Hello Presdir

Hello Presdir
Sama- sama Menyedihkan


__ADS_3

Aira tengah berada di dapur toko kuenya untuk membantu para karyawan. Walaupun ia pemiliknya namun ia tak enggan untuk terjun langsung ke dapur membuat kue seraya bercanda dengan karyawan lain. Sejak SMP ia sudah belajar membuat kue dari resep sang Nenek. Sebelum meninggal, Nenek Aira memberikan buku resep kepada Mamanya supaya kelak ada penerusnya yang memiliki toko kue sendiri. Namun sang Mama lebih memilih terjun ke dunia design, sehingga Aira lah yang meneruskan impian sang Nenek.


"Apa ada yang mbak butuhkan? Kenapa harus ke dapur?" tanya Lila karyawan yang bertugas dalam pembuatan kue.


"Tidak perlu, aku hanya ingin membuat kue saja sudah lama aku tidak berkutat dengan mixer dan oven hehe."


"Kalau begitu mari saya bantu mbak."


"Tidak perlu, kau kerjakan saja yang lainnya." tolak Aira lembut. Lila pun mengangguk.


Karyawan yang bekerja di toko Aira merasa senang mendapatkan bos sepertinya. Selain ramah dan sopan, ia juga tidak membeda- bedakan para karyawan. Dan semua karyawan sangat dekat dengan Aira.


Aira segera memakai hat cook dan apron yang berlogo Ai Cake's. Segera ia menyiapkan semua bahan yang diperlukan, rencananya ia akan membuat rainbow cake. Sesekali ia melihat buku resep untuk memastikan takarannya sesuai atau tidak.


"Mbak Aira seharusnya tidak perlu menbuat kue, tinggal ambil saja yang ada di depan. Kalau mbak mau yang lain saya akan membuatkannya." ujar Tito salah satu karyawan Aira.


"Tidak apa, aku hanya ingin membuatnya saja. Sudah lama aku tidak membuat kue. Sayang sekali bukan kalau keahlian ku ini tidak ku perlihatkan lagi haha."


"Ahli? Apa mbak yakin?" ledek Tito.


"Cihh kau meremehkan ku? Kau saja bisa membuat kue aku loh yang mengajari, jadi aku lebih pandai daripada kau."


"Kalau memang begitu kenapa lebih sering melihat resep katanya sudah ahli." ledek Tito yang membuat karyawan lain ikut menertawakan Aira.


Aira pun ikut terkekeh, "Aku kan hanya memastikan takarannya sudah pas atau belum. Takutnya nanti gagal."


"Baiklah- baiklah, bos ku yang sangat cantik serta baik hati ini memang ahlinya dalam membuat kue." puji Tito yang dirasa berlebihan oleh Aira.


Setelah semua bahan masuk dan sudah pas takarannya, Aira segera mengambil mixer yang disiapkan karyawan tadi dan menyalakannya namun mixer tersebut tidak menyala.


"Isshhhh kenapa tidak menyala..." lirih Aira. Aira terus mencobanya namun tetap tidak menyala juga.


"Kenapa mixernya tidak menyala juga, aku sudah mencobanya puluhan kali. Huh ingin rasanya aku memakan mu." umpat Aira dengan mixer yang ada ditangannya.


Tito yang melihat Aira kebingungan langsung mendekat dan mengecek mixer Aira. "Padahal baru beli kemarin loh, masa iya rusak."


"Ya mana aku tahu, harusnya kau memilih yang berkualitas tinggi."


"Tapi ini mixer yang paling bagus loh mbak."


Tito pun ikut kebingungan karena sudah mencoba menyalakan berkali- kali namun tak kunjung menyala. Ia pun melirik kabel mixer yang ternyata belum tersambung stop kontak.


"Astaga mbak Aira, pantas saja tidak menyala. Belum tersambung mbakkkkkk." geram Tito.


Karyawan lain yang melihatnya pun menertawakan kedua insan itu. Aira juga ikut terkekeh, "Bagaimana bisa, itu kan kamu yang menyiapkan semuanya. Aku kira ya sudah kamu sambungkan."


"Huh mbak Aira ini gimana sih, katanya Ahli tapi masalah sepele seperti ini saja tidak bisa."


"Kau meledekku, berani- beraninya kau meledek bos mu ini. Aku naikkan gaji mu !"


