Hello Presdir

Hello Presdir
Supermarket


__ADS_3

"Loh, Nak Aksa kan ada di kamarnya sama Nak Devano."


Ucapan Bi Ijah itu membuat Aira dan Keno terkejut, mereka langsung menuju kamar Aksa.


"Kok nggak bilang sih, Bi? Kita udah nyari kemana- mana loh," gerutu Keno.


"Bi Ijah juga nggak tahu kalau kalian mencari Nak Aksa." Bi Ijah menjawab seadanya, ia memang tak tahu jika Aira dan Keno itu mengira Aksa hilang. Karena Aira dan Keno tak menanyakan orang rumah terlebih dahulu sebelum mencari Aksa.


"Aksa..." Aira langsung memeluk anaknya yang tengah bermain game dengan iPad miliknya.


"Kenapa Mama menangis?"


"Kami tadi sudah mencarimu kemana- mana. Kami kira kamu hilang!" ucap Keno menyentil telinga Aksa.


"Sakit Papah...Salah sendiri nggak jemput Aksa."


"Tadi Mama sudah menjemputmu tapi sedikit terlambat dan kamunya udah nggak ada di sekolahan," ucap Aira sembari mengusap air matanya. Aksa ikut mengusapnya.


"Maafin Aksa, tadi Aksa dan Devano lapar. Jadi cepet- cepet pulang deh naik taxi."


"Lain kali jangan pulang sebelum Mama atau Papa menjemputmu, Okay?" Keno memperingatkan anaknya, tapi anak itu tak menggubris.


"Tadi Mama ngapain kok sampai telat jemput Aksa?"


"Belanja dulu sayang, susu kamu kan udah habis," jawab Aira. Ia memeluk anaknya erat, masih takut jika Aksa kenapa- kenapa.


"Ohh gitu, harap ingat waktu jika belanja. Dan tolong kejadian ini dijadikan pelajaran untuk ke depannya. Kalau Aksa benar- benar hilang kan bahaya, Mah..." Ucapan Aksa ini membuat Keno terkekeh mendengar istrinya yang malah dinasehati bocah berumur lima tahun.


"Ingat waktu ya Mama kalau belanja," ledek Keno tertawa puas.


Aira langsung melepas pelukannya, ia ikut jengkel dengan Aksa. "Urus anakmu sana! Berani- beraninya menasihatiku!" Ia lalu pergi meninggalkan kamar Aksa.


"Papa juga, harusnya papa itu nggak usah nyuruh orang buat nyari Aksa. Ngabisin duit aja, kan mending buat beli es krim!"

__ADS_1


Keno menghentikan tawanya ketika anaknya juga menasehati dirinya. Ia langsung pergi dari sana karena tak mau mendengar Aksa berceloteh lagi.


"Aku benar- benar tak tahu bagaimana pemikiran orang dewasa," ucap Aksa menggeleng- gelengkan kepalanya melihat Papanya yang pergi.


"Sudahlah, ayo kita bermain lagi!" ajak Devano yang kemudian diangguki Aksa.


*****


Keno dan Aira tengah bersantai di ruang keluarga. Seperti biasa, saling peluk dan tak mau melepas. Jika sudah berdua begini, Aksa dilupakan. Masa bodoh dengan anak itu, toh dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aksa sudah besar meski umurnya baru lima tahun.


"Mah..." teriak Aksa sembari berlari kecil menghampiri Mamanya.


Keno langsung menghalangi Aira supaya tak dipeluk anaknya. "Mau apa?"


"Biarkan aku bicara sendiri dengan Mamaku!"


"Tapi ini istriku, cari Mama baru sana!"


"Berarti Papa harus menikah lagi dong biar Aksa punya Mama baru."


"Mama, es krim di kulkas sudah habis. Padahal semalam masih ada satu kotak, kenapa sekarang sudah nggak ada?" tanya Aksa dengan manjanya di pelukan sang Mama.


"Papa yang makan, memangnya kenapa?"


Sontak saja, Aksa langsung mencubit tangan Keno, "itu kan bukan punya papa, harusnya papa bilang dulu sama Aksa. Jangan mengambil yang bukan milik Papa! Ingat itu!"


Aksa memarahi Keno dengan penuh keseriusan. Anak itu tak terima jika es krim miliknya dimakan papanya tanpa izin terlebih dahulu.


"Tapi Mama kan beli es krim juga buat Papa bukan cuma buat kamu saja. Jadi wajar kalau Papa makan es krimnya," tukas Keno. Ia tak terima dimarahi anaknya. Mereka berdebat tak henti- hentinya.


Aira langsung menggendong anaknya menjauhi Keno supaya tak berdebat lagi. Tapi Aksa memberontak dan masih ingin menyelesaikan masalahnya dengan Keno.


"Masalahku denganmu belum selesai, Pah. Awas saja nanti!"

__ADS_1


"Iya, nanti kita lanjutkan. Aku akan menunggumu," balas Keno terkekeh.


Aira mengajak Aksa ke mobil, ia segera melajukan mobilnya menuju supermarket dekat rumahnya. Di dalam mobil, Aksa melipat tangannya dan mencebikkan bibirnya kesal.


"Ayo turun, kamu mau es krim, kan?" ucap Aira ketika mereka sudah sampai di supermarket.


"Iya, Mah." Aksa lalu turun dan masuk ke dalam supermarket mendahului Mamanya.


Ia mengambil troli dan mendorongnya dengan kesal. Ia segera mengambil es krim yang ia inginkan dan memasukkannya ke dalam troli. Dan Aira hanya mengikutinya di belakang seperti biasa.


"Mamah, boleh tolong ambilkan es krim yang itu?" Aksa menunjuk es krim yang berada di pojok, meskipun sudah memanjat tapi tetap tak bisa mengambilnya.


"Yang ini?"


Aksa mengangguk, "oh ya Mamah, Papa suka es krim yang mana? Kita belikan sekalian biar Papa nggak makan punyaku."


Aira tersenyum senang, meskipun anaknya itu jengkel dengan Keno tapi tetap memperhatikan dan baik kepadanya.


"Hey, Aira!" teriak Mega dan langsung memeluk Aira erat.


"Ah, kak Mega. Seperti nggak ketemu berapa tahun aja sih."


"Baru satu hari sih," jawab Mega tergelak. Merekanpun sedikit mengobrol hingga melupakan anak mereka.


Aksa dan Clara bermain troli. Aksa menyuruh Clara untuk naik di troli yang kosong, dan ia pun mendorongnya memutari supermarket yang tak begitu luas itu.


"Aksa, pelan saja. Nanti aku bisa jatuh!" pekik Clara ketakutan karena Aksa semakin menambah kecepatannya.


"Nggak akan jatuh, kamu aman bersamaku!"


"Awas awas, minggir minggir !!!" Aksa meneriaki orang- orang yang menghalangi jalannya. Dan ia tak sengaja menabrak salah satu karyawan yang tengah membawa barang- barang.


Brakkk!

__ADS_1


Aksa terjatuh dan troli Clara masih berjalan dengan cepat sebelum akhirnya ikut terjatuh juga karena terpental tembok.


"Aaaaaaaa!"


__ADS_2