Hello Presdir

Hello Presdir
Kotak Menyebalkan


__ADS_3

Saat menikmati sarapan, Pak Andi dan Bu Mira dikejutkan dengan kedatangan pengantar paket. Padahal mereka tidak sedang memesan sesuatu.


"Maaf pak, kami sedang tidak memesan sesuatu. Pasti bapak sedang salah alamat." ucap Pak Andi.


"Tapi ini benar kok Tuan, Nyonya alamatnya. Paket ini ditujukan untuk Nyonya Mira."


Melihat kertas yang berisikan alamat rumahnya, mereka semakin terkejut. Mereka sudah berfikiran yang tidak- tidak. Karena paket tersebut juga tidak berisi pengirimnya.


Dan mereka pun akhirnya menerima paket tersebut. Mereka membawa paket tersebut ke dalam dengan tangan yang bergetar takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Mah, Papa takut kalau isinya bom atau apa gitu. Bisa jadi ini teror mah." ucap Pak Andi meletakkan kotak tersebut di meja depan televisi.


"Sama, mama juga takut pah. Gimana kalau isinya itu membahayakan kita? Jadi takut buka nih pah."


Kalut dengan pikiran mereka masing- masing cukup lama mereka terdiam dan memandangi kotak di atas meja itu. Mereka tidak berani untuk membukanya. Dan akhirnya menyuruh salah satu pelayan untuk membuka kotak tersebut.


Pelayan yang disuruh pun juga ikut ketakutan saat mendengar omongan majikannya itu. Dengan perlahan ia membuka kotak tersebut dengan memicingkan matanya mengintip perlahan isi kotak itu.


"Apa isinya, Bi?"


"Be- belum tahu nyonya. Saya jadi takut sendiri ini."


"Buka cepat, habis itu kita lari takut ada bom atau apa." perintah pak Andi.


Pelayan itu pun membukanya dan semua yang melihat kotak terbuka langsung berlari dan bersembunyi tanpa mengetahui isi kotak itu terlebih dahulu.


Mereka menunggu beberapa menit di tempat persembunyian mereka dan tetap menatap kotak itu. Namun tidak ada hal yang terjadi sama sekali selain keheningan.


"Kamu tadi lihat ada apa di kotak tersebut? Kenapa belum meledak juga? Ini sudah 5 menit apa timernya itu diatur 10 menit?"


"Saya tidak sempat melihatnya, tadi nyonya sudah teriak jadi saya ikutan panik dan bersembunyi juga Tuan."


Orang- orang rumah itu masih menunggu dan bersembunyi. Mereka masih mengawasi kotak itu dengan seksama namun tetap tidak terjadi apa- apa. Kemudian Pak Andi yang penasaran menyuruh pelayan tadi untuk melihat kembali kotak itu.


"Nanti kalau saya kenapa- kenapa gimana Tuan, Nyonya?"


"Yang kenapa- kenapa kan kamu bukan saya, jadi ya terserah kamu lah." saut Bu Mira.


Pelayan tersebut mengerucutkan bibirnya kesal dengan perkataan Nyonya nya itu.


"Sudahlah, pergi dan lihat isi kotak itu. Nanti saya berikan bonus untuk mu." titah Pak Andi.


Pelayan tersebut dengan senang hati melaksanakan perintahnya. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi nanti karena Tuan nya itu kalau sudah memberi bonus sangatlah besar dan tidak tanggung- tanggung. Kemudian ia berjalan perlahan mendekati kotak tersebut dan segera melihatnya.


Ia pun terkejut melihat kotak tersebut. Yang tadinya ia ketakutan dengan isinya. tapi sekarang ia malah tertawa terbahak- bahak melihatnya. Pak Andi dan Bu Mira mengernyitkan keningnya melihat pelayan itu terbahak- bahak.


"Nyonya, Tuan kemarilah. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi haha."


Pak Andi dan Bu Mira pun mendekat dan segera melihat isi kotak tersebut. Terkejut bukan main, mereka pikir isinya adalah bom atau teror dari musuh mereka, tetapi ternyata isinya adalah beberapa set perhiasan yang nampak cantik berkilauan dengan penuh berlian yang melekat di sana.


Pak Andi dan Bu Mira malu dengan pelayan itu dan segera menyuruhnya untuk kembali bekerja.


"Dari siapa ini? Buat panik saja huh. Dasar kotak menyebalkan."


"Ini pasti dari anakmu Aira, anak itu selalu membuat geger semua orang saja."


