
Suara adzan subuh berkumandang, Aira tampak mengerjapkan dan mulai membuka matanya. Rasanya sangat berat untuk terbuka, matanya sembab karena semalam terlalu banyak menangis. Mencoba beranjak bangun, namun ia tak sanggup karena sekujur tubuhnya nyeri semua.
Dirasakannya ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Aira pun mencoba menilik siapa gerangan pemilik tangan itu, yupppsss...itu tangan Keno. Keno tertidur bersimpuh di lantai yang beralaskan karpet bulu dengan tangan kiri ia jadikan bantal dan tangan kanannya ia lingkarkan di perut Aira.
Aira baru sadar kalau semalam ia tertidur di dalam mobil, dan pasti Keno lah yang sudah menggendongnya sampai ke kamar. Mungkin Keno ketiduran setelah membaringkan tubuh Aira di ranjang.
Aira tersenyum menatap lelaki yang sangat perhatian dengannya itu. Ia menyisir rambut Keno dengan jari jemarinya dan penuh cinta serta kelembutan.
"Ken...Ayo bangun." seru Aira lembut mencoba membangunkan Keno yang masih tertidur pulas. Ia mencoel pipi, hidung, dan telinga Keno namun ia hanya menggeliat saja dan tak kunjung bangun. Namun Aira tetap mengganggu Keno supaya Keno terbangun dan segera menunaikan solat subuh.
"Awww..." pekik Aira saat jarinya di gigit Keno.
"Makanya jangan ganggu singa yang lagi tidur." seru Keno dengan senyum smirk.
"Kamu kenapa tidur di bawah sih."
"Ya nanti kalau tidur di atas ranjang samping kamu, kamunya marah lagi."
"Ya maksud aku kenapa engga tidur di kamar kamu sendiri."
"Takut kalo tidur sendiri." jawab Keno asal. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Membuat Aira menggelengkan kepala mendengar jawaban tak masuk akal.
Setelah menjalankan solat dua rakaat, Keno langsung menghampiri Aira yang sedang duduk di ranjang dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya seraya memainkan ponsel.
"Apa tubuh mu masih sakit?"
"Sudah tidak lagi." jawab Aira berbohong. Sebenarnya sekujur tubuhnya masih sakit malah sangat sakit, lebih sakit dari kemarin.
Keno meletakkan kepalanya di atas paha Aira mulai memejamkan matanya kembali, melanjutkan tidur yang sempat terhenti tadi. Aira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Keno yang manja. Tangannya mulai mengusap pelan kepala Keno mencoba memberikan kenyamanan supaya mendapatkan mimpi yang indah. Ia tahu kalau Keno pasti berjaga semalam karena mengkhawatirkan Aira, takut jika ada apa- apa. Sungguh, Ia merasa beruntung mendapatkan lelaki seperti Keno.
***
Aira sudah tampak segar setelah mandi, walaupun ia sesekali meringis saat menggosok tubuhnya yang memar. Ia sangat berhati- hati saat mandi kali ini.
Saat ingin keluar dari ruangan ganti, Aira menatap paper bag yang berisi gaun buatan mamanya yang akan ia pakai di pernikahan Hana hari ini. Air matanya kembali menetes saat melihat gaun berwarna putih itu. Mama dulu membuatkannya dengan penuh cinta dan sayang, mungkin sekarang kebencian mamanya akan menjadi bertambah. Tidak ada cinta dan sayang lagi untuk Aira.
Hati Aira sakit saat mengingat perkataan mama dan papanya semalam. Mereka mengatakan kalau tidak menganggap Aira sebagai anaknya lagi, sebegitu benci nya mereka, segitu jijiknya mereka dengan Aira.
"Jangan menangis, mereka tidak pantas untuk kau tangisi." ucap Keno langsung memeluk Aira yang sedang menangis tersedu- sedu.
"Ayo keluar dari sini, Mega dan Sandi ada di bawah menunggu kita. Kita akan sarapan bersama." Aira mengangguk dan segera mengusap air matanya kemudian mengikuti Keno menuju meja makan.
