
Tak terasa sudah seminggu Aira di rumah Keno. Hari ini adalah hari Sabtu, dimana ia dan Keno tidak bekerja.
"Pagi, Ken. Silakan sarapan," ucap Aira tersenyum.
"Pagi Aira. Apa kau tidak akan mengganti nama panggilan untukku?"
"Memang kenapa, atau kau mau aku panggil pria brengsek terus?" goda Aira.
"Kau mau dipecat," ketus Keno.
"Tidak," jawab Aira cepat.
Keno tertawa melihat ekspresi Aira. Mereka pun melanjutkan sarapan. Setelah sarapan Keno memilih untuk berenang, sedangkan Aira akan membantu bi Ijah beberes rumah.
"Bi, Aira bantu ya..."
"Eh iya, Nak Aira, boleh."
Aira melanjutkan menyapu dan bi Ijah menjemur pakaian.
"Bi, Mang Dadang kok engga keliatan sih kemana emangnya?" tanya Aira sopan.
"Tadi pagi demam non, kecapean kayanya."
"Emangnya semalam habis ngapain hayooooo," goda Aira menyenggol Bi Ijah.
Bi Ijah terkekeh ketika digoda Aira.
"Kok malah ketawa sih, Bi."
"Nak Aira ini suka banget sih goda bibi sama Mang Dadang. Saya kan jadi malu, Nak."
"Udahlah, Bi. Engga perlu malu kalau sama aku itu. Aku udah anggap bibi seperti Mama aku sendiri."
"Beneran, Nak? Wah senengnya punya anak seperti Nak Aira." Bi Ijah memeluk Aira.
"Aira jadi kangen Mama Papa, Bi," lirih Aira.
"Kenapa engga ketemu aja, mumpung libur."
"Males ah bi, mereka pasti lagi sibuk nyiapin pertunangannya Hana. Dan ntar aku malah dijadiin bahan ejekan mereka karena belum mau nikah."
"Loh tapi kan Hana bukan anak kandung orangtua Nak Aira, kenapa mereka yang repot?"
Aira menceritakan semuanya ke Bi Ijah. Ia bercerita kalau Mama sama Papanya lebih sayang dan selalu bangga dengan Hana bukan dengan Aira. Mereka yang selalu memanjakan Hana, membela Hana walaupun Hana yang salah, dan masa kecil Aira yang tidak dianggap oleh mama kandungnya sendiri. Semua diceritakan oleh Aira.
"Ya Tuhan, ternyata seperti itu, Nak. Bi Ijah jadi sedih dengernya. Mama Nak Aira ternyata seperti itu..." ucap bi Ijah meneteskan air matanya.
Aira segera menyekanya "Udah, Bi. Engga perlu nangisin aku, sekarang Mama banyak berubah kok. Dia bisa nerima aku, aku sayang dia, Bi."
"Nak Aira kuat sekali, kamu ini sebenarnya manusia apa bukan sih?" tanya bi Ijah membuat Aira terkekeh.
"La kalau bukan manusia aku apa, Bi? Kodok?" Aira tertawa dan bi Ijah pun ikut tertawa juga.
"Oh ya non, Bibi belum anter jus buat Tuan Keno," ucap Bi Ijah segera bangkit dari duduknya dan mengambil jus di kulkas beserta camilan dan menaruhnya di nampan.
"Ehm, biar aku aja yang anter, Bi," ucap Aira langsung mengambil nampan dari tangan bi Ijah.
"Beneran, Nak?"
"Iya, Bi, udah bibi temenin mang Dadang aja katanya dia sakit. Disayang- sayang dulu sana suaminya," goda Aira.
"Ih nak Aira ini bisa aja, hihihi"
Aira pun tertawa kecil melihat bi Ijah yang wajahnya malu dan nyengir- nyengir. Ia segera menuju ke kolam renang menemui Keno.
Ia berjalan sembari melihat- lihat setiap sudut rumah Keno.
"Rumah ini sangat besar dan mewah tapi cuma Keno yang tinggal disini apa dia tidak kesepian?" berucap sambil berjalan. Aira melangkah masuk ke ruangan kolam renang ia segera meletakkan nampan yang dibawanya ke meja pinggir kolam.
"Kok sepi tidak ada orang, dimana Keno?" lirih Aira. Aira terus mencari Keno ia berdiri di pinggir kolam. Tiba- tiba Keno muncul dan memegang kedua kaki Aira. Aira terkejut, ia tak mampu menahan tubuhnya dan akhirnya Aira terjatuh. "BYUUUURRRR."
"Tolong!!!" Aira berteriak dengan nafasnya terengah.
Keno malah tertawa karena berhasil ngerjain si Aira tercebur ke kolam. Keno melihat Aira yang susah payah keluar dari kolam, ia berfikir kalau Aira sedang bercanda.