"Yang ada itu dipotong mbak, bukan dinaikkan. Kalau gitu sih saya juga mau." seru karyawan lain.


"Ahh kalian itu yang ada dipikirannya gaji terus haha."



Aira langsung melanjutkan untuk membuat kue. Setelah tiga puluh menit berlalu, kue Aira pun sudah matang. Segera ia mengeluarkannya dari oven dan bersiap untuk menghiasnya.


Slice demi slice kue ia susun rapi sesuai dengan susunan warna pelangi. Butter cream bewarna putih turut melapisi kue itu.


"Aduuhh, dari tadi senyum- senyun terus liatin tuh kue. Buat siapa sih emangnya?" goda Lila yang sedari tadi juga menghias kue di samping Aira.


"Kamu mau tau aja sih urusan orang."


"Pasti buat Presdir tampan itu kan yang kemaren datang ke sini."


"Rahasia pokoknya haha."


Tring...tring...tring...


Ponsel Aira berbunyi menandakan ada telefon masuk.


"Mbak Aira, ada telfon noh. Buruan angkat ke buru gosong." teriak Tito.


"Engga ada akhlak tu anak ya, sama bos sendiri teriak- teriak." ucap Lila kesal mendengar teriakan Tito.


Aira hanya tersenyum dan segera mengambil ponsel yang sedari tadi di charger.


"Selamat sore Aira."


"Selamat sore mbak Ellen, ada apa nih telefon."


"Tidak apa, apa kamu sedang sibuk?"


"Ah tidak juga mbak, ini sedang membuat kue saja."


"Benarkah, kau bisa membuat kue. Jadi pengen mencicipi kue buatan mu."


"Hehe iya mbak."


"Oh ya, nanti malam kamu ada acara tidak? Aku ingin mengajak mu makan malam seraya ngobrol. Hitung- hitung ungkapan terima kasih karena kemarin sudah menolongku."


"Boleh mbak, katakan saja dimana tempatnya. Nanti saya usahakan ke sana."


Setelah selesai berbincang, Aira kembali menghias kuenya. Ia meletakkan beberapa strawberry dan coklat sebagai pemanis kue itu.


"Wahh sudah selesai mbak."



"Iya sudah, siapa yang meledekku tadi? Lihatkan aku bisa menyelesaikannya. Cantik bukan." Aira membanggakan hasil karyanya.


"Cihh sombong sekali, ingat ya mbak aku tiap hari bikin banyak kue cantik tapi engga pernah sombong tuh." celetuk Tito.


"Idiiihhh itu kan emang tugas mu buat kue haha."


Aira pun berpamitan setelah meletakkan kue itu ke dalam kotak dan memasukkannya ke dalam paper bag.


"Bye semuanya, Aira yang cantik ini mau pulang dulu yaa." canda Aira.


"Iya mbak cantik, semoga pak Presdir suka sama kue nya." ucap Lila.


"Semoga kalian cepet nikah, biar mbak Aira tidak jadi jones." timpal Tito.


"Itu bukannya kamu yang jones, aku mah jomblo happy."


"Mbak Aira kok tau sih kalo aku jones huaaaaa."


***


"Kau membawa apa?" seru Keno mengagetkan Aira.

__ADS_1


"Kau itu mengagetkan aku saja, kenapa kau sudah pulang jam segini?"


"Itu bukan urusan mu aku pulang jam berapa. Apa yang kau bawa."


"Kalau begitu, bukan urusan mu apa yang ku bawa ini."


Aira segera meletakkan kue yang dibawanya ke lemari pendingin tanpa menghiraukan Keno. Ia pun segera menuju ke kamarnya meninggalkan Keno yang penasaran.


Karena keingintahuannya, Keno segera membuka lemari pendingin dan melihat apa yang di bawa Aira.


"Ohh kue ternyata..." ucap Keno menyeringai. Ia pun segera memotong dan menikmati kue yang dibawa Aira tadi.


Entah suka atau doyan, Keno melahap kue itu dan hanya menyisakan seperempat bagian saja. Saat mendengar suara sesorang menuruni anak tangga, dengan cepat Keno membereskan kue itu dan meletakkannya kembali di lemari pendingin.


"Kenapa kau senyum- senyum sendiri?" tanya Aira.


"Tidak apa, hanya tersenyum saja apa tidak boleh."


