
Ceklek. Pintu kamar Aira terbuka.
Aira yang kaget segera melempar bantal ke orang yang membuka pintunya tanpa mengetahui siapa itu.
"Awwww..."
"Ken, kenapa engga ketok dulu sih bikin kaget," ucap Aira ketika Keno membuka kamarnya.
"Suka- suka dong, rumahku sendiri, engga ada yang larang," jawab Keno tak merasa bersalah sedikit pun.
Keno langsung menuju sofa depan Tv dan meletakkan cemilan di atas meja dan memakannya.
"Mau ngapain sih ke sini."
"Nonton tv juga, engga liat apa."
"Emang tv di kamar kamu kenapa"
"Engga kenapa- kenapa."
"Udah sana ke kamar kamu atau engga ke bawah aja," ucap Aira mendorong tubuh Keno agar keluar dari kamarnya.
"Engga, mau di sini aja," jawab Keno yang tetap memakan cemilan yang dibawanya tadi.
"Huh dasar!" Aira mencubit pinggang Keno.
"Sakit."
"Mau lagi?"
"Udah nih, makan tuh keripik singkong." Keno menyuapkan keripik singkong ke mulut Aira dengan porsi yang banyak hingga Aira kesulitan untuk mengunyah.
"Uhuk uhuk."
"Kenooooo!" teriak Aira memukul lengan Keno.
"Apa sih."
"Apasih apasih, engga liat apa. Aku hampir mati tau nggak!" kesal Aira.
"Udah ya, duduk manis. Aku mau nonton tv, pusing aku. Butuh hiburan."
Aira pun menurut dan duduk manis di sebelah Keno.
"Kek gitu di tonton, sini remotnya."
"Don't disturb me, please," ucap Keno melototi Aira.
Aira dan Keno menonton tv hingga jam sembilan malam dan akhirnya Aira tertidur dan bersandar di bahu Keno.
"Lah malah tidur."
Cup. Keno mencium kening Aira. Ia pun berselfi dan memperlihatkan Aira yang sedang tertidur bersandar di bahunya.
Ia mengirimkan foto itu ke asistennya. Ya, mereka saling beradu kemesraan akhir- akhir ini. Siapa sangka dibalik keseriusan mereka berdua ketika bekerja tapi mereka juga sering bercanda bahkan terkadang sampai melebihi batas.
"Cihh, hanya begitu saja, aku bahkan habis mantap- mantap dengan Niken. Liat dedek bayi, haha," balas Frido ketika dikirimi foto oleh Keno.
"Ya ya, tunggu saja kalau kita udah nikah pasti bakalan ngalahin kamu wkwk."
"Kita lihat saja nanti siapa yang lebih okay," tantang Frido.
__ADS_1
***
Matahari mulai menampakkan dirinya, Aira mulai mengerjap- ngerjapkan matanya. Betapa terkejutnya ia yang sedang duduk memeluk Keno dan Keno pun sebaliknya, ia juga tertidur memeluk Aira dengan Tv yang masih menyala dari semalam.
Aira tersenyum- senyum sendiri melihatnya berpelukan dengan Keno. Ia segera bangun dengan perlahan supaya tidak membangunkan Keno yang sedang nyenyak tapi Keno malah terbangun ketika Aira melepas pelukannya.
"Jam berapa ini," tanya Keno dengan suara serak khas bangun tidur dan meregangkan tubuhnya.
"Jam 6," jawab Aira.
"Lah malah tidur lagi," gumam Aira ketika Keno malah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ken, bangun udah siang. Kamu engga ke kantor?" tanya Aira namun tidak ada balasan.
Tring tring tringggg
"Ken, ada telfon cepet bangun." Keno segera bangun ketika mendengar telfon.
"... "
"Apa?"
"...."
"Oke, aku segera ke kantor sekarang. Kau juga cepatlah ke sana," panik Keno.
"Ra, tolong siapin baju ku. Aku akan ke kantor sekarang," ucap Keno terburu- buru.
"Ken, ken. Ada apa sebenarnya?" tanya Aira.
"Ken, minumlah susunya dulu. Kamu belum sarapan juga."
Keno segera melajukan mobilnya ke kantor sendiri, ia terlihat cemas setelah mendapat telfon tadi.
"Ada apa sih sebenarnya. Bikin khawatir aja," gumam Aira.
***
Setibanya di kantor, Keno segera menuju ke ruangannya. Ia berjalan dengan penuh amarah hingga membuat karyawan yang sudah datang menunduk ketakutan.
Setibanya di ruangan, Ia membuka jas nya dan duduk dengan penuh emosi.
"Apa kau sudah menyelidikinya?"
