Hello Presdir

Hello Presdir
Senja di Ujung Pantai


__ADS_3

"Keno." seru perempuan di seberang jalan.


Keno pun menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Terkejut bukan main saat melihat perempuan yang kini menghampiri dirinya dengan senyum merekah di bibir perempuan itu.


Keno terdiam membisu tak tahu apa yang harus dilakukannya karena perempuan itu memeluk erat tubuh Keno. Seakan melepas rindu setelah sekian lamanya.


Perempuan yang dua tahun terakhir ini menemani hari- harinya. Perempuan yang juga selama ini mengkhianatinya, meninggalkannya demi karir dan lelaki lain. Perempuan itu kembali lagi apa yang harus dilakukannya? Membalas pelukan dari perempuan itu? Ah rasanya ini akan menjatuhkan harga dirinya. Tapi tak bisa dipungkiri, Keno juga merindukan perempuan itu.


"Ele, tolong lepaskan."


Perempuan itu melepas pelukannya dan mendongakkan kepalanya ke atas melihat wajah tampan dengan kacamata hitam yang melekat.


"Kau masih memanggil ku 'Ele'. Berarti selama ini kau masih mengingat ku? Kau tidak membenci ku kan?"


"Aku harus pergi, permisi."


Wajah Ellen berubah menjadi sedih, "Apa kau tidak mau mendengarkan penjelasan dari ku? Alasan yang jelas kenapa aku pergi ke Singapura dan siapa lelaki yang bersama ku dulu?" Air mata Ellen hampir saja terjatuh kalau tidak buru- buru ia menyekanya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Aku rasa semuanya sudah jelas." Ucap Keno tanpa menoleh ke arah Ellen.


Terus menatapi punggung lelaki yang selama ini ia rindukan hingga menghilang dari pandangannya, Ellen pun terisak. Lelaki itu sudah tidak mau melihatnya lagi, bahkan untuk menatap sebentar saja ia sudah tak sudi.


Ellen merutuki dirinya sendiri. Ia terus saja membayangkan jika dulu seandainya ia berkata jujur maka tidak akan seperti ini jadinya. Namun yang sudah terjadi tak akan mampu untuk dirubah kembali.


Pertemuan singkat dengan Ellen itu mampu membuyarkan pikiran Keno. Ia masih mengingat bagaimana wanita itu memeluknya dan menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Pelukan hangat yang masih sama seperti dulu.


"Untuk apa dia kembali? Apa tidak cukup untuk rasa sakit yang ia berikan dulu? Arrgggghhhhh !!!!" Keno melemparkan sesuatu yang berada di dekatnya.


"Kau kenapa?" tanya Frido saat memasuki ruangan Keno.


"Aku tadi bertemu Ellen."


"Sungguh?"


"Dia memelukku seakan sangat merindukan ku?"


"Lalu kau sendiri bagaimana?"


"Aku juga merindukannya, tapi aku selalu terngiang akan pengkhianatan itu.


Flash Back On


Bandara...


"Ele, ku mohon jangan pergi." memegang kedua tangan Ellen dan saling menatap.


"Maaf, tapi aku harus pergi."


"Tidak ! Tunggu sampai kita menikah. Kita akan pergi bersama kemana pun yang engkau mau."


"Aku harus pergi dan kita juga harus mengakhiri hubungan kita." ucap Ellen menundukkan kepalanya.


"Katakan apa salahku? Katakan dimana kesalahan ku? Aku akan memperbaikinya."


"Kamu tidka salah, kamu sempurna bagiku. Hanya saja kau tidak pantas bersanding dengan orang penyakitan sepertiku. Aku akan selalu menyusahkan mu jika terus bersama mu." batin Ellen.


"Ele katakan ! Katakan sekarang !" suara Keno meninggi dan mengguncang kedua bahu Ellen.


"Aku telah mengkhianati mu hikss...Kau cari saja wanita lain, aku akan menikah dengannya."


"Apa lelaki yang ada di sampingmu itu?" Ellen mengangguk.


Bugh ! Bugh ! Bugh !


Keno menghajar lelaki yang ada di samping Ellen hingga tersungkur dan terkulai lemas tak berdaya.


Bugh !


"Kau telah menghancurkan kebahagiaan ku ! Brengsek !"


