Hello Presdir

Hello Presdir
Tidak Mencintainya Lagi


__ADS_3

Segera membuka pintu kamar Aira dan mengintipnya sedikit. Ia melihat Aira sedang berselonjor memainkan ponselnya. Aira yang mengetahui pintu terbuka oleh Keno pun kembali berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Keno tertawa melihatnya, ia menghampiri Aira. Dan mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh mungil wanita itu.


"Aku tahu kau belum tidur. Cepat bangun!" pinta Keno dan masih mencoba menarik selimut Aira. Tapi Aira tetap menjaga selimutnya agar tak terlepas dari tubuhnya.


"Jangan mengganggu ku !"


"Bangunlah kalau tidak mau aku ganggu."


"Aku tidak mau menemui mu."


"Ayolah jangan marah, ada yang akan aku bicarakan." Keno berhasil menarik selimut Aira tapi Aira malah menutupi wajahnya dengan bantal.


"Airaa ku mohon dengarkan aku." Keno menarik tangan Aira dengan paksa. Dan akhirnya Aira pun terbangun.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan ! Pergi dari kamarku." seru Aira, air matanya kembali menetes.


"Apa kau cemburu melihat ku dengan Ellen?" tanya Keno melembut.


"Dasar bodoh ! Kau pikir melihat mu dengan wanita lain tidak membuat hatiku sesak apa ! Dasar engga ada otak anak itu, bisa- bisanya masih bertanya hal itu, huh !" gerutu Aira dalam hatinya.


"Sepertinya kau benar- benar cemburu." ucap Keno tertawa meledek.


"Ternyata kau memang mencintaiku, Aira. Kalau kau tidak mencintaiku, kau mana mungkin seperti ini?" tambahnya lagi.


"Ayolah dengarkan, aku ingin berbicara serius pada mu." bujuk Keno.


"Bicara cepat ! Aku sudah mengantuk."


Keno pun tersenyum, ia duduk di tepi ranjang Aira dan menggenggam kedua tangan wanitanya itu.


"Kau tau Ellen? Dia mantan kekasih ku, dan ternyata juga teman baru mu. Kau pasti sudah mendengar cerita darinya kan, kalau dia meninggalkanku bukan karena lelaki lain atau untuk mengejar karir."


"Iya, tapi dia pergi karena harus melakukan pengobatan di sana. Lalu dia kembali lagi dan mengatakan semuanya kepada mu. Dia masih mencintai mu, dan kau pasti akan kembali lagi dengannya setelah kau tau ternyata dia tidak mengkhianati mu." sergah Aira sesegukan.


Keno mencoba untuk memeluk Aira, namun Aira terus menolak dan memberontak


"Dengarkan aku !!! Jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihat mu menangis apalagi kau menangis gara- gara aku." ucap Keno setelah berhasil memeluk dan menenangkan Aira.


"Saat aku bertemu dengannya lagi, aku tidak bergejolak apa- apa. Hatiku rasanya hampa, Ellen seperti orang asing bagiku. Perasaan yang dulu pernah ada seakan sirna begitupun cinta yang pernah ada di hatiku. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa- apa dengan Ellen, Aku sudah tidak mencintai Ellen lagi."


"Pembohong ! Mulutmu bisa berbicara seperti itu tapi perlakuanmu dengannya sudah menjelaskan semuanya. Kau masih mencintainya, kau masih memiliki perasaan dengannya ! Kau begitu khawatir ketika dia terbaring lemah, kau memperlakukannya begitu spesial ! Apa itu yang kau bilang kau sudah tidak mencintainya lagi, Hah? Katakan !" ucap Aira dengan suara meninggi seraya memegang kedua bahu Keno dan mengguncangnya. Aira terus menangis sesegukan.


"Maafkan aku, tapi aku benar- benar tidak mencintainya lagi. Semuanya sudah hilang. Aku sudah berjanji untuk menemani Ellen menjalani pengobatan hingga dia sembuh. Aku ingin menolaknya, tapi aku tidak bisa. Aku kasihan dengannya, dia membutuhkan aku sebagai penyemangatnya untuk tetap bertahan di dunia ini."


"Kekhawatiranku dengan Ellen itu hanya sebatas kekhawatiran seorang teman saja tidak lebih. Ku mohon percayalah. Tatap mataku lihatlah apa aku berkata jujur atau sebaliknya. Lihatlah !" Keno menangkup kedua pipi Aira dan menyuruh Aira menatapnya.


"Aku berkata jujur kan? Tidak ada kebohongan yang aku lakukan."


"Hatiku sakit melihat kau dekat dengannya, kau terlihat bukan seperti teman saja. Kau lebih dari itu."


"Maafkan aku, aku akan segera mengatakan kalau kita dekat dan mempunyai hubungan supaya Ellen lebih memahami ku dan bisa menjaga sikapnya lagi."


"Biarkan saja, jangan katakan kepada Ellen. Dia masih mencintai mu, dia pasti akan syok ketika mendengarnya."


