
"Aku dari Rumah Sakit, tadi mengantar Ellen."
"Ele? Kenapa dia?" Aira sangat panik mendengar Ellen dibawa ke rumah sakit.
"Tadi pingsan kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia sudah baik- baik saja." jelas Frido.
"Oh iya aku lupa, kan sudah ada Keno. Dia pasti akan baik- baik saja hehe." ucap Aira tersenyum getir.
"Aku pamit pulang dulu ya mbak Niken." ucap Aira lesu.
Dengan langkah gontai ia melangkahkan kakinya keluar dari Sanjaya Group. Tadinya ia berharap Keno akan menemuinya untuk menjelaskan kejadian yang ia lihat tadi, tapi Keno tidak kembali dan lebih memilih untuk menjaga Ellen yang sedang terbaring di Rumah Sakit.
Aira melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya kosong ia tak tahu harus kemana. Sesekali ia membanting kemudi mobilnya karena kesal. Sekarang ia sampai di Rumah Sakit Sanjaya, entah kenapa hatinya membimbing Aira untuk ke sana. Untuk menemui Keno? Ah tidak, ia hanya ingin menjenguk Ellen. Bagaimanapun juga Ellen adalah teman baik Aira.
Setelah bertanya kepada salah satu perawat, Aira pun diantar perawat tersebut ke ruangan VVIP dimana Ellen dirawat.
"Ini ruangannya, saya permisi." ucap perawat yang telah mengantarkan Aira.
"Terima kasih telah mengantarkan saya." balas Aira. Perawat itu pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Aira.
Menghela nafas sejenak, lalu Aira pun membuka pintu ruangan itu. Hatinya kembali sesak dan tersayat- sayat. Matanya berkaca- kaca, rasanya ia tak kuat melihat apa yang ada di depannya. Dilihatnya Keno yang sedang duduk dan tertidur di kursi samping brankar dengan tangan yang menggenggam Ellen.
"Assalamu'alaikum." lirih Aira.
Mendengar salam dari Aira, Ellen dan Keno pun terbangun. Ellen tersenyum melihat kedatangan Aira, sedangkan Keno tampak pias akan kedatangan Aira.
"Wa'alaikumsalam Aira." jawab Ellen.
"Ele, bagaimana kondisi mu? Apa kau sudah baik- baik saja. Maaf ya aku tidak tahu kalau kau tadi pingsan."
"Aku sudah lebih baik, tadi Keno segera membawaku kemari. Jadi aku lebih cepat ditangani dokter." ucap Ellen dan mencoba duduk.
"Biar aku bantu." Keno langsung membantu, ia meletakkan bantal untuk sandaran Ellen.
Melihatnya, hati Aira semakin sakit. Orang yang dicintainya mengkhawatirkan dan perhatian dengan orang lain di depan matanya. Bulir air matanya menetes seketika.
"Aira, kau kenapa menangis?" tanya Ellen.
"Ah tidak, hanya kelilipan saja." ucap Aira berbohong, ia langsung menyeka air matanya dan tersenyum kembali.
"Maaf Aira, kau pasti menangis saat melihat ku dengan Ellen." batin Keno.
"Aku lapar apa kau mau menyuapiku?" tanya Ellen seraya bergelayut manja di lengan Keno. Ia tidak tahu jika Aira dan Keno memiliki hubungan, jadi Ellen bersikap biasa- biasa saja.
Sebelum mengiyakan Keno melirik ke arah Aira terlebih dahulu, Aira pun mengalihkan pandangannya dari tatapan Keno.
"Iya tentu saja aku mau." Keno lalu mengambil dan mulai menyuapi Ellen.
"Ele, aku akan keluar sebentar mencari udara segar. Nanti aku akan kembali lagi." pamit Aira, jika ia terus berada di sana maka hatinya akan semakin sakit.
"Hm baiklah, tapi janji ya kau akan kemari lagi." Aira mengangguk, ia lalu pergi meninggalkan orang yang sedang bersuap- suapan itu.
"Arrrggghhhhh !!! Kenapa aku mengiyakan Ellen sih, harusnya aku memikirkan perasaan Aira. Ia keluar dari sini bukan karena ingin mencari udara segar, tapi karena tak sanggup melihatku bersama Ellen. Aira tolong maafkan aku, aku bodoh !!!", batin Keno terisak.