"Tapi kalau Aira yang mengirimkannya untukmu dia akan memberi kabar terlebih dahulu dan pasti akan menulis pengirimnya sedangkan ini tidak ada."


"Lihatlah, perhiasan ini sangat cantik. Aku belum mempunyai model seperti ini, pasti harganya ratusan juta bahkan milyaran mungkin." seru Bu Mira seraya mencoba perhiasan itu.


"Coba kamu telfon anak itu untuk memastikan."


Di tempat lain, Keno dan Aira baru saja menghabiskan sarapan mereka. Aira yang mendengar notifikasi dari ponselnya langsung mengambil dan melihatnya. Ia pun segera menggeser tombol hijau dan menerima panggilan video dari mamanya.


"Halo assalamu'alaikum. Ada apa nih Mah, pah? tumben telfon Aira."


"Wallaikumsallam." ucap keduanya.


"Kamu itu anak nakal ya, bikin panik orang rumah saja. Kau tahu, kami hampir kehilangan jantung kami gara- gara kamu." celetuk Bu Mira memarahi anaknya. Aira hanya mengernyitkan dahinya mendengar mamanya yang tiba- tiba memarahi Aira.


"Lain kali kalau mengirimkan barang itu yang jelas, ditulis nama pengirimnya. Biar tidak berfikir macam- macam." tambah Pak Andi ikut memarahi anaknya.


"Barang? Pengirim?" Aira semakin kebingungan.


"Kenapa Ra?" Bisik Keno yang sedari tadi di sampingnya dan menguping. Aira yang juga tidak tahu kenapa mengangkat kedua bahunya.


"Lain kali tidak perlu mengirimkan barang lagi, kalau mau memberikan sesuatu langsung datang ke rumah. Lagian ini untuk apa kau membeli banyak perhiasan mahal untuk mama. Buang- buang uang saja!" ketus Bu Mira


"Perhiasan? Maksud Mama apa? Aira tidak membeli perhiasan ataupun mengirim barang ke rumah."


Pak Andi dan Bu Mira saling pandang mendengar bahwa bukan Aira yang mengirimkannya.


"Apa kau seirus, Nak? Eh maksud papa serius?"


Aira memutar matanya malas, "Untuk apa Aira berbohong."


Mendengar percakapan Aira dengan orangtuanya itu, Keno langsung mengarahkan wajahnya ke ponsel Aira.


"Halo Papa, Halo Mama."


"Halo calon menantu Papa."


"Loh Ken, kenapa bisa sama Aira sepagi ini? Kalian tidak tidur bersama kan?" tanya Bu Mira. Keno kebingungan menjawab, ia pun melirik Aira dan tersenyum berharap membantunya menjawab.


"Tidak Mah, Keno datang ke sini jemput Aira. Mau ngantar Aira ke kantor hehe. Iya kan Ken." ucap Aira meminta persetujuan Keno.


"Ah iya Mah, Pah. Mau jemput Aira." Bu Mira dan Pak Andi pun mengangguk.


"Mama sama papa tadi kenapa marah- marah?"


Pak Andi dan Bu Mira pun memceritakan semua kejadiam memalukan tadi. Mulai dari ketakutan membuka kotak, mengira bahwa isi kotak itu adalah bom atau teror dan bersembunyi saat kotak terbuka padahal isinya adalah set perhiasan.


Tentu saja Aira dan Keno tertawa mendengar cerita itu. "Jadi tadi Papa sama Mama mengira itu bom? Ah ini memalukan sekali haha." ledek Aira.


"Jangan menertawakan kita, kita hanya waspada saja siapa tau ada yang meneror kita terus ada hal yang tidak diinginkan terjadi." tutur Pak Andi membela dirinya.


"Maaf pah, mah kalau sudah membuat kalian panik dan menggegerkan orang rumah haha."


"Maksud kamu apa?"


"Sebenarnya itu Keno yang mengirimkannya untuk Mama, dan Keno lupa menulis alamat pengirim."


"Astaga nak Keno! Jadi kau yang mengirimkannya."


"Untuk apa kau membelikan Mama perhiasan. Mama sedang tidak ulang tahun." tanya Aira penasaran.


"Keno membeli perhiasan itu sebagai ungkapan rasa terima kasih karena Mama sudah membuatkan Keno jas dan kemeja spesial yang sangat bagus."


"Ya ampun Keno, Mama membuatkan mu ikhlas tidak mengharapkan imbalan apapun dari kamu. Kamu seharusnya tidak usah membelikan perhiasan ini."


