Hello Presdir

Hello Presdir
Memanjat Pohon


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan beres- beres, Keno dan Aira langsung menuju ke rumah Andi dan Maria. Aira pun tampak antusias karena sebentar lagi keinginannya akan dikabulkan. Mangga muda dengan sambal gula merah yang kental membuat air liurnya hampir menetes membayangkannya.


Sedangkan Keno, ia tampak cemas dan takut terjatuh dari pohon karena ia tak pernah memanjat sebelumnya.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Aira langsung menuju ke pohon yang berada di dekat taman rumahnya tanpa menyapa Andi dan Mira terlebih dahulu.


Matanya berbinar senang menatap segerombolan mangga- mangga yang menggantung di pohonnya.


"Sayang, cepat ambilah mangga yang paling atas itu !" Tangan Aira menunjuk mangga yang diinginkannya.


"Jangan yang atas, yang bawah saja aku belum tentu bisa mengambilnya." Aira langsung memasang puppy eyesnya, membuat Keno jadi tak tega.


"Iya iya, aku ambilkan yang paling atas," ucap Keno kemudian membuat Aira langsung tersenyum cerah.


Keno menghela nafas sejenak, lalu ia menyincing lengan kaos dan melepas sandalnya sebelum memanjat.


"Sayang, apa ada pohon yang lebih tinggi dari ini?" Keno bergidik ngeri menatap pohon mangga yang sangat tinggi itu.


"Di sini hanya ada pohon ini, ayo sayang ambil mangganya."


"Ya Tuhan, tolong selamatkanlah hamba nanti. Hamba belum melihat anak hamba," do'a Keno sebelum memanjat.


"Ayo sayang semangat !!!"


"Semangat Papa Keno !!!" Aira terus menyemangati suaminya yang tengah berjuang antara hidup dan mati itu.


Seorang Presdir yang biasanya terlihat etis dan berwibawa dengan setelan jas yang membuat siapapun terpesona, Kini harus rela memanjat pohon dan memetik mangga untuk istrinya yang tengah mengandung.


"Ada apa ini, kok dateng- dateng langsung pada heboh gini sih." Mira dan Andi menghampiri kedua orang itu karena terdengar kericuhan.


"Itu Keno mau metik mangga, Pah. Lihatlah, lucu bukan." Aira tak berhenti tertawa melihat Keno yang tengah memanjat dan sering berjingkat karena digigit semut rangrang. Andi dan Mira pun ikut menertawai Keno.


Membutuhkan waktu lima belas menit untuk Keno sampai di atas sana, kakinya gemetaran. Ia mulai menarik dahan mangga muda yang ditunjuk istrinya tadi. Namun, tak kunjung mendapatkannya.


"Sayang, bolehkah aku turun saja? Badanku sakit semua digigit semut..." rengek Keno.


"Mangganya 'kan belum dapet, ayolah sayang jangan turun dulu."


"Tidak sampai..." Keno mencoba menarik mangga muda tapi tangannya tak sampai, jikalau ia bergerak sedikit saja pasti ia akan jatuh.


"Pakai ini, Nak !" Mira menyodorkan galah bambu panjang karena kasihan melihat Keno yang tak kunjung bisa memetik.


"Ya ampun, Mah. Kenapa tidak dari tadi sebelum Keno manjat," ucap Keno sedikit emosi.


Aira, Mira, dan Andi pun semakin tertawa terpingkal- pingkal melihat Keno.


"Sayang, bolehkah aku memakai galah ini?" Keno meminta persetujuan dari istrinya terlebih dahulu, karena ia takut tidak diperbolehkan.


"Tentu saja boleh, kenapa tidak dari tadi saja ya," jawab Aira terkekeh.


"Tapi 'kan tadi kau menginginkanku untuk memanjatnya !"

__ADS_1


"Aku tidak bilang begitu, aku hanya menyuruhmu untuk memetik mangga saja," ucap Aira dengan santainya.


"Ah, kau itu terlalu bersemangat jadi tak mencerna perkataan anakku dengan baik," ledek Andi membuat Keno semakin geram.


"Kalau begitu kembalikan saja galahnya, sini berikan Papa," seru Andi dan bersiap untuk menerima galah yang Keno pegang.


"Papa jangan ikut ngerjain kaya bayi aku ya. Sudahlah, kalian diam saja, biarkan aku mempertaruhkan hidup dan matiku," ucap Keno dibuat- buat.


Keno mulai mengarahkan galah ke segerombolan mangga, mangga pun jatuh. Ia hampir menghembuskan nafas lega, hanya hampir karena sekarang ia tak tahu bagaimana caranya turun.


"Pah, Mah. Aku turunnya gimana nih?" Keno kebingungan menatap ke bawah yang ternyata cukup tinggi.


"Lompat, Ken !" goda Andi.


"Turun pelan- pelan sayang, jangan sampai jatuh!" teriak Aira dari bawah.


Keno pun mulai melangkahkan kakinya turun, baru sampai setengah perjalanan tiba- tiba ada semut yang masuk ke dalam kaosnya. Ia pun kehilangan keseimbangan dan akhirnya...


BRUGHHH...


Keno mendarat cantik di tanah.


"Aduh sakit banget..." pekiknya sembari mengusap pantatnya yang sakit karena mendarat cantik.


