Hello Presdir

Hello Presdir
Selalu Kesepian


__ADS_3

Kala itu, matahari bersinar begitu terik. Rujak dengan tambahan es krim di atasnya menjadi menu yang cocok untuk siang itu. Aksa dan Devano menatap gerobak penjual rujak es krim yang melewati rumah.


"Sa, beliin dong! Uangku habis nih," seru Devano. Lelaki itu berhenti sejenak mengerjakan tugasnya. Aksa dan Devano tengah mengerjakan tugas di taman depan.


"Jangan jajan sembarangan," tukas Aksa. "Kita suruh Bi Ijah buatin aja."


"Emangnya Bi Ijah punya bahan- bahannya?"


"Kalau es krim sih di kulkas selalu nyetok, kalau bahan- bahan yang lain nggak tahu. Aku tanya dulu ya." Aksa kemudian beranjak menuju ke dapur menghampiri Bi Ijah yang kala itu tengah bersantai bersama sang suami, Mang Dadang.


"Bi, bisa buat rujak nggak?" tanya Aksa membuat dua orang itu berhenti berbicara.


"Nak Aksa lagi ngidam?" tanya Mang Dadang.


"Enak aja! Tadi lihat penjual rujak es krim terus jadi pengen deh."


Mang Dadang lantas tertawa melihat Aksa yang jadi kesal karena ucapannya tadi.


"Kebetulan sekali di kulkas ada timun, bengkoang, pepaya, dan jambu. Tapi mangga mudanya nggak ada, nggak seger nanti," ujar Bi Ijah.


"Mangga depan rumah kan ada, biar Mang Dadang petikkan," sahut Mang Dadang.


"Baiklah, kalau begitu Bi Ijah nyiapin yang lain dulu ya." Bi Ijah lalu beranjak dan mengambil senua bahannya di kulkas.


Sementara itu, Mang Dadang, Aksa, dan Devano berada di depan pohon mangga yang sangat besar. Menatapnya sejenak, memilih mangga manakah yang paling sesuai untuk rujak dan paling mudah diambil.


"Mang Dadang manjat dulu ya, kalian tunggu di sini nangkep mangganya nanti," ujar Mang Dadang.


"Biar aku saja Mang yang panjat," seru Aksa.


"Aku juga mau manjat!" sahut Devano.

__ADS_1


Aksa dan Devano pun berebut untuk memanjat pohon mangga yang sangat tinggi itu. Mang Dadang kewalahan melerai mereka, hendak memarahi namun tak tega. Tapi kalau dibiarkan malah semakin menjadi.


"Nggak usah metik mangga kalau gitu, ayo pulang!" Mang Dadang menarik tangan Aksa dan Devano, lalu mengajak mereka kembali ke rumah. Dua anak itu belum pernah memanjat pohon sebelumnya, itulah sebabnya Mang Dadang melarang mereka karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Aksa dan Devano pun cemberut, mereka sangat kesal dengan Mang Dadang. Gara- gara dia, siang itu tak ada rujak es krim yang nikmat.


"Baik anak- anak manis, sebaiknya kalian lanjut belajar ya," seru Mang Dadang terkikik geli melihat Devano dan Aksa yang menampilkan raut wajah masam.


*****


Malam terasa sepi, Devano telah kembali ke rumahnya. Hanya ada Mang Dadang, Bi Ijah, dan dirinya di rumah yang besar itu. Sedangkan Keno dan Aira, mereka sibuk dengan pekerjaannya masing- masing. Ini bukan pertama kalinya, tapi sudah berulang kali bahkan sering terjadi. Aksa selalu kesepian dibuatnya.


"Mang, Papa sama Mama tadi nggak bilang pulang jam berapa? Ini sudah malam banget, kenapa mereka belum pulang juga?" tanya Aksa sembari menatap jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam.


"Waahh, Mang Dadang nggak tahu. Mungkin sebentar lagi pulang." Dan seperti biasanya, Mang Dadang ikut sedih ketika Aksa bertanya seperti itu. Ia kasihan dengan Aksa yang selalu ditinggal orangtuanya, hanya bertemu ketika pagi saja.


