
Malam hari di kediaman Bramantyo Sanjaya, ayah Keno...
Mereka sedang berada di ruang makan untuk menyantap makan malam mereka. Pak Bram, Tante Maria, dan Nenek Ratih lebih tepatnya.
Mereka makan dalam diam, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu. Ini memang tradisi makan mereka, makan dalam diam. Keluarga terpandang ini sangatlah menjaga harkat dan martabat.
"Bram, apa masalah di kantor sudah selesai?" tanya Nenek Ratih ketika semua selesai makan.
"Sudah, Mah. Keno ternyata bisa menyelesaikannya, ia sudah menemukan orang yang menggelapkan dana perusahaan."
"Syukurlah, anak itu lebih dewasa dari sebelumnya."
"Hm, tapi koruptor itu belum dipenjarakan, masih dirawat di rumah sakit."
"Kenapa memangnya, Pah?" tanya Tante Maria.
"Kau seperti tidak tau saja bagaimana anakmu itu, selalu emosi, mengamuk, dan menghabisi orang yang sudah mengganggunya."
"Astaga anak itu," ucap Tante Maria menggelengkan kepalanya.
"Tadi aku ke kantornya, ingin memarahinya karena tak becus sehingga ada korupsi di perusahaan. Tapi tidak jadi."
"Kenapa memangnya?"
"Tadi ada perempuan di ruangan Keno, dia dipeluk erat olehnya. Kata Frido, amarah Keno mereda ketika ada perempuan itu."
"Perempuan? siapa? apa pacarnya?"
"Astaga aku lupa menanyakan namanya. Tapi perempuan itu sangat cantik, sepertinya dia juga baik," ucap Pak Bram menepuk jidatnya.
"Oh ya, kemarin aku ketemu Frido di mall. Katanya dia sedang mengantar Keno menonton film dengan perempuan."
"Jangan- jangan itu perempuan yang sama."
"Entahlah. Mama jadi semakin penasaran, kata Frido perempuan itu menginap di rumahnya Keno."
"Pasti perempuan tidak baik itu, kita jodohkan Keno dengan Aira saja. Sudah jelas kalau dia anak yang baik," sahut Nenek Ratih.
"Aku juga setuju kalau Keno dengan Aira, tapi mereka pasti akan menolak. Apalagi si Keno yang sudah bersama perempuan itu."
"Kita lihat dulu saja perempuan yang menginap di rumahnya, kalau dia memang perempuan yang baik apa salahnya merestui hubungan mereka," tutur Bram.
"Lebih baik weekend nanti kalian ke rumahnya Keno, pastikan siapa perempuan itu," usul Nenek Ratih.
"Iya, Mah."
***
"Lagi nyiapin bahan buat besok, Ra?" tanya Keno yang melihat Aira sibuk dengan laptopnya.
"Enggak."
"Terus ngapain."
"Engga ngapa- ngapain," jawab Aira tanpa menoleh ke arah Keno.
Keno kesal segera duduk di samping aira hendak mengintip. Namun Aira langsung menggeser laptopnya sehingga Keno tidak bisa melihatnya.
"Ck, kenapa digeser sih."
"La situ ngapain, kepo aja sih."
"Cuma pengen lihat aja ngga boleh, pelit."
"Biarin wlee."
Keno langsung merebut laptop Aira dan membawanya jauh dari Aira.
"Keno, balikin ngga," teriak Aira mengejar Keno.
"Lihat dulu bentar."
"Kennooooo!!!!"
"Ada apa nak Aira teriak- teriak?" tanya Bi Ijah.
"Engga ada apa- apa kok, Bi. Maaf kalo ganggu."
Aira langsung mengejar Keno, dan ternyata ia berada di balkon.
"Uhh dasar anak nakal." Aira menjewer telinga Keno hingga merah.
"Aduhh sakit, lepasin."
"Hehe, maap maap," ucap Keno nyengir.
"Sini laptopnya." Keno pun mengembalikan laptop Aira.
"Sejak kapan kamu buat novel."
"Hm kapan ya, udah lama sih. Dari SMA kalo ngga salah."
"Oh, emang kalo nulis novel gitu dapet penghasilan?"
"Dapet, apalagi kalo novel diterbitin terus laku dipasaran."
"Tapi kan engga banyak, buat capek aja."
