
"Apa kita akan benar- benar menikah?" tanya Aira.
"Tentu saja, beritahu Papa dan Mama kalau keluargaku malam ini akan datang untuk melamar," jawab Keno seraya mencium punggung tangan Aira.
"Secepat itu?"
"Aku takut kalau tak segera mengikatmu, kau akan pergi dariku."
"Tapi..."
"Tak ada tapi- tapian, ayo kita pulang." Keno pun menggandeng tangan Aira keluar dari rumah sakit. Mereka sudah di jemput Mang Dadang.
Di dalam mobil, Keno tak henti- hentinya menciumi tangan Aira dan memeluk wanita itu. Hatinya sangat senang karena sebentar lagi akan memiliki Aira sepenuhnya.
"Ehem, yang sebentar lagi mau nikah, ciye..." goda Mang Dadang memecah keheningan di dalam mobil.
"Mang Dadang pengen? Nikah lagi aja kalau pengen," balas Keno.
"Bisa dipenggal sama istri saya nanti , Tuan."
Aira dan Keno pun tertawa mendengarnya, apalagi melihat ekspresi ketakutan Mang Dadang.
***
Malam pun tiba, Aira tengah bersiap di kamarnya. Jantungnya berdebar tak karuan, senyum tak henti- hentinya tersungging dari bibirnya.
"Cantik sekali, Mama tidak menyangka kalau anak Mama ini sudah besar dan mau menikah," ujar Mira membelai pipi anaknya.
"Iya, Mah. Aku juga tidak menyangka kalau aku dan Keno dipersatukan kembali setelah berbagai permasalahan yang ada."
"Kalau jodoh itu memang tidak akan kemana, semoga hubungan kalian terus berjalan hingga maut yang memisahkan. Mama selalu mendo'akan semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan," do'a Mira seraya mencium kening anaknya.
"Tapi, Mah. Aira masih merasa bersalah dengan Kak Alfa, dia mencintaiku," ucap Aira sendu.
"Sebesar apapun cintanya kalau tidak berjodoh mau bagaimana lagi? Mama yakin Alfa akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari kamu, sayang."
Aira mengangguk lemah, "Semoga, ya Mah..."
***
Di sisi lain, Keno dan keluarganya sudah berangkat menuju rumah Aira. Semuanya tampak senang, akhirnya pewaris tunggal Sanjaya Group itu akan segera menikah.
Mereka menuju ke rumah Aira dengan 3 mobil, satu mobil khusus untuk keluarga, dan dua mobil lainnya untuk para maids dan barang bawaan.
"Kau kenapa? Masuk angin?" tanya Nenek Ratih saat memegang tangan Keno yang pucat dan dingin.
"Ti- tidak," jawab Keno gugup.
__ADS_1
"Sepertinya kau memang sakit, sayang. Kalau begitu ayo kembali ke rumah, kau harus istirahat. Lamarannya dibatalkan saja," goda Bram.
"Pah..." rengek Keno.
"Mah, tolong beri tahu Aira kalau calon suaminya ini sakit. Lamarannya ditunda dulu,"
"Baiklah, pah..." Maria pun merogoh tasnya mengambil ponsel.
"Mamah, jangan dong. Keno tidak sakit, Keno hanya gugup saja. Pokoknya tidak boleh dibatalkan, nanti keburu Aira diambil pria lain," ucap Keno merengek layaknya anak kecil.
"Lagian kamu ini kenapa harus gugup sih? Hanya lamaran saja gugupnya seperti ini, apalagi nanti kalau di pelaminan," ledek Bram.
"Jangan meledek cucuku, kau saja dulu juga begitu saat mau melamar Maria," timpal Nenek Ratih.
"Mah, jangan dibahas dong. Kan jadi malu akunya," ucap Bram, wajahnya langsung merah seketika.
"Hylyh, dirinya sendiri aja juga gitu pakai ngatain anaknya segala. Pasti papa lebih gugup dari aku, haha," sindir Keno.
"Sudah, diamlah atau papa akan benar- benar membatalkan lamaranmu biar kau jadi perjaka tua," balas Bram dengan senyum kemenangan.
Mobil yang mereka tumpangi pun telah memasuki halaman rumah Pak Andi. Keno semakin gugup dibuatnya, keringat dingin terus bercucuran di keningnya. Ia terus mengambil nafas, mencoba menghilangkan kegugupannya.
Mereka disambut para pelayan rumah itu dengan hangat dan langsung disuruh masuk ke dalam. Para maids yang mengikuti keluarga Sanjaya itu pun juga ikut masuk ke dalam, tak lupa dengan buah tangan yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Aira dan keluarganya pun segera menemui keluarga Keno. Dua keluarga itu belum pernah bertemu sebelumnya.
"Bram..." lirih Bu Mira saat melihat Papa Keno itu. Ia menutup mulutnya tak percaya, air matanya pun menetes seketika.
