Hello Presdir

Hello Presdir
Jangan Pergi


__ADS_3

"Hey, kau mau kemana? Temani aku dulu, jangan pergi," cegah Keno namun tetap pergi.


"Makan saja sendiri, habiskan tuh sama gerobaknya sekalian !" seru Aira lalu pergi meninggalkan warung nasi goreng itu.


Keno semakin kesal dibuatnya, ia pun berhenti menyantap nasi goreng lalu segera membayarnya dan mengikuti Aira.


Keno terus membunyikan klakson mobilnya hingga memekakkan telinga Alfa dan Aira. Ia kesal karena Alfa menggandeng tangan Aira sampai di depan rumah Aira.


"Heh lepasin ! Lancang banget sih pegang- pegang wanitaku," seru Keno langsung menepis tangan Alfa kasar.


"Kenapa? Kau kesal karena Aira lebih memilihku? Sadar dong bro, kau sudah nyakitin dia terus. Dengan gampangnya mau ngedeketin Aira lagi setelah mantanmu meninggal? Kau hanya ingin menjadikan Aira pelampiasanmu lagi, kan?" ujar Alfa meledek.


Bugh, Bugh. Keno memukul wajah Alfa hingga memar.


"Arghh, tolong hentikan," jerit Aira. "Ken, sudah jangan memukul dia."


"Aku jadi semakin yakin kalau kau tidak pantas untuk mendampingi Aira," ucap Alfa seraya mengusap pipinya yang memar.


"Aku akan segera melamarmu, Ra. Aku tidak akan seperti dia, aku berjanji tidak akan menyakitimu," tambah Alfa membuat Aira dan Keno terkejut dibuatnya, begitu juga dengan Pak Andi yang ternyata berada di balik gerbang rumahnya.


"Siapa yang akan melamar putriku?"


"Saya, Om," jawab Alfa. "Saya mencintai Aira, izinkan saya mendampingi hidupnya."


"Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri. Tapi kenapa kau mencintaiku dan apa ini, kenapa kak Alfa melamarku. Ya Tuhan, aku harus bagaimana," Gumam Aira. Matanya berkaca- kaca, ia hanya bisa diam dan menunduk seraya meremas jarinya.


"Pah, yang mencintai Aira itu Keno. Dan Aira pun juga mencintaiku, dia hanya mencintai Keno saja," timpal Keno.


"Ah, Papa jadi bingung. Sebaiknya kalian pulang saja sudah malam," seru Pak Andi.


"Baiklah, Selamat malam, Om," ucap Alfa lalu segera kembali ke rumahnya sendiri.


"Nah, dari tadi pulang kek. Gini kan bagus," seru Keno memandangi punggung Alfa yang semakin lama semakin menghilang.


"Kau juga pulang sana," gertak Aira membuat Pak Andi tertawa.


"Bukankah kau masih menginginkanku untuk tetap di sini ya?" goda Keno.


"Tidak !" Aira berlalu meninggalkan Pak Andi dan Keno.


"Sepertinya kau harus lebih berusaha lagi, ingat ya, kau punya saingan sekarang," ucap Pak Andi menepuk punggung Keno.


"Ah, si tengik itu mah kecil, Pah. Tak ada apa- apanya denganku. Lagipula Aira juga tak mencintai si tengik itu."


"Tapi dia sering kemari loh, sering jalan juga sama Aira. Hati- hati siapa tau gara- gara sering ketemu Aira menjadi nyaman dan akan tumbuh cinta loh," goda Pak Andi.


"Pah..." rengek Keno.

__ADS_1


Pak Andi terkekeh, "Sudah- sudah, sekarang kau pulang. Besok kembalilah kalau ingin mengobrol dengan papa."


"Aku akan kembali, tapi tidak untuk mengobrol dengan Papa, takutnya kalau Papa jadi baper sama Keno, kan kasihan Aira," ujar Keno terkekeh.


"Dasar anak nakal ya kamu, aku ini masih waras. Di hati papa cuma ada Mira seorang saja," ucap Pak Andi sambil menepuk dadanya, membuat Keno geli melihatnya.


***


Di dalam mobilnya, ia terus memikirkan perkataan Pak Andi. Cinta memang tak bisa dihindari. Dulu Keno juga bisa mencintai Aira karena sering bertemu lalu timbul kenyamanan dan lama kelamaan tumbuhlah benih- benih cinta. Ia terus menerka- nerka apa yang terjadi nantinya, jika hal itu terjadi dan Aira lebih memilih Alfa.


"Argghh, itu tidak boleh terjadi. Aira hanya mencintaiku, aku yakin," gumamnya seraya memukul kemudi mobil. Keno menjadi tidak fokus mengemudikan mobilnya. Ia melihat mobil di depannya berhenti mendadak, ia pun gugup dan berusaha menginjak remnya untuk menghindari kecelakaan.


BBBRRRRUUUAAAKKKK,


BBBRRRRUUUAAAKKKK,


BBBRRRRUUUAAAKKKK


Mobil Keno menabrak mobil di depannya, dan terjadilah kecelakaan. Mobil- mobil dibelakangnya juga tak sempat menghindari, akhirnya kecelakaan besar pun tak terelakkan. Bahkan ada satu mobil yang meledak.