"Ya emang engga seberapa sih, tapi aku nulis bukan cari penghasilan. Aku cuma nyalurin hobby sama manfaatin waktu luang aja. Dari dulu emang suka nulis."
"Ohh."
"Hm."
Jreng. Jreng. Jreng. suara petikan gitar terdengar. Keno mulai memainkan gitarnya dan bersenandung.
Taukah apa yang harus kulakukan?
'Pabila wajahnya selalu kupikirkan
Tiba tiba ku senyum sendiri
Tiba tiba ku murung sendiri
Apakah wajar bila begini?
Bila sedang jatuh cinta
Dan tak disadari, Aira juga ikut bernyanyi mengikuti petikan gitar Keno.
"Kamu tahu juga lagunya?"
__ADS_1
"Yeaah, aku sering dengerin lagu ini. Eh aku video ya."
"Boleh." Aira segera mengambil ponsel dan merekam Keno yang sedang bernyanyi sembari memainkan gitarnya.
"Sungguh lelaki idaman." gumam Aira, ia kagum dengan suara indah Keno itu yang jarang dipamerkannya. Keno melanjutkan lagunya hingga selesai.
"Woooww keren, suara kamu bagus," ucap Aira sambil bertepuk tangan layaknya anak kecil.
"Masa sih."
"Serius, sebagus suaranya Judika sama Afgan. Mungkin kalau kamu ikut indonesian idol langsung jadi juaranya engga perlu ikut audisi."
Keno terkekeh mendengar ucapan Aira yang menurutnya itu berlebihan sekali.
"Eh, aku buat story ya video yang tadi."
"Hm boleh, tapi ada syaratnya."
"Apa?" Keno menepuk pipinya memberikan kode namun Aira sama sekali tidak mengerti maksud Keno.
"Ih masa engga tau sih, kiss Airaa."
"Engga jadi aja kalo gitu, engga banget dehh!"
Keno tertawa melihat Aira yang mengerucutkan bibirnya. Ia lalu mengambil ponsel Aira dan membuat story video yang tadi. Tak lupa ia juga memberikan emoticon love dengan jumlah yang banyak sebagai captionnya.
"Nih udah aku buat story," ucap Keno yang membuat Aira tersenyum lebar. Aira segera mengecek story yang dibuat Keno.
"Apaan sih ini, kok captionnya emot love sih. Banyak lagi."
"Biar semua ngiranya kalau aku pacar kamu beneran. Mama sama papa kamu seneng juga calon menantunya dibuat story anaknya, hahaha."
Dan benar saja, setelah membuat story itu banyak yang mengomentarinya dan mengira bahwa Keno adalah pacarnya.
Papa. "Wahh calon menantu Papa, kapan dia ke sini lagi, Nak?"
Mama. "Aduhhh sudah tampan suaranya bagus lagi. Ajak main ke rumah lagi dong Aira."
Mega. "Wihhh, ada yang baru jadian nih kayanya."
Sandi. "Jadian engga makan- makan, gimana sih."
Wildan. "Yahh bebeb, jadi beneran ya kalau kamu udah pacaran sama dia. Patah hati dong abang."
Dan masih banyak lagi pesan yang masuk. Aira hanya bisa menepuk jidatnya, ia hanya membacanya dan tak berniat untuk membalas pesan- pesan itu. Raka, mantannya juga mengomentari story Aira.
Raka. "Kamu jadian sama dia, Ra?"
Aira langsung membalas pesan dari Raka. "Engga kok, kita cuma temenan aja hehe."
"Aduhh pasti Raka mikir macem- macem nih, baru juga putus udah dapet gantinya aja." gumam Aira.
"Kurang ajar kamu ya." Aira gemas dan mencubit Keno.
Tapi Keno malah semakin tertawa keras dan berlari meninggalkan Aira.
***
Hari berganti hari, sudah dua minggu Aira tinggal di rumah Keno. Entah mengapa ia merasa betah tinggal di sana, mungkin karena semuanya gratis, mulai dari makanan, baju, tempat tinggal, ongkos ke kantor, dan masih banyak lagi haha.
Hari ini adalah weekend, semua menikmati libur yang tak terlalu panjang itu setelah seminggu bekerja. Keno dan Aira hanya diam di rumah. Saling mengobrol, bercanda, menjahili, dan berantem yang pasti. Mereka sedang berada di kamar Aira, bermain salon- salonan.