Aira memutar bola matanya malas, ia segera membuka lemari pendingin dan mengambil kuenya. "Oh ya aku tadi membawa kue."


"Iya aku juga sudah tau."


"Bagaimana kau bisa tau?". Aira membuka kotak kue dan ia pun terkejut saat mendapati kuenya tinggal seperempat bagian saja.


"Kenooo !!!"


"Apa Aira? Mana kuenya?" Keno pura- pura tak tahu apa yang telah terjadi.


Aira mencubit ringan perut Keno, "Bukannya sudah berada di dalam perut mu."


"Hehe, maafkan aku tidak bisa menahannya kalau itu rainbow cake."


Aira menggelengkannya kepalanya tak percaya kalau Keno sangat rakus jika ada rainbow cake.


"Aira, suapin aku."


"Bukankah kau sudah makan banyak sekali, apa itu tidak cukup?"


"Tidak ada kata cukup." Keno menarik tangan Aira yang sedang memegang garpu berisi potongan kue dan memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.


"Apa rasanya enak? Itu aku yang membuatnya sendiri."


"Oh ya? Kenapa kau membuatnya? Dan untuk siapa?" tanya Keno dengan mulut yang penuh.


"Tentu saja untuk kau!"


"Ah maksud ku untukku sendiri, aku hanya iseng membuatnya tadi." Aira gelagapan menjawabnya.


"Tak perlu malu mengakuinya. Terima kasih, aku sangat menyukainya. Rasanya lebih enak karena kau pasti menambahkan cinta saat membuatnya." Aira tersipu malu dan wajahnya sudah memerah.


***


Malamnya, Aira sudah bersiap pergi makan malam dengan Ellen. Awalnya ia tidak diperbolehkan Keno untuk pergi jika tidak bersama dengannya, tapi karena Aira pandai merayu Keno, Keno pun mengizinkannya.


Ellen mengajak bertemu dengan Aira di salah restoran ellit ibukota. Ia langsung menuju ke ruang VIP yang sebelumnya telah dipesan Ellen. Sebenarnya ini terlalu berlebihan karena hanya makan malam saja.


"Mbak Ellen." sapa Aira kepada wanita yang tengah memainkan ponselnya.


"Hai Airaa, kau sudah datang rupanya. Mari duduklah." Aira pun duduk di berhadapan dengan Ellen.


"Makasih mbak."


"Mau jalan 25 hehe."


"Panggil saja nama ku Aira, kita seumuran." ucap Ellen tersenyum.


Aira pun mengiyakan, "Baiklah Ele."


"Tunggu kau memanggil apa tadi? Ele?" Aira menganggukkan kepalanya seraya menyeruput minuman yang ada di depannya.


"Kamu kenapa jadi sedih? Apa kau tidak suka jika aku memanggil mu seperti itu?" Saat mendengar nama Ele, Raut wajah Ellen berubah menjadi sendu.


"Kau mengingatkan ku kepada mantan kekasihku. Kau tau, dia juga suka memanggilku Ele. Katanya itu panggilan sayang untukku karena orang lain jarang memanggilku seperti itu."


"Maaf aku tidak tahu, kalau begitu aku akan memanggilmu Ellen saja."


"Tidak apa, panggilah sesuka mu saja."


Mereka menikmati makanan yang sudah terhidang di meja dengan sesekali mengobrol.


"Kalau boleh tahu kenapa kalian bisa putus? Bodoh sekali pria itu meninggalkan wanita sebaik dan secantik kau, Ele."


"Kau terlalu berlebihan."


"Sebenarnya bukan dia yang meninggalkan tapi aku sendiri yang meninggalkannya."


"Kenapa? Apa dia selingkuh? Memang ya banyak pria yang brengsek."


"Dia sangat baik, tampan, dan seorang presdir. Keluarganya sangat terpandang."


Aira menganggukkan kepalanya dan tetap diam mengisyaratkan agar Ellen melanjutkan ceritanya.


"Aku meninggalkannya karena dulu aku harus melakukan pengobatan di sana. Jantung ku bermasalah dan keluarga ku membawa ke sana agar mendapat pengobatan yang baik."


"Apa dia juga mengetahui kalau kau sedang sakit?"


Ellen menggeleng, "Aku tidak mengatakannya. Aku hanya bilang kalau aku akan menetap dan mendapat tawaran menjadi model juga di sana."


