Hello Presdir

Hello Presdir
Aksa Menghilang


__ADS_3

Sesampainya di sekolahan, Aksa tak langsung masuk ke kelasnya. Ia tertarik dengan anak perempuan yang rambutnya dikuncir kuda sedang menangis di taman sekolahnya.


"Clara, kenapa kamu menangis?" tanya Aksa. Clara adalah anak dari pasangan Mega dan Sandi.


"Tadi aku dikatain jelek kayak upil sama Devano," jawab Clara sesegukan.


Aksa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, "Kamu kan emang jelek kaya upil, jadi tak perlu menangis."


Clara malah semakin menangis kencang membuat beberapa guru datang menghampiri mereka. "Dia nakal, Bu. Tolong hukum dia..." adu Clara kepada Bu Vivi, wali kelas Aksa.


"Aku nggak nakal, Bu. Tadi aku cuma bilang kalau Clara itu kayak upil, itu kan benar? Ehh dianya malah nangis," jelas Aksa.


Bu Vivi menggelengkan kepalanya, pantas saja Clara menangis ternyata gara- gara Aksa.


"Aksa, masuk ke kelasmu sekarang biar ibu yang menenangkan Clara."


Aksa pun patuh, ia segera masuk ke kelasnya yang tak jauh dari taman itu. Yang pertama ia lakukan ketika sampai kelas adalah tidur. Ya, anak itu benar- benar malas karena jam pertama nanti adalah bernyanyi dan bermain, ia sangat tak suka kedua hal itu. Lebih baik tidur saja. Dengan berbantal tas miliknya, ia pun mulai memejamkan matanya.


"Anak- anak...Ayo kita pergi ke ruang musik ya, kelas akan segera dimulai," seru Bu Anggun, guru musik di sekolah itu. Semuanya patuh, kecuali Aksa. Anak itu benar- benar tidur di mejanya.


"Aksa...Ayo ke ruang musik..." Bu Anggun menggoyangkan bahu Aksa, anak itu enggan bangun juga.


"Nanti lagunya bukan lagu anak- anak kok, Ibu akan mengajarkan lagu- lagu barat," ucapan Bu Anggun itu mampu membangunkan Aksa. Guru itu tahu bagaimana Aksa, jadi ia berusaha membohonginya supaya anak itu bangun.


"Benarkah? Tapi aku nggak yakin!" ucap Aksa.


"Benar, nanti kamu boleh bernyanyi lagu favorite kamu sendiri. Bernyanyilah sesukamu, yang penting kamu ikut kelas ibu..." Bu Anggun hanya bisa mengusap dadanya menghadapi Aksa.

__ADS_1


*****


Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 siang, sudah waktunya pulang. Aksa dan Devano menunggu orang tua mereka menjemput di depan loby. Semuanya telah dijemput, hanya mereka saja yang belum.


"Papa sama Mama mana ya?" tanya Devano, ia mulai panik karena belum ada yang menjemput. Cacing di perutnya sudah mulai menari- nari. Tak ada makanan, kantin pun sudah tutup.


"Ya mana kutahu!" ketus Aksa. Ia sebenarnya juga panik, karena sudah hampir setengah jam menunggu tak ada yang menjemput.


"Kamu nggak bawa iPad hari ini? Kalau bawa mending kamu pesan ojek online buat kita," seru Devano.


"Aku sudah nggak bawa lagi. Kemarin Mama tahu kalau aku membawa iPad ke sekolahan, dia memarahiku dan mengancam tak akan memperbolehkanku bermain iPad lagi," jelas Aksa. Anak itu memang sering diam- diam membawa iPad ke sekolahan, hanya Devano saja yang mengetahuinya. Ia memang sengaja membawanya, berjaga- jaga bila bosan.


"Kita naik taksi aja yuk, kamu masih ada uang nggak?" tanya Aksa.


"Masih sepuluh ribu." Devano mengeluarkan uang dari sakunya dan memberikannya kepada Aksa.


"Okay nggak papa, uangku hari ini masih banyak kok sepertinya cukup untuk membayar taksi." Aksa dan Devano lalu menuju ke depan sekolah mereka untuk mencari taksi. Kedua anak itu sudah melambai- lambai mencoba memberhentikan taksi tapi belum ada yang mau berhenti juga. Karena para sopir taksi pasti berpikir jika dua anak kecil itu hanya mengerjai mereka.


Mereka harus membayar 50.000 untuk taksi itu. Uang yang Aksa miliki dan dari Devano tadi kurang sepuluh ribu, untung saja Pak Sopir baik kepada mereka jadi tidak apa jika membayar 40.000 saja.


"Besok kalau aku bertemu dengan bapak lagi, aku akan membayar kekurangannya. Semoga bapak hari ini dapat penumpang yang banyak ya," seru Aksa sebelum taksi itu meninggalkan halaman rumahnya.


Aksa memang sengaja menyuruh Devano untuk ke rumahnya karena jika harus mengantarkannya ke rumahnya sendiri, uangnya tak cukup untuk membayar taksi.


*****


Di sisi lain, Aira dan Niken kebingungan mencari anak mereka di sekolahan. Mereka telat menjemput karena berbelanja bersama terlebih dahulu.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Ini kelalaian kami, kami tidak tahu jika Ibu belum menjemput mereka," ucap Bu Vivi. Ia jadi merasa bersalah tidak menjaga Aksa dan Devano tadi.


"Devano..." lirih Niken. Ia sedih, takut anaknya itu diculik.


"Hubungi suamimu, aku juga akan menghubungi suamiku," pinta Aira kepada Niken. Sekelebat pikiran buruk berkeliaran di kepalanya.


"Saya sudah mencari di seluruh kelas, Bu. Tapi sudah tak ada anak- anak di sini," seru Pak Satpam yang semakin membuat Aira dan Niken cemas.


"Apa bapak tadi tidak melihat mereka keluar dari sekolahan ini?" tanya Aira memastikan.


Satpam itu menggeleng, dirinya memang tidak tahu saat Aksa dan Devano keluar tadi karena sedang asyik membaca koran.


Keno dan Frido yang kala itu tengah meeting langsung mengundur jadwalnya dan ikut mencari anak mereka. Beberapa anak buah telah dikerahkan untuk mencarinya tapi tak kunjung menemukan.


"Kita pulang dulu yuk, nanti Aksa pasti ketemu," ujar Keno menenangkan istrinya.


Aira mengangguk, ia ikut pulang meskipun hatinya tak tenang. Anaknya yang nakal itu entah dimana.


"Loh, Nak Aira kenapa nangis?" tanya Bi Ijah terheran- heran.


"Aksa, Bi..."


"Aksa hilang, huuu...huuu.....huuuuu...."


"Loh, Nak Aksa kan ada di kamarnya sama Nak Devano."


Ucapan Bi Ijah itu membuat Aira dan Keno terkejut, mereka langsung menuju kamar Aksa.

__ADS_1


"Kok nggak bilang sih, Bi? Kita udah nyari kemana- mana loh," gerutu Keno.


"Bi Ijah juga nggak tahu kalau kalian mencari Nak Aksa." Bi Ijah menjawab seadanya, ia memang tak tahu jika Aira dan Keno itu mengira Aksa hilang. Karena Aira dan Keno tak menanyakan orang rumah terlebih dahulu sebelum mencari Aksa.


__ADS_2