Aira yang sedang mengambil mangga tadi langsung menghampiri suaminya, ia sangatlah panik. Sedangkan Andi dan Mira malah tertawa melihatnya.


"Sakit ya? Sini aku bantu berdiri." Aira mengulurkan tangannya membantu suaminya berdiri.


"Halah manja !" seru Andi menoyor kepala mantunya.


"Ishh, beneran sakit pantatku itu. Lihat ini juga, bentol- bentol, kan?" Keno menunjukkan tubuhnya yang memerah karena digigit semut.


"Aduh duh tanganku gatal sekali..."


"Aduh sayang pantatku tambah sakit..." Keno semakin heboh memperlihatkan bagian tubuhnya yang sakit kepada istrinya.


"Ya ampun menantuku ternyata sangatlah manja," ucap Mira menepok jidatnya. Ia langsung mengajak suaminya masuk ke dalam tak lupa membawa mangga yang telah dipetik Keno.


***


Mereka berkumpul di gazebo yang berada di tengah- tengah taman rumah Andi.


Mira mulai membuat sambal gula merah dan mengupas mangga tadi bersama Aira. Sedangkan Keno dan Andi sibuklah mereka bermain catur seperti biasanya.


"Mamah, tambahkan cabainya biar pedes."


"Tadi sudah Mama beri cabai lima, jangan ditambah lagi," tukas Mira.


"Tambahkan gulanya, Mamah. Itu terlalu encer, tidak enak nanti," seru Aira lagi.


"Ish, cerewet sekali, ini sudah pas ! Jangan membuat Mamah tambah kesal deh..."

__ADS_1


Aira pun mencebikan bibirnya ketika mendengar suara Mamanya yang mulai kesal.


"Euhm, ini sudah enak. Cobalah sayang." Mira menyuruh anaknya untuk mencicipi rujak itu.


Aira langsung memakan rujak buatan Mamanya itu dengan lahapnya. Ia sangat menyukainya.


"Ini sangat enak, makasih Mamaku sayang," seru Aira memeluk Mamanya.


"Sama- sama sayang, kalau mau makan lagi, besok Mama buatkan. Oh ya, kamu ngidamnya yang lebih ekstrim dong, biar si Keno kewalahan gitu. Pasti seru." Mira terkekeh.


"Aku sedang memikirkannya, Mah..."


"Semoga kamu ngidamnya aneh- aneh, terus pas tengah malem biar tuh anak bingung ha-ha-ha !"


Mereka pun tertawa dan membayangkan jika Keno benar- benar disusahkan bayinya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ketawa- ketawa sendiri?" tanya Andi mengernyitkan dahinya karena melihat istri dan anaknya tertawa terpingkal- pingkal.


"Kemarilah, Pah. Cicipi rujak buatan Mama, enak loh."


"Kau tidak mengajakku sayang?" Keno cemburu karena Aira hanya mengajak Andi saja dan melupakan dirinya, padahal yang berjuang mati- matian adalah dirinya.


"Sini sayang, aku suapin." Keno langsung berlari dan duduk manis di samping istrinya. Aira mulai menyuapi sepotong mangga yang sudah dicocol sambal.


Raut wajah Keno berubah seketika, ia menyipitkan matanya dan merinding. Wajahnya sangat lucu menahan asamnya mangga. Ia pun langsung memuntahkan mangga itu karena tak kuat lagi.


"Ken, mukamu lucu sekali ha-ha-ha ! Ayo makan lagi, aku ingin melihatmu seperti tadi," ujar Aira terbahak- bahak.


"Wah, sepertinya kau sangat menyukainya ya. Ayo habiskan, Ken, nanti Papa petik lagi buat kamu," seru Andi menggoda menantunya.


"Jangan- jangan ! Aku tuh tidak suka, rasanya masam. Hiihh tidak mau lagi !"


Keno langsung berlari ketakutan menuju kamarnya, membuat semua orang semakin terbahak- bahak.


***


Waktu menunjukkan dua pagi, Aira sudah bangun. Ia menatap suaminya yang tengah tertidur lelap di sampingnya. Membelai pipinya lembut dan tersenyum sendiri.


Keno pasti sangatlah lelah. Tubuhnya juga pasti sakit karena terjatuh demi menuruti dirinya. Ia jadi merasa bersalah melihat kulit Keno yang masih merah akibat gigitan semut rangrang tadi.


Belaian pipi Aira membuat Keno terbangun, matanya tiba- tiba terbuka membuat Aira terperanjak. Aira pun berpura- pura menutup matanya lagi, tapi Keno sudah mengetahuinya.


"Kenapa jam segini sudah bangun sih? Ayo tidur lagi," ucap Keno dengan suara berat.


Menarik tangan istrinya, kemudian mendekatkan tubuhnya, memeluk Aira dan membelai kepalanya. Berharap wanita itu melanjutkan tidurnya lagi.


Aira merasakan tenang di pelukan suaminya, ia mulai memejamkan matanya, tapi tetap saja ia tak bisa tidur. Sedangkan Keno, hembusan nafasnya sudah teratur, anak itu telah melanjutkan mimpinya.


"Aku mau steak daging buatanmu !" lirih Aira dalam pelukan suaminya.


Mata Keno kembali terbuka sempurna mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2