"Hai Airaa, aku kangen banget nih sama kamu." jerit Mega langsung memeluk Aira.
"Apasih kak, kaya engga ketemu dua tahun aja. Padahal semalem baru ketemu." celetuk Aira menggelakkan tawa.
"Udah- udah pelukannya, ayo sarapan gue udah laper banget nih." seru Sandi.
"Jadi kau ke sini cuma mau minta makan?" tanya Keno.
"Hehe, itu salah satunya." Sandi nyengir kuda membuat Keno menggelengkan kepalanya.
Mereka lalu menikmati sarapan, hari ini sarapan yang dibuat bi Ijah makanan berat semua karena Keno yang meminta. Seperti rendang, gulai, sate, ikan, ayam goreng, dan masih banyak menu lainnya. Tentunya untuk menjamu kedua sahabat Aira, sebagai rasa ungkapan terima kasih atas semalam.
"Oh ya, kok tumben kalian ke sini? Mau ngapain kak?" tanya Aira seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
"Kan tadi suami gue udah bilang mau minta makan, Haha. Engga gitu juga sih, kita cuma pengen main ke sini aja mumpung weekend juga." jawab Mega.
"Dan sepertinya kita bakalan ke sini terus." timpal Sandi.
"Kenapa?" tanya Keno mengernyitkan dahinya.
"Di sini banyak makanan, jadi kita kan bisa irit. Di sini juga nyaman, rumah lo gede banget sumpah. Tadi aja kita sampe kesasar keliling rumah ini."
"Kalau kalian mau menginaplah di sini untuk malam ini."
"Bolehkah? Wah dengan senangnya, oke oke kita bakalan nginep malam ini." ucap Mega dengan girangnya.
"Nooo ! Nanti kita engga bisa bebas sayang, kamu kan suka menjerit kalau malam. Kita pulang aja ya, biar cepet jadi." tutur Sandi membuat Aira dan Keno tertawa, sedangkan Mega hanya diam menahan malunya.
"Tenang aja, semua kamar di rumah ini kedap suara kok jadi kalian bisa bebas mau ngelakuin apa aja, termasuk mantap- mantap." seru Keno terkekeh geli.
"Benarkah begitu?" tanya Sandi masih tidak percaya.
"Benar kak, kalian nanti bisa mengaung, mengembek, mengeong, apapun deh dan engga bakalan kedengaran sama yang lain kok, hahaha." timpal Aira.
"Baiklah kalau begitu, aku setuju." Mereka pun tertawa lalu kembali menikmati sarapan.
Di sela- sela itu, Keno mendapatkan pesan dari salah satu anak buahnya yang memberitahukan kalau mereka sudah mengetahui siapa dalang di balik semua ini.
"Brengsekk !!!" umpat Keno saat mendapatkan informasi dari anak buahnya.
"Kenapa?" tanya Sandi, Mega, dan Aira bersamaan.
__ADS_1
"Anak buah ku sudah menyelidiki siapa orang yang menyuruh pelayan itu merusak pesta pernikahan Hana dan memfitnah Aira."
"Siapa orang itu?!" tanya Sandi dan Mega sedikit membentak.
Keno menatap Aira yang sejak tadi juga menatap dirinya itu, terlihat tidak tega untuk mengatakannya tapi Aira juga berhak tahu. Keno menjadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Yang menyuruh pelayan itu adalah Raka. Mantan pacar Aira."
"AAAAPPPPAAAA !!!" Sandi dan Mega menjerit tak percaya dengan ucapan Keno, sedangkan Aira hanya diam saja masih mencoba mencerna ucapan Keno.
"Brengsek tuh anak, bisa- bisanya ngelakuin itu. Engga mikir apa kalau malah membuat orang lain menderita." Mega tersulut emosi tangannya sudah mengepal.
"Engga ada otak ya tuh anak, Ah rasanya pengen gue bunuh sekarang juga." Sandi ikut emosi saat mengetahui siapa dalang yang membuat Aira disiksa oleh orang tuanya sendiri.