"Percayalah, setelah Ellen sembuh dan mendapatkan donor jantung untuknya kita akan langsung menikah dan tak ada yang mengganggu kita lagi."


"Kau mengizinkan ku untuk menemaninya kan? Tapi kalau kau keberatan, aku tidak akan menemani Ellen lagi." tambah Keno lagi.


"Kau benar- benar tidak mencintai Ellen lagi kan?"


"Iya benar, KENO ARKA SANJAYA SUDAH TIDAK MENCINTAI ELLEN VARADITA LAGI !"


"Benarkah?"


Keno tersenyum kecil lalu ia berteriak, "KENO ARKA SANJAYA HANYA MENCINTAI AIRA MADALI, TIDAK ADA YANG LAIN LAGI. I'M YOURS AIRAAAAA !"


"Perlu di ulangi sekali lagi? Atau sepuluh kali lagi?"

__ADS_1


"Seratus kali lagi." ucap Aira tersenyum lalu memeluk Keno. Mereka pun berpelukan dalam waktu lama.


Aira merasa lebih baik ketika mengetahui jika Keno sudah tidak mencintai Ellen lagi dan ia hanya menemani dan menyemangati Ellen tidak lebih. Tapi hatinya tetap merasa sakit ketika Keno dekat dengan Ellen, ia hanya bisa mendoakan supaya Ellen lekas sembuh dan Keno akan bersama Aira terus.


"Aku belum mandi." bisik Keno ke telinga Aira.


"Aku tahu itu, kenapa memangnya?" tanya Aira yang malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau kau tahu aku belum mandi, lalu kenapa kau memelukku? Tubuhku berkeringat."


"Aku suka memeluk mu, rasanya sangat nyaman." Aira menciumi dada Keno, menghirup aroma mint yang menjadi ciri khas Keno.


"Cihhh, tadi saja tidak mau aku peluk sekarang malah tidak mau lepas." Aira terkekeh mendengarnya, ia tadi memang menolak dipeluk Keno karena masih jengkel dengan anak manis itu.


"Heyy berhentilah mengendus- endus di dadaku, itu sangat menggelikan. Kau akan membuatku bergairah nanti, jangan lakukan sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan."


Aira malah tersenyum menyeringai, ia memainkan jarinya di dada Keno.


"Airaa, please. Kalau tidak ada mereka mungkin aku akan melakukannya sekarang." ucap Keno dengan suaranya yang serak.


Aira terkesiap, "Mereka? Siapa?"


"Apa kau tidak sadar jika di depan pintu kamar mu ada dua orang yang sedari tadi memperhatikan kita." bisik Keno.


Aira pun melirik ke pintu, ia terkejut saat melihat Papa dan Mamanya sedang tersenyum- senyum. Sontak, Aira pun melepas pelukannya karena malu dengan Papa dan Mamanya.


"Pa- papa sama Mama sejak kapan di situ?"


"Sejak tadi, ayok pah kita pergi saja takut mengganggu mereka." seru Bu Mira lalu pergi meninggalkan kamar Aira.


Aira memukul ringan perut Keno, "Kau kenapa tidak memberitahu ku ketika ada Mama sama Papa ! Kalau begitu kan aku tidak akan memelukmu, bikin malu saja."


"Sudahlah, aku mau mandi dulu." Keno pun dengan santainya memasuki kamar mandi Aira.


"Heyy kenapa ke kamar mandi ku sih, ke kamar mandi tamu saja sana."


"Tidak mau !" Keno pun tetap mandi di kamar mandi Aira.


"Ssttt, Ra. Airaa !" serunya di balik pintu.


"Apa ! Sudah selesai? Ayo turun, kita makan malam." Aira berpura- pura tidak mengerti kondisi Keno. Ia pun keluar kamarnya meninggalkan Keno yang tampak kebingungan dengan handuk yang tetap melilit di pinggangnya.


"Rasakan ! Salah sendiri mandi di sini, ngga ada baju ganti kan, haha. Pake handuk aja terus, wkwk." Batin Aira terus menertawakan kebodohan Keno.


***


"Keno mana? Kok kamu ketawa- ketawa sendiri sih sayang?" Tanya pak Andi mengernyitkan dahinya ketika melihat putrinya datang dan tertawa- tertawa sendiri.


"Keno mandi pah, dia sudah selesai sih tapi kan engga ada baju ganti. Biarin aja dia di sana terus hahaha."


Bu Mira pun ikut tertawa mendengarnya, "Itu gimana sih pacar kamu. Aneh- aneh aja orangnya."


"Ambilin baju papa dulu sana, kasihan dia kedinginan. Nanti sakit lagi." ucap Pak Andi terkekeh.


Aira pun menuruti perintah pak Andi, ia lalu ke kamar papanya memilihkan baju yang sesuai untuk Keno. Ia berencana mengerjai Keno. Aira memilih baju yang berukuran kecil dan mungkin tidak muat di tubuh Keno.


"Kenapa tidak turun sih, kita sudah lama menunggu. Ayo cepatlah, kami sudah lapar."