Suara teriakan minta tolong dan mengaduh kesakitan pun terdengar begitu kuat, darah pun bersimbah dimana- mana. Orang- orang segera mengerubungi mobil- mobil yang ringsek, semua berlarian kesana kemari, berusaha menyelamatkan orang yang masih terjebak di dalam.


"Aira, a-aku mencintaimu..." lirih Keno sebelum kesadarannya menghilang. Kepalanya terbentur kuat, darah sudah menutupi seluruh wajahnya.


***


Trinngggg. Ponsel Aira berdering, dilihatnya nama Keno tertera di sana. Tak berpikir panjang, ia pun segera menjawab panggilan itu.


"Halo, Ken. Ada apa?"


"Maaf, Mbak. Saya melihat nomor Anda yang terakhir dihubungi pemilik ponsel ini, Apa mbak mengenal pemiliknya?" tanya seseorang.


"Iya, saya mengenal pemilik ponsel ini, memangnya ada apa, ya?" tanya Aira sedikit heran.


"Begini mbak, pemilik ponsel termasuk korban kecelakaan beruntun di Jalan Kartini. Sebaiknya mbak segera ke Rumah Sakit A sekarang juga,"


"Astaughfirullahaladzim," pekik Aira, ia pun segera mematikan sambungan telpon dan segera mengambil kunci mobilnya.


Saat melewati Jalan Kartini, Aira pun terkejut karena mendapati mobil- mobil yang ringsek dan darah bersimbah di jalanan. Kondisinya tak karuan, polisi- polisi dan warga pun masih memadati area kecelakaan itu.


"Parah sekali kecelakaannya, semoga kau baik- baik saja, Ken. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu," do'a Aira.


Sesampainya di rumah sakit, Aira langsung menuju ke ruang UGD. Ia pun melihat Frido di depan ruangan itu bersama keluarga korban lainnya.


"Di- dimana Keno?" tanya Aira panik dan meneteskan air matanya.


Frido tampak sendu, ia hanya menundukkan wajah dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku sudah mencarinya di UGD namun tak ada dia, kecelakaan menewaskan 4 orang dan semua sudah di bawa ke ruang jenazah, aku belum ke sana," lirih Frido, ia pun mengusap wajahnya kasar. Wajahnya memerah menahan tangis.


"Kemungkinan, Keno termasuk 4 orang yang tak selamat itu," tambah Frido.


"Apa maksudmu !" teriak Aira hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Katakan dia baik- baik saja ! Dia tidak pergi, katakan, hiks." Aira terus berteriak dan menangis, ia memukuli dada Frido dengan kuat.


"Pak, kami sudah mencari orang dengan identitas yang Anda berikan tadi. Dia mirip dengan korban yang meninggal. Mari saya antar ke ruang jenazah untuk memastikan," ujar perawat menghampiri Frido dan Aira.


Tangis Aira semakin pecah, begitupula dengan Frido. Mereka berjalan gontai menuju ke ruang jenazah. Mereka tak kuat jika harus melihat Keno yang terbujur kaku di sana.


"Frido," seru Aira menghentikan langkah Frido. Tangisnya pun kembali pecah, tak kuat menahan kesedihan hatinya.


Frido yang mengerti akan kesedihan Aira pun mengusap pundak wanita itu, "Kau yang sabar, semua akan kembali. Mungkin Allah menginginkannya kembali lebih cepat."


"Aku tidak bisa, dia tidak boleh pergi, tidak boleh huuuu huuu huuuu,"


"Aku mencintainya, kenapa dia pergi begitu cepat. Katakan kalau ini hanya mimpi, hiks."


Frido merangkul Aira yang sudah lemas tak bertenaga untuk menuju ke ruang jenazah. Sebenarnya ia sendiri juga tak sanggup melihatnya.


Sesampainya di sana, Aira terduduk lemas. Tangisnya semakin kuat saat memandangi orang- orang yang sudah tertutup kain putih.


"Ken, aku mencintaimu kenapa kau malah pergi meninggalkanku. Bukankah kau bilang kalau kau akan menikahiku secepatnya."


"Mungkin dia bukan jodohmu, kuatkan hatimu menerima semua ini. Dan yakinlah kalau suatu masa kalian akan bertemu kembali," ucap Frido mengusap bahu Aira mencoba menenangkan.


"Ken, jangan pergi. Aku tidak akan marah denganmu lagi, aku tidak akan mengacuhkanmu, aku menyayangimu ! Kembalilah, hiks..."


Perawat- perawat yang mendengarkan tangis pilu Aira pun ikut meneteskan air matanya. Mereka ikut mencoba menenangkan Aira.


"Sus, katakan kalau kekasihku belum pergi. Dia selamat dari kecelakaan itu, kan," racau Aira.


"Ken, jangan pergi hiks hiks hiks..."


.


.


.


.


.


Jgn lupa like, komen, dan votenya ya teman- teman😭

__ADS_1


__ADS_2