"Aku tidak bisa berenang, tolong !!!!" teriak Aira lagi.
Mendengar itu Keno langsung berenang menarik tubuh Aira dan memeluknya. Di dalam pelukan Keno, Aira berusaha mengatur nafasnya dan memegang pinggang Keno. Mereka masih berada di tengah- tengah kolam.
"Kalau tidak bisa berenang kenapa kesini, bodoh."
"Siapa yang mau berenang, aku cuma bawain jus jeruk buat kamu. Kamu malah ngagetin aku. Brengsek." Aira berteriak kepada Keno dan memukul dada telanjang Keno.
"Lepasin aku!" teriak Aira. Keno pun melepaskan pelukannya dan Aira gelagapan. Keno menarik dan memeluk Aira lagi.
"Bodoh, kau mau mati disini? Sudah tau tidak bisa berenang malah nyuruh ngelepasin," ketus Keno.
Aira hanya diam terpaku ternyata Keno khawatir dengannya walaupun ia ketus. Mereka saling menatap jantung berdetak cepat. Keno tertarik ingin mencium bibir Aira dannn CUPPPP, Keno menikmati bibir Aira. Aira tidak bisa menolaknya, Ia memejamkan matanya. Aira terus memukul dada Keno agar segera melepas ciumannya.
"Kenapa malah menciumku lagi sih, Aaaaa," teriak Aira dalam Hatinya.
"Manis." Keno tertawa dalam hatinya.
"Cie cie nak Aira sama Tuan Keno mesra- mesraan nih yeeeee," ucap sesorang dari seberang.
Spontan, Keno melepas ciumannya, ia dan Aira menoleh ke sumber suara itu. Dilihatnya ada dua orang yang sedang mengintip mereka dan terkekeh- kekeh tidak jelas.
"Bibi," seru Aira.
"Mang Dadang," seru Keno. Keno segera membantu Aira untuk ke tepi. Aira ingin sekali marah, tapi ada bi Ijah dan mang Dadang ia malah jadi salah tingkah dan malu.
"Maaf ya Bibi sama Mang Dadang ganggu kalian, hihihi," ucap bi Ijah.
"Kita datang di waktu yang engga tepat, Bu, hahaha," timpal mang Dadang meledek Keno dan Aira.
__ADS_1
"Apaan sih kalian," seru Aira kesal. Wajahnya masih merah dan menunduk.
"Bibi sama Mang Dadang mau ngapain?" tanya Keno
"Anu, kita mau izin belanja bulanan, Tuan, bahan- bahan di dapur sudah habis," ucap Bi Ijah. Keno pun menganggukkan kepalanya.
"Aku ikut ya bi, aku ganti baju dulu," ucap Aira
"Iya, boleh."
Aira langsung berlari ke kamarnya. "Bibi tunggu dulu ya, jangan ditinggal," teriak Aira dan terus berlari.
"Kaya anak kecil aja," lirih Keno menggelengkan kepalanya.
"Aku ikut juga ya, Bi, Mang. Ganti baju dulu," kata Keno segera meninggalkan kedua pembantunya itu.
"Tumben ikut, kesambet apa Tuan Keno," heran Mang Dadang.
"Kan nak Aira ikut, ya pasti dia ikutlah ahhaha."
Keno dan Aira sudah bersiap. Keno memakai kaos dengan celana pendek dan tak lupa dengan topi, sedangkan Aira memakai dress selutut dan juga tak lupa sling bag nya.
Keno, Aira, Bi Ijah dan Mang Dadang langsung masuk ke mobil. Keno duduk di depan bersama mang Dadang yang melajukan mobil. Sedangkan, Aira dan Bi Ijah duduk di belakang. Mereka tak bersuara sedikitpun. Keno tak henti- hentinya menatap Aira yang terlihat cantik dari spion mobil. Aira merasa risih karena Keno terus memandanginya.
"Kenapa lihat- lihat aku sih kamu, bikin deg- degan terus aja ihh." gerutu Aira dalam hati.
"Kenapa melihat ku terus, nanti suka loh," ketus Aira dan melototkan matanya kepada Keno.
"Siapa yang melihatmu, cih aku engga akan suka sama kamu." ucap Keno memalingkan wajahnya.
"Tuan Keno sama Nak Aira ini sebenarnya saling suka tapi sama- sama gengsi mau mengakui," ucap mang Dadang menggoda.
"Tidak akan !" teriak Keno dan Aira bersamaan. Mereka jadi salah tingkah dan saling menatap.
"Tuh, ngomong aja barengan gitu. Kayanya emang jodoh deh," timpal bi Ijah. Bi Ijah dan suaminya itu pun terkekeh melihat majikannya.
