Hello Presdir

Hello Presdir
Marah dan Cemburu


__ADS_3

"Oh ya, apa kau sudah sarapan? Kalau belum mari kita ke kantin untuk sarapan."


"Sebenarnya aku sudah sarapan. Tapi aku akan menemani kak Alfa sarapan. Ayo kita ke kantin Kak."


"Anak baik." ucap Alfa seraya mengacak- acak rambut Aira dan merangkulnya menuju ke kantin.


Tanpa di sadari ada orang yang menyaksikan mereka berdua. Ia tampak emosi ketika melihat Aira begitu dekat dengan lelaki tampan berjas putih itu.


"Kak Alfa jangan memperlakukan ku seperti tuan putri." ucap Aira ketika Alfa menarik kursi untuk Aira duduk.


"Kau memang tuan putriku." jawab Alfa dengan senyum menyeringai.


"Kau yakin tidak mau makan lagi? Di sini makanannya enak loh, kau harus mencobanya."


"Tidak kak, aku pesan mochiato coffee saja."


Mereka pun menunggu pesanan sampai seraya mengobrol. Tak membutuhkan waktu lama, pesanan mereka pun sampai. Dengan senang hati Alfa mulai menyendokkan nasi kuning ke mulutnya.


"Kau yakin tidak mau mencicipi nasi kuning ini? Enak loh kamu pasti suka, ayo aku suapin." ucap Alfa menyodorkan makanan ke mulut Aira. Aira pun terpaksa menerima suapan dari Alfa.


"Bagaimana? Enak bukan?"


"Enak sekali, pantas saja kakak suka sarapan di sini."


"Bukan karena di sini makanannya enak sih, tapi juga karena engga ada yang masakin di rumah hahaa."


"Adduuuhh jomblo nih kasihan." ledek Aira lalu tertawa.


"Ah sudahlah, ayo aku suapin lagi."


Dengan antusias, Aira pun menerima suapan demi suapan dari Alfa. Mereka menghabiskan satu porsi nasi kuning dengan berbagai lauk pauk itu berdua.


"Heuhh, tadi bilangnya tidak mau makan eh nyatanya mau, malah makan banyak lagi." sindir Alfa seraya mencubit hidung mancung Aira.


"Kak Alfa sih maksa, aku jadi ketagihan kan haha."


Saat asyik tertawa dan bercengkrama tiba- tiba ada yang menarik kerah kemeja Alfa dengan wajah yang merah penuh amarah.


"Brengsek ! Beraninya merebut wanita ku !"


Bughhh ! Satu pukulan melayang di wajah Alfa hingga membuat Aira menjerit ketakutan.


"Begini kelakuan Presdir Sanjaya Group?! Tidak punya etika, datang- datang langsung marah dan memukul orang seenaknya saja ! Hah !"


"Kau yang tidak punya etika ! Sudah tahu wanita itu milik lelaki lain tapi kau masih mencoba mendekatinya ! Tak tau diri !"


Bugghhh ! Satu pukulan lagi melayang di perut Alfa hingga lelaki itu terpental menatap meja di belakangnya.


"Kak Alfaa !!!" jerit Aira, ia langsung menghampiri Alfa yang terkapar di lantai dan membantunya berdiri.


"Aku tidak apa, kau minggir saja aku akan menyelesaikannya." seru Alfa, ia lalu berdiri dan mendekati Keno melayangkan beberapa pukulan ke tubuh Keno.


"Kau berani dengan ku? Apa kau lupa kau sedang bekerja di rumah sakit milik keluargaku? Aku bisa menghilangkan pekerjaan mu dalam sekejap saja."


Buuggghh Buggghh.


Alfa memukul perut Keno dengan sekuat tenaganya.


Perkelahian semakin memanas, semua orang yang ada di kantin melingkar mengerumuni mereka. Alfa dan Keno terus memukul satu sama lain hingga wajah mereka penuh darah dan luka lebam. Alfa sudah mulai lemas tak berdaya, tapi Keno terus memukuli Alfa. Keno sangat marah, ia tidak menghentikan tangannya sedikitpun untuk memukuli lelaki berjas putih itu.