"Kau telah merebutnya dari ku !"


Bugh ! Bugh ! Bugh !


"Hentikan !!!" Kau telah menyakiti calon suami ku. Jangan memukulnya lagi hiks."


Mendengar isakan Ellen, Keno pun menyudahi amarahnya. Ia meninggalkan kedua orang itu tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya.


Flash Back Off


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang sudah berlalu. Pikirkan saja masa depan mu." ucap Frido.


"Aku sudah melupakannya dan aku akan segera menikah dengan Aira supaya aku benar- benar menghilangkan Ellen dari pikiran dan hati ku." gumam Keno.


***


"Berita tadi sekaligus menutup acara siang ini. Saya Aira Madali pamit undur diri, sampai jumpa."


Aira telah selesai membawakan berita siang hari ini, senyum merekah nampak di wajahnya karena ia telah selesai dengan pekerjaannya.


Masih ingin tetap di kantor namun tak ada yang menemani karena kedua sahabatnya masih cuti untuk berbulan madu. Mungkin untuk satu minggu ke depan. Aira pun memilih untuk pergi ke tokonya, setidaknya masih ada karyawan yang akan menemani dan bercanda dengannya.


"Ohh my god, kenapa ada dia di sini." pekiknya saat ia sampai di halaman depan tokonya.


Baru sampai di depan tokonya, Aira langsung mendapat pelukan dan dihujani oleh ciuman hingga wajahnya memerah karena lipstik menempel tipis.


Siapa yang suka begitu dengan Aira? Tentu saja Tante Maria.


"Tante..."


"Iya sayang, kamu sulit bernafas kan pasti? Maafkan tante ya haha." Tante Maria melepas pelukan yang sangat menyiksa Aira.


Mereka pun duduk di meja bundar yang terdapat di pojok tokonya. Menyuruh karyawan untuk membuatkan minum dan menghidangkan beberapa kue.


"Bagaimana kabar mu sayang?"


"Baik tante, tante sendiri bagaimana? Oh ya nenek Ratih kok tidak ikut?"


"Tante baik, Nenek Ratih juga baik. Badannya mudah lelah sekarang, jadi beliau memilih untuk di rumah saja." Aira pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu kapan main ke rumah lagi?"


"Hehe, kalau lagi ada waktu luang tante."


"Pokoknya harus ke sana ya, sama Keno juga. Udah lama anak itu engga main ke rumah, mentang- mentang udah punya pacar Mama sama papanya dilupain huh."


Aira hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus jawab apa.


"Sayang, kamu nanti mau tema pernikahan seperti apa? Tante akan segera mengaturnya."

__ADS_1


"Tante. Jangan bahas nikah dulu tan.."


"Ini harus dibahas sayang."


"Ehm nanti Aira pikirkan dulu Tante hehe..." Aira terpaksa berbicara seperti itu supaya Tante Maria tidak semakin ngelantur kemana- mana.


Mereka melanjutkan obrolan seperti biasa hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Alphard mewah berwarna hitam menghampiri toko Aira. Siapa lagi kalau bukan Keno pemiliknya.


Keno mulai melangkahkan kaki masuk ke toko, ia terkejut saat mengetahui Mamanya berada di sana.


"Loh Mama ngapain di sini?" serunya yang juga membuat Aira dan Tante Maria ikut terkejut.


"Lah situ ngapain ke sini? Mama mah lagi ketemu sama calon mantu."


"Eittsss engga sopan banget sih." seru Tante Maria saat Keno hendak menyeruput minuman miliknya.


"Haus mahh..."


"Udah dateng engga nyapa, main minum minuman mama aja. Dasar yaa..." menjewer telinga anaknya hingga mengaduh.


"Astaga Mama kenapa suka banget sih sama telinga Keno."


"Keno udah, jangan gitu sama Mama sendiri." kata Aira.


"Dengerin tuh ! Aku itu mama mu kamu engga boleh kurang ajar sama mama."


"Dih emang siapa yang bilang kalau mama itu keponakannya Keno."


"Huh dasar anak bodoh, selalu bikin kesal Mama saja."


