Hello Presdir

Hello Presdir
Berebut


__ADS_3

Malam pun tiba, Keno mulai membuka matanya. Ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia baru sadar kalau tidur nyenyak di bahu Aira.


Keno tersenyum melihat Aira yang masih tidur di dekatnya. "Kau selalu membuatku nyaman, terima kasih sudah merawatku." Keno mendaratkan bibirnya mencium kening Aira dan tersenyum.


Keno melanjutkan tidurnya dan melewatkan makan malam. Ia semakin mengeratkan pelukannya, bergelayut manja di tubuh Aira.


Tepat di tengah malam, Aira terbangun. Ia terkejut ketika melihat Keno tidur dalam pelukannya.


"Jam berapa ini, Astaga ini sudah tengah malam. Pulas sekali tidurku," gumam Aira ketika melihat jam di dinding.


Ia pun secara perlahan bangkit dari ranjang dan melepas pelukan Keno dengan hati- hati agar tidak terbangun. Kemudian ia keluar dari kamar Keno dan menuju ke dapur untuk makan malam yang tertunda.


"Loh Bibi belum tidur?"


"Belum, Nak."


"Udah jam segini kok belum tidur, hayo ngapain. Pasti lagi anu kan sama Mang Dadang."


"Enggak, Nak Aira," jawab bi Ijah terkekeh.


"Bibi ngapain di dapur?"


"Mau makan, bibi belum makan tadi."


"Sama Aira juga, kalau gitu kita buat mie instan aja yuk kayanya enak tuh."


"Boleh tuh non, kebetulan bibi kemarin beli."


Aira dan bi Ijah pun segera memasak mie instan tersebut. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, mie instan pun siap untuk dimakan.


Mereka memakan mie instan rasa ayam bawang itu dengan diselingi obrolan kecil yang menggelakkan tawa hingga membangunkan mang Dadang yang kebetulan kamarnya tidak jauh dari dapur.


"Ini apa sih malam- malam pada ketawa- ketawa, nakutin kaya mba kunti aja."


"Eh mang Dadang, maaf ya kalau kebangun hehe."


"Kalian berdua ini kalau udah bersama pasti bikin gendang telinga pecah."


"Bapak ini lo bisa aja." Aira dan bi Ijah tertawa terbahak- bahak lagi dan mang Dadang hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua wanita itu.


"Tuan Keno apa sudah baikan, Nak Aira?"


"Sudah lebih baik, Mang."


"Hm, syukurlah."


"Ya gimana engga cepet sembuh orang dirawat sama cewek cantik, di suapin, disayang- sayang, di peluk- peluk, di elus- elus rambutnya," goda Bi Ijah.


"Bibi ngintipin aku sama Keno, ya?"


"Iya tadi ngintip sedikit, hihi."


"Ih, Bi Ijah."


***


Pagi hari...


Keno sudah merasa lebih baik dari kemarin namun ia memilih untuk tidak ke kantor lagi hari ini dan akan mengerjakan pekerjaannya di rumah saja.


Keno turun ke meja makan dan masih memakai piyama nya. Aira yang melihat Keno langsung menghampirinya dan mengecek suhu badan Keno.


"Suhu badanmu sudah normal, apa kau sudah baik- baik saja?"


"Sudah, tapi hari ini aku tidak ke kantor dulu. Kau mintalah untuk diantar Mang Dadang."


"Tidak, aku akan naik taksi saja."


"Jangan, kau diantar Mang Dadang saja."


"Tidak mau, apa kata teman- teman kantor nanti."

__ADS_1


"Kalau begitu kau bawa mobil sendiri saja, ini kuncinya." Melemparkan kunci tepat dihadapan Aira.


Menyebalkan, seenaknya saja melempar kunci. Kalau kena wajahku kan sakit, untung aku cepat menangkapnya. gerutu Aira dalam hatinya.


"Yasudah aku berangkat dulu, selamat pagi."


Aira berangkat ke kantor dengan mobil Keno, sebenarnya ia malas membawa mobil sendiri namun karena hari ini ia harus mencari informasi tentang kecelakaan menteri kemarin lagi di rumah sakit maka lebih baik membawa mobil sendiri.


Setelah sarapan, Keno menuju ke ruang kerjanya untuk membereskan pekerjaan kantor selama ia tidak masuk kemarin.


"Huh banyak sekali, baru juga tidak masuk sehari," keluh Keno. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan sering beristirahat sejenak karena tubuhnya belum pulih maksimal.


Drtt. drtt. drrrtt. Handphone Keno bergetar menandakan pesan masuk.


"Tuan, saya sudah mengirim beberapa file ke email. Anda bisa mengeceknya, dan nanti sore saya akan ke rumah untuk menyerahkan berkas yang harus ditanda tangani," pesan Frido.


"Yang tadi saja belum beres sudah ditambah lagi," gerutu Keno.


***


Setelah pekerjaan kantor selesai, Aira berencana untuk pergi ke toko kuenya bersama Megan dan Sandi menggunakan mobil Keno.


"Keno beneran ngasih mobil ini sama lo, Ra?"


"Ih kak Mega, kan aku uda bilang ini engga dikasih cuma dipinjemin. Toh aku juga buat apa mobilnya, mobil yang dikasih Papa aja jarang aku pake."


"Lo mah suka gitu, nyia-nyian barang terus," timpal Sandi.


Aira hanya memasang wajah malasnya. Ia segera masuk ke toko. Dan mencari tempat kosong untuk mereka bertiga.