Aira berusaha menghentikan perkelahian itu, suaranya bahkan hampir habis untuk meneriaki mereka.


"Keno cukup tolong hentikan ! Kau bisa membunuhnya, tolong hentikan !" jerit Aira untuk yang terakhir kalinya, air matanya berderai ia langsung menghampiri Alfa yang terkapar di lantai lemas tak berdaya ketika Keno berhenti memukul Alfa.


"Kak Alfa, ayo kak kita obati luka Kakak." Aira merangkul dan membantu Alfa berdiri.


"Kau tidak perlu menolongnya, kalau perlu biarkan dia mati sekalian !"


"Kenapa kau memukulinya? Salah apa dia? Aku benar- benar jijik dengan perlakuan mu." ucap Aira dengan suara meninggi.


"Salah apa? Dia mau merebut mu dari ku ! Dia bermesraan dengan mu, kau itu kekasih ku apa layak wanita yang telah mempunyai kekasih jalan dengan lelaki lain, bermesraan dengan lelaki itu tertawa dan bercanda bersama, Hah ! Apa layak? Katakan !" ucap Keno penuh dengan amarah.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu, aku memang jalan dengannya. Tapi aku tidak pernah berniat untuk mengkhianati mu sedikit pun. Seharusnya kau menanyakan itu pada dirimu sendiri. Kau sendiri saja juga begitu dengan wanita lain bukan?"


"Aku kan sudah bilang kalau aku dengan Ellen itu tidak apa- apa, aku sudah berjanji dengannya untuk menemaninya melakukan pengobatan saja tidak lebih."


"kau selalu membuat alasan jika hanya menemaninya melakukan pengobatan saja. Oke aku menerima semua itu, aku memperbolehkan mu !!! Tapi apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan selama ini?! Hatiku sakit melihat mu dengan Ellen bukan hanya sekali dua kali saja, tapi berkali- kali. Aku tidak pernah marah ataupun melarang mu kan? Lalu kenapa kau marah saat melihat ku dengan Kak Alfa ?!!!"


"Bukankah harusnya aku yang marah denganmu?! Kau bahkan berbuat lebih dari aku!" tanya Aira lagi yang membuat Keno terdiam, Aira pun memapah tubuh Alfa meninggalkan kantin rumah sakit itu.


"Airaaaa tunggu !!!" teriak Keno namun Aira tetap meninggalkan tempat itu.


"Arrgghh!!!" Keno frustasi, ia mengacak- acak rambutnya.


"Kenapa kalian masih di sini?! Bubar !!!! Jangan sampai kekacauan ini ter-ekspos oleh media , aku akan membuat kalian susah jika hal itu sampai terjadi." ancam Keno membuat orang- orang yang mengerumuninya tadi ketakutan dan langsung berlari meninggalkan kantin juga.


Dengan dibantu beberapa perawat, Aira mengobati luka di wajah Alfa. Wajah putih bersih kini penuh dengan luka lebam. Ia merasa tidak enak karena dirinya Alfa menjadi babak belur dihajar Keno.


"Kak Alfa maafkan aku kak, gara- gara aku kakak jadi seperti ini." lirih Aira menundukkan wajahnya setelah selesai mengobati luka Alfa.


"Aku tidak apa, ini bukan salah mu. Jangan pikirkan lagi ya, jangan sedih." ucap Alfa membelai pipi Aira.


"Kak Alfa hiks hiks hiks." Aira memeluk Alfa yang sedang duduk di tepi brankar dan terisak di dada bidang Alfa.


Alfa pun membalas pelukan Aira, ia membelai kepala Aira. Ia sangat senang bisa merasakan pelukan dari orang yang mampu membuatnya jatuh cinta selama ini.


"Airaa, sudah jangan menangis. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Ini hanya luka kecil saja."


"Kak, maafkan Keno. Maafkan dia kak." ucap Aira disela isakannya.


