
"APAAA!" Keno kaget mendengarnya, ia terdiam. Istrinya akan mengurus surat cerai mereka. Aira ingin meninggalkan dirinya, istrinya tidak bisa memaafkan dirinya lagi. Ini tidak boleh terjadi!
"Hiks, jangan ke sana. Ku mohon jangan pergi hiks...hiks...hikss...." Keno tersedu- sedu dan merengek memegang lengan Aira.
"Jangan ceraikan aku, jangan..."
"Aku tidak mau kita pisah, huu...huuu...huuu..." Tangis Keno semakin pecah memenuhi ruangan itu.
"Aku tidak mau jadi duda, hiks." Keno semakin meronta- ronta dan menggila.
Sedangkan Aira, ia hanya menggelengkan kepalanya seraya melipat tangannya di dada. Keno terus saja bergelayut di kakinya. Ia benar- benar tak habis pikir dengan lelaki itu.
Nani yang melihatnya pun sebisa mungkin menahan tawanya, ia tidak menyangka kalau seorang Presdir Sanjaya Group yang terkenal penuh wibawa dan tegas, kini menangis meronta- ronta takut diceraikan sang istri. Ohh my god, Nani sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa terpingkal- pingkal sembari memegang perutnya, suami bosnya itu semakin menggila.
"Anak manisku, bangunlah. Jangan gelesotan di lantai seperti itu. Bajumu nanti kotor loh..." Aira menarik tangan Keno dan membantunya berdiri. Keno masih saja sesegukan dan ingusnya semakin banyak.
"Ja- jangan ceraikan aku. A- aku tidak mau jadi duda," ucap Keno sesegukan seraya mengusap air matanya. Keno melebihi anak kecil saat menangis.
"Memangnya siapa yang akan bercerai denganmu. Kau pikir aku mau gitu jadi janda beranak satu? Ish, ada- ada saja kau itu," ucap Aira kesal.
"Lalu, kenapa tadi kau mengatakan kalau mau mengurus surat cerai?" tanya Keno masih sesegukan.
"Ya memang mau ngurus surat cerai," jawab Aira, ia pun tertawa lepas begitu juga dengan Nina.
"Hiks, kau itu menyebalkan sekali. Sebenarnya kau mau ngapain ke pengadilan agama?"
"Tuh nganterin Nina ngurus perceraiannya. Dia tidak berani jika sendiri dan memintaku menemaninya!" ucap Aira terkikik geli.
"Benarkah? Kau tidak membohongiku lagi, kan?" Keno bergelayut manja di lengan istrinya, sembari mengusapkan hidungnya yang ingusan di baju Aira.
"Hey, kenapa bersihin pakai baju aku sih! Ih jorok banget." Aira bergidik ngeri melihat lengan bajunya yang sudah kotor karena ingus Keno.
"Salah sendiri bikin aku nangis, ambil tuh ingus." Aira kesal dengan Keno, harusnya ia tadi tidak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada anak menyebalkan itu. Biarkan suaminya itu terus menangis dan menggila.
"Mbak Aira, ayo berangkat sekarang. Nanti keburu tutup pengadilannya nggak jadi cerai deh sama Pak Presdir," seru Nani menggoda Keno.
Keno kembali menangis mendengarnya, ia memeluk tubuh Aira seerat mungkin dan tak akan melepaskannya.
"Ikut..."
Aira menghela nafasnya, suaminya itu benar- benar seperti anak kecil. Ia jadi ingin mengerjainya habis- habisan.
"Kau memang harus ikut, ayo kita ke pengadilan. Kau nanti 'kan harus menandatanganinya," goda Aira.
"Tidak jadi! Ayo kita pulang saja." Keno langsung menarik tangan Aira dan mengajaknya keluar.
"Berangkatlah sendiri, jangan mengajak istriku! Ingat ya, aku akan memberikanmu pelajaran. Berani- beraninya kau menertawakanku dari tadi!" seru Keno kepada Nani sebelum ia keluar dari ruangan Aira.
"Nani, maafkan aku !!! Kau berangkatlah sendiri ya..." teriak Aira.
"Iya mbaaaaakkkk!"
__ADS_1
***
"Kita mau kemana?" tanya Aira ketika sudah masuk ke dalam mobil Keno.
"Pulang, memangnya kau mau kemana? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi dulu?"
"Tadi 'kan aku sudah bilang kalau aku akan pergi ke pengadilan agama du-" ucapan Aira terputus karena Keno langsung membungkam mulutnya dengan ciuman.
"Jangan mengatakan hal seperti itu lagi, aku tidak suka," ucap Keno tegas.
Suasana kembali hening, tak ada satu kata terlontar dari mulut mereka. Keno fokus dengan mobilnya, sedangkan Aira hanya menatap ke arah jalan.
"Kau yakin tidak ingin pergi ke suatu tempat dulu?"
"Aku mau ke pantai."
"Tapi ini masih siang, bagaimana kalau nanti sore saja?"
Aira sebenarnya tidak ingin menunggu lama, tapi perkataan Keno ada benarnya juga, cuacanya sangat panas dan ia tak akan bertemu dengan senja jika pergi siang itu juga. Aira pun menurut dengan suaminya.
***
Mereka telah memasuki halaman rumah Keno. Kejadian sebulan lalu kembali terngiang di kepala Aira, wanita itu sedikit takut untuk memasuki rumahnya.
Keno yang melihat istrinya terdiam mematung pun langsung menggendongnya masuk.