"Untuk apa dia melakukannya? Mengapa dia menghancurkan pesta pernikahannya sendiri?" tanya Aira menundukkan wajahnya sedih dan air mata kembali membanjiri pipinya. Orang yang mencintainya dulu malah membuatnya susah, Aira tidak habis pikir dengan ulah Raka.
"Sepertinya dia memang sengaja supaya pernikahan itu benar- benar gagal, dia tidak ingin menikah dengan Hana, dia masih mencintai mu dan menginginkan mu." jelas Keno.
***
Raka tampak santai pagi ini. Bahkan sudah jam tujuh pagi namun ia enggan beranjak dari ranjangnya dan tetap menyelimuti tubuhnya. Padahal ini adalah hari pernikahannya yang akan dilangsungkan jam sembilan nanti.
"Aira, tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera mengajak mu ke tempat yang sangat jauh, kita akan menikah dan bahagia selalu. Tak akan ada lagi yang mengganggu kita, Aku mencintai mu." gumam Raka seraya memandangi foto dirinya bersama Aira di ponselnya.
Raka berbicara seperti itu karena ia yakin pernikahan dengan Hana tidak akan terjadi, semuanya telah ia hancurkan. Dia akan menikah dengan Aira, hanya Aira bukan Hana.
"Raka kamu sudah siap atau belum, Nak?" tanya Mama Raka memasuki kamar anaknya itu.
"Ya Allah, Raka. Kenapa malah belum mandi, hari ini adalah hari pernikahan kamu loh." Mama Raka terkejut saat melihat Raka masih memakai piyama, masih rebahan di ranjang seraya memainkan ponselnya.
"Raka tidak akan menikah dengan Hana mah, Aku hanya ingin menikah dengan Aira bukan yang lain."
"Sudahlah nak. Kau jangan seperti itu. Aira bukan jodoh mu, kau harus bisa menerima takdir. Lagi pula Aira juga sudah memiliki pengganti dirimu kan." Mama Raka terus menasihati anaknya.
"Sekarang kau bersiaplah, pernikahan akan dilangsungkan dua jam lagi. Ayo..."
"Tidak mah, Raka tidak akan menikah dengan Hana. Raka tidak mau menikah."
"RAKA !!!" Teriak papanya Raka di depan pintu kamar.
"Apa yang kau katakan ! Jangan buat malu papa dengan menggagalkan pernikahan ini."
"Tapi pah, pernikahan itu untuk seumur hidup dan itu tidak lah mudah jika orang yang kita nikahi sama sekali tidak kita cintai. Raka hanya ingin menikah dengan orang yang Raka cintai dan juga mencintai aku pah."
"Pokoknya kamu harus menikah dengan Hana, jangan membuat Papa malu, Raka !!! Arrrggghhhh...." Papanya Raka memegang dadanya karena sakit.
"Kalau kamu memang tidak ingin menikah, jangan harap kamu bisa melihat papa lagi. Papa akan bunuh diri daripada harus menahan malu karena pernikahan yang batal."
Raka kalah telak, ia tidak bisa berkutat lagi. Raka mengingat perkataan dokter waktu itu, bahwa papanya mengalami serangan jantung jika mendengar sesuatu yang tidak baik. Raka tidak mau papanya terkena serangan jantung lagi atau mencoba untuk bunuh diri. Raka sangat menyayangi papanya walau papanya suka bertindak semaunya sendiri.
"Baiklah aku akan melanjutkan pernikahan ini, kalian keluarlah. Aku akan segera bersiap- siap." ucap Raka yang seketika membuat senyum mengembang di bibir kedua orang tuanya.
***
Raka sudah siap dengan pakaiannya, dia terlihat gagah, tampan, dan juga penuh wibawa. Namun sayang, tak ada senyum yang mengihiasi wajahnya. Dia terpaksa melakukan pernikahan ini.
