
Seperti yang direncanakan kemarin, hari ini Aira dan Niken akan berbelanja perlengkapan bayi yang masih kurang.
Niken dengan sopirnya menjemput Aira di toko kuenya. Dan langsung pergi ke tempat perbelanjaan. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit mereka pun sampai di pusat perbelanjaan itu.
Mereka segera menaiki lift menuju ke lantai dua dan mencari toko yang menyediakan khusus perlengkapan bayi.
"Di sini lucu- lucu. Seneng deh," ucap Aira menyapu isi toko yang berisikan kebutuhan bayi yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Memang, aku saja sampai kewalahan memilihnya. Serasa ingin aku beli semua."
"Oh ya mbak, udah tau baby nya cowok atau cewek?"
"Udah, kemarin pas USG cowok."
"Kalau gitu aku mau pilih baju buat baby boy dulu ya, mbak."
"Iya terserah."
Aira memilih beberapa baju dan mainan untuk babynya Niken. Butuh waktu satu jam untuk Aira memilih. Ia sampai kewalahan membawanya karena banyak sekali yang ingin ia berikan untuk baby.
"Kenapa banyak sekali, aku sudah membeli banyak kemarin. Kembalikan saja itu."
"Tidak mau, aku membelikan ini untuk baby boy. Anggap saja ini hadiah untuknya, biar aku yang bayar."
"Sudahlah ayo ke kasir, jangan ambil lagi."
"Bentar mbak, aku masih mau beli sepuluh pasang baju lagi."
"Tidak, ayo bayar sekarang. Ini terlalu banyak." Niken pun menyeret Aira seperti anak kecil menuju ke kasir sedangkan Aira tidak henti- hentinya menggerutu.
Dan sesuai perkataan Aira, ia membayar semua barang yang ia ambil dan Niken hanya membayar barangnya sendiri. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka pun segera keluar dari baby shop.
"Harusnya aku yang bayar bukan kamu, Ra. Mana banyak banget lagi tadi."
"Engga papa mba, udah santai aja. Oh ya ini kita mau ke mana lagi."
"Semua barang udah aku beli sih, kita cari makan aja yuk udah jam makan siang juga ini."
Mereka segera mencari makanan untuk makan siang mereka. Dan sebelum itu mereka menyuruh sopir membawakan belanjaan ke mobil.
Tak disangka, Keno dan Frido juga sedang berada di pusat belanjaan yang sama dengan Aira dan Niken. Mereka baru saja bertemu dengan client dan saat akan pulang mereka melihat Aira dan Niken.
"Tunggu Tuan, ada istri saya."
"Kenapa wanitaku bersama istrimu?"
"Siapa yang kau maksud wanitamu?
"Kau itu bodoh atau bagaimana, tentu saja Aira. Dia wanitaku, hanya milikku."
"Memangnya kau sudah menyampaikan perasaanmu kepadanya? Apa kau juga sudah mengikatnya?"
"Belum, tapi dia akan segera menjadi milikku hanya milikku," ucap Keno tersenyum."
"Cih, dia belum tentu mau denganmu. Jadi jangan kepedean dulu."
"Kau berani denganku?" teriak Keno dan menarik kerah Frido ingin memukulnya.
__ADS_1
"Ti- tidak, mari kita menghampiri mereka."
Keno segera berlari menuju Aira dan merangkul pinggang Aira dengan satu tangannya.
"Keno? Lepasin ih geli tau." Keno hanya nyengir kuda dan tetap memeluk Aira.
"Sayang, kenapa kau bisa di sini dengan wanita itu?" tanya Frido kepada Niken.
"Iya, aku yang mengajaknya. Tadi kami membeli beberapa barang baby yang masih kurang. Dan kau tau, Aira membelikan banyak hadiah untuk baby."
"Kau tidak apa- apa, kan? Apa baby baik- baik saja? Apa dia tidak melukaimu?"
"Tidak sayangkuh, Aira menjaga ku dia sangat menyayangi baby. Jadi mana mungkin dia melukai baby, iya kan Aira," ucap Niken meminta persetujuan Aira.
"Tentu saja mbak Niken, jangan lupa kalau aku itu baik hati, tidak sombong, dan suka menabung ehhe."
"Halah, kau ini sok baik, dasar menyebalkan!" seru Frido.
"Apa yang kau katakan, kenapa kau mengatai wanitaku," timpal Keno.
"Siapa wanitamu?" tanya Aira mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja kau, masa iya manekin itu," ucap Keno sembari menunjuk manekin yang berada di dekatnya.
Blush, wajah Aira memerah seketika saat Keno menyebut Aira wanitanya.
