
Pagi telah menyapa, Aira terbangun karena merasakan mual yang teramat. Wanita itu langsung memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Ini sudah menjadi kebiasaannya selama seminggu terakhir.
Keno yang mendengar istrinya muntah pun segera beranjak dan langsung memijat tengkuk Aira. Tapi wanita itu menepisnya dengan kasar dan berlalu meninggalkan suaminya.
"Hey, sayang. Jangan marah lagi dong, aku tidak bisa jika melihatmu seperti ini." Keno mengekor di belakang istrinya dan mencoba meminta maaf.
"Sayang..." Keno terus mengejar istrinya. Ia terus berlari kecil dan akhirnya kesandung mainan milik Livka yang bececer di lantai.
Brughhh...
Keno pun tersungkur di lantai dan memekik kesakitan.
"Sayang, sakit..." ucapnya manja dan dengan nada memelas layaknya anak kecil.
Aira sebisa mungkin menahan tawanya melihat suaminya tersungkur dengan wajah yang menyedihkan seperti anak kucing tak diberi makan.
"Makanya jalan tuh pake mata !" seru Aira seraya membantu Keno berdiri.
"Jalan tuh pakai kaki sayang, bukan mata !" cerocos Keno. Ia langsung terdiam, menundukkan wajahnya, dan meremas jarinya ketika melihat Aira melototkan matanya tajam.
Aira pun sudah tak bisa menahan tawanya lagi melihat suaminya itu benar- benar seperti anak kecil.
Keno pun tersenyum mendengar tawa istrinya, ia menangkup kedua pipi Aira dan mengecup bibirnya.
"Akhirnya sudah tidak marah lagi, terima kasih sayang, muachh muachh..."
"Aku masih marah !" tukas Aira.
"Halah ! Tadi aja udah ketawa- ketawa gitu." Aira langsung mencubit telinga suaminya hingga merah dan mengaduh kesakitan.
"Kau menyebalkan sekali!"
"Tante, tarik terus telinganya Om Keno. Sampai putus, nanti diganti dengan telinga gajah !" seru Livka terkekeh.
"Livka, tolongin Om dong jangan malah diketawain." Livka malah semakin terpingkal- pingkal melihat Om nya dijewer.
"Jadi suami itu jangan nakal makanya ! Minggir, aku mau masak dulu."
"Iya sayang, maaf..."
***
Usai mandi dan bersiap, mereka pun berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan.
"Aira, maaf ya aku tidak membantumu memasak," seru Tiara.
"Tidak apa." Aira menjawabnya dengan lembut walaupun hatinya masih saja kesal ketika mengingat kejadian semalam. Ia sebisa mungkin meredam emosi demi sang bayi.
"Yah, nanti malam sudah tidak tidur dengan Om Keno lagi deh..." celetuk Livka dengan nada sendu. Anak itu terlihat sedih ketika mengingat perkataan Mamanya jika nanti ia akan kembali ke rumah Maria.
"Jangan sedih dong, Liv. Nanti Om bakal sering- sering ke sana deh main sama Livka," seru Keno membelai kepala anak kecil itu.
__ADS_1
"Janji ya, Om." Livka pun memeluk dan mencium pipi Keno.
"Ehm, Mama...Kenapa kita tidak tinggal di sini saja sih? Kenapa harus tinggal di rumah Nenek? Kan sama saja," cerocos Livka.
"Aku sudah selesai, aku akan berangkat terlebih dahulu dengan Mang Dadang. Permisi," ucap Aira beranjak dari duduknya.
"Kenapa tidak bareng saja?" tanya Tiara.
"Aku harus ke toko sepagi mungkin, dan Keno juga akan mengantarmu ke rumah Mama dulu, kan? Jadi lebih baik aku berangkat sendiri," jelas Aira dan langsung pergi dari ruang makan.
Keno yang hendak menyusul istrinya pun terhenti saat Livka menarik tangannya dan meminta untuk disuapi.
Di dalam mobil, tangis Aira pecah. Harusnya Keno mengejarnya dan menyuruh Mang Dadang yang mengantar Tiara dan Livka. Tapi, Keno lebih memilih Tiara dan Livka daripada dirinya. Ia tak habis pikir dengan suaminya.
Mang Dadang yang melihat majikannya menangis ikut terenyuh, ia tahu bagaimana perasaan Aira. Melihat Tiara dan Livka selama di rumah Keno pun dirinya juga ikut kesal, karena Keno benar- benar memanjakan dan menyerahkan waktunya dengan mereka.
"Nak Aira, kita sudah sampai. Mang Dadang tunggu di sini atau pulang nih?" tanya Mang Dadang sopan.
"Mang Dadang di sini dulu tidak apa, kan? Nanti siang ada jadwal cek kandungan soalnya, jadi biar dianterin Mang Dadang sekalian gitu."
"Baik, Nak. Saya tunggu di dalam mobil saja."
"Jangan Mang, tunggu di dalam saja sekalian ngopi sama nyemil."
***
Matahari pun mulai merangkak, sinarnya mulai menyengat kulit. Aira membereskan pekerjaannya dan segera bersiap karena jadwal bertemu dengan dokter adalah jam satu nanti.
"Tak apa lah, tadi pagi 'kan aku juga sudah memberitahunya. Semoga dia tak lupa." Aira pun memilih untuk pergi ke Rumah Sakit Sanjaya terlebih dahulu dengan Mang Dadang.