"Sedang dalam penyelidikan, Tuan," jawab Frido.
"Kumpulkan direktur keuangan sekarang !" perintah Keno dengan penuh amarah.
Tak lama kemudian, Frido kembali ke ruangan Keno diikuti oleh direktur keuangan yang diminta Keno. Direktur keuangan tersebut tampak pucat dan tubuhnya gemetaran ketika ditatap Keno.
Brakkkkkk !
Keno melempar dokumen pada direktur keuangan tersebut. Direktur keuangan itu langsung tergulai lemas di lantai.
"Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar, bagaimana bisa ada anak buahmu yang melakukan penggelapan dana perusahaan !" teriak Keno.
"Atau jangan- jangan kau sendiri yang telah melakukan penggelapan dana perusahaan ku?" tambah Keno.
"Ti- tidak, Tuan. Saya tidak melakukannya."
"Lalu siapa yang melakukannya ! Selidiki semuanya, aku berikan waktu hari ini juga."
__ADS_1
"Ma- maaf, Tuan. Saya mencurigai anak baru yang baru masuk minggu kemarin. Sebelumnya belum pernah ada kasus seperti ini."
"Siapa anak baru itu?" tanya Frido.
"Namanya Viko pak."
"Selidiki dulu, berikan bukti yang kuat setelah itu bawa ke hadapanku !" pinta Keno.
Rahang Keno mengeras, ia mengamuk di ruangannya. Semua berantakan, meja kacanya juga pecah karena pukulannya. Ia tampak kacau ketika mengetahui ada korupsi di perusahaannya, yang ia pikirkan hanya Papanya. Papanya pasti akan menghukum Keno.
"Arggghhhh !" Keno terus mengamuk.
Frido sudah mengetahui sifat Keno yang seperti ini hanya bisa terdiam. Keno yang marah memang melebihi singa ketika mengamuk mangsanya. Lalu ia kepikiran dengan Aira. Frido segera keluar dari ruangan Presdir dan segera menelfon Aira berharap bisa meredakan amarah Keno yang sudah berada di level dewa.
"Halo, kau kenapa menelfonku? Mau berantem? Ayok katakan dimana tempatnya, aku akan ke sana sekarang," ucap Aira kesal ketika mendapat telfon dari asisten brengsek.
"Hei, kau ini nyerocos terus, biarkan aku bicara dulu."
"Baiklah bicaralah, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu."
"Cihh, sombong." gerutu Frido.
"Kau cepatlah ke Sanjaya Group sekarang juga."
"Ada apa? Kau ingin berantem di sana?"
"Keno sedang kacau, dia mengamuk. Kau cepatlah datang, tidak ada yang bisa meredakan amarahnya. Mungkin kau bisa."
"Sebenarnya apa yang ter-" ucap Aira terpotong karena telfon sudah dimatikan.
"Dasar menyebalkan, main mematikan telfon saja. Tapi, apa terjadi sesuatu dengan Keno? Cih, mungkin Frido hanya mengerjai aku saja," lirih Aira.
"Tapi, kalau benar- benar sesuatu terjadi pada Keno bagaimana? Ah, sebaiknya aku segera ke sana." Aira segera mencari taksi ke Sanjaya Group.
"Ken, kenapa kamu sampai mengamuk sih," gusar Aira, ia sangat khawatir dengan Keno.
Taksi yang Aira tumpangi akhirnya sampai di Sanjaya Group, ia langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan Keno.
"Mbak, Pak Keno apakah sedang ada di ruangannya?"
"Apa mbak sudah buat janji?"
"Belum mbak, tolong tanyakan dulu pada asistennya saja mba." Resepsionis tersebut segera menelfon Frido.
"Mbak, kata pak asisten mbak diminta ke ruangannya langsung, sudah ditunggu."
"Baik mbak, terimakasih." Dengan cepat, Aira segera menuju lift ke ruangan presdir.
"Mbak !" teriak Adel, Sekertaris Keno.
"Ada apa, mbak?" tanya Aira.
"Jangan masuk dulu, pak Presdir sedang dalam marah besar. Lagian mbaknya ini siapa main mau masuk aja." ucap Adel sinis.
"Tapi saya tadi disuruh ke sini, mbak."
"Mana mungkin presdir menyuruhmu," ucap Adel merasa tidak suka dengan Aira. Ia memandangi Aira dari ujung kepala hingga kaki.
Kurang ajar, huh.batin Aira.
Aira sedang tidak ingin berdebat, ia tetap berdiri di depan pintu ruangan itu dan memberitahu Frido bahwa dirinya sudah sampai.
__ADS_1