Raka dan keluarganya sudah memasuki halaman rumah pak Andi. Rumah yang semalam sempat kacau balau itu kini sudah tampak cantik dan megah. Dengan segala kekuasaan yang ada, dalam semalam saja pak Andi beserta keluarga mampu mempersiapkan pesta pernikahan. Kekacauan semalam tentu saja tidak diketahui oleh pihak keluarga mempelai pria kecuali Raka.
Raka terkesiap, wajahnya pucat pasi saat melihat rumah pak Andi yang siap untuk melangsungkan pernikahan. Padahal semalam bi Firda, orang suruhan Raka yang disuruh untuk menghancurkan pesta bilang kalau semuanya sudah hancur. Tapi ini apa, semuanya tampak baik- baik saja. Raka tidak percaya jika mempersiapkan pernikahan hanya satu malam saja. Itu tidaklah mungkin.
Tamu sudah tampak berhamburan datang untuk menghadiri pernikahan itu. Pernikahan dihadiri oleh banyak sekali tamu, mulai dari rekan bisnis, rekan kerja Raka yang notabennya sebagai tentara, dan rekan kerja Hana sendiri yang notabennya sebagai seorang polisi wanita.
Sungguh, hati Raka menangis melihat semua ini. Rasanya ia masih berada dalam alam mimpinya, duduk menatap penghulu yang siap menikahkan dirinya. Keluarga yang sudah duduk mengelilingi dan siap menyaksikan ijab qobul di taman rumah pak Andi yang sudah disulap sedemikian rupa, semakin membuat jiwa Raka ingin memberontak. Ia tidak sanggup jika tetap melangsungkan pernikahan ini. Rasanya ia ingin tidur selamanya saat itu juga. Bagaimana Aira? Aira sangat mencintai dirinya, begitupun Raka. Ah, yang ada dipikiran Raka hanyalah Aira dan Aira.
Pernikahan ini adalah pernikahan impian Raka, dengan adanya acara Sangkur pora nanti yang sangat ia damba- dambakan oleh dirinya dan Aira. Tapi pernikahan ini bukan Aira yang akan menjadi mempelai wanitanya. Kacau, hatinya sangat kacau. Ingin memberontak dan mengumumkan bahwa ia akan membatalkan pernikahan ini, tapi perkataan papanya yang akan bunuh diri dan meninggalkan dirinya itu terus terngiang di kepalanya.
Dengan balutan gaun pengantin berwarna putih, riasan make up yang dilakukan oleh para perias profesional, Hana tampaklah lebih cantik dari biasanya. Berjalan anggun dan pelan menuju kursi di samping calon suaminya yang tampak siap mengucapkan ijab qobul. Senyumnya terus mengembang, tapi tidak dengan calon suaminya itu.
Penghulu mulai menjabat tangan Raka dan mulai mengucapkan ijab. Namun setelah selesai membacakan ijab, Raka tak kunjung menjawabnya.
"Maaf..." lirih Raka menundukkan kepalanya setelah mengusap wajahnya kasar.
"Tidak apa, mungkin mempelai pria masih gugup. Kita coba beberapa menit lagi."
Raka mencoba menguatkan dirinya, ia melirik ke arah orang tuanya. Dilihatnya Mamanya tersenyum mencoba menenangkan Raka dan berharap Raka bisa melangsungkan pernikahan ini. Sedangkan papanya sudah tampak gelisah, ia takut jika pernikahan gagal.
Beberapa menit kemudian, acara kembali dilangsungkan. Tampak Raka menghela nafasnya sebelum mengucapkan...
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Aulia binti Muhammad Anas dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara lantang terdengar dari mulut Raka, dan kata "SAH" terdengar dari para tamu yang menyaksikan. Raka masih belum bisa menerima jika dirinya sudah menikah dengan orang yang tidak ia cintai sama sekali. Tapi ketika melihat Papa dan Mamanya tersenyum bahagia, Raka mulai mencoba menerima kenyataan ini.