"Kenapa kau diam saja, Ken? Ayo suapi lagi, aku masih lapar." ucap Ellen manja.
"Ah iya maaf." Keno lalu menyuapi Ellen namun pikirannya tetap tertuju ke Aira, ingin rasanya menemui Aira sekarang itu juga.
***
Aira terus melangkahkan kakinya menuju ke taman rumah sakit. Ia mendudukkan dirinya di bangku taman yang bercat putih. Menyaksikan beberapa perawat yang sedang mendorong kursi roda mengajak pasien berkeliling taman untuk menghilangkan kebosanan di ruang perawatan.
Cahaya matahari semakin redup, senja akan segera datang. Ia mendongakkan wajahnya memandang ke langit, menatapnya beberapa saat dan air matanya pun kembali menetes. Ia kembali menundukkan wajahnya menutup dengan kedua tangan dan menangis lagi.
"Hatiku sakit sekali, huuu huuu huu."
"Kenapa dia bersikap seperti itu di hadapan ku, bahkan ia tak mengaggap kehadiran ku. Dia mengacuhkan ku, hikkss hikss hikss." ucap Aira pilu.
"Dia tidak benar- benar mencintaiku ! Dia hanya berpura- pura saja ! Hiks hiks hiks." Tatapan Aira kosong dan air matanya tetap mengalir deras.
Tiba- tiba ada seseorang yang berdiri di hadapannya menyodorkan satu botol air mineral dan tissue ke arahnya, Aira pun mendongakkan kepalanya melihat orang itu.
"Kak Alfa..." lirih Aira, ia segera mengusap air matanya.
"Kau kenapa menangis?" Alfa duduk di samping Aira dan menarik selembar tissue lalu mengusapkannya ke wajah Aira menghapus air matanya.
"Terima kasih."
"Kalau kau mau, kau boleh membagi kesedihanmu dengan ku."
"Apa aku boleh bersandar di bahunya kak Alfa?"
Dengan senang hati Alfa menyetujuinya, ia membiarkan Aira untuk bersandar di bahunya. Mengusap lembut kepala Aira mencoba memberikan ketenangan.
"Oh ya, kok kamu bisa di sini sih?" tanya Alfa penasaran.
"Tadi aku menjenguk temanku, tadi dia pingsan terus dibawa ke sini."
"Lalu, kenapa kau menangis? Apa terjadi hal buruk dengan teman mu itu?"
__ADS_1
"Bukan begitu kak, dia baik- baik saja. Teman ku itu ternyata mantan kekasihnya Keno."
"Lalu?"
"Dia tidak mencintai ku kak, dia hanya berpura- pura saja. Keno masih mencintai mantannya itu." Aira kembali terisak setelah mengatakannya kepada Alfa.
"Dia mengkhianati ku, dia jahat. Dia akan kembali dengan mantannya itu kak."
"Brengsek tuh anak ! Berani- beraninya nyakitin Aira. Awas aja lo." batin Alfa. Ia terus merutuki Keno dalam hatinya. Tapi ia juga merasa senang, setidaknya ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Aira.
"Jadi dia akan kembali dengan mantan kekasihnya dan akan meninggalkan mu?"
"Sepertinya itu akan terjadi, tadi saja mereka bermesraan di hadapan ku. Keno sangat perhatian dengan mantannya itu." jelas Aira tersenyum getir.
"Sabar ya, kamu engga boleh terlihat lemah di hadapan mereka. Kamu harus buktikan kalau kamu baik- baik saja. Jangan menangis lagi, dia tidak pantas untuk ditangisi."
Aira mengangguk dan menarik kepalanya dari pundak Alfa, "Kakak engga pulang? Ini udah sore loh."
"Tadinya mau pulang, tapi lihat ada cewek cantik lagi nangis kakak samperin dulu deh."
"Thank you kak, maaf pundak kak Alfa jadi basah hehe." ucap Aira terkekeh.
"Tidak masalah, oh ya bagaimana kalau kita ke cafe dulu?"
"Engga mau ah. Aku maunya ke Mekdi." ucap Aira memasang wajah imutnya.