***
Mereka telah sampai di salah satu mall terbesar di kota itu. Mereka segera masuk dan membeli semua kebutuhan yang diperlukan.
"Bi, kita kemana dulu?" tanya Aira.
"Beli sayur, daging, buah, dan bumbu dapur non. Ayo bantu Bibi." Aira dengan senang hati membantu Bi Ijah. Mereka terlalu sibuk belanja hingga melupakan dua orang laki- laki yang sedari tadi mengikuti di belakang mereka.
"Ken, nanti malam mau makan apa?" tanya Aira.
"Apa aja bisa aku makan kok," jawabnya cuek.
"Yaudah, Bi, engga usah belanja di sini kalau gitu."
"Loh kenapa, nak Aira?" tanya bi Ijah.
"Pffttt wah betul itu, Nak Aira. Nanti biar saya yang motong rumputnya," sahut Mang Dadang tertawa terpingkal- pingkal.
"Mang dadang." Keno melirik tajam ke mang dadang yang menertawakannya dari tadi.
"Kamu tuh dasar ya, emang aku kambing apa dikasih makan rumput," ucap Keno menoyor kepala Aira.
"Aww sakit, iya maaf haha." Aira masih tertawa.
"Aduh pusing dehh liat tuan Keno sama nak Aira ini," seru Bi Ijah.
"Ibuk pusing? Duduk dulu buk, biar engga tambah pusing." Mang Dadang khawatir ketika istrinya mengaduh pusing.
"Hemm mulai nihh," ucap Keno menepuk jidatnya.
Bi Ijah hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang terlalu polos pikirnya itu. Setelah mengambil sayuran, daging, buah, dan bumbu dapur mereka melanjutkan untuk membeli camilan.
Kali ini Keno yang mengambil camilannya, ia mengambil banyak sekali snack dan ice cream hingga membutuhkan satu keranjang besar lagi.
"Kamu mau apa, Ra? Ambil aja."
"Kamu yakin beli sebanyak itu? Nanti kulkasnya engga muat loh."
"Ya yakinlah. Kan di rumah ada kamu juga sekarang, yaa...yaaa biar kamu betah aja tinggal di rumahku," lirih Keno sembari menundukkan wajahnya.
"Aaaaa jantungku ingin meledak mendengarnya, sepertinya dia suka jika aku tinggal di rumahnya." gumam Aira dalam hatinya.
"Terima kasih," ucap Aira sambil nyengir seperti kuda.
"Ehm aku mau ini ya.." ucap Aira mengambil roti bayi kesukaan Aira.
"Apa itu?"
"Ini roti bayi, enak banget aku sering makan. Kamu harus coba deh."
"Udah dua empat tahun tapi masih makan makanan bayi," sindir Keno.
"Biarin wlee.." ucap Aira menjulurkan lidahnya.
Kemudian datang bi Ijah dan mang Dadang. "Tuan, sudah selesai belum pilih snacknya?" tanya Mang Dadang.
"Sudah kok, kalian udah ambil keperluan kalian belum?" tanya Keno.
"Yaa ampun, Tuan. Tumben banyak sekali snacknya," seru Bi Ijah.
"Katanya dia beliin buat aku, Bi. Biar aku betah dirumahnya, nemenin dia," goda Aira.
"Ehh engga kok engga..." Keno menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal. Mereka tertawa melihat Keno salah tingkah.
Setelah semua barang yang diperlukan sudah diambil semua, mereka segera menuju kasir untuk membayarnya. Mereka memasukkan barang- barang ke mobil dulu baru makan siang di mall.
"Kita mau makan apa nih?" tanya Aira.
__ADS_1
"Kita ngikut aja non," ucap Bi Ijah dan mang Dadang.
"Kalau kamu mau makan apa, Ken?" tanya Aira.
"Ehm, gimana kalau di sana," ucap Keno menunjuk resto makanan Jepang. Mereka setuju dengan Keno, segera masuk dan memesan makanan. Mereka memesan Ramen dan berbagai macam sushi. Aira duduk di samping Keno, dan Bi Ijah di samping Mang Dadang. Sembari menunggu pesanan datang mereka bercanda dan berfoto bersama.
"Pak, mau aku suapin engga?" tawar bi Ijah kepada suaminya.
"Boleh bu, aaaa..."
Mereka sangat mesra walaupun sudah tua dan seakan hanya ada mereka saja di sana, padahal ada dua pasang mata yang melihat kemesraan mereka.
"Astaga mereka ini, serasa dunia milik berdua saja," bisik Aira kepada Keno.
Keno terkekeh melihat kedua pembantunya itu. "Sudah biasa, kau jangan kaget. Kau mau disuapin juga?" goda Keno.