"Kau itu bodoh atau bagaimana, aku kaj tidak membawa baju ganti. Tunggu sebentar lagi mang Dadang akan mengantarkan baju untukku."


"Mau nunggu sampai kapan? Besok pagi? Nih pakai baju papa dulu." seru Aira melemparkan baju ke wajah Keno.


"Cihhh kasar sekali !"


Keno pun segera memakai baju yang dilemparkan Aira tadi. Dengan susah payah ia mencoba memakainya, baju itu sangat kecil bahkan hanya masuk satu lengannya saja.



Aira tertawa ketika melihat Keno yang sedang berjuang memakai baju itu. "Ayoo cepat, kenapa lama sekali sih haha."

__ADS_1


"Kalau tidak salah tubuh Papa sama aku itu tidak beda jauh, tapi kenapa baju papa kecil sekali tidak muat di tubuhku."


"Memang tubuhmu dengan papa itu sbeelas dua belas, tapi aku sengaja memilihkan baju papa yang kecil untukmu."


"Heuhh akhirnya bisa masuk." seru Keno saat berhasil memakai baju itu.


"Pffttt, seksi sekali kau." Aira tertawa melihat Keno memakai baju yang kekecilan itu, lekukan tubuhnya terlihat jelas dan mungkin menyesakkan Keno.


"Jangan meledek ! Ini kan gara- gara kau ! Berani mengerjaiku lagi awas saja kau."


"Aku malah tambah bersemangat untuk mengerjai lagi." Aira tertawa puas.


***


Pagi harinya, Aira berencana untuk ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum bekerja. Ia ingin menjenguk Ellen, tak lupa Aira membelikan buah dan kue untuk temannya itu.


"Ellen, aku datang." seru Aira saat memasuki ruangan Ellen. Ia terdiam seketika saat melihat ada seseorang yang sedang tertidur pulas di sofa ruangan itu. Hatinya kembali sesak melihat Keno tertidur di sofa, ia tak habis pikir Keno segitunya dengan Ellen sampai- sampai Keno tidur di rumah sakit semalam menemani Ellen.


"Ternyata kau semalam tidak kembali ke rumah ya..." lirih Aira dalam hatinya.


"Hai Aira kau datang, kenapa kemarin tidak kembali lagi ke sini?" tanya Ellen.


"Ah maaf Ele, kemarin aku ada urusan jadi tidak bisa kembali lagi ke sini."


"Kau membawa apa? Maaf telah merepotkan mu."


"Tidak apa, Ele. Kenapa bubur mu belum kau sentuh sama sekali?" tanya Aira ketika melihat bubur yang disediakan rumah sakit masih utuh di atas nakas.


"Aku menunggu Keno bangun, aku ingin disuapi dia." ucap Ellen.


Jleb ! Perkataan Ellen kembali menusuk relung hatinya, Aira ingin mengatakan saat itu juga kalau ia adalah kekasih Keno dan ingin menyuruh Ellen berhenti meminta Keno untuk menyuapi, menemani, dan yang lainnya. Ia sudah tidak sanggup melihatnya.


"Aira." seru Keno yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Keno kau sudah bangun, kemarilah ayo suapi aku. Aku menunggu mu bangun, jadi aku belum sarapan dan minum obat." ucap Ellen antusias.


"Berhenti menyuruhnya ! Kau bukan anak kecil lagi, tangan mu juga masih berfungsi jika hanya memegang sendok saja !" batin Aira menyeruak.


"Ele, aku ingin mandi dulu. Apa kau tidak keberatan jika Aira saja yang menyuapi mu?" tanya Keno.


"Hm baiklah. Kau mandi saja dulu, aku akan menunggu mu. Aku tidak akan makan dan minum obat jika tidak kau suapi." jawab Ellen merajuk layaknya anak kecil.


Keno hanya bisa menggaruk tengkuknya, lalu masuk ke kamar mandi. Sedangkan, Aira semakin panas dibuatnya ia pun segera keluar dari ruangan yang seakan tidak ada udara segar itu sehingga sangat menyesakkan dadanya.


Baru beberapa langkah keluar dari ruangan VVIP itu, ada yang menepuk pundaknya sehingga memberhentikan langkahnya.


"Haiii bocil." seru Alfa yang menepuk pundak Aira tadi.


"Kak Alfa mengagetkan ku saja."


"Kau menjenguk teman mu ya?"


"Iya kak."


"Oh ya, apa kau sudah sarapan? Kalau belum mari kita ke kantin untuk sarapan."


"Sebenarnya aku sudah sarapan. Tapi aku akan menemani kak Alfa sarapan. Ayo kita ke kantin Kak."


"Anak baik." ucap Alfa seraya mengacak- acak rambut Aira dan merangkulnya menuju ke kantin.


Tanpa di sadari ada orang yang menyaksikan mereka berdua. Ia tampak emosi ketika melihat Aira begitu dekat dengan dokter itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa likenya teman- teman, terima kasih sudah membaca hehe :D :D :D


__ADS_2