"Kebiasaan!" Aksa berdiri dan melangkah menuju kamarnya meninggalkan Mang Dadang yang masih duduk di bangku taman depan.


Aksa mencoba menghubungi Papa dan Mamanya, tapi tak ada balasan dari mereka. Ia melemparkan ponselnya, merasa kesal dengan Papa dan Mamanya.


*****


"Maaf, Pak. Apa rapatnya tidak bisa dilanjutkan besok lagi? Ini sudah larut malam," seru Keno.


"Wah, besok saya harus kembali ke Singapore. Hanya ada waktu malam ini saja."


Keno mendengus kesal, ia sebisa mungkin untuk cepat menyelesaikan rapat itu. Tubuhnya mulai letih, seharian ini ia belum beristirahat sama sekali.


Sedangkan Aira, wanita itu baru saja menutup tokonya. Seharian itu toko sangat ramai dan menjadikan ia untuk tetap membuka hingga larut malam. Dan seperti biasa, ia selalu menuju ke kamar Aksa terlebih dahulu ketika sampai rumah untuk memastikan anak itu baik- baik saja.


"Sudah tidur ya..." lirih Aira membelai kepala Aksa dengan lembut. Meski Aksa sudah besar, ia tetap menganggapnya anak kecil dan selalu memanjakannya.

__ADS_1


Aksa belum tidur, ia lalu menepis tangan Aira menjauhi kepalanya.


"Jangan mengganggu tidurku!" seru Aksa sembari membalikkan tubuhnya membelakangi sang Mama yang duduk di tepi ranjangnya.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan marah gitu sih? Ada masalah di sekolah? Ayo cerita ke Mama."


"Nggak ada! Aku ngantuk, Mah. Pergi saja dari sini."


"Aksa, jangan begitu. Kalau ada masalah bicarakan sama Mama."


"Aksa bilang nggak ada ya nggak ada! Mending Mama urus tuh toko- toko kue Mama. Aksa sudah besar, tak perlu dirawat dan diperhatikan!" ucap Aksa dengan nada meninggi. Ia lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Dan mendengar ucapan Aksa itu, Aira jadi tahu kenapa anaknya itu marah dengannya. Aksa cemburu dengan pekerjaannya. Ini juga salahnya, terlalu sibuk dengan toko hingga jarang sekali punya waktu untuk Aksa.


"Baiklah, Mama akan keluar. Selamat malam, semoga mimpi indah." Aira memandang anaknya yang berbalut selimut itu sejenak sebelum pergi. Ia merasa sedih melihat Aksa seperti itu.


Keno baru saja pulang, rasa letihnya seakan hilang tatkala melihat sang bidadari pujaan hatinya. Ia lalu mengecup dan memeluk Aira erat.


"Maaf ya baru pulang..." lirih Keno di dalam dekapan Aira.


"Segeralah ganti baju dan beristirahatlah."


Keno mengangguk, ia lalu melepas semua pakaiannya dan berganti dengan pakaian baru yang dipersiapkan Aira.


"Sayang, ternyata aku ibu yang buruk ya," ucap Aira dengan mata yang menatap ke sembarang arah. Wajahnya terlihat sendu, Keno langsung menghampirinya.


"Ibu yang luar biasa, bukan ibu yang buruk. Ada apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu?" ucap Keno membelai pipi Aira.


"Aksa marah gara- gara aku tak punya waktu dengannya. Aku ibu yang buruk, tak bisa mengerti anaknya sedikitpun. Lebih baik, aku menutup semua toko- tokoku demi Aksa," ucap Aira tersenyum getir.


"Jangan ditutup, bukankah itu hasil jerih payahmu selama ini? Impianmu sedari kecil? Ayolah jangan berpikir dangkal. Bukankah Aksa juga selalu seperti ini? Dan beberapa saat kemudian, ia bisa mengerti lagi."

__ADS_1


"Aksa marah denganku..."


"Besok juga sudah baikan. Kita pikirkan cara supaya semuanya baik- baik saja."


__ADS_2