"Heyyy berhentilah meminta maaf atas nama dirinya. Sudahlah kau jangan merasa bersalah seperti itu, ini bukan salahmu dan berhentilah menangis lihat matamu sembab kau harus tampil cantik di layar televisi untuk membacakan berita kan? Ayoo berhenti menangis." ucap Alfa tersenyum dan mengusap air mata Aira.


"Kak Alfa, maaf ya Aira harus berangkat sekarang. Nanti kalau ada apa- apa hubungi aku saja kak."


"Iya tak perlu khawatir, hati- hati di jalan ya. Aku juga sudah harus memeriksa pasien ku."


"Baiklah Kak, semangat ya. Kalau masih sakit istirahat saja."


"Kenapa kau cerewet sekali sih." Alfa yang gemas ia pun menangkup kedua pipi Aira dan menggerak- gerakkannya


***


"Ra, Lo udah bener- bener baikan sama keluarga lo kan?" tanya Mega seraya memasukkan potongan kue ke mulutnya.


"Iya Ra, kalau mereka masih jahat sama lo mending lo ke rumah Keno lagi deh." sahut Sandi dengan mulut penuh.


"Sayang, kalau mulut penuh itu jangan ngomong dulu. Tuh belepotan gini." Mega mengusap mulut Sandi yang belepotan dengan tissue.


"Romantis banget sih kalian." celetuk Aira.


"Jangan ngalihin pembicaraan deh, jawab dulu yang tadi." ucap Mega dan Sandi secara bersamaan.


"Ayyiiihhh kalian ini galak sekali, aku sama mama dan papa itu udah baikan. Engga bakal kaya kemarin- kemarin lagi deh. Serius engga bohong, kalian engga usah khawatirin aku." tutur Aira dengan tersenyum dan mencubit kedua hidung sahabatnya.


"Kalau ada apa- apa bilang loh sama kita."


"Siap pak bos, bu bos." seru Aira mengangkat tangannya hormat.


Obrolan dengan kedua sahabatnya yang kocak itu mampu merubah suasana hati Aira. Kedua sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri itu selalu memberikan semangat dan selalu menjadi pelindung bagi Aira.


"Aira !" jerit wanita paruh baya yang langsung berhambur memeluk Aira dan menghujani wajah Aira dengan ciuman.


"Hello Tante, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik."


"Siapa sih, Ra?" tanya Mega penasaran.


"Eh halo, ini pasti teman- temannya Aira ya. Perkenalkan Tante adalah calon mama mertuanya Aira, Mamanya Keno." jelas Tante Maria. Sandi dan Mega pun membulatkan mulutnya dan menganggukan kepala.


"Tante cantik banget deh." ucap Mega.


"Ah bisa aja kamu, oh ya Tante pinjem Aira dulu sebentar ya mau ngobrol hehe."

__ADS_1


"Lama juga engga papa tante, diplastikin bawa pulang sekalian aja haha." celetuk Sandi.


Tante Mira dan Aira pun segera mencari tempat kosong untuk mengobrol.


"Sayang, gimana hubungan kamu dengan Keno?" tanya Tante Maria.


"Ba- baik kok Tante." ucap Aira sedikit gugup.


Tante Maria membelai kepala Aira, "Tante tau hubungan kalian bagaimana, kalian sedang bertengkar bukan?"


"Tidak tante, kami tidak bertengkar. Kami baik- baik saja kok."


"Tante tau semuanya sayang, jangan menyembunyikan keburukan anak tante. Tante tau apa yang Keno lakukan kepadamu, tolong maafkan Keno ya sayang." ujar Tante Maria lembut. Aira hanya terdiam mendengarnya.


"Tante tau kalau tadi Keno mengamuk di rumah sakit karena cemburu kamu dekat dengan Alfa."


"Bagaimana tante bisa tau?"


Tante Maria terkekeh, "Kamu lupa ya kalau rumah sakit itu milik keluarga Sanjaya, jadi apa yang terjadi di sana Tante tau semuanya."


Aira tersenyum seraya menggaruk tengkuknya, merutuki dirinya sendiri kenapa bisa menanyakan hal bodoh seperti itu. Membuatnya malu saja.