"Dia sempat tidak percaya dan aku pun menyuruh lelaki lain untuk berpura- pura menjadi selingkuhan ku. Dan barulah dia mau melepasku. Saat itu aku hanya takut aku akan pergi untuk selamanya, jadi aku berusaha untuk membuatnya benci kepada ku agar dia tidak terlalu kehilangan diriku." tutur Ellen dengan pelupuk mata yang menggenang.


"Harusnya kau mengatakan kepadanya, pasti dia akan mengerti dan menemani mu melakukan pengobatan."


"Aku tidak mau menyusahkannya." ucap Ellen tersenyum getir.


Aira pun berpindah ke samping Ellen dan memeluknya. Berusaha menguatkannya karena Ellen air matanya sudah mulai mengalir.


"Kau jangan bersedih lagi. Kalau kau sangat mencintai dan menyayanginya katakan sejujurnya pada dia. Dia pasti akan mengerti dan akan kembali kepada mu saat kau jujur dengannya."


"Aku sangat menyayangi dan mencintainya, aku tidak yakin kalau dia akan menerima ku kembali." ucap Ellen berusaha tersenyum.


"Aku yakin jika dia tidak mau menerima mu lagi, kebahagiaan lain akan segera menghampiri mu. Percayalah kebahagiaan akan selalu datang."


"Maaf, jika telah membuka luka lama mu. Sungguh aku tidak tahu jika kau mengalami hal seperti itu." batin Aira ikut terisak.


"Terima kasih sudah mau menjadi teman ku dan berusaha menguatkan aku."


"Iya Ele, kita akan jadi teman baik nanti." Mereka pun berpelukan.


"Oh ya kamu sendiri bagaimana?" tanya Ellen melepas pelukannya.


"Bagaimana apanya nih haha."

__ADS_1


"Siapa pacar mu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan mu itu?" goda Ellen.


"Tidak ada pacar, baru putus beberapa waktu yang lalu hehe."


"Kenapa bisa putus?"


"Kepo nih yeee, ahha."


"Aku putus gara- gara bukan jodoh aja. Jadi pacar aku itu dijodohin sama orang tuanya. Dan ternyata orang yang dijodohin itu adek aku sendiri. Mereka akan nikah dua minggu lagi." ucap Aira berusaha tidak sedih.


"Ya Tuhan."


"Mungkin tuhan telah mentakdirkan seperti ini, aku sudah mengikhlaskannya."


"Aku tidak menyangka, kita ternyata punya kesamaan yang menyakitkan perihal cinta. Ku pikir hanya aku saja yang menderita karena cinta. Kisah kita sama- sama menyedihkan."


"Tak terlalu difikirkan, enjoy aja hehe. Nanti juga ada sesuatu yang baik telah menanti di depan sana."


Suasana hening, nyaman, dengan gesekan biola menemani obrolan mereka. Mereka saling bertukar pengalaman, memperkenalkan pribadinya masing- masing hingga tak memperdulikan waktu yang terus berputar.


"Udah malam banget nih Ele, pulang sekarang aja yuk."


"Biar aku antar kamu ya, Ra."


"Tidak perlu Ele, aku bawa mobil sendiri kok. Terima kasih ya untuk makan malamnya."


"Sama- sama Aira, kapan- kapan kita ketemu lagi ya. Oh ya kalau ada waktu aku akan mampir ke toko kue mu."


"Siap, aku tunggu kedatangan mu, Ele."


Ellen dan Aira pun segera menuju ke tempat parkir dan langsung beranjak meninggalkan restoran.


***


Karena restoran ke rumah Keno tidak terlalu jauh, Aira pun telah sampai di rumah Keno. Segera ia memakirkan mobil yang dipinjamkan Keno tadi.


"Sudah jam berapa ini." tanya Keno yang sedari tadi duduk di halaman depan menunggu Aira pulang.


"Jam sembilan."


"Ah kau ini menyebalkan."


Aira terkekeh melihat Keno merajuk, "Kenapa kau merajuk? Ayo ke dalam, tidak baik terkena angin malam."


Keno pun mengikuti Aira masuk, "Kenapa kau lama sekali, hampir tiga jam aku menunggu?"


"Kau menungguku anak manis?"


"Tentu saja, sebenarnya kau bertemu dengan siapa tadi?"