"Heyy, turunkan aku, turunkaaannn..." teriak Aira sembari memukuli dada Keno. Tapi lelaki itu malah senang melihat istrinya memberontak.
"Ya sejak kita menginap di rumah Papa. Bi Ijah dan Mang Dadang 'kan ikut ke sana, jadi ya tak ada yang membereskan rumah," jawab Keno seraya menurunkan istrinya.
Aira menghela nafas kasar, harusnya ia datang langsung istirahat tetapi malah membersihkan rumahnya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Keno ketika Aira hendak mengambil vacum cleaner.
"Tentu saja membersihkan sarang burung ini, eh maksudku rumah."
"Tidak boleh, kau itu sedang hamil tidak boleh kelelahan. Duduklah, kita tunggu Bi Ijah saja. Kau harus menjaga baby."
"Kenapa kau perhatian? Bukankah ini bukan anakmu?" goda Aira sembari mengusap perutnya.
"Ini milikku, hanya milikku dan aku yang membuatnya," tukas Keno.
Aira menyipitkan matanya menatap Keno, ia mengulang perkataan suaminya waktu itu.
"Sepertinya anak di kandunganmu itu benar- benar milik Alfa, soalnya tadi aku melihat dia sangat antusias dan bahagia menatap layar USG !"
Keno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lelaki itu bingung harus berkata apa lagi dengan istrinya.
"Duduklah yang manis, aku akan membersihkan rumah ini." Keno menuntun istrinya duduk di sofa, sedangkan dirinya langsung melipat lengan kemejanya dan membersihkan rumah itu.
Aira terenyuh melihat suaminya, Keno benar- benar membersihkan rumahnya. Padahal seumur hidupnya, Keno tak pernah berurusan dengan vacum cleaner, pel, sapu, dan yang lainnya. Tapi kali ini beda, Presdir sanjaya grup mau beberes dan bersih- bersih rumah.
__ADS_1
"Eh ada ikan baru ternyata," celetuk Aira menghampiri aquarium besar yang berisi ikan- ikan koleksi Nino.
"Iya, aku baru membelinya kemarin. Cantik 'kan ikannya?"
"Iya, aku jadi ingin memakannya. Bolehkah aku menangkap dan membakar ikan itu?" tanya Aira dengan nada berharap.
Keni tersentak, bagaimana tidak, Aira menginginkan ikan Arwana Super Platinum yang baru saja ia beli dengan harga mencapai lima milyar.
"Apa kau sedang ngidam?" tanya Keno dan Aira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah baby, hanya ikan lima milyar saja tak apa. Besok jangan ngidam yang aneh- aneh lagi ya," batin Keno terisak pilu.
"Ayo kita menangkapnya." Keno segera mengambil jaring untuk menangkap ikan.
Dengan susah payah ia mencoba menangkap ikan arwana itu, keringat bercucuran dikeningnya. Dan akhirnya ia pun mendapatkan ikan itu.
"Yeyyy," pekik Aira senang.
"Kau suka, sayang?" tanya Keno sedih, ikan arwananya akan segera masuk ke dalam perut.
"Ehm, ternyata kecil sekali ya. Aku tidak mau, kembalikan saja ke aquarium lagi," ucap Aira dan ibu hamil itu langsung pergi meninggalkan Keno.
Keno tersentak, ia terdiam menatap punggung istrinya yang semakin lama menghilang. Beberapa saat kemudian, ia pun tersadar dan langsung memasukkan ikan ke dalam aquarium lagi.
"Hey ikan, tetaplah hidup. Ayo bangun, aku baru membelimu kemarin. Jangan tinggalkan aku..." Keno semakin menggila saat melihat ikan Arwananya lemas tak berdaya.
***
Usai mandi, Keno menghampiri istrinya yang tengah berbaring di ranjangnya. Ia pun langsung menyodorkan handuk kecil kepada Aira dan duduk di depan wanita itu.
"Tolong keringkan rambutku, sayang," ucap Keno.
"Manja!"
"Biarin, sama istri sendiri 'kan wajar. Kalau sama istri tetangga bisa- bisa aku digorok."
"Awas saja kalau berani macam- macam, akan aku putus adik kecilmu itu." Aira mengeringkan rambut Keno dengan kasar, membuat lelaki itu merasa pusing.
"Sudah- sudah, jangan dilanjutkan sayang. Bisa- bisa kepalaku copot."
Keno langsung berbalik dan memeluk istrinya dari samping. Mengecupi leher jenjang istrinya hingga wanita itu menggeliat karena risih.
"Kau sudah tak marah lagi 'kan denganku? Sudah satu bulan kau mengacuhkan dan mendiamkan aku, banyak sekali pelajaran yang dapat aku ambil. Aku juga sedikit berubah. Aku tidak akan menyia- nyiakan orang yang berharga dalam hidupku, aku tidak akan menyakitimu lagi," tutur Keno.
"Sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian itu. Maaf telah melukaimu berkali- kali. Aku benar- benar lelaki bodoh," tambah Keno.
"Sudahlah, jangan diungkit lagi. Biarlah semua berlalu, pergi, dan tak kembali. Jadikan itu sebagai pengalaman pahit kita. Dan jangan sampai terulang lagi," seru Aira seraya mengusap kepala Keno.
"Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua," Keno mengecup Aira dan juga perut buncit wanita itu.
"Kami juga mencintai dan menyayangimu, Papa Keno..."
__ADS_1