"Jadi, kau Mamanya Aira?"
Bu Mira mengangguk, "Aku tidak menyangka kalau anak- anak kita berjodoh," ucap Mira tersenyum tipis.
"Tidak, aku tidak akan menyetujuinya. Kita batalkan saja lamaran ini, biarkan anak kita mencari jodoh yang lain !" seru Bram.
"Bram, jangan egois. Jangan membatalkannya hanya karena kebencianmu denganku," cegah Mira.
Semua yang ada di ruangan itu pun terdiam tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Pah, ada apa ini? Kenapa Papa tiba- tiba membatalkan lamaran ini?" tanya Keno panik.
"Ayo pulang !"
"Bram, Bram...Jangan batalkan lamaran ini, biarkan mereka melangsungkan pernikahan. Mereka saling mencintai, apa kau tega memisahkan orang yang saling mencintai?" Mira terus mencegah Bram supaya tidak pergi dari rumah itu.
"Tega kau bilang? Bukankah kita dulu juga begitu?"
"Kau boleh menbenciku, tapi jangan pisahkan mereka. Mereka berhak bahagia, Bram," ucap Mira dengan isakan tangis.
__ADS_1
Flash Back On
Mira dan Bram adalah sepasang kekasih, mereka telah menjalin hubungan yang cukup lama. Namun, suatu masa mereka harus mengakhiri hubungan yang telah terjalin itu.
"Bram, aku sudah menikah," lirih Mira.
"Menikah? Jangan bercanda, bukankah kau tahu kalau aku tidak suka bercanda," ucap Bram seraya mengusap lembut tangan Mira.
Bram terdiam, ia kaget melihat di jari tangan Mira tersemat cincin pernikahan. Hatinya sakit, bagaikan ada pisau tajam yang menusuknya. Mira telah berkhianat ! Mira telah mengkhianati cinta mereka.
"Aku dijodohkan, Bram. Aku tidak bisa menolaknya, pernikahan berlangsung begitu saja. Aku tidak bisa menghindar waktu itu, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, Bram. Aku akan segera meminta pisah darinya."
"Kau sudah mengkhianatiku ! Bohong jika kau dijodohkan, pernikahanmu pasti sudah terencana sejak lama. Dan kau pasti juga mencintainya, kan?!"
"Bram, tapi aku benar- benar dijodohkan. Sepulangnya aku dari kota, rumahku sudah ramai dengan tamu undangan. Aku langsung dirias dan menikah dengannya. Sebelumnya aku tidak mengenal lelaki itu, aku benar- benar tak bisa menghindar," tutur Mira.
"Alasan yang tidak masuk akal ! Persetan dengan semuanya ! Aku sangat membencimu."
"Bram, tolong percayalah. Aku tidak bermaksud mengkhianati cinta kita, aku memang benar- benar dijodohkan,"
"Pengkhianat, pergilah ! Jangan pernah menemuiku lagi. Aku menyesal telah mencintaimu."
Bram bergitu kecewa dengan Mira, ia lalu meninggalkan taman yang menjadi tempat favorite mereka saat berpacaran itu. Ia sangat sakit saat mendengar cintanya telah menikah dengan lelaki lain. Perjuangannya selama ini sia- sia, harus kandas begitu saja.
"Bram, percayalah padaku. Aku itu dijodohkan, aku menikah bukan karena cinta, Bram, hiks hiks hiks..." Mira menangis menatap punggung Bram yang semakin lama menghilang. Ia tidak mengkhianati lelaki itu.
"Bram, aku mencintaimu. Maaf jika melukai hatimu..."
Flash Back Off
Dan sampai sekarang, lelaki itu masih merasa kalau Mira telah mengkhianatinya. Ia sangat membenci dan tak akan bisa memaafkannya.
"Ayo kita pulang !"
"Keno akan pulang jika semuanya sudah selesai, Pah. Papa jangan seenaknya saja membatalkan lamaran ini, pokoknya Keno harus menikah dengan Aira, Pah."
"Bram, lupakanlah masa lalu kalian. Kalian harus memikirkan kebahagiaan anak kalian," seru Nenek Ratih menasihati Bram. Hanya dia yang tahu kenapa anaknya itu tiba- tiba membatalkan lamarannya.
"Iya, Pak. Kenapa Anda tiba- tiba membatalkannya? Apa Anda memiliki masa lalu yang buruk dengan istri saya? Kalaupun iya, tolong lupakan masa lalu kalian, biarkan anak- anak kita bahagia," tutur Andi.
Bram semakin emosi mendengar ucapan Andi, rasanya ia ingin membunuh lelaki itu. Lelaki yang menjadi perusak hubungannya dengan Mira.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa votenyaaaaaa
Satu part lagi sore nanti, tapi kalau likenya tembus 150anðŸ¤ðŸ¤—ditunggu ya guys