Hello Presdir

Hello Presdir
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Apa anakku baik- baik saja? Kenapa dia bisa kehilangan kesadarannya?"


"Menantuku sakit apa?"


"Dia tidak sakit parah 'kan?"


"Bagaimana sekarang? Apa kita boleh menemuinya?"


Mereka terus saja bertanya tanpa jeda dan tak memberikan waktu untuk dokter itu menjawabnya.


"Hey, jawablah ! Kau mau ku pecat dari rumah sakit keluargaku ini?" Bram tersulut emosi, ia benar- benar tak sabar menantikan kabar dari menantu kesayangannya. Ia takut sesuatu terjadi pada Aira.


"No-Nona Aira baik- baik saja, dia hanya kelelahan dan sepertinya dari tadi pagi dia belum mengisi perutnya jadi dia pingsan." Dokter itu berkata dengan nada ketakutan ketika Bram membentak dan mengancamnya.


"Apa anakmu tidak memberikan putriku makan sampai jadi dia jadi begini?" tanya Andi kepada Bram.


"Tidak mungkin jika anakku tidak memberinya makan. Dia itu sangat bertanggung jawab, lagi pula dia juga sangat menyayangi putrimu jadi tak akan membiarkannya kelaparan," balas Bram tak terima jika anaknya dituduh tidak memberi Aira makan.


"Lalu kenapa dia bisa tidak makan seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas Keno pasti memberinya makan."


Perdebatan dua lelaki itu membuat dokter dan yang lain menggelengkan kepalanya, mereka terus saja berdebat dan tak mau mendengarkan penjelasan dari dokter lagi.


"Hey, kau diam saja. Biarkan dokter menjelaskan keadaan Aira sekarang." Mira menarik telinga suaminya hingga memekik kesakitan. Ia terlalu jengkel dengan suaminya yang terus saja berceloteh.


"Awww sakit, Mah..."


"Papa juga diam, dari tadi ribut mulu." Maria ikut menarik telinga Bram.


"Iya iya, Mah. Lepasin dong, nanti kalau lepas gimana?" Bram memelas kepada istrinya.

__ADS_1


"Nanti aku ganti dengan telinga gajah."


"Jangan, itu kebesaran. Ganti telinga monyet saja yang lebih kecil," sahut Bram. Ia menjadi kesal dengan istrinya.


"Om, Tante. Sebaiknya kalau mau berantem lagi di rumah saja, tidak enak tuh dilihat sama orang- orang," ucap Sandi. Ya, mereka menjadi pusat perhatian para pasien, dokter, perawat, dan orang- orang yang berlalu lalang.


Kemudian, mereka memberi kesempatan untuk dokter itu menjelaskan kondisi Aira sekarang.


"Nona Aira mungkin sedang tidak nafsu makan. Ini sering terjadi saat awal kehamilan, tapi tenang saja, saya sudah memberinya vitamin penambah nafsu makan untuk Nona Aira."


"Tunggu...tunggu...Apa maksudmu awal kehamilan?" tanya Mira masih mencoba mencerna apa yang dikatakan dokter itu.


"Apa kalian belum mengetahui kalau Nona Aira itu hamil?" dokter kembali bertanya dan membuat semuanya menggelengkan kepala.


"Nona Aira itu hamil, Tuan, Nyonya. Usia kandungannya sudah menginjak minggu ke tiga," jelas dokter itu.


Mira, Andi, Maria, dan Bram saling manatap sebelum mereka meloncat dan berteriak kegirangan. Mereka benar- benar senang ketika mendapat kabar akan segera menimang cucu.


"Terima kasih Tuhan. Aku benar- benar menantikan kabar bahagia ini." Mira tampak meneteskan air mata bahagianya. Mereka berempat pun berpelukan dalam suasana haru.


Maria tampak sangat heboh, ia terus memeluk dan menghujani wajah Aira dengan ciuman.


"Terima kasih, Mama menyayangimu..." Maria terus memeluk wanita itu hingga merasa kesulitan untuk bernafas.


"Hey, lepaskan. Ada cucu kita di perutnya, kau jangan terlalu erat memeluknya," seru Mira.


"Iya iya maaf..."


"Sayang, kenapa kau tidak memberitahu kami jika kau hamil," ucap Andi.


"Aku sendiri juga baru tahu hari ini, Pah. Ehm, Keno dimana? Kenapa dia tidak datang kemari?" Aira celingukan mencari suaminya.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin anak itu masih sibuk dengan pekerjaan. Sudahlah, jangan hiraukan dia," ucap Bram.


Semua keluarga tampak senang mendengar kabar baik itu. Karena saking senangnya, Bram menitahkan asistennya untuk menaikkan gaji para ribuan karyawannya dua kali lipat sebagai ungkapan rasa syukur.


"Ingat ya, sekarang di perutmu sudah ada baby jadi kau harus menjaganya dengan baik. Kau harus makan secara teratur, jangan seperti kemarin- kemarin." Maria dan Mira terus saja memberi nasihat untuk Aira.


"Bagaimana jika kau tinggal di rumah Mama saja biar ada yang menjagamu," tawar Maria dengan penuh harap.


"Tidak- tidak ! Dia anakku, pasti dia menginginkan aku yang menemaninya. Iya 'kan sayang?" ucap Mira.


"Dia menantuku, biar dia tinggal di rumahku saja."


"Lebih baik jika Aira tinggal denganku saja." Kedua wanita paruh baya itu terus saja berebut menginginkan Aira tinggal bersama mereka. Aira menjadi semakin pusing mendengarnya.


"Mama Mira dan Mama Maria..." lirih Aira. Sontak dua wanita itu langsung menoleh ke arahnya.


"Aira akan tetap tinggal di rumah Keno dan tinggal bersamanya saja. Kalian tidak perlu khawatir, kalau kalian mau kalian bisa kapan saja 'kan datang menemuiku."


"Tapi sayang..." Maria tampak enggan, namun akhirnya ia mengiyakan.


Mira dan Maria masih setia menemani Aira di rumah sakit. Dokter menyarankan Aira untuk menginap selama beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya.


"Sayang, ayo makanlah dulu. Kau harus mengisi perutmu, ingat loh ada baby di sini," ucap Maria mengusap perut Aira.


Maria menyodorkan Aira sesendok bubur. Rasanya benar- benar hambar, tapi ia tidak mungkin jika menolak Mama mertuanya.


"Biar aku saja yang menyuapinya, Mar. Kau mandi saja dulu sana dan perbaiki make up yang sudah mau luntur itu," seru Mira membuat Maria kelabakan. Maria memang sangat memperhatikan penampilannya.


"Ah, sepertinya kau memang benar. Ya sudah ini, kau harus menyuapi menantuku dengan benar." Maria menyodorkan mangkuk bubur ke tangan Mira dan langsung menuju ke kamar mandi.


Mira tersenyum penuh kemenangan, padahal itu hanyalah akal- akalan dia saja biar menyuapi Aira.

__ADS_1


Aira merasa beruntung karena diberikan keluarga yang sangat menyayanginya. Ia sangat bersyukur atas karunia yang telah diberikan Tuhan.


__ADS_2