
Waktu begitu cepat berlalu, bayi yang dulunya tak bisa apa- apa sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang pandai. Umurnya memang baru menginjak lima tahun, tapi anak itu seakan dewasa sebelum waktunya.
Tepat satu bulan ini Aksa bersekolah di TK yang bertaraf internasional. Biaya yang dikeluarkan pun sangatlah besar demi masuk ke sana, tapi itu tak seberapa karena pendidikan bagi anak memang yang utama menurut Aira dan Keno. Mereka hanya ingin pendidikan yang terbaik bagi Aksa.
"Sayang, sudah selesai pakai baju belum?" tanya Aira memasuki kamar anaknya.
Ia tak mendapati Aksa, tapi bisa mendengar anaknya itu sedang berceloteh. Dan ternyata Aksa sedang berada di bawah meja belajarnya bermain dengan 'Moku' kura- kura kecil kesayangannya.
"Aksa, kenapa belum dipakai seragamnya?" Aira menggelengkan kepalanya, anaknya itu hanya memakai dalamanya saja dan seragamnya entah dimana keberadaannya.
"Seragamnya dimana sayang?"
"Aku buang ke tempat sampah, Mah. Aksa mau langsung SD saja, di TK diajari baca tulis sama berhitung. Aksa kan sudah bisa, kenapa masih sekolah di sana?"
Aksa memang pintar, di usianya saat ini ia sudah pandai membaca, menulis, dan menghitung karena Mamanya lebih dahulu mengajarinya. Makanya, ia tidak mau bersekolah lagi di TK, membuang- buang waktu saja, pikirnya.
Aira mengambilkan seragam yang baru dari lemari dan berusaha memakaikannya pada Aksa. Tapi anak itu terus berlari dan menghindari Mamanya.
"Aksa..." Aira mulai lelah dengan kelakuan anaknya itu, ia duduk di tepi ranjang dan membiarkan anaknya berbuat semaunya.
Aksa berhenti karena Mamanya tak mengejarnya lagi, ia terdiam melihat wajah Mamanya yang sendu. Dengan langkah pelan, ia menghampiri sang Mama.
"Mama maafin Aksa..." lirih Aksa menundukkan wajahnya di depan Aira.
Ia memberanikan dirinya untuk menatap Aira karena tak ada respon apapun dari wanita itu. Aira berkaca- kaca menatap anaknya, terkadang ia jengkel tapi juga tak tega melihat anaknya ketakutan seperti itu.
"Sudah berapa kali Aksa nakal seperti ini? Dan sudah berapa kali Mama menasihatimu?"
"Banyak sekali, Mah. Maafkan Aksa, Aksa nggak akan nakal lagi. Aksa mau sekolah..."
Aira tersenyum, ia lalu memakaikan seragam anaknya. Dan mulutnya tak berhenti memberi nasihat kepada Aksa yang entah didengar atau tidak karena Aksa malah asyik dengan kura- kuranya.
"Bukankah kemarin kamu sudah semangat ke sekolah meskipun yang diajarkan bu guru sudah kamu pahami sebelumnya? Lalu kenapa sekarang jadi malas lagi? Apa ada masalah di sana?"
"Enggak ada Mama, Aksa hanya malas saja bertemu dengan mereka yang bodoh," jawab Aksa. Ia tak suka ketika melihat temannya tak langsung memahami pelajaran, anak itu tidak menyukai orang- orang bodoh.
__ADS_1
"Aksa, mereka itu sedang belajar. Jadi wajar kalau kesulitan, seharusnya kamu harus membantu mereka dong. Biar cepet memahami pelajarannya."
"Sudah, sekarang ayo sarapan. Papa sudah menunggu dari tadi."
Aira menggendong anaknya menuju ke meja makan, mendudukkan anak itu di samping Papanya, dan mengambilkan pancake serta susu.
"Terima kasih Mama..."
"Habiskan, jangan berbicara kalau sedang makan," ucap Aira menyodorkan garpu kepada anaknya.
"Kamu tadi ngapain aja? Lama sekali, lihat nih Papa saja sudah selesai sarapan," ucap Keno tapi tak digubris Aksa.