Seusai upacara akad nikah selesai, dilanjutkan upacara militer Tradisi Korps Sangkur Pora. Tim inti terdiri 13 Bintara Tim Sangkur, anggota Kesatuan Paspampres, malaksanakan suatu tradisi yang menjadi kebanggaan prajurit TNI.
__ADS_1
Tradisi Sangkur Pora yang sudah menjadi tradisi Satuan ini merupakan suatu hal yang dapat dibanggakan karena ini, adalah suatu bentuk perhatian dan suatu wujud kepedulian sekaligus rasa hormat dari Pimpinan dalam hal ini adalah Komandan Kesatuan.
kemudian kedua mempelai bersama rombongan menuju tempat resepsi. Sampai di tempat resepsi kedua mempelai turun dan disambut untuk kemudian diarak menuju tempat laporan Komandan Tim Sangkur Pora.
Posisi sangkur terhunus melambangkan bahwa, dengan bersikap dan berjiwa ksatria, kedua mempelai akan selalu siap untuk mengatasi segala rintangan hidup, yang akan menghalangi dan akan menghambat perjalanan bahtera kehidupan mereka.
Kedua mempelai kemudian harus melalui gerbang, dengan formasi berbanjar, sebagai gambaran yang mengandung arti bahwa, pintu gerbang yang baru dilalui merupakan awal dari suka dan duka dalam menempuh kehidupan yang baru, sebagai keluarga yang bahagia.
Lalu kedua mempelai berjalan diiringi Tim Sangkur Pora dengan formasi melingkar, melambangkan bahwa antara anggota Paspampres, masih terjalin hubungan ikatan batin yang kuat sebagai kakak,rekan dan adik, dengan hati yang rela melepaskan kedua mempelai untuk berjuang menempuh bahtera kehidupan yang baru.
Kemudian melakukan, formasi melingkar membentuk payung. Usai melaksanakan formasi itu, kemudian dilanjutkan pemasangan cincin dan penyerahan pakaian Persit oleh Komandan dan pemasangan cincin.
Pamasangan cincin mengandung arti ikatan batin yang kokoh, bahwa mempelai akan selalu bersama-sama dalam mengarungi bahtera kehidupan yang baru. Adapun penyerahan seperangkat pakaian Persit kepada mempelai wanita ini, menandakan telah sahnya sebagai istri prajurit sejati.
Hana nampak bahagia sekali, pernikahan yang juga ia impikan telah berlangsung sesuai ekspektasinya tak ada masalah sedikitpun. Menjadi istri seorang tentara memanglah dambaan setiap wanita, begitu juga dengan Hana. Kini ia sudah sah menjadi istri Raka yang notabennya adalah tentara sekaligus CEO di perusahaan Permana dan juga orang yang di cintai Hana walau baru saja.
Hana menangis terharu saat menerima ucapan selamat dari teman dan juga rekan- rekan kerjanya. Ia tidak menyangka bisa bersanding dengan Raka di pernikahan yang sangat mewah dan luar biasa ini. Pernikahan yang sempat kacau tapi tetap berjalan sempurna setelahnya.
Pak Andi, bu Mira dan bu Ratna menghampiri kedua mempelai itu. Mengucapkan selamat atas pernikahan yang baru saja berlangsung dan berdoa untuk keduanya.
"Selamat ya buat kalian. Raka, sekarang tugas kamu adalah menjaga Hana, memberinya kebahagiaan, dan Om mohon jangan pernah menyakitinya." ucap Pak Andi dengan senyum yang mengembang. Ia sangat senang karena pernikahan tetap berlangsung dengan baik dan sesuai ekspektasi.
Raka hanya mengangguk dan tersenyum paksa menanggapi ucapan pak Andi. Ia tidak yakin bisa melakukannya.
"Selamat ya sayang, Tante do'akan semoga kalian bahagia selalu dan cepat diberikan momongan." ucap bu Mira dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih tante..."