"Tidak apa Mah. Keno tidak menerima penolakan. Anggap saja itu bentuk kasih sayang Keno sama Mama. Oh ya, Keno sangat menyukai pemberian mama kemarin, Terima kasih ya Mah." ucap Keno tersenyum manis. Aira ikut terharu melihat Keno seperti itu.

__ADS_1


"Ah mama jadi terharu mendengarnya. Iya sama- sama, Mama juga berterima kasih perhiasannya bagus tapi lain kali jangan lakukan lagi ya." ujar Bu Mira diberi anggukan oleh Keno.


"Kamu memang calon menantu idaman, papa jadi tidak sabar kamu menikah sama Aira."


"Keno juga tidak sabar pah, secepatnya Keno pasti akan menikah dengan Aira." Aira tersipu malu mendengarnya wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.


"Kita tutup panggilannya ya, Kamu mainlah ke rumah. Jaga Aira baik- baik ya. Byee assalamu'alaikum."


"Wallaikumsalam. Selamat beraktivitas." jawab Aira dan Keno.


*


"Jadi mama kemarin buatin Keno jas sama kemeja?"


"Iya pah, berlebihan banget itu anak sampai membelikan mama perhiasan segala."


"Kalau gitu papa besok juga mau kasih hadiah buat Keno, siapa tau papa dibeliin lamborghini sama dia haha."


"Papa." seru Bu Mira melototkan matanya.


"Engga mah, bercanda haha."


"Keno sangat baik, semoga cepet nikah ya sama Aira."


"Hm, kita doakan yang terbaik saja untuk mereka."


**


Aira memandang Keno dengan serius, seakan mencari kebenaran dari ucapan Keno tadi.


"Kenapa ngeliatin gitu, ganteng kan?"


Aira mendengus kesal, "Bukan gitu."


"Lalu kenapa?"


"Kamu engga capek apa ngebohongin orang tua ku?"


"Ngebohongin gimana? Aku engga pernah bohong."


"Ya bohong namanya, kamu terus- terusan bilang kalau kita ada hubungan bahkan kamu tadi juga bilang kalau kamu mau nikahin aku. Kamu bercandanya kelewatan tau engga."


"Loh siapa yang bercanda sih, aku serius. Kamu engga bisa lihat keseriusan aku ya?"


Aira lalu menatap Keno seksama yang dilihat hanyalah keseriusan Keno, ia tidak menemukan kebohongan satu pun. Tapi ia masih tidak percaya.


"Udahlah, ayo berangkat sekarang. Kasihan mang Dadang nunggu dari tadi tuh." ucap Keno seraya merangkul Aira mengajaknya keluar menuju mobil untuk segera berangkat.


"Ra, nanti kamu mau pulang jam berapa?"


"Siang jam 2 gitu kayanya, kenapa?"


"Gapapa, langsung ke toko?"


"Hm, kenapa emang?"


Keno menghela nafas, "Aku nanti lembur banyak banget pekerjaan yang harus aku selesaikan, mana Papa engga mau bantuin lagi huh."


"Engga boleh gitu, kita harus semangat terus jangan mengeluh."


"Nanti kamu nemenin aku lembur mau ngga? Engga malem- malem banget kok."


"Boleh, kalau gitu nanti sore aku ke kantor kamu. Sekarang aku turun dulu ya." ucap Aira seraya membuka pintu mobil.


"Iya beneran."


"Okay aku tunggu, awas kalau tidak. Aku akan menghukum mu." ancam Keno namun tak membuat Aira ketakutan, ia malah menjulurkan lidahnya meledek Keno.


***


Sesuai janjinya tadi pagi, sore ini Aira datang ke kantor Keno untuk menemaninya lembur. Sebelumnya ia pulang terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya.


Saat tiba di kantor ia berpapasan dengan banyak karyawan yang tengah bersiap untuk pulang ke rumah masing- masing karena memang jam kerja sudah habis. Dan mungkin hanya ada beberapa karyawan tertentu yang masih ada di sana.


Saat berpapasan dengan karyawan, Aira menyapa mereka dan tersenyum ramah. Banyaj dari mereka yang membalasnya dengan ramah pula namuj juga ada yang menatap sinis dan berfikiran kalau Aira datang untuk menggoda presdir mereka.


"Eh liat itu, dia kan yang kemarin- kemarin ke sini juga. Mau apa dia ke sini lagi."


"Ya mau ngapain lagi kalau bukan ngegoda presdir kita."


"Iya tuh, dasar wanita jal**g."