"Kamu kok di sini sih, Ken?" ucap Aira mengalihkan pembicaraan.
"Memang engga boleh ke mall punya kakek sendiri?"
"Jadi ini mall kakek kamu?"
Sesampainya di salah satu restoran, mereka menuju ke ruang VVIP.
"Kenapa ke sini, lebih baik di luar aja berbaur sama yang lain."
"Udah Ra, ngikut aja. Biar engga ada yang ganggu kita." Aira memasang wajah malasnya. Tak lama kemudian pelayan datang dengan menu yang mereka pesan.
"Selamat makan mbak Niken, selamat makan Keno."
"Kok aku engga?" tanya Frido.
"Kaya ada yang ngomong tapi kok engga ada wujudnya sih, Ken?"
"Iya nih, Ra. Mungkin di ruangan ini ada hantunya. Ih serem deh, besok jangan ke sini lagi ah," sahut Keno.
"Ah, kalian berdua ini bisa aja," ucap Niken tertawa.
"Sayang, kau meledekku juga, ya. Kenapa menertawakanku," rengek Frido.
"Tidak sayang, jangan ngambek dong."
"Cium dulu, baru tidak ngambek."
Dan Niken pun mencium Frido dengan mesranya membuat Keno dan Aira iri melihatnya.
"Kenapa kalian melihat kami seperti itu? Iri? Iri bilang Bossss!" ucap Frido dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Tentu saja tidak !!!!" teriak Keno dan Aira bebarengan.
"Sudah- sudah jangan ribut, mari kita makan bayiku nanti nangis kelaparan."
"Belum juga keluar mbak, mana bisa nangis," ketus Aira.
"Hehe, maksutnya emaknya yang nangis."
"Ayo sayang biar aku suapin, biar kedua jomblo ini iri melihat kemesraan kita," sindir Frido.
"Kau mau ku pecat sepertinya."
"Tidak, aku kan hanya berkata sejujurnya, tidak salah, kan?"
"Hei kau berhentilah berbicara atau aku akan benar- benar memotong lidah mu dengan pisau ini," ucap Aira mendekatkan pisaunya ke wajah Frido.
"Ga- galak sekali kau ini," ucap Frido ketakutan.
"Lihatlah wajahmu itu, kau sangat ketakutan haha." Keno, Aira, dan Niken pun tertawa melihat wajah Frido yang ketakutan itu tak menyangka wajah sangarnya bisa berubah ketakutan juga.
Setelah makan, mereka memutuskan untuk menonton film karena kebetulan urusan kantor Keno juga sudah selesai jadi memiliki waktu luang untuk menonton.
"Genre komedi saja ya, mbak Niken."
"Tidak tidak, lebih baik kalau romance saja."
"Tidak mau, komedi saja."
"Romance Aira, jangan Komedi."
"Komedi saja lebih bagus."
"Romance."
"Komedi."
"Romance."
Keno dan Frido hanya menggelengkan kepalanya melihat dua wanita itu berebut genre film yang akan ditonton.
"Horor saja !" ucap Frido dan Keno.
Dan akhirnya mereka menonton film horor. Tentu saja Aira dan Niken merasa kesal karena tidak sesuai harapan mereka. Walaupun menonton film horor namun Aira nampak biasa saja, berbeda dengan Niken yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di dada Frido.
"Kau tidak takut?" tanya Keno.
"Tidak," ucap Aira yang tidak menoleh ke Keno.
Ck, padahal aku tadi berharap ia ketakutan dan memelukku seperti Niken itu. Ah, menyebalkan. batin Keno.
"Hei tuan Frido, lihatlah tuyul itu. Wajahnya mirip denganmu," ledek Aira dan tangannya menunjuk ke arah layar.
Keno pun ikut menyerang Frido. "Kok bisa mirip gitu sih, Ra. Jangan- jangan itu adeknya Frido lagi."
"Iya sama- sama menyebalkan. Mbak Niken kenapa bisa menikah dengan abangnya tuyul sih mbak."
Keno dan Aira terus saja meledek Frido, namun Frido tampak acuh dan semakin mengeratkan pelukannya pada Niken.
__ADS_1
Setelah selesai menonton mereka memilih ke game center untuk bermain. Namun hanya Keno dan Aira saja, Karena Niken sedang hamil besar dan Frido akhirnya menemaninya untuk duduk dan hanya menyaksikan Keno serta Aira bermain.
Setelah puas dengan double date mereka, akhirnya mereka memilih untuk pulang karena hari juga sudah mulai petang. Setelah berpamitan mereka menuju ke mobil yang berbeda dan segera pulang.