"Oh ya, untuk masalah Ellen. Tante tahu betul anak Tante itu seperti apa, Keno hanya ingin menemani Ellen melakukan pengobatannya saja. Ellen itu teman Keno sejak kecil dan mereka juga pernah berpacaran selama dua tahun."


"Keno sangat mencintai kamu Aira, tolong percaya itu. Cintanya untuk Ellen sudah lama hilang sejak Ellen meninggalkannya waktu itu."


"Keno itu pencemburu dan pemarah orangnya, tolong kamu mengerti itu. Dia sangat menyayangimu, Tante sangat yakin akan hal itu."


"Tante mohon jangan bertengkar lagi ya, jaga hubungan kalian baik- baik. Tante selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, tante menyayangi kalian." ucap Tante Maria, air matanya lolos begitu saja.


"Iya tante, terima kasih. Aira juga menyayangi Tante."


"Tolong jangan tinggalkan Keno ya sayang, tante hanya ingin kamu yang menjadi menantu Tante, menantu keluarga Sanjaya." seru Tante Maria dengan terisak di pelukan Aira.


"Tante begitu berharap lebih dengan hubunganku, tapi aku sendiri tidak tahu kedepannya bagaimana. Kita saling mencintai tapi ada orang lain dalam hubungan kita. Aku tidak tahu apa ini akan berlanjut atau tidak." batin Aira ikut terisak.


***


Setelah mengobrol dengan Tante Mira, Aira tidak langsung pulang ke rumah. Ia menuju ke Pantai A terlebih dahulu untuk menikmati senja dan mencari sesuatu yang membangkitkan moodnya.


Ia tersenyum ketika mengingat Keno menyatakan perasaannya di pantai ini dengan senja sebagai saksinya. Duduk di atas kerikil- kerikil pantai, menatap deburan ombak, dan melihat anak kecil bermain dengan riangnya. Bercanda lalu tertawa bersama, melupakan semua masalah yang ada.


Aira berjalan di tepi pantai dengan sepatunya yang sudah ia lepas dan ia jinjing di tangan kirinya. Membiarkan kakinya basah terkena deburan ombak. Menikmati angin laut yang berhembus sepoi- sepoi. Ia mencoba menikmati senja dengan cara dan suasana yang baru.


Aira memilih duduk di atas batang pohon kelapa yang telah tumbang menatap lepas ke arah pantai. Mendengarkan suara teriakan anak- anak dan deburan ombak yang begitu riuh. Meluapkan semua isi hatinya, mengadukan semua yang menyesakkan hati dan pikirannya.


Tak lama kemudian senja pun datang. Semburat warna merah di ufuk barat terlihat indah. Menandakan malam akan tiba. Aira begitu menikmati saat- saat seperti itu.


Senja itu memang indah apalagi menikmatinya dengan seseorang yang spesial. Tapi kali ini ia menikmatinya seorang diri saja. Ah tidak, masih ada para pelayan yang tengah sibuk mempersiapkan kapal untuk pergi berlayar. Masih ada juga burung- burung camar yang beterbangan.


Kembali menatap mentari lagi yang perlahan turun dan menghilang seiring datangnya malam. Langit begitu egois, ia hanya menghadirkan senja sekejap lalu membawanya pulang kembali.


"Senja waktu ku dengan mu telah habis , aku akan kembali lagi besok untuk menikmati mu lagi. Jangan pernah bosan dengan kedatanganku." teriak Aira seraya menatap laut lepas.


"Senjaaaa, terima kasih telah mengusir kepedihan hatiku. Hanya kau yang mampu membuat hatiku kembali dengan suasana yang baik. Terima kasih." tambah Aira lagi.


Ia mengecek ponselnya melihat jam digital yang tertera di sana. Sudah terlalu lama ia bersama senja dan pantai, suasana hatinya sudah membaik. Aira pun memutuskan untuk pulang.


"Kauuuu..." lirih Aira ketika membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang ia kenal.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan votenya, terima kasih sudah membaca ehehe :v :v :v

__ADS_1


__ADS_2