"Kalian mau makan apa, ambil aja. Minumnya bilang sama karyawan di sini."


"Ini gratis, kan?" tanya Mega dan Sandi.


"Hm."


Sandi dan Mega langsung berkeliling dan menyerbu kue- kue yang terpajang di etalase dan membawanya ke meja.


"Kalian yakin makan sebanyak ini?" tanya Aira saat melihat banyak kue yang diambil mereka.


"Oh ya, Ra. Untuk kue pernikahan kita pesen sama lo, ya," ucap Sandi.


"Iya siap ntar gue bikinin yang spesial buat kalian."


"Nanti gue transfer uangnya."


"Engga perlu, anggap aja ini hadiah dari Aira."


"Lo seriusan nih? Ntar rugi lagi," tanya Mega tak percaya.


"Engga santai aja, mau berapa tingkat nih? Sepuluh?"


"Boleh tuh haha. Thanks ya lo baik banget deh."


Mereka melanjutkan ngobrol hingga sore hari dan setelah itu segera pulang ke rumah masing- masing.


***


Sesampainya di rumah, Aira segera memakirkan mobilnya dan melihat mobil lain yang tidak asing baginya. Ia segera masuk dan memastikannya.


"Airaaa."


"Halo mbak Niken, kok mbak Niken ke sini engga bilang Aira dulu sih."


"Iya, tadi mba ngikut Frido dia engga mau ninggalin mba sendirian jadi diajak ke sini deh."


"Ohh gitu, ehm Aira mandi dulu ya mba. Nanti ke sini lagi."


Setelah selesai mandi Aira segera menuju ke ruang tamu menemui dan mengobrol dengan Niken.


"Baby sehat kan, mbak?" tanya Aira sembari mengelus perut buncit Niken.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat, udah mau sembilan bulan ini."


"Oh ya besok temenin mba belanja keperluan baby yuk, masih ada yang kurang."


"Boleh tuh mba, mau banget. Pasti seru tuh."


"Ehh dia nendang loh, pasti seneng banget Aunty mau belanja sama baby. Coba deh pegang"


"Wahh iya mba, sakit ngga?" Aira terus mengelus dan mendekatkan telinganya di perut Niken.


"Engga kok, tapi geli haha."


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Frido mengagetkan Aira dan Niken.


"Memang apa yang aku lakukan," ketus Aira.


"Jangan memeluknya apalagi menyentuh babyku. Aku tidak mau kalau babyku nanti ikutan menyebalkan sepertimu, Minggir !" Frido menarik tangan Aira namun Aira malah semakin mengeratkan pelukannya pada Niken.


"Aku tidak mau, aku masih mau memeluknya."


"Minggirlah, kau itu sangat menyebalkan."


"Jangan menarik tanganku, ini sakit."


"Sudah cepat minggir," bentak Frido.


"Tidak!!!"


Keno mendengar kegaduhan di ruang tamu segera menuju ke sana.


"Hei apa yang kalian lakukan," teriak Keno yang membuat Frido dan Aira langsung terdiam.


"Dia menyakitiku, dia menarik tanganku dengan kasar dari tadi. Tanganku hampir putus karena ditarik terus," ucap Aira dibuat- buat.


"Apa yang kau katakan, aku menariknya pelan tanganmu juga belum putus," ucap Frido membela dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kalian harus bertengkar."


"Dia tidak memperbolehkanku memeluk mbak Niken, aku juga tidak boleh memegang perutnya. Dia itu pelit sekali," tutur Aira kesal dan melototkan matanya ke arah Frido.


"Hanya berebut itu saja sampai bertengkar, sudahlah Frido biarkan dia memeluk dan memegang perut Niken. Toh juga tidak ada yang berkurang jikalau Aira melakukan itu."


"Tidak boleh, aku takut kalau anakku nanti mirip seperti dia yang sangat menyebalkan itu."


"Sudah sudah kalian jangan ribut, aduh pusing aku dengerin kalian."


"Kau lebih tua dari Aira, jadi kau harus mengalah. Toh nanti di rumah juga kau bisa memelukku dengan puas bahkan memakanku dengan lahapnya," ucap Niken memarahi Frido.


"Dengarkan itu," ledek Aira, ia segera mengusap perut Niken dan sesekali melirik Frido sembari menjulurkan lidahnya meledek.


"Aku sudah lapar, bagaimana kalau kita makan malam sekarang."


"Oh iya sampai lupa, yaudah yuk bumil kita makan sekarang hati- hati jangan sampai jatuh bumil."


Aira menuntun Niken menuju meja makan. Mereka berempat pun segera menyantap makan malam dengan diselingi dengan obrolan dan keributan antara Frido dan Aira.


"Aku pamit pulang dulu ya, Aira."


"Iya mbak Niken, jaga baby baik- baik ya," ucap Aira sembari mengelus dan mengecup perut Niken.


"Bye baby, sampai bertemu besok." Aira melambaikan tangannya saat mobil Frido meninggalkan rumah Keno.


"Kok besok, mereka tidak akan ke sini lagi. Besok aku sudah masuk kantor," seru Keno.


"Besok aku akan berbelanja kebutuhan bayi sama mba Niken jadi ya bertemu lagi deh sama baby."


"Kamu seneng banget tadi ngelus- elus perut Niken."


"Iya, aku engga sabar deh nunggu dia lahir."


"Kamu suka bayi?"

__ADS_1


"Huum"


"Kenapa engga buat sendiri?" goda Keno dan langsung mendapat cubitan dari Aira.


__ADS_2