"Bertemu dengan teman yang ku temui tadi siang." Keno pun mengangahkan mulutnya.


Aira menuju ke dapur untuk mengambil minum. Namun ia terkejut saat melihat makan malam yang ada di meja belum tersentuh. Ia pun bertanya kepada bi Ijah.


"Apa Keno belum makan malam, Bi? Kenapa makanannya masih utuh?"


"Belum nak Aira, katanya dia menunggu nak Aira."


"Huh anak itu manja sekali."


"Iya nak, tapi cuma manja sama nak Aira kok yang lain engga." goda Bi Ijah membuat Aira terkekeh.


Mendengar jika Keno belum makan malam, Aira pun segera mengambilkan Keno makanan dan hendak menyuruhnya untuk makan. Ia pun berlalu meninggalkan dapur dan menghampiri Keno yang kala itu sedang berada di ruang kerjanya. Ia menyelenong masuk tanpa mengetuknya.


"Kenapa kau melewatkan makan malam mu? Bagaimana kalau kau nanti sakit? Siapa yang susah! "


"Bukannya melewatkan makan malam, aku akan makan setelah pekerjaan ini selesai. Aku juga belum terlalu lapar karena banyak makan kue tadi."


"Alasan saja ! Bukannya kau tidak makan karena menunggu ku?" ledek Aira.


"Tidak mana mungkin seperti itu, siapa yang bilang."


Aira pun mengajak Keno duduk di sofa dan menyuruhnya untuk makan. Ia pun tak segan- segan memarahi Keno saat tak kunjung memakannya.


"Kau tidurlah sana, aku akan melanjutkan pekerjaan ku."


"Aku akan menemani mu. Seraya melanjutkan membaca novel."


Mereka pun berkutat dengan kegiatannya masing- masing dan tetap berada dalam ruangan yang sama.


"Ken?"


"Hmmm." Keno tak menoleh sedikit pun ke arah Aira.


Aira kembali membolak- balikkan novelnya lagi dan tetap berselonjor di sofa. Sesekali melirik Keno yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.


"Ken?"


"Apa? Kalau mengantuk tidurlah dulu."


Aira lagi- lagi tak menjawab ketika Keno menyautinya. Tangannya kembali membolak- balikkan novelnya. Ia sudah menguap berulang kali akan kantuk yang menyerangnya. Karena kelelahan menunggu Keno selesai dengan pekerjaannya, Aira tak sadar bahwa ia kini tengah tertidur dengan posisi duduk bersandar seraya berselonjor dengan buku yang masih ia dekap.


Keno pun tersenyum melihatnya segera ia membereskan semua pekerjaan dan menghampiri Aira.


"Sudah dibilang tak perlu menunggu ku, bandel ya kamu." ucap Keno tersenyum- senyum seraya mencubit pipi Aira.


Keno segera menggendong Aira ala bridal style membawanya ke kamar. Ia duduk sebentar di tepi ranjang Aira mengamati raut wajah yang selama ini membuatnya bahagia dan merasa nyaman.


"Aku mencintaimu, tetaplah bersamaku." batin Keno.


Keno menyelimuti Aira dan beranjak dari kamar itu. Ia kembali ke kamarnya sendiri, merebahkan tubuhnya namun matanya tak kunjung menutup juga. Menyalakan musik dari ponselnya berharap kantuk segera menyerangnya.


Namun ia masih memandang langit- langit kamarnya memikirkan sesuatu. Ia memikirkan alasan kenapa mantan kekasihnya kembali ke Indonesia. Apa dia akan kembali dengan Keno? Apa dia akan meninggalkan karirnya dan memilih Keno?


Keno pun berfikiran bagaimana kalau itu semua terjadi, apa yang harus dilakukannya. Lalu ia teringat kembali akan sebuah pengkhianatan. Mantannya telah mengkhianatinya, dia bahkan sudah tak mau bertemu dengannya, dia lebih memilih lelaki lain dan sebuah karir daripada Keno.


Terlalu lelah memikirkan semua itu akhirnya mata Keno pun terpejam dengan suara musik yang masih berputar dari ponselnya.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca :)


Kalau kalian suka dengan ceritanya jangan lupa like, komen dan vote juga sebanyak- banyaknya ya hehe :v :v :v

__ADS_1


__ADS_2