang. Menyaksikan mobil- mobil yang masih berlalu- lalang. Bercerita akan suatu hal, lalu tertawa. Berkeliling melihat- lihat pedagang makanan di pinggir jalan.
"Ada jagung bakar tuh, beli yuk. Cocok sama suasananya." ajak Aira.
"Enggak ah, kalau kamu mau kita bisa menyuruh chef di restoran mama untuk membuatkannya. Jangan makan makanan pinggir jalan deh."
"Sepertinya sifat presdirnya kumat nih, huh." gumam Aira dalam hatinya.
Aira tak menghiraukan Keno, ia lalu menghampiri tukang jagung bakar yang sedang mangkal di bawah pohon besar. Lalu memesan dua jagung bakar.
"Dibilangin jangan jajan di pinggir jalan, kamu tuh nakal banget sih." Keno mencubit hidung Aira.
"Sesekali engga papa kan. Kita juga harus berbagi rezeki sama mereka, jangan makan di restoran mahal terus."
"Ini neng cantik jagungnya sudah siap." ucap tukang jagung menyodorkan dua jagung ke tangan Aira.
"Terima kasih mang."
"Jangan senyumin dia, kamu boleh senyum cuma sama aku aja. Nanti pada naksir lagi sama senyum kamu." protes Keno saat Aira tersenyum dengan penjual jagung.
"Astaga cuma gitu doang mah biasa atuh, lagian juga mana mau neng cantik ini sama mamang yang item bau jagung gini." ucap tukang jagung.
"Ya, ya siapa tau aja." Aira menggelengkan kepalanya melihat Keno yang posesive.
Ia lalu mulai menggigit dan menikmati jagung bakar. Sudah lama tidak menikmati jagung bakar seraya duduk di pinggir jalan menikmati suasana kota. Keno yang awalnya enggan memakan jagung itu akhirnya memakannya juga setelah melihat Aira yang sangat menikmati jagung bakar itu.
"Gimana, enak kan makan makanan pinggir jalan?" ledek Aira.
Keno mengangguk, "Enak karena ada kamu. Coba kalau engga ada."
"Ciye ciye, ehem ehem. cuit cuit..." seru tukang jagung yang sedari tadi menguping. Keno dan Aira hanya membalasnya dengan senyuman.
Beberapa menit kemudian, jagung ditangan mereka sudah habis. Mereka lalu berdiri dan hendak pulang.
__ADS_1
"Ehhh mau kemana, kan belum dibayar." seru tukang jagung menghentikan langkah Keno dan Aira.
"Oh iya hehe, yaudah bayar sana, Ken."
"Lah kok aku sih."
"Ya aku kan engga bawa uang gimana mau bayar."
"Kalau engga bawa uang ngapain ngajak beli jagung coba."
"Ya kan ada kamu, udah cepet bayar."
"Aku juga mana bawa uang, kan tadi kita langsung pergi aja."
Tukang jagung dibuat pusing mendengar perdebatan kedua insan itu. "Stop ! stop! stop ! Jadi kalian tidak membawa uang nih? Lah kalau gitu kenapa beli jagung."
"Eh tunggu, sepertinya aku menyimpan uang di saku." Keno merogoh saku celana pendeknya mencoba mencari uang.
"Nah ada, ini mang. Makasih ya." Keno menyodorkan uang seratus ribuan kepada tukang jagung itu.
"Tunggu sebentar kembaliaannya."
"Tidak perlu mang, ambil aja. Anggap sebagai hadiah perkenalan kita." seru Aira.
"Wahh terima kasih neng cantik, neng emang baik hati."
"Ciihhh itu kan uang ku, kenapa dia yang dipuji." protes Keno menggelakkan tawa.
Mereka pun kembali pulang. Sesampainya di rumah mereka melihat dua pasutri sedang menonton televisi. Dengan posisi saling berpelukan dan bermesraan di sofa yang berbeda dan sesekali sang suami membelai puncak kepala sang istri.
"Tumben engga pada debat lagi."
"Iya, tumben pada akur. Tapi ini lebih baik, setidaknya telinga kita tidak akan sakit lagi." seru Aira terkekeh.
"Kami mendengarnya !!!" jerit Mega dan Sandi.
"Baguslah kalau kalian mendengarnya, setidaknya kalian tidak perlu ke THT karena telinga kalian masih normal." seru Keno yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Mega dan Sandi.
