
"Kak, aku ingin berbicara." ucap Hana mengampiri Raka yang tengah duduk di sofa kamarnya.
"Apa, katakan saja."
"Kenapa kau berusaha menghancurkan pesta pernikahan kita? Apa segitunya kau tidak ingin menikah dengan ku, kak?" tanya Hana meneteskan air matanya.
"Aku tidak mau membahas hal itu, tidurlah sudah malam."
"Tapi kak, aku ingin tahu apa alasan mu. Jika memang benar begitu kenapa kakak tidak menolaknya sejak awal."
"Berhenti membahasnya !" bentak Raka semakin membuat Hana menangis.
Raka yang tidak bisa melihat ketika ada wanita yang menangis apalagi karena dirinya, ia pun mendekat ke Hana dan mengusap bahunya.
"Maaf telah membentak mu. Ayo kita tidur, ini sudah larut." Raka menghapus air mata Hana dan menuntunnya naik ke ranjang.
"Tidurlah, mulai malam ini kita akan tidur seranjang. Aku akan membiasakannya." seru Raka langsung membalikkan badan membelakangi Hana. Sebenarnya ia risih jika harus seranjang dengan orang lain, namun ia juga tak mau melihat Hana semakin sedih.
"Tidak apa kak, yang penting kau mau tidur seranjang dengan ku. Ini lebih baik, semoga ke depannya kau bisa menerima ku seutuhnya." batin Hana.
***
Kicauan burung bernyanyi merdu mengiringi matahari yang mulai bersinar terang memancarkan sinarnya di pagi hari.
Rumah Keno tampaklah ramai tak seperti biasa, Mega dan Sandi mulai membuat kegaduhan, ocehan demi ocehan terlontar dari mulut keduanya. Mulai dari perdebataan saat memilih baju hingga saat di meja makan untuk sarapan, mereka tidak henti- hentinya bergaduh.
"Keno belum turun, Ra? Kita makan duluan ngga papa nih?" tanya Sandi menarik kursi untuk di dudukinya.
"Ngga papa, kalian makan duluan aja."
"Sayang, aku maunya nasi goreng." ucap Sandi saat melihat Mega mengoleskan selai pada roti.
"Isshh engga bilang dari tadi, mana udah banyak lagi roti yang aku olesin selai." gerutu Mega.
"Ya kamu engga nanya dulu sama aku, salah sendiri dong."
"Kamu nyalahin aku?!" teriak Mega.
"Lah kamu emang salah, siapa yang nyalahin coba."
"Nih makan yang banyak nasi gorengnya, makan semuanya." seru Mega seraya mengambilkan banyak nasi goreng ke piring Sandi.
"Sayang, perut ku mana muat kalau makan segitu."
"Biar impas sayang, gara- gara kamu aku harus makan roti- roti yang udah aku olesin selai nih." ucap Mega menunjukkan lima lembar roti yang sudah diolesi selai.
"Tapi aku juga engga harus makan banyak lah, kalau gitu kamu aja yang makan." sahut Sandi kesal.
"Udah ya kalian diem, dari tadi ribut terus." seru Aira memijat pelipisnya.
"Bi Ijah tuh." Mega asal menyalahkan bi Ijah yang baru saja datang ke meja makan dengan membawa empat gelas susu di atas nampan.
"Loh kok bi Ijah sih, nak Mega?" protes bi Ijah.
"Iya bi Ijah lama sih buatin susunya, engga bisa diem kan aku jadinya." ujar Mega sewot.
"Iya tuh salahin Bi Ijah aja, jangan kita." timpal Sandi.
"Apaan sih kak Mega, kak Sandi. Engga banget deh, kenapa nyalahin bi Ijah. Jelas-jelas bi Ijah dari tadi di dapur." seru Aira.
"Iya tuh bener kata nak Aira, kalau gitu mendingan susunya bibi aja yang minum." Bi Ijah hendak kembali ke dapur membawa susunya lagi.
"Eh siniin nggak susunya." Mega langsung menyerobot nampan di tangan bi Ijah.
"Kak Mega nggak ada akhlak banget sih, sama orang tua nggak sopan."
"Hehe maaf ya bi Ijah yang cantiknya engga ketulungan dan baik hati." seru Mega mencolek- colek bi Ijah.
"Iddiihhh najis main colak- colek aja." Bi Ijah mendengus kesal dan langsung pergi meninggalkan meja makan. Sedangkan, Sandi dan Aira menertawakan Mega yang kesal dengan kelakuan bi Ijah. Kemudian Sandi dan Mega melanjutkan makannya.
"Sayang, susu aku udah abis. Aku minum punya kamu ya, nanti kamu tinggal buat lagi aja. Pedes banget nih huh..huh..huhh..." Sandi langsung menyerobot gelas susu Mega.
"Jangan yang itu, aku buatin dulu sebentar."
"Ini aja, kelamaan kalau nunggu."
"Jangan..." Mereka terus berebut gelas susu. Dan...
Pyuuurrr... pada akhirnya susu itu tumpah mengenai Keno yang baru saja turun melewati mereka hendak sarapan juga.
"Ahhh apa- apaan kalian ini !!!"
"Uppsss..." ucap Sandi tak merasa bersalah sedikit pun.
"Astaga kalian ini..." teriak Aira langsung berdiri menghampiri Keno.
"Untung susunya engga terlalu panas, ayo ke atas ganti baju dulu."