"Kenapa lucu begini sih, aku kan semakin ingin memilikinya." batin Alfa.
"Baiklah Ayo ke Mekdi." ajak Alfa. Ia pun menggandeng Aira menuju ke McD yang kebetulan dekat dengan rumah sakit jadi tidak perlu membawa mobil ke sana cukup berjalan kaki.
Aira pun memesan banyak sekali burger, ayam goreng, dan tak lupa ice cream ya. Mejanya sampai penuh karena ada banyak sekali makanan. Ia memakan burger- burger itu dengan lahap.
"Sepertinya menangis menguras tenaga mu ya?" seru Alfa terkekeh.
Aira hanya meringis mendengarnya, ia kembali menikmati beef yakiniku tamago burger, varian terbaru dari McDonalds.
Alfa seperti mendapat hiburan tersendiri dari Aira, melihat Aira yang lahap saat makan seperti anak kecil membuat Alfa gemas dan terkekeh.
Alfa pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia mengambil ponselnya dan memotret Aira sebanyak mungkin.
"Kak Alfaa !"
"Apa? Lanjutkan saja makannya."
"Jangan memotret diriku, aku maluuu."
"Tidak perlu malu, kau itu cantik dan menggemaskan." Alfa mencubit pipi Aira gemas hingga Aira memekik kesakitan
"Habisnya kamu gemesin sih, haha. Jadi pengen nyubit terus kan."
Setelah makanan habis, mereka pun segera pulang karena hari semakin gelap. Mereka mengendarai mobil masing- masing tapi tetap berjalan beriringan sampai ke komplek perumahan mereka.
"Byee Kak Alfa, aku duluan ya." ucap Aira ketika sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
"Iyaa, sampai ketemu besok." Alfa tersenyum, ia sangat senang hari ini walaupun hanya beberapa jam saja bersama Aira tapi ini lebih dari cukup. Toh masih ada hari esok, apalagi sekarang ia bebas bersama Aira tidak ada Keno yang akan mengganggunya.
Aira segera masuk ke rumahnya, ia mencium tangan Papa dan Mamanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Kamu kenapa sayang? Kok lesu sih?" tanya Pak Andi.
"Tidak apa, pah."
"Kau pasti kelelahan, sekarang pergilah mandi Mama akan membuatkan teh hijau untuk mu." Aira mengangguk dan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumah itu.
Aira menyalakan lampu proyektor yang ada di kamarnya yang memancarkan cahaya berwarna galaksi dengan bintang- bintang di langit- langit kamarnya. Ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur berukuran queen size itu. Memandangi langit- langit kamar yang menenangkan.
Tiba- tiba ponselnya berdering, dengan sigap ia mengambilnya dan menggeser tombol hijau yang ternyata adalah panggilan video dari Alfa.
"Haii kak Alfa ada apa?"
"Hai bocil, tidak apa- apa. Hanya memastikan kau benar- benar sudah sampai di rumah atau belum." seru Alfa terkekeh.
Aira ikut terkekeh mendengarny, "Astauge sayur lodehhhh, kak Alfa ini bagaimana sih. Tadi kan kak Alfa lihat sendiri mobilku sudah masuk ke halaman rumah."
"Iya sih, tapi kan aku hanya memastikan saja. Siapa tahu kau putar balik dan pergi ke suatu tempat lagi."
"Hm baiklah- baiklah, terserah kakak saja."
"Kenapa kau belum mandi?"
"Kakak gimana sih, bagaimana mau mandi kalau kak Alfa saja sedang menelfon ku." ucap Aira memutar matanya malas.
"Oh iyaa haha, ya sudah aku matikan ya nanti aku sambung lagi."
"Baiklah, papaay kak Alfa." ucap Aira menggemaskan.
"Byee anak manis."
Telfon pun terputus, Aira kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menatap ponselnya melihat sosial medianya. Aira berharap ada pesan masuk dari Keno, namun satu pesan saja tidak ada. Keno benar- benar melupakan Aira dan mementingkan Ellen.
__ADS_1
"Sayang kenapa kau belum mandi." seru Bu Mira yang menyelonong masuk ke kamar Aira.
"Sebentar lagi, Mah."
