Hello Presdir

Hello Presdir
Rainbow Cake


__ADS_3

Cuaca begitu terik, sepertinya nongkrong di toko kue yang menjelma menjadi Cafe milik Mamanya akan menyenangkan. Lelaki berpostur tinggi, gagah, serta tampan dan tengah memakai seragam putih biru itu berjalan memasuki toko sang Mama. Ya, siapa lagi jika bukan Aksa. Kini, anak itu telah menginjak usia remaja yang sedang duduk di bangku sekolah menengah pertama.


"Halo, Cantik!" seru Aksa layaknya seorang playboy sesungguhnya. Ia tengah berdiri menatap wanita yang bertugas di kasir.


Wanita itu pun memutar matanya jengah, ia sudah terbiasa dengan Aksa yang selalu menggodanya. "Ada apa Tuan Aksa yang sangat tampan tapi jiwa playboynya level dewa?"


"Seperti biasanya, Mbak cantik. Rainbow cake dan cocholate float, di meja yang sama juga hehe..." jawab Aksa sembari menunjukkan deretan giginya yang rapi. Ia lalu duduk di meja yang berada di sudut toko. Meletakkan ransel warna hitam miliknya, melepas dasinya, dan membuka dua kancing kemejanya supaya lebih nyaman.


Tangannya pun terulur untuk memainkan ponsel miliknya. Membuka gamenya dan mulai bermain dengan kaki yang bersila.


"Ini Tuan Aksa, pesanan Anda!" ucap penjaga kasir. Kenapa bukan karyawan lain yang memberikannya? Karena Aksa tak suka, dia hanya ingin mbak- mbak penjaga kasir yang melayaninya. Wanita itu sangat klop dengan Aksa.


"Makasih, Mbak. Oh ya, Mama dimana?"


"Tadi keluar sebentar, katanya mau pacaran sama pak presdir."


"Kemana?"


"Ke Mars!" jawab penjaga kasir itu kemudian pergi meninggalkan Aksa karena sudah banyak pelanggan yang ingin membayar.


Aksa pun acuh dan kembali memainkan gamenya. Sesekali menyantap satu slice rainbow cake dan menyeruput chocolate floatnya. Ia terhenti ketika tak sengaja melihat mobil Papanya terparkir di halaman toko. Ia segera beranjak dan menghampirinya.


"Asyik ya, pacaran terus!" celetuk Aksa sembari meletakkan tangannya di dada memandang Papa dan Mamanya.


"Loh, kamu sudah pulang?" tanya Keno.

__ADS_1


"Kalau belum pulang kenapa Aksa ada di sini? Please deh, presdir kok tol*l banget sih."


Keno langsung mendekati anaknya dan menyentil kening Aksa. "Awas saja kalau kamu berani mengataiku tol*l lagi! Aku tuh pintar!"


"Bu presiden! Lihat keningku, pasti merah ya? Rasanya anjim banget kaya jadi iron man!" ucap Aksa yang berhambur memeluk Aira.


"Manja sekali kamu itu." Aira sangat gemas dengan anaknya. Anak itu selalu manja jika bersama dirinya.


"Suamimu sangatlah nakal. Untung saja aku tak melaporkannya kepada Kak Seto."


"Sudah- sudah, ayo masuklah. Kamu pasti lelah, kan?"


"Sebentar, Mah." Aksa melepas pelukannya, ia lalu menghampiri Keno dan menatapnya lekat.


"Ada apa?" tanya Keno sinis.


Aira hanya bisa terbahak- bahak melihat dua lelaki yang sangat ia sayang dan cinta itu. Mereka setiap hari memang begitu. Rumah selalu terasa ramai meskipun hanya ada mereka.


"Sudah sayang, kamu harus kembali ke kantor lagi, kan?" Aira mengusap dada Keno supaya tak marah dan membalas kelakuan anaknya. Ia mengecup pipi Keno sebelum lelaki itu kembali ke kantor.


Aira masuk ke tokonya setelah mobil Keno jauh dari pandangannya. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya melihat anaknya yang bermain game dengan kaki diletakkan di atas meja.


"Aksa! Turunkan kakimu atau Mama sita ponselmu?" ancam Aira sembari berkacak pinggang.


"Iya, Mah..." Aksa pun menurut, ia menurunkan kakinya dan duduk manis.

__ADS_1


Aira membiarkan anaknya dan ia kembali ke ruangannya. Masih banyak sekali pekerjaan yang harus diurus, apalagi tokonya itu sudah memiliki beberapa anak cabang yang terletak di berbagai daerah.


Ketika sore menyapa, pekerjaannya masih banyak yang belum terjamah. Ia pun terpaksa membawanya pulang, berharap bisa diselesaikan sebelum besok pagi. Ia pun segera turun ke bawah bersiap untuk pulang.


Ia mendapati anaknya yang tengah tertidur dengan berbantal ransel miliknya. Bajunya sudah terlepas, sekarang ia hanya memakai celana pendeknya dan kaos dalam saja.


"Aksa..." Aira mengusap kepala anaknya dan sesekali menepuk pipinya supaya bangun.


"Hm?"


"Ayo pulang, sudah sore."


Aksa pun berdiri tapi matanya masih terpejam. Ia memeluk Mamanya supaya tak jatuh. Kantuk masih menyerangnya. Aira pun berjalan dengan susah payah menuju mobilnya. Aksa yang menempel di tubuhnya membuat jalannya kesulitan.


Sudah setengah perjalanan tapi Aksa tak kunjung bangun juga. Ia malah semakin nyenyak tertidur. Aira pun menghentikan mobilnya secara mendadak hingga kepala Aksa terbentur ke depan. Ia sengaja melakukannya, supaya anaknya itu bangun.


"Mah..." rengek Aksa mengusap dahinya yang terbentur. Sedikit benjol dan merah, sepertinya benturannya sangatlah keras.


"Maafkan Mama ya, Mama sengaja melakukannya biar kamu bangun. Kamu sih, sore- sore kok tidur!" ucap Aira terkekeh.


Aksa terdiam melipat tangannya di dada, sedikit kesal dengan Mamanya. Ia jadi tidak mood lagi untuk tidur.


"Mah, Aksa sudah mau SMA. Kenapa Papa belum melatihku mengemudikan mobil?" tanya Aksa.


"Memang sudah mau SMA, tapi kan belum 17 tahun. Jadi, belum punya SIM dan tak boleh mengendarai mobil," jawab Aira.

__ADS_1


"Tapi, Mah...Aku bisa hati- hati saat berkendara. Mama tak perlu khawatir. Bilang sama Papa kalau Aksa mau latihan mengemudikan mobil ya, Mah..." rengek Aksa sembari mengatupkan kedua tangannya.


Aira hanya mendiamkannya saja, ia dan Keno sepakat untuk tak mengajarkan anaknya mengemudikan mobil jika belum sesuai peraturan. Itu akan sangat membahayakan, bahkan usia 17 tahun saja masih terlalu dini untuk mengemudikan mobil sendiri. Ya meskipun saat ini banyak sekali yang melanggarnya, tapi Keno dan Aira tak akan membiarkan anaknya.


__ADS_2