"Gini- gini mama juga sayang kan." goda Keno memeluk mamanya sangat manja. Kalau sudah dipeluk anaknya, Tante Maria pun tak dapat memarahinya lagi. Aira merasa tersentuh akan kehangatan dari anak dan mama itu. Ia jarang sekali bisa seperti itu dengan mamanya.


"Sudah, mama mau pulang. Aira sayang, Tante pamit dulu ya. Kamu jaga diri baik- baik. Byee sayangnya Tante."


"Sama anaknya aja engga digituin dih Mama ini." ujar Keno membuat Aira terkekeh.


Ia pun meninggalkan toko setelah memeluk dan menghujani wajah Aira dengan ciuman. Aira dan Keno ikut meninggalkan toko.


Di dalam mobil, Keno tampak sedang memikirkan sesuatu. Ia seperti sedang ada masalah. Tapi tidak menceritakannya pada Aira.


"Kamu galau, Ken?"


"Hm." Aira tertawa mendengarnya.


"Bisa galau juga ya ternyata Presdir Sanjaya Group ini." mencubit hidung Keno gemas.


"Presdir juga punya perasaan kali."


Aira pun mendapatkan ide supaya Keno tak lagi galau. Ia mengajak Keno untuk ke pantai sebentar. Jalanan menuju ke rumahnya memang melewati pantai jadi tidak ada salahnya untuk mampir sebentar.


Sempat menolak dan akhirnya Keno pun menuruti keinginan Aira. Mobil hanya bisa terpakir di seberang jadi mereka harus berjalan kaki untuk menuju pantainya. Keno segera melapas jas nya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Mereka sudah menapakkan kaki di pasir putih dan melangkahkan kaki mereka.


"Kita ke sana yuk, kayaknya enak deh menatap laut dari sana." Aira menunjuk ujung pantai yang terdapat bebatuan mengarah ke laut. Keno hanya mengiyakan, ia berjalan di samping Aira.


Angin laut sore itu berembus lebih tenang dari biasanya. Sengat matahari pun sudah mulai mereda. Aira memilih duduk di bebatuan lebih dulu. Sedangkan Keno masih terlihat bingung bagaimana cara untuk duduk.


"Bisa engga?" tanya Aira memastikan Keno bisa berjalan atau tidak di antara susunan bebatuan.


"Bisa dong !" Mereka menatap laut dengan duduk bersila di atas bebatuan.


"Indah ya." seru Keno.


"Apanya?"


"Oh, kirain aku." jawab Aira terkekeh.


"Kamu juga indah, bahkan terasa lebih indah dari apapun."


Aira tersipu mendengarnya. Ia kembali menatap ke laut dan sesekali memerhatikan pasangan yang sedang bermesraan di tepi pantai. Menikmati senja di ujung pantai.


"Kamu sering ke pantai ini?" tanya Keno.


"Lumayan."


"Sama siapa? Raka?"


Aira mengiyakan dan wajahnya berubah menjadi sendu. Ia kembali teringat akan kebersamaannya dengan Raka. Mereka juga duduk di bebatuan seperti saat ini. Menikmati senja dengan es kelapa muda di tangan. Bercerita tentang kegiatan yang telah mereka lalui hari ini. Sungguh kalau Aira masih diberi kesempatan, ia akan mengulangi masa- masa itu namun realitanya tak akan seperti itu. Ia sudah berjanji untuk menyimpan rasa cinta untuk Raka di hatinya yang paling dalam dan akan membuka hati lagi untuk seseorang.


Aira mengalihkan perhatiannya agar tidak memikirkan Raka lagi. Ia melihat remaja yang asyik berpacaran di depannya.


"Mereka bahagia banget ya kelihatannya?" serunya. Keno pun melirik remaja yang sedang kasmaran itu.


"Iya, namanya juga lagi kasmaran. Coba aja kalau lagi patah hati, nangis- nangis deh. Menurut mu apakah pacaran itu perlu? Kan cuma bikin patah hati kalau putus." tanya Keno dengan wajah sendu dan tetap menatap ke arah laut.


"Perlu, Karena manusia juga butuh perhatian."


"Apa kau juha menginginkan untuk pacaran lagi?"


"Tidak, aku sedikit takut haha. Rasanya ingin langsung menikah saja."


Aira beranjak dan beberapa menit kemudian kembali membawakan dua botol air mineral dan menyodorkannya untuk Keno.


Udara sore semakin sejuk dan mampu menenangkan pikiran. Sengat panas semakin turun. Pasangan- pasangan remaja masih duduk di sekitar mereka. Mereka masih bicara banyak hal yang tidak penting. Dari jauh mereka memperhatikan apa yang orang- orang lakukan, lalu menertawakannya.


"Terkadang kita cuma perlu iseng, ya, memaknai hidup. Tidak perlu berfikir keras udah bisa ketawa."


"Iya, kalau terlalu dipikirkan, hidup akan bertambah berat, Ken. Kaya berat badan ibu itu." ucap Aira menunjuk ibu- ibu yang badannya tiga kali lipat dari dirinya. Mereka tertawa lagi.


Tiba- tiba tawa mereka terhenti karena kedatangan pengamen yang lebih mirip seperti preman. Dia bernyanyi dengan sesuka hatinya. Aira dan Keno hanya diam saja, berharap pengamen itu segera selesai lalu pergi meninggalkan mereka. Sesaat kemudian dia berhenti memetikkan gitarnya dan menyodorkan tangan.


"Bagi uang, dong!" ucapnya.


Aira mengambil uang lima ribuan dan menyodorkannya kepada pengamen itu.


"Maaf ya bang, sedikit."


"Tidak apa cantik."


"Jangan menggodanya, enyah kau dari sini." bentak Keno.


"Astaga, pacarnya galak banget. Iya- iya aku pergi. Mbak cantik saya pergi dulu, semoga bertemu lagi."


Aira mengusap punggung Keno agar tidak marah lagi. Kemudian mereka kembali melanjutkan obrolan. Lalu menikmati cahaya kuning keemasan dari matahari di batas cakrawala.


"Sunset emang indah ya." ucap Keno.


"Dimana- mana sunset memang indah dan akan lebih indah jika menikmatinya dengan seseorang yang sangat kau cinta dan sayang."


"Sekarang aku juga merasa begitu, menikmati sunset di tepi pantai dengan orang yang aku cinta dan sayang."

__ADS_1


"Hah?"


Keno tak menghiraukan Aira, ia lalu berteriak sekeras- kerasnya hingga orang- orang mengamati mereka.


"AIRA MADALI !!! AKU MENCINTAI MU, AKU MENYAYANGI MU." teriaknya membuat Aira terdiam beribu bahasa. Ia masih mencerna apa yang diteriakkan Keno tadi. Sungguh ini diluar dugaannya.


Kemudian Keno berhambur memeluk Aira dengan penuh kehangatan dan cukup lama. Aira juga membalas pelukan Keno, ia terharu.


"Aku juga mencintai mu." ucapnya dan tak terasa air matanya mulai menetes membasahi kemeja Keno.


"Terima kasih." Berpelukan dalam waktu cukup lama dan tak memperdulikan orang- orang yang menatap mereka sedari tadi. Keno merasa lega karena telah mengungkapkannya kepada Aira. Begitupun Aira, ia merasa senang ternyata selama ini Keno tidak bercanda.


"Maaf jika aku tidak bisa romantis seperti lelaki lain."


"Tidak apa. Aku sudah tau itu." Aira terkekeh.


Karena langit sudah semakin abu- abu, Aira mengajak Keno untuk pulang. Berjalan menyusuri tepi pantai dan tangan yang bergandengan seakan memberitahu semua orang yang melihatnya bahwasanya mereka sedang dirundung kebahagiaan.


***


Sesampai di rumah, Keno masih saja menggenggam tangan Aira dan enggan untuk melepasnya.


"Sampai kapan kamu menggenggam tangan ku?"


"Sampai di pelaminan nanti." jawabnya dengan senyum merekah.


Bi Ijah dan Mang Dadang pun terheran- heran dengan kedua anak manusia itu karena tak biasanya mereka pulang dengan bergandengan tangan.


"Cieee, sepertinya ada yang lagi kasmaran ini." seru Mang Dadang.


"Iya nih pak, sedari tadi ada yang senyum- senyum terus dan gandengan kaya mau nyebrang saja." timpal bi Ijah. Keno dan Aira pun melepas genggaman mereka.