"Ken, sakit tau. Biar aku aja yang nyisir rambutnya."
"Udah belum."
"Udah, emhh rambut mu wangi pake sampo apa," ucap Keno sembari mencium puncak kepala Aira.
"Ihh, jangan cium, dasar nakal." Aira mencubit perut Keno hingga meringis.
Keno mengelus perutnya yang habis di cubit Aira. "Kamu tuh suka banget deh nyubit aku."
"Makannya jangan nakal."
Kring. Kring. Kring. Telfon Keno berbunyi, segera ia menggeser tombol hijau.
"Halo, ada apa, Mah?"
"Kau ini bukannya menjawab salam dulu malah nyerocos aja."
"Wallaikumsallam Mamahku sayangku, cintaku, kasihku, muachhh muaaaccchhh," ucap Keno yang sebenarnya merasa jijik dengan ucapannya sendiri.
"Halah engga usah gitu kamu itu, katanya sayang tapi engga pernah jenguk Mama ke rumah. Udah lupa sama Mama Papa?"
"Hehe, engga gitu, Mah. Keno cuma sibuk, nanti Keno ke sana deh. Sorean dikit tapi."
"Engga perlu, Mama sekarang ada di rumah kamu."
"Ohh."
"Hahh apaaaaa???!!!!"
"Ma- mama di rumah ku sekarang?"
"Iya, ngapain kamu kaget gitu. Udah sini buruan, mama di ruang tamu dari tadi."
Tut.tut.tut
"Kenapa ken, kok panik gitu?"
"Anu, itu mama di bawah sekarang."
"Mama kamu?"
"Iya aduh gimana ini, kalau dia tahu kamu tinggal di sini aku pasti dimarahin nih." Keno menggaruk tengkuknya walaupun tidak gatal.
"Yahh gimana dong." Aira ikutan panik.
"Ngumpet dulu deh di kamar mandi, takutnya mama ngecek- ngecek rumah juga nantinya."
Aira langsung pergi ke kamar mandi, dan Keno segera menemui mamanya.
"Mama kok engga bilang- bilang dulu sih kalau mau ke sini."
"Kalau mama bilang dulu memang kenapa."
"Ya kan Keno bisa jemput mama."
"Kenapa gugup gitu sih."
"Enggak, siapa yang gugup," ucap Keno memalingkan wajah dari Mamanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa baru keluar kamar sih, Mama udah nunggu setengah jam tau ngga. Lama amat !"
"Maaf, Mah. Kalau gitu Mama pulang aja."
"Kamu ngusir Mama? Anak durhaka kamu." Mama keno pun menjewer telinga anaknya.
"Ampun, Mahh."
Mama Keno (Tante Maria) kembali menyeruput teh yang sudah disiapkan bi Ijah.
"Mama kenapa celingak celinguk sih. Cari apa."
"Engga cari apa- apa kok," bohong Mama Keno.
"Disembunyikan dimana perempuan itu." batin Tante Maria dan tetap celingak- celinguk mencari.
"Ehm Ken, Mama mau lihat- lihat ke atas ya. Udah lama Mama engga ke sini."
"Mah, ngapain ke atas disini aja udah," teriak Keno dan mengikuti langkah mamanya.
Tante Maria mulai membuka satu persatu ruangan yang ada dan Keno tetap mengikuti Mamanya dari belakang.
"Masih sama kaya dulu ternyata."
"Ya emang masih sama, engga ada apa- apa. Ayo mah kita turun aja."
"Bentar mama mau lihat kamar kamu dulu."
Kok disini engga ada juga ya. batin Mama Keno.
Dan kemudian untuk ruangan yang terakhir, mereka masuk ke kamar Aira. Keno langsung pucat pasi.
"Lohh kok ada make up perempuan sih, Ken?"
"Ini juga ada ikat rambut."
"Astaga, ini pakaian perempuan," kaget Mama Keno ketika masuk ke ruang ganti.
"Kamu engga pakai ini, kan? kamu masih normal kan, Ken."
"Astaga Mama, aku ya masih normal lah. Mana mungkin aku pakai pakaian cewek. Apa kata dunia," ucap Keno berkacak pinggang.
"Lalu, ini punya siapa?"