Bisikan para karyawan wanita yang terdengar jelas di telinga Aira. "Mbak mbak ngomongin saya ya?"


"Sadar juga lo."


Aira menanggapinya dengan senyuman, "Maaf ya mba kalau kedatangan saya kemari membuat mbaknya tidak nyaman."


"Lo mau ngapain sih ke sini? Masih mau berusaha ngegoda presdir?"


"Saya ke sini disuruh pak Keno sendiri, kalau tidak percaya tanya saja kepada dia." ucap Aira dan lagi- lagi tetap tersenyum membuat 3 wanita itu semakin tidak suka.


"Ada hubungan apa lo sama pak Keno?"


"Apa kita begitu dekat sehingga saya harus mengatakan hubungan saya kepada kalian?"ucap Aira yang membuat ketiga wanita itu berdecak kesal.


"Maaf ya, saya permisi dulu. Sayang sekali waktu saya kalau hanya dibuat untuk membicarakan hal yang tidak penting dengan kalian."


Aira pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih berdecak kesal kepadanya. Ia segera masuk ke lift menuju lantai 35 dimana ruangan Keno terletak di sana.


Sesampainya di depan ruang Keno, Aira melihat Adel sekertaris Keno masih berada di meja kerjanya yang terletak di dekat ruangan Keno.


Adel yang mengetahui kedatangan Aira pun menjadi kesal dan berjalan menghampirinya.


"Duh ada mak lampir nih, males banget deh." batin Aira.


"Lo ngapain lagi ke sini?"


"Mau bermain !"


"Gue nanya serius, lo pikir ini taman bermain apa."


Adel sangat tidak suka dengan kedatangan Aira, ia merasa bahwa Aira memiliki kedekatan tersendiri dengan Keno atasannya yang sudah lama ia incar.


"Anak kecil juga tau lah mba, kalau ini itu kantor bukan taman bermain."


Adel menghentakkan kakinya, "Lo jangan pernah coba ngedeketin Keno ya. Dia itu cuma milik gue, awas aja lo ngerebut dia dari gue."


"Memangnya pak Keno mau sama situ? Haha."


Aira langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan Keno tanpa memperdulikan mak lampir itu.

__ADS_1


"Aaarrrggghhhhh, kenapa kamu di depan pintu?" kaget Aira ketika melihat Frido.


"Jelas aku mau keluar lah, kau yang kenapa. Masuk tidak mengetok pintu dulu." ketus Frido.


"Kau juga tidak mengetok pintu dulu."


"Karena aku mau keluar bodoh, jadi tidak perlu mengetok pintu." ucap Frido seraya menoyor kening Aira dengan telunjuknya.


Aira langsung menepis tangan Frido, "Jangan mengataiku bodoh, MINGGIR !!!"


Aira mendudukkan kasar tubuhnya di sofa, "Kenapa banyak sekali orang menyebalkan di kantor ini, oh iya aku baru ingat kalau presdirnya saja juga menyebalkan jadi karyawan juga sama seperti dia haha." gerutu Aira.


Setelah bergumam dengan dirinya sendiri, ia baru menyadari kalau Keno tidak ada di ruangan itu.


"Ken?"


"Keno?"


"Where are you?" teriak Aira.


Kur...kur...kurrr...


"Kau pikir aku ayam apa kau panggil seperti itu." teriak Keno. Aira terkejut saat melihat Keno tiba- tiba keluar dari kamar mandi yang belum memakai baju tapi sudah memakai celana kok tenang saja hehe.


"Hehe, kau baru mandi rupanya."


"Hm."


"Kau duduklah di sana, aku akan melanjutkan pekerjaan ku dulu."


"Aku hanya akan diam saja dan duduk di sana?" Aira bertanya layaknya anak kecil membuat Keno gemas dan mengacak- acak rambut Aira.


"Kau bisa melakukan apapun, mau menonton televisi atau tidur terserah kau saja. Kalau mau camilan ambil saja di kulkas." ucap Keno menunjuk kulkas yang berada di pojok ruangannya. Ya, ruangan kerja Keno lebih mirip seperti hotel bukanlah kantor.


"Baiklah. Hm, apa asisten mu itu juga ikut lembur?"


"Tentu saja, dia sedang berada di ruangannya sekarang."


Keno langsung melanjutkan pekerjaannya. Menatap laptop serius dan nampak lebih tampan saat seperti itu.


Dua jam berlalu malam pun telah tiba, Aira nampak sudah bosankarena dari tadi hanya menonton televisi sembari memakan camilan saja.


"Ken, apa masih lama?"