"Awas kalian." decak Keno menendang kaki Sandi tapi Sandi malah meringis tidak ketakutan.
"Sabar, mereka engga sengaja kok. Jangan marah- marah."
"Dua orang itu dari kemarin ngeselin tau nggak, ribut terus engga bisa akur apa ya."
Aira terkekeh, "Salah sendiri ngajakin mereka nginep di sini. Ya gitu deh jadinya."
"Untung aja susunya engga panas, coba kalau panas udah melepuh semua dada sama perut aku." ucap Keno seraya melepas kemeja yang basah.
"Ken, badan kamu lengket loh, ngga mandi lagi aja nih? Ntar dikeroyok semut lagi." ucap Aira saat menyentuh dada telanjang Keno.
"Baru juga selesai mandi masa mau mandi lagi." seru Keno dengan wajah sendu. "Ya udah lah mandi lagi aja, tapi cuma setengah badan."
"Ha? setengah badan maksudnya gimana?"
__ADS_1
"Iya kan yang kotor cuma badan atas doang bawahnya engga, jadi mandi setengah badan hehe."
"Astaga, terserah kamu aja lah. Mau setengah badan kek, mau seperempat kek bodoamat aku mah." celetuk Aira melemparkan handuk ke wajah Keno.
"Ishh kebiasaam main lempar- lempar aja. Engga sopan."
"Bodoamat Bambang, udah sana."
Aira segera mengambilkan baju ganti untuk Keno dan tak henti- hentinya menggerutu. Setelah Keno selesai mandi, mereka pun segera turun untuk sarapan.
Sesampainya di meja makan, mata Keno dan Aira terbelalak saat mendapati meja makan sudah tidak ada makanan lagi. Tinggal piring dan selai roti saja yang tersisa. Di sana ada Frido dan Niken yang ternyata juga ikut sarapan.
"Mba Niken, halo baby boy. Apa kabar, aunty kangen nih." seru Aira mengusap perut Niken. Mereka terus berbincang hingga melupakan orang lain.
"Kenapa kau sarapan di sini juga?" tanya Keno kepada Frido yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Kau pikir aku sudah makan apa, itu dokumen yang kau minta aku letakkan di atas sofa." jelas Frido.
"Tapi aku hanya menyuruh mu mengantar dokumen itu saja, kenapa malah ikut sarapan. Aku bahkan belum sarapan sedikit pun, tapi sudah habis makanannya."
"Aku dan istriku hanya makan sedikit, itu si upil yang makannya banyak."
"Siapa upil? Aku?" tanya Sandi.
"Kalau bukan kau lalu siapa lagi."
"Kurang ajar kau ya, berani- beraninya mengatai suami ku upil." Mega menyentil kening Frido.
"Issh kenapa kau menyentil suami ku." seru Niken. Dan mereka bertengkar lagi.
"DIIIIAAAMMMM !!!" teriak Aira yang seketika langsung membuat semuanya terdiam.
"Lah kenapa kalian pada diam?"
"Lo gimana sih tadi disuruh diam ya diam lah, otak lo gesrek juga ternyata ya, Ra." ucap Sandi menyentil kening Aira.
"Hey jangan menyakiti wanita ku atau kau akan berhadapan dengan ku." ujar Keno melototkan matanya.
"Ah sudahlah, ayo berangkat sekarang saja, Ken. Kalau lama- lama di sini nanti bisa meledak kepala ku."
"Iya yuk, kalian jangan ribut terus dong. Kasihan tuh readersnya lihat kalian ribut terus." ucap Keno memperingatkan semuanya.
"Oh ya, Kau segeralah ke kantor. Kirimkan pekerjaan ke email ku, aku tidak akan ke kantor hari ini. Aku akan mengerjakan semuanya di toko Aira." tambah Keno kepada Frido.
"Menyusahkan saja." gerutu Frido.
"Loh kenapa ke toko ku sih?" tanya Aira menyatukan kedua alisnya.
"Tidak apa, aku hanya ingin menjaga kau saja." ucap Keno pelan dan malu- malu sehingga Aira tidak mendengarnya.
***
Di Rumah Pak Andi...
"Kok sudah makannya, mbak? Baru dua sendok loh." tanya Tante Ratna saat Bu Mira menyudahi makannya.
"Aku tidak nafsu, aku merindukan Aira. Aku sangat bersalah dengannya sejak kecil, aku hanya ingin bertemu dengan Aira." ucap Bu Mira meneteskan matanya.
"Kau makan dulu, sejak semalam kau belum makan nanti malah kau jatuh sakit. Aira akan sedih melihat mu sakit." ujar pak Andi mencoba menyuapkan makanan ke mulut istrinya.
"Iya mbak, makanlah dulu. Nanti kalian bisa ke tokonya Aira. Siapa tahu Aira ke sana." ucap Tante Ratna.
"Benar itu tan, Aira pasti ke tokonya nanti." seru Raka.
"Diam kamu ! Semua ini juga karena ulah mu. Awas saja kalau Aira tidak mau memaafkan kami." bentak Bu Mira.
"Maafkan Raka, Om, Tante..."
***
Sesampainya di toko, Aira dan Keno terkejut melihat dua orang yang sedang duduk menunggu di depan toko Aira. Pak Andi dan Bu Mira yang menunggunya. Aira nampak ketakutan saat melihat mama dan papanya di depan toko. Kejadian waktu itu masih terngiang jelas di memorinya. Aira terus bersembunyi di belakang Keno seraya meremas ujung jas yang Keno pakