
Keno masih tertidur pulas, ia memiringkan tubuhnya hendak menggapai tubuh istrinya. Ia meraba tempat tidur di sebelahnya, rasanya lapang dan tak ada orang. Secepat kilat, ia pun mulai membuka matanya.
"Dimana Aira?" Keno kesal karena tak mendapati istrinya sepagi itu. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, beranjak dan segera turun dari tempat tidur. Menyusuri kamar mandi dan kamar ganti, tapi tak kunjung mendapatkan sosok wanita itu.
"Aira, kau dimana?" teriaknya terus memanggil. Keno langsung turun ke bawah, hatinya tertuju pada dapur. Dan benar saja, wanita yang sedari tadi dicarinya berada di sana. Dengan rambut yang diikat tak beraturan dengan celemek biru muda menutupi tubuh bagian depannya, wanita itu tengah asyik mengolesi selai pada roti dan siap untuk memanggangnya.
"Kenapa tidak menungguku bangun..." rengek Keno, ia melingkarkan tangannya di pinggang dan menyandarkan kepalanya di pundak Aira.
"Kenapa kau sudah siap dan wangi seperti ini?" tanya Keno tatkala mencium tengkuk istrinya.
"Hari ini aku akan menyiarkan berita jam enam nanti. Jadi, aku harus berangkat pagi sekali," jawab Aira.
"Pergilah ke kamar, kau pasti masih mengantuk, kan?"
"Tidak, aku akan pergi mandi dan mengantarmu," ucap Keno.
"Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri. Sudahlah, jangan memeluk dan menciumi tengkukku, rasanya geli." Aira semakin menggeliat tatkala Keno terus saja menciumi tengkuknya.
"Kalau tidak mau aku antar, biar Mang Dadang yang mengantarmu, okay?"
"Bolehlah, kau jangan lupa untuk sarapan ya. Susunya juga jangan lupa diminum, papayyy..."
"Tidak ada kecupan selamat pagi untuk suamimu ini?"
Aira dengan malu- malu mengecup pipi Keno singkat dan langsung berlari meninggalkannya. Keno terkekeh melihat Aira yang tetap saja malu dan belum terbiasa.
***
Sesuai perintah Keno, Aira pergi ke kantornya diantar Mang Dadang. Menyusuri jalanan ibukota yang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Lampu- lampu jalanan pun masih menyala terang.
Saat melewati salah satu club terbesar di ibukota, ia melihat sosok lelaki yang dikenal. Memastikannya sekali lagi, dan benar saja lelaki yang ia lihat itu memanglah Alfa.
Alfa nampak sempoyongan keluar dari Domain Club yang berada di Senayan City itu. Sepertinya ia tengah mabuk berat. Tak berpikir panjang, Aira menyuruh Mang Dadang untuk menepikan mobil.
"Kak Alfa !" jerit Aira.
"Hai, bocil. Kenapa kau di sini? Dimana suamimu itu? Apakah dia tidak bisa memuaskanmu hingga kau pergi ke sini untuk mencari kepuasan sendiri?" Alfa terus meracau, bau alkohol dari mulutnya tercium jelas oleh Aira. Dokter itu benar- benar mabuk, matanya merah dan sayu.
"Kak, bukankah kakak enggak pernah ke club sebelumnya? Apalagi minum alkohol seperti ini, kenapa kakak jadi seperti ini?" tanya Aira, matanya berkaca- kaca saat melihat orang yang sangat ia kenal tak seperti dulu lagi.
"Sepertinya dia terlalu banyak minum, jadi kesadarannya hilang," celetuk Mang Dadang.
"Kau sangat cantik, aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa memilikimu..."
"Aku tidak bisa memilikimu..."
__ADS_1
"Wanita itu pergi dariku !" Alfa menggoyang- goyangkan pundak Mang Dadang dan terus meracau.
Hati Aira mencelos seketika, ia tahu siapa orang yang dimaksud Alfa itu. Air matanya hampir menetes mendengar semua itu.
"Mang, tolong antarkan Kak Alfa ke rumahnya, ya. Aku akan ke kantor sendiri."
Aira segera mengambil kunci mobil yang berada di saku Alfa. Ia menyuruh Mang Dadang mengantarkan Alfa pulang karena takut terjadi sesuatu di perjalanan.
Aira dan Mang Dadang memapah pria tampan itu untuk masuk ke mobil Alfa. Sebenarnya, Aira ingin sekali meminta penjelasan darinya. Penjelasan kenapa ia bisa berubah jadi seperti ini. Dunia malam, alkohol, bahkan datang ke club saja Alfa tidak pernah. Tapi, apa ini? Kini, pria itu memasuki dunia yang dulunya sangatlah ia benci.
"Jika ini memang gara- gara aku, maafkan aku kak. Kalau kejadiannya akan seperti ini, lebih baik aku tidak memilih di antara kalian berdua. Semua salahku..."
***
"Aduh pengantin baru kesiangan nih," seru rekan saat Aira sampai di kantor.
"Maaf kak tadi ada masalah dikit. Ehm, dimana materinya?"
"Masih di ruang penyuntingan, lo ambil sendiri ya, gue buru- buru. Semangat ya, byee..."
Untung saja Aira masih bisa datang tepat waktu, segeralah ia menuju ke ruang redaktur untuk mengambil materi. Hatinya masih tertuju dengan Alfa, namun ia segera menepisnya. Ia harus profesional saat bekerja.
Di Sanjaya Group...
"Belum. Kalau dilihat dari CCTV, wajahnya tak jelas. Jalanan yang dilewati wanita itu juga tak ada CCTV, jadi kita tidak tau kemana wanita itu pergi," jelas Frido.
"Aku semakin penasaran apa maksud wanita itu. Cari tahu secepatnya, jangan biarkan hidupnya tenang. Berani- beraninya dia menampar istriku."
"Iya, aku permisi dulu..."
Hari ini, pertama kalinya ia bekerja setelah menikah. Ia semakin bersemangat saat memasuki ruangannya. Bagaimana tidak, ruangannya kini penuh foto- fotonya bersama sang istri. Semua terpampang rapi di dinding, dengan susunan yang menarik dan tak menjenuhkan.
"Aku jadi tak sabar untuk segera pulang dan bertemu denganmu, wanitaku..." lirih Keno seraya memandang figura kecil yang ada di meja kerjanya.
***
Sore pun tiba, Aira memutuskan untuk pergi ke rumah Alfa terlebih dulu sebelum pulang. Ia harus memastikan sendiri kalau Alfa baik- baik saja, walaupun Mang Dadang sudah memberitahunya tadi.
Setelah memencet bel rumah Alfa, pintu pun terbuka. Namun, bukanlah sang pemilik rumah yang menyambutnya, melainkan satu wanita paruh baya dan wanita yang seumuran dengannya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya wanita paruh baya itu menggertak Aira. Tatapannya sinis seakan tak suka akan kehadiran Aira. Menatap mata wanita itu, Aira jadi teringat dengan wanita misterius yang menamparnya kemarin.
"Saya ingin menemui Kak Alfa, Tante..." jawab Aira sopan.
"Dasar wanita tak tahu malu ! Kau sudah menolak anakku dan sekarang kau masih berani datang kemari?!" bentak wanita itu, yang tak lain adalah Mama Alfa.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memberimu pelajaran lagi. Apa belum cukup tamparan yang ku layangkan kemarin?"
Deg...
Jadi benar wanita yang di depan Aira itu adalah yang menamparnya kemarin. Aira benar- benar tak habis pikir.
Plakkk !
Wanita paruh baya itu menampar Aira lagi.
"Gara- gara kau, anakku jadi masuk ke dunia malam. Club dan alkohol menjadi temannya setiap malam. Anakku sudah rusak !"
"Aku membencimu !" teriak Diva, Mama Alfa dengan penuh amarah.
"Maaf, Tante. Aku tidak tahu kalau kak Alfa akan seperti ini," ucap Aira menundukkan wajahnya. Ia benar- benar takut melihat wajah Mama Alfa yang penuh amarah.
"Anakku masuk ke dunia malam gara- gara kau !" kali ini Diva mencengkram kedua bahu Aira dan mengguncangnya.
"Mah, sudah. Nanti kalau didengar tetangga..." lirih Vera, wanita yang bersama Diva tadi.
Diva malah semakin menggila, ia mendorong tubuh Aira hingga tersungkur ke lantai. Cupcake yang Aira bawa untuk Alfa juga ikut terlempar jauh. Tak berhenti di situ, Diva menginjak tangan Aira dengan keras.
"Arghhh..."
"Sudah, Mah. Kasihan dia, jangan lakukan lagi. Kalau dilihat tetangga nanti jadi panjang urusannya," pinta Vera.
"Dia membuat anakku sakit hati ! Dia harus merasakan apa yang dirasakan anakku !"
"Mbak, Tolong pergi dari sini..." ucap Vera, Ia dengan susah payah mencekal tubuh Diva supaya tidak menghajar Aira lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan suamimu itu walaupun keluarga mereka telah berjasa kepada keluargaku !" teriak Diva dan kembali mendorong tubuh Aira hingga tersungkur lagi.
.
.
.
.
.
Siapa yang geram sama Mama Diva?😂Ahh aku pengen nampol dia wkwk
Jgn lupa likenya ya🤗mampir ke "Young Marriage" juga yuk, cek profile aku😍terima kasih
__ADS_1