"Heyy, kalau diajak bicara itu dijawab. Sombong sekali sih!" Keno geram, ia mencubit hidung anaknya.
"Tuan Keno, apa Anda tidak mendengarkan ucapan Mama tadi? Kalau sedang makan itu tidak boleh berbicara! Permisi!" Aksa yang merasa terganggu pun langsung membawa makanannya menuju ke ruang keluarga. Menikmati sarapannya di sana karena tak mau diganggu Papanya.
Aira tertawa mendengarnya, anaknya sangat menggemaskan. Sedangkan Keno, ia terdiam memandangi anaknya yang sedang asyik makan. Anak itu benar- benar menyebalkan.
"Apa?" tanya Aira karena Keno menatap dirinya.
"Loh kok menyebalkan? Aksa kan benar kalau makan nggak boleh bicara, kamu tuh yang salah. Anak lagi makan kok diajak ngobrol, sebel kan dia sama kamu," ucap Aira tergelak.
Keno mendengus kesal dibuatnya, anak sama istri ternyata tak ada bedanya.
"Oh ya sayang, kalau anak lima tahun itu emangnya boleh ya masuk SD?"
"Aksa merengek minta masuk SD lagi? Biarkan TK dulu saja, meskipun dia jenius tapi aku tetap nggak akan membiarkan dia masuk SD di usianya yang baru lima tahun," jawab Keno.
"Kamu sudah selesai kan makannya? Kalau sudah ayo berangkat sekarang," ajak Keno. Mereka segera meninggalkan meja makan dan menuju ke depan.
Baru saja sampai di pintu gerbang, mereka teringat jika Aksa masih ada di dalam.
"Anakmu masih di dalam," ucap Aira.
"Aduhhh, kenapa bisa lupa gini sih." Keno dan Aira pun segera turun dari mobil dan kembali masuk mencari anaknya.
__ADS_1
"Aku pikir kalian memang sengaja meninggalkanku, aku sudah senang loh tadi karena nggak akan pergi ke sekolah," celetuk Aksa ketika orang tuanya kembali menemui dirinya.
"Jangan banyak bicara, ayo ke sekolah sekarang." Keno menggendong anaknya dan mengajaknya berlari menuju ke mobil.
"Yeyyyy aku terbang...." pekik Aksa kegirangan karena Keno menggendongnya seperti pesawat.
"Huhh, berat sekali." Keno menjatuhkan tubuh anaknya di bangku belakang.
"Salah sendiri gendong Aksa..." ledek Aksa membuat Keno mendengus kesal.
Mereka segera berangkat dan pergi mengantar Aksa terlebih dahulu.
"Mamah, harusnya aku kalau sekolah itu hari Rabu saja. Kan kalau hari Rabu ada pelajaran Bahasa Inggris," seru Aksa. Anak itu berpindah ke depan dan duduk di pangkuan Mamanya.
"Bukankah hari ini juga ada pelajaran bahasa inggris?"
"Iya Mamah, tapi hanya sebentar. Hari ini hanya akan bernyanyi- nyanyi, Aksa nggak suka."
"Kenapa memangnya? Kamu kan juga suka nyanyi..."
"Tapi Mamah, yang dinyanyikan itu beda. Masa nyanyinya itu Balonku ada lima, cicak di dinding, pelangi pelangi, twinkle- twinkle. Cuma itu, Aksa nggak suka lagu anak- anak," tutur Aksa panjang lebar.
"Kamu kan emang masih anak- anak, wajar dong kalau lagunya seperti itu," sahut Keno.
"Coba kalau nyanyinya I like you so much, i love you 3000, pasti Aksa akan suka."
"Itu lagu orang dewasa, Aksa!" Keno menepuk jidatnya.
"Tapi bagus Papa..." Aksa lalu bernyanyi dengan riangnya bersama sang Mama. Anak itu begitu fasih berbahasa inggris.
I like your eyes you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
I like you more, the world may know but don't be scared
__ADS_1
'Cause I'm falling deeper, baby be prepared