"Em anu itu punya Niken, istrinya Frido. Ah iya Niken, seminggu kemarin mereka tinggal disini karena sedang banyak kerjaan jadi Niken diajak Frido tinggal di sini juga. Kan dia lagi hamil mah, enggak mungkin dong ditinggal," jelas Keno panjang lebar untuk meyakinkan sang Mama.
"Bohong," lirih Mama Keno ia pun segera mendudukkan tubuhnya di sofa dan di ikuti oleh Keno.
"Ngapain duduk di sini sih, Mah. Enakan di bawah loh."
"Bodoamat." Mama Keno kesal karena tak kunjung menemukan perempuan yang dimaksud Frido beberapa waktu lalu.
Keno terus mengawasi Mamanya dan berdoa supaya Mamanya tidak betah dan segera pulang.
Pasti perempuan itu disuruh ngumpet sama si Keno dan masih di rumah ini, kalau disuruh pergi sebentar kan engga mungkin karena aku tadi juga baru sampai langsung memberi tahu si Keno. Apa jangan- jangan di kamar mandi ya. gumam Mama Keno.
"Mah, mau kemana?" tanya Keno ketika mamanya berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Mau pipis, kebelet Mamah."
"Pipis di kamar Keno aja ya, i- itu kamar mandi di sini airnya mati, Mah."
Semakin yakin aku kalo perempuan itu di kamar mandi hihihi. batin Mama Keno.
"Ah, tolonglah aku Tuhan, semoga ada keajaiban untuk kali ini." Keno berdoa dalam hatinya.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka lebar.
"Airaaaaaaa!!!!" teriak Mama Keno kegirangan.
"Tante Maria."
"Loh kok ada tante Maria sih, apa jangan- jangan tante Maria ini Mamanya Keno?" tanya Aira dalam hatinya.
Tante Maria langsung menghujani Aira dengan ciuman seperti biasanya. Dan langsung memeluk Aira dengan erat
"Apa yang terjadi, apa sebelumnya mama kenal sama Aira." Keno tercengang ketika melihat Mamanya yang menciumi dan memeluk Aira.
"Tan, Tante Aira engga bisa nafas."
"Ah maaf sayang, Tante seneng banget soalnya."
"Tante ngapain di sini, hehe," tanya Aira menggaruk tengkuknya.
"Harusnya Tante yang tanya kamu ngapain di sini."
"Kamu itu ya Ken, ngajak cewek tinggal bareng udah dua minggu lagi. Dasar anak nakal, untung ceweknya si Aira," ucap Tante Maria sembari menjewer telinga anaknya.
"Aduhh mah sakit, dari tadi di jewer terus."
"Kamu kenapa engga bilang kalo Aira tinggal di sini."
"Mama kenal sama Aira?"
"Kenal dong, kenal banget malahan, iya kan sayang." Tante Maria memeluk Aira dengan penuh cinta.
"Hehe iya, Tante."
"Anaknya sendiri aja dijewer, eh anaknya orang lain malah dipeluk- peluk," ketus Keno.
"Biarin wlee," sahut Tante Maria menjulurkan lidahnya. Aira hanya terkekeh ketika melihat emak dan anak yang beradu mulut itu.
"Mah, Keno kan juga pengen dipeluk dielus- elus kepalanya. Masa Aira terus sih yang diperhatiin."
"Banyak bicara, biarin napa sih. Sama calon mantu juga."
"Tanteee..."
"Apa sayang, eh ini udah jam berapa. Tante harus pulang, Ra. Tante pulang dulu, ya."
"Baiklah Tante." Aira dan Keno pun mengantarnya hingga depan rumah.
"Aira tante pulang dulu sayang, jaga diri baik- baik ya, sayang," ucap Tante Maria sembari memeluk dan mencium Aira.
"Tante, hati- hati di jalan."
"Pasti sayang, kalau Keno jahatin kamu langsung kasih tau tante ya."
"Oh ya Ken, kalau mau main boleh deh asal pakai pengaman. Toh kalian nanti juga akan nikah," goda Tante Maria.
"Apaan sih mah, udah sana pulang."
__ADS_1
"Kurang ajar beraninya ngusir Mama." Tante Maria menjitak kepala anaknya dan langsung berlari ke mobilnya.
"Mamaaaaaaa !!!!"