Raka mencari Aira sedari tadi namun tak kunjung menemukan orang yang dicarinya itu, "Apa kamu tidak menghadiri pernikahan ini karena tidak sanggup melihat aku, orang yang kau cinta menikah dengan adik mu? Kalau memang begitu, aku akan mencari cara supaya bisa terlepas dari pernikahan ini. Persetan dengan ucapan orang- orang jika pernikahan yang baru saja terjadi harus hancur." gumam Raka dalam hatinya.
"Hana..."
"Iya suamiku..."
Ah, Raka jijik mendengar perkataan Hana walaupun itu benar dan sekarang Hana adalah istrinya jadi wajar jika berbicara begitu.
"Dimana Aira? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?"
"Oh dia, dia kan sudah pergi dari rumah ini. Dia diusir sama Om dan Tante bahkan tidak dianggap anak lagi sama mereka karena sempat menghancurkan pesta semalam."
"Apa ?!!!" Raka terkejut saat mendengar itu dari Hana. Bagaimana bisa Aira yang dituduh menghancurkan pesta ini bahkan Aira menjadi diusir dari rumah ini dan tidak dianggap anak lagi sama orang tuanya.
"Sudah kak, jangan dipikirkan. Dia itu memang jahat sudah berusaha menghancurkan pesta ini, aku belum bisa memaafkannya."
***
Duduk di bangku taman rumah Keno, Mega dan Aira sedang menyaksikan live streaming pernikahan di instagram Hana.
"Katanya semalam persiapan pernikahan hancur total, Ra? Tapi kenapa bisa berlangsung, masa iya cuma satu malam bisa menyiapkan pesta semewah ini." seru Mega.
"Kau seperti tidak tau Papa saja. Dia pasti akan berusaha apapun untuk Hana, cuma setengah jam saja papa juga bisa kok kalau buat Hana, haha." jawab Aira yang sebenarnya hatinya sakit melihat papanya sangat berjuang untuk Hana.
Mereka terus menyaksikan mulai dari awal pernikahan hingga acara hasta pora. Pernikahan yang dulu Aira impikan dan seharusnya Aira yang menjadi mempelai wanitanya.
Semua orang tampak bahagia menghadiri pernikahan itu, pernikahan yang dilangsungkan tanpa Aira. Aira kembali menangis melihat papa dan mamanya tampak bahagia akan pernikahan Hana. Harusnya papa dan mamanya mencari Aira dan mengajaknya kembali ke rumah tapi sepertinya mereka malah bahagia dengan tidak adanya kehadiran Aira.
"Dia ngerebut kebahagiaan aku kak, dia ngerebut papa sama mama. Dia sangat disayangi mereka, itu salah kak salah, huu huu huuu" Aira terisak di pelukan Mega. Mega ikut menangis, ia mengusap bahu Aira mencoba menenangkan dan memberi kekuatan.
"Sabar Aira, sabar. Aku yakin kebahagiaan lain akan menghampiri mu suatu saat nanti. Kau jangan memperdulikan mereka lagi, mereka sudah terlalu jahat kepada mu."
"Aira sangat menyayangi dan mencintai papa dan mama kak, huuuuu....Aira menyayangi mereka huuuu."
"Tapi kenapa mereka tidak bisa menyayangi Aira sedikitpun kak kenapa huuuu...."
"Aira selalu baik dengan Hana, Aira selalu mengorbankan apapun untuk dia kak huuuu...."
"Huuuu huuu huu....Dia boleh mengambil apapun yang Aira miliki kak, tapi tidak dengan Papa sama Mama."
"Dia merebut Papa sama Mama kak..."
"Dia jahat...dia jahat huuuuuu..."
Aira terus meracau, air matanya mengucur deras. Menangis tersedu- sedu, meratapi keadaan yang sangat menyedihkan itu. Ia hanya menginginkan Papa dan Mamanya, tapi wanita itu selalu mendapat kasih sayang dari mereka yang seharusnya di berikan untuk Aira bukan Hana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa like dan votenya ya. Kalau mau crazy up, votenya yang banyak ya biar semangat wkwk
Terima kasih sudah membaca, tunggu episode selanjutnya ya