"Sepertinya masih lama, tunggulah dulu."


Aira hanya mengelus dadanya melihat Keno tak kunjung usai dengan pekerjaannya. Keno hanya berhenti di waktu solat saja, setelah itu melanjutkan pekerjaannya. Sungguh anak itu tidak ada lelahnya.


Aira sangatlah bosan, ia berjalan bolak- balik memutari ruangan Keni hingga membuat Keno pusing melihatnya.


"Apa kau tidak ada pekerjaan lain? Sudah berapa kali kau bolak balik seperti itu."


"Tidak, makanya aku mencari kesibukan." jawab Aira dengan santainya.


"Ahh lelah juga ya." Aira merebahkan tubuhnya di sofa dan tak lama kemudian ia tertidur.


"Kenapa dia berhenti? apa sudah lelah? Hahaha." Batin Keno.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam Keno telah menyelesaikan pekerjaannya. Keno terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga melupakan makan siang dan lupa bahwa Aira juga berada di sana sampai tertidur karena lelah menunggunya.


Karena tidak mau mengganggu tidur Aira, Keno membiarkannya hingga terbangun sendiri. Lalu ia menyuruh Frido memesan makanan untuk makan malam.


"Belilah makanan untuk makan malam kita, beli untuk empat porsi."


"Kau mau makan apa?"


"Terserah kau saja, nanti ajaklah Adel ke ruanganku untuk makan malam bersama dan jangan lupa berikan dia tips lemburnya." Frido segera melaksanakan perintah Keno.


"Kau sudah bangun rupanya." ucap Keno saat melihat Aira sudah bangun.


"Kau sudah selesai? Sejak kapan? Kenapa tidak membangunkan aku? kau pasti sudah menunggu lama?"


"Banyak tanya, sudah diam saja. Aku sudah memesankan makan malam untuk kita tunggu saja."


Ceklek. Adel masuk ke ruangan Keno dan segera duduk di samping Keno. Keno dan Adel adalah teman dari kecil jadi mereka terlihat dekat namun Keno hanya menganggap Adel sebagai teman saja tidak lebih. Tetapi Adel berharap lebih dari Keno.


"Hai Ken, aku lelah sekali." ucap Adel bergelayut manja di lengan Keno. Keno tidak suka dengan sikap Adel yang manja, ia langsung menepisnya dengan halus.


"Manja sekali mba Adel ini." seru Aira tersenyum sinis.


"Diamlah ini bukan urusan mu. Kenapa kau masih di sini, pergi saja kau."


"Jangan ribut, kau juga Adel aku tidak suka jika kau bergelayut seperti tadi. Menjijikkan." Aira tertawa melihat Adel yang habis dimarahi Keno.


Tak lama kemudian Frido sudah datang membawa makanan. Mereka pun segera menyantapnya. Adel terus berusaha mencari perhatian Keno, sudah beberapa kali ia menyendokkan makanan ke mulut Keno tapi Keno menolaknya.


"Aku bisa makan sendiri ! Jangan menggangguku!"


"Baiklah- baiklah." Adel mencubit pipi Keno gemas dan membuat Keno semakin kesal dibuatnya. Ia pun segera berdiri dan berpindah di samping Aira. Selesai makan malam mereka langsung pulang.


"Ken, kamu anterin aku kan? Aku engga bawa mobil, soalnya lagi di bengkel." ujar Adel.


"Tidak bisa, ini sudah malam kau pulanglah sendiri."


"Justru karena sudah malam kau harus mengantarkan aku pulang."


"Kalau begitu suruh Frido mengantar mu."


Frido langsung membantahnya,"Tidak bisa istriku sudah menunggu di rumah. Kau pulanglah naik taksi." Frido segera mencarikan taksi dan mendorong tubuh Adek masuk.


"Sudah ku bayar, berhati- hatilah." seru Frido tersenyum smirk kepada Adel yang jengkel.


"Kerja yang bagus." ucap Keno menepuk bahu Frido.


"Kalian kenapa begitu kesal dengannya sampai tidak mau mengantarnya pulang?" tanya Aira.


"Dia itu sangat manja, itu menjijikkan sekali." ucap Frido bergidik ngeri membayangkannya.


Keno pun mengiyakannya, mereka segera pulang karena sudah larut malam.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca :)

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan ceritanya jangan lupa like, komen dan vote juga sebanyak- banyaknya ya hehe :v :v :v


Oh ya, Aku ganti tittle novel nih maaf ya kalau bikin kalian bingung hehe :)


__ADS_2