"Wahhhh kurang ajar ya sama Tuan rumah." Keno melempar kembali bantal sofa ke arah Mega dan Sandi.
"Isshhh kenapa dilempar balik sih." ujar Sandi geram.
"Bodoamat Bambang." ledek Keno menjulurkan lidahnya.
Aira langsung mengajak Keno untuk naik ke kamarnya, karena kalau tidak mereka pasti akan berantem sampai besok.
"Lah ngapain ikut masuk ke kamar ku?" tanya Aira saat Keno ikut masuk ke kamarnya.
"Hehe, cuma pengen masuk aja kok." ucap Keno nyengir kuda.
Keno langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kamar Aira seraya memainkan ponselnya. Sedangkan, Aira menuju kamar mandi hendak mencuci muka dan berganti pakaian.
Ponsel Aira yang diletakkan di atas nakas berbunyi, segeralah Keno mengambilnya dan melihat siapa yang menelfon Aira terus menerus. Keno pun kaget melihat layar ponsel yang bertuliskan papanya Aira telah menelfonnya ratusan kali dan mengirimkan banyak pesan.
"Untuk apa menelfon dan mengirim pesan kepada Aira? Masih mau menyakiti Aira?" gumam Keno yang kemudian langsung membukanya karena kebetulan Aira tak pernah mengunci ponselnya jadi Keno bisa membukanya dengan mudah.
Keno pun kaget saat melihat pesan- pesan yang dikirimkan oleh papa dan mamanya Aira. Pesan yang berisi permintaan maaf kepada Aira karena telah menghajarnya habis- habisan. Mereka juga meminta Aira untuk pulang ke rumah.
"Apa mereka sudah tahu kalau bukan Aira yang menghancurkan pesta pernikahan itu?" Keno terus bertanya- tanya kepada dirinya sendiri. Dan tak lama kemudian ponsel Keno berbunyi, Pak Andi menelfon Keno.
"Halo..."
"Halo nak Keno, apa kau mengetahui Aira dimana?"
"Kenapa memangnya? Bukankah Aira bukan anak kalian lagi, jadi untuk apa mencarinya."
"Kami salah Ken, kami khilaf. Kami sudah mengetahui semuanya kami sudah menghubungi Aira berkali- kali tapi anak itu tidak mengangkatnya." ucap Pak Andi terisak.
"Apa dengan meminta maaf saja semuanya akan membaik? Cihhh semudah itu kalian meminta maaf, kalian tidak tahu apa yang terjadi dengan Aira setelah itu. Kalian memang kejam." ucap Keno berapi- api.
"Kami menyesal, sungguh kami menyesali smeuanya. Kami hanya ingin Aira kembali lagi, Aira anak kami. Kami sangat menyayanginya." ujar Pak Andi dengan isakan tangis penyesalan.
Keno merasa tidak tega saat melihat pak Andi yang terlihat tegas, berwibawa menangis tersedu- sedu. Tapi Keno juga masih belum bisa memaafkan perbuatan mereka.
"Jangan khawatir, Aira baik- baik saja."
"Katakan dimana dia nak, kami ingin menemuinya sekarang."
"Dia bersama ku saat ini, tunggu semuanya membaik aku akan mempertemukan kalian." ujar Keno langsung mematikan telefonnya karena Aira sudah keluar dari kamar mandi. Keno langsung menghapus notifikasi panggilan dan pesan- pesan yang dikirimkan oleh papa dan mamanya Aira tidak mau jika Aira mengetahuinya, karena Keno belum percaya sepenuhnya dengan Pak Andi dan bu Mira.
"Siapa yang menelfon?"
"Bukan siapa- siapa."
"Hey kenapa kau memainkan ponsel ku. Jangan macam- macam kemarikan."
"Aku hanya mencoba kamera mu saja tadi."
"Alasan saja." Aira langsung membuka galerinya dan benar saja Keno berfoto- foto dengan berbagai ekspresi yang membuat Aira terkekeh geli.
"Benar kan aku bilang, aku hanya selfi saja tadi. Sini, biar aku jadikan wallpaper di ponsel mu."
Keno benar- benar menjadikan fotonya menjadi wallpaper ponsel Aira, begitupun dengan ponselnya. Dia mengubah wallpaper ponselnya dengan foto Aira.
"Alay..."
"Biarin."
.
.
.
.
.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA TEMAN- TEMAN :D :D :D
TERIMA KASIH YA SUDAH MEMBACA, TUNGGU EPISODE SELANJUTNYA HEHE....