"Tidakk, aku bisa makan sendiri," tolak Aira ia langsung mengambil sumpit dan memakan sushi.
Makanan yang mereka pesan sudah habis. Dan mereka masih ingin berjalan- jalan di mall.
"Tuan, maaf nih, saya dan istri saya boleh jalan berdua sebentar enggak? Mumpung bisa keluar ini hehe..." izin Mang Dadang.
"Kenapa sebentar, lama juga boleh," cuek Keno.
"Makasih, Tuan. Saya pamit dulu ya," pamit Mang Dadang. Mang Dadang dan istrinya langsung pergi meninggalkan Keno dan Aira. Entah mau kemana suami istri itu.
Keno dan Aira memilih untuk berjalan- jalan mengitari Mall.
"Ken, aku mau beli jepit rambut dulu. Kita kesana yuk," ajak Aira menuju toko aksesoris.
Aira memilih- milih jepit rambut. Ia bingung lalu bertanya kepada Keno.
"Menurutmu bagus warna biru atau abu?"
"Terserah kau saja, kau akan terlihat cantik pakai apapun," ucap Keno pelan.
"Apa?" tanya Aira yang tidak jelas mendengarnya.
"Bukan apa- apa, kau ambil saja dua- duanya," seru Keno mengalihkan pembicaraan.
Aira mengiyakan dan ia masih berjalan memutari etalase dan hingga menemukan benda lucu berbentuk Stitch (kartun).
"Ihh lucu deh, ini apa mba?" tanya Aira kepada pelayan toko.
"Oh itu aksesoris couple untuk handphone, kak."
"Bagaimana memakainya?"
"Ditempel di bagian belakang handphone kak, dia akan menyala jika ditekan seperti ini kak."
"Kau mau, Ken?"
"Untuk apa, lagipula aku tidak ada pacar."
"Kau bisa couplean denganku kalau kau mau," ucap Aira tersenyum.
"Baiklah."
"Berikan hp mu, biar dipasang sekalian."
Keno pun memberikan hp nya, begitupun dengan Aira.
"Ini kak, sudah selesai," ucap pelayan menyodorkan hp Aira dan Keno.
"Ehh kenapa ini, kenapa aku malah couplean barang sama dia. Ada apa denganku sebenernya." gumam Aira dalam hati.
Mata Aira berbinar senang melihat hp nya sangat lucu. Keno juga senang bisa mempunyai barang couple dengan Aira, wajahnya merona. Karena ia tidak mau Aira melihat wajahnya yang merona itu, ia langsung membayar dan mengajak Aira keluar.
"Harusnya aku yang membayarnya, kan aku yang mengajakmu membeli itu."
"Sudah jangan dipikirkan, sekarang kau mau kemana lagi."
"Entah, ehh kenapa wajahmu merah begitu, Ken? Kau senang ya bisa couplean denganku," goda Aira.
"Tidak, aku tidak suka. Aku hanya menghargaimu saja," bohong Keno.
"Iya Aira, sebenernya aku suka dengan barang itu walaupun sederhana kau membuatku sangat bahagia, tetaplah seperti ini denganku," batin Keno.
"Buanglah gengsi mu itu, jangan terlalu sombong jadi orang," ucap Aira menertawakan Keno.
"Berani ya kamu menertawakan aku lagi..." Aira berlari meninggalkan Keno.
"Eh, Ra. Tunggu.." Keno mengejar Aira. Berlarian kesana kemari hingga menjadi tontonan banyak orang.
Mereka akhirnya kelelahan setelah berlari dan kejar- kejaran. Mereka berhenti di kedai Boba karena haus. Aira memilih rasa Taro dan Keno rasa Grentea.
"Bagaimana rasanya, boleh aku coba?" tanya Keno menggoda Aira.
"Tapi ini kan bekas bibirku."
"Tidak apa, pasti rasanya lebih nikmat." Keno tersenyum devil ke Aira. Ia langsung menyeruput minuman Aira.
"Sudah ku katakan tadi, rasanya akan lebih nikmat jika bekas bibirmu," ucap Keno tertawa kecil.
"Terserah." Aira menyedot minumannya kembali.
"Duhh kok aku minum lagi sih, padahal bekas bibir Keno. Aaaa..." umpat Aira dalam hatinya.
Keno tersenyum senang melihat Aira menyedot minumannya lagi, lupa bahwa itu bekas bibirnya Keno.
Kemudian Mang Dadang dan bi Ijah datang menghampiri mereka.
"Eh kalian, udah puas pacarannya?" goda Aira.
Mereka saling menatap dan nyengir kuda malu- malu.
"Udah, engga perlu malu gitu. Pulang sekarang yuk, aku masih ada kerjaan lagi," ajak Keno. Mereka pun segera meninggalkan Mall.
__ADS_1