"Hufffttt anak ini kalau disuruh mandi kenapa susah sekali sih." celetuk Bu Mira.
"Ayo cepat mandi." Bu Mira menggelitik kaki Aira dan menariknya supaya Aira segera bangun.
"Iya aku mandi, tapi lima menit lagi hehe." Aira bergelayut manja di tubuh mamanya.
"Mandi sekarang atau Mama ambilkan air dan mengguyurmu di sini juga."
"Ambil saja, Mah." tantang Aira. Mamanya pun segera menuju ke kamar mandi.
Melihat mamanya yang berjalan ke arah kamar mandi, ia pun berteriak "Mama jangan, oke oke Aira akan mandi."
Bu Mira menggelengkan kepalanya melihat Aira kalang kabut mencari handuk dan langsung berlari ke kamar mandi.
***
Malam harinya Keno pergi ke rumah Pak Andi untuk menemui Aira, ia hendak meminta maaf dan memastikan Aira tidak apa- apa.
"Aira dimana, Pah?" tanya Keno setelah menyapa dan mencium tangan Pak Andi.
"Dia sedang di kamarnya. Kau mau menemuinya?"
"Mama panggilkan Aira dulu, ya Nak Keno." Keno mengangguk. Ia mengobrol dengan Pak Andi seraya menunggu Aira datang.
Bu Mira masuk ke kamar Aira, dilihatnya anaknya sedang duduk di space dinding kamar. Duduk bersila di atas zabuton (alas duduk ala orang Jepang) dan memainkan ponselnya.
"Sayang, di bawah ada Keno. Ayo temui dia."
"Keno? Untuk apa dia kemari? Aira tidak mau menemuinya, Mah."
"Kenapa? apa kalian lagi marahan?"
"Tidak kok mah, Aira lelah. Aku ingin tidur sekarang." Aira langsung berdiri menuju kasurnya. Ia berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
"Bilang sama mama kalian sedang ada masalah kah?"
"Tidak, Mama bilang aja sama dia kalau Aira sudah tidur. Jangan mengganggu Aira." ucap Aira seraya menarik selimut menutupi wajahnya.
Bu Mira hanya menggelengkan kepalanya, ia lalu kembali ke bawah menemui Keno.
"Loh, Aira nya mana Mah?"
"Di kamarnya, Pah. Engga mau turun."
"Kenapa memangnya, Mah?"
Bu Mira mengangkat kedua bahunya, "Entahlah, tadi dia menyuruh Mama bilang sama kamu kalau dia kecapekan dan ingin tidur. Kalian lagi ada masalah ya?"
"Tidak ada kok, Mah. Ehm, apa boleh Keno menemui Aira di kamarnya?"
"Tentu saja boleh, asal hanya menemuinya jangan buat yang macam- macam dulu ya." ucap Pak Andi terkekeh.
"Iya boleh, tunggu kalian nikah dulu ya baru boleh mantap- mantap." tambah Bu Mira juga terkekeh. Keno pun ikut terkekeh, ia segera berjalan menuju ke kamar Aira.
Segera membuka pintu kamar Aira dan mengintipnya sedikit. Ia melihat Aira sedang berselonjor memainkan ponselnya. Aira yang mengetahui pintu terbuka oleh Keno pun kembali berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Keno tertawa melihatnya, ia menghampiri Aira. Dan mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Aira.
"Aku tahu kau belum tidur. Cepat bangun!" pinta Keno dan masih mencoba menarik selimut Aira. Tapi Aira tetap menjaga selimutnya agar tak terlepas dari tubuhnya.
"Jangan mengganggu ku !"
"Bangunlah kalau tidak mau aku ganggu."
"Aku tidak mau menemui mu."
"Ayolah jangan marah, ada yang akan aku bicarakan." Keno berhasil menarik selimut Aira tapi Aira malah menutupi wajahnya dengan bantal.
"Airaa ku mohon dengarkan aku." Keno menarik tangan Aira dengan paksa. Dan akhirnya Aira pun terbangun.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan ! Pergi dari kamarku." seru Aira, air matanya kembali menetes.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan votenyaa ehehe :) :) :)
Mampir ke novel karya Syala yaya juga ya...
__ADS_1