Sesampainya di sana, Ia masih mencoba menghubungi suaminya tapi tetap tak bisa juga. Sudah menunggu selama tiga puluh menit dan berharap lelaki itu segera datang.
"Sepertinya Tuan Keno sedang sibuk, Nak Aira. Apa tidak sebaiknya periksa terlebih dahulu, takutnya dokter tidak memiliki banyak waktu hehe..." seru Mang Dadang.
"Sepertinya memang lebih baik begitu. Aira turun dulu ya, Mang." Aira pun keluar dari mobil dengan wajah sendu. Harusnya ia memeriksakan kandungan dengan Keno, tapi lelaki itu malah tak datang.
"Tak apa, masih ada bulan- bulan selanjutnya hehe," ucap Aira dalam hati.
Saat menyusuri koridor rumah sakit, Aira tak sengaja berpapasan dengan Alfa. Wanita itu pun langsung tersenyum cerah melihat seseorang yang sangat ia rindukan.
"Kak Alfa, Aku kangen. Lama banget kita tidak bertemu," lirihnya dalam dekapan Alfa.
"Aku juga kangen sama bocilku ini, bagaimana kabarmu?" tanya Alfa membelai kepala Aira.
"Baik kak, kakak sendiri bagaimana?"
"Baik juga. Oh ya, kau mau apa datang kemari? Apa karena merindukanku?" goda Alfa mencubit hidung Aira.
"Ah, Kak Alfa ini bisa aja. Aira ke sini mau cek kandungan kak."
"Lalu, dimana Keno? Kenapa kau sendiri saja?"
__ADS_1
Wajah Aira kembali sendu mendengar pertanyaan Alfa. "Keno sedang sibuk, kak. Dia tidak bisa datang," jawabnya tersenyum getir.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu. Ayo ikut aku..." Alfa menggandeng tangan Aira menuju poli kandungan.
Mereka pun sudah sampai di ruangan Dokter Salsa. Di sana ternyata sudah ada Maria dan Mira yang siap menemani Aira dan melihat perkembangan cucu mereka.
"Sayang, Mama udah nunggu lama loh kamunya malah baru dateng," kata Mira.
"Dimana Keno? Dia sibuk ya? Astaga anak itu kenapa tidak bisa meluangkan waktunya sih." Maria menggelengkan kepalanya dan merasa kecewa dengan Keno.
"Nona Aira, silakan berbaring ya. Kita akan segera memulainya." Dokter Salsa menuntun Aira menuju ke brankar. Suster pun segera mengoleskan gel ke perutnya. Rasanya dingin dan geli, Aira merasa tidak nyaman.
Sebelumnya, Dokter Salsa memeriksa tensi Aira dulu dan tensinya bagus hanya saja Aira sedikit tegang. Alfa yang mengerti jika Aira sedang tegang dan takut pun menggenggam tangannya mencoba menenangkan wanita itu.
Di sisi lain, Keno baru saja sampai di rumah sakit. Ia segera berlari menuju ke ruangan Dokter Salsa dan berharap supaya dirinya tidak terlambat. Ia berlari cepat seakan dikejar harimau yang tengah kelaparan.
Sesampainya di sana, Keno terkejut melihat istrinya sudah berbaring dan ada Alfa di sampingnya. Hatinya sangat sakit melihatnya, yang harusnya ada di samping Aira itu dia bukan Alfa. Keno pun melangkahkan kakinya gontai meninggalkan rumah sakit. Hatinya benar- benar sakit.
"Kenapa tidak menungguku dan malah mengajak Alfa untuk menemanimu. Aku suamimu, apa kau masih marah denganku sampai- sampai tak mau untuk aku temani periksa." Keno membanting stir mobilnya, matanya merah dan berkaca- kaca.
"Aku buru- buru ke sini dan meluangkan waktu untukmu, tapi apa yang ku lihat? Kau malah bersama Alfa !"
***
Di dalam ruangan, Dokter Salsa lalu mengambil alat USG dan meletakkannya di perut Aira yang sudah basah karena gel. Kemudian, dokter memutarnya ke kanan dan kiri, maju, mundur cantik. Eh tidak !
"Ini janinya, sudah sebesar jeruk," jelas dokter Salsa. Aira pun menoleh ke arah layar, air matanya menetes tanpa permisi. Di dalam perutnya benar- benar ada malaikat kecil. Alfa juga ikut senang melihatnya, ia terus menyunggingkan senyumnya kepada Aira.
"Dia cucuku..." seru Mira, ia ikut meneteskan air mata bahagianya.
"Dia juga cucuku, Aira tidak bisa membuatnya tanpa bantuan Keno," sahut Maria. Semua yang di ruangan itu pun tertawa mendengarnya.
Aira terus menoleh ke arah pintu, masih berharap supaya suaminya itu datang. Namun, sampai pemeriksaan selesai Keno tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Aira semakin sedih.
"Kak Alfa, terima kasih ya sudah menemaniku..."
"Sama- sama bocil. Hati- hati ya pulangnya, aku tidak bisa mengantarmu soalnya aku ada praktek sebentar lagi," seru Alfa lembut sembari mengacak- acak rambut Aira.
.
.
.
.
.
Keno oh Keno😂
Btw, aku akan up lagi nanti kalau likenya udah 100an lebih hehe
__ADS_1