"Ishh ganggu aja sih mang Dadang sama bi Ijah." kata Keno menggelakkan tawa.


"Wah kita sudah ganggu ternyata. yaudah dilanjut aja ya pacarannya." goda mang Dadang.


Aira dan Keno segera kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya. Senyum merekah tiada hentinya dari bibir kedua orang itu.


Setelah selesai makan malam, seperti biasa Keno akan menonton tv. Ia pun merebahkan tubuhnya ke sofa panjang depan tv dan sesekali melirik ponselnya membalas pesan- pesan yang masuk.


"Nonton apa sih, serius banget?" tanya Aira yang baru saja selesai mencuci piring.


"Astauge sayur lodeh ! Kamu nonton The Jungle Book? Hahahhaa, seperti anak kecil saja." tawa Aira pecah saat melihat tontonan Keno.


"Jangan meledekku !" Keno langsung merubah chanel tv menjadi sinetron.


"Ya ampun, seorang Presdir tontonannya kartun ngakak aku huahahahaa."


Keno malu, ia melempar bantal sofa ke arah Aira namun langsung ditangkap cepat oleh Aira.


"Kemarilah !" uvap Keno menepuk sofa pinggirnya.


"Engga mau !" Aira melemparkan kembali bantal sofa ke arah Keno tepat mengenai wajah tampannya.


Aira berjalan menuju taman depan rumah Keno. Taman yang luas dengan bunga- bunga yang tertata rapi. Angin yang berhembus mampu menenangkan jiwa. Ia melangkah menuju gazebo yang cukup besar dengan ornamen unik. Duduk bersila dan mulai membaca buku yang ia bawa tadi.


Baru beberapa menit merasakan sebuah ketenangan, tiba- tiba Keno datang langsung merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Aira.


"Keno !"


"Apa?"


"Kau mengganggu ku saja, kenapa mengikuti ku. Kembalilah ke dalam."


"Tidak mau, aku mau di sini saja. Kau lanjutkan saja membaca bukunya." Keno memejamkan matanya. Aira tersenyum melihat kelakuan manjanya Keno.


"Besok mama menyuruh kita makan malam bersama."


"Iya aku sudah tahu, tadi siang Tante Maria mengatakannya kepada ku."


"Cih kenapa kau duluan yang diberitahu, aku baru saja diberitahu Mama. Ini tidak adil."


"Hanya begitu saja kau tidak perlu marah."


"Tentu saja aku marah, Mama sekarang lebih menyayangi mu daripada aku."


"Kau lucu sekali." ucap Aira terkekeh dan mencubit hidung Keno.


Keheningan kembali menyapa, hanya ada suara buku yang terbolak- balik. Malam pun semakin larut menunjukkan pukul sembilan. Aira sudah mulai mengantuk ingin segera tidur, namun ia tidak bisa bergerak karena pahanya terkunci kepala Keno.


Menunggu beberapa saat berharap Keno segera bangun dari pahanya, namun Keno malah tertidur karena kenyamanan yang di dapat.


"Ken, bangun!"


"Keno!"


"Ken, jangan tidur di sini bangun."


Sudah menepuk pipi Keno dan mencubiti hidungnya tapi tetap saja sang pemilik tidak merespon. Aira pun geram, ia terpaksa berdiri dan akhirnya kepala Keno terpentok hingga mengaduh kesakitan.


"Awwwwww..." pekiknya. Aira malah tertawa terbahak- bahak.


"Kenapa banguninnya gitu sih, sakit."


"Udah aku bangunin dari tadi engga bangun- bangun, ya sudah terpaksa dengan cara kasar."


"Huh awas kamu ya..."


Aira langsung berlari meninggalkan Keno, "I'm sorry haha."


"Tunggu! Aku akan menghukum mu !"


"Besok saja ! Aku sudah mengantuk." teriak Aira tetap berlari menuju ke dalam rumah.


"Byeee, selamat malam. Tidur yang nyenyak, semoga mimpi indah anak manis." teriaknya lagi.


Keno menggelengkan kepala melihat Aira yang terus berlari meninggalkannya. Senyum pun tak henti- hentinya merekah dari bibir tipisnya.


"Aku mencintai mu." lirihnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk


Terima kasih sudah membaca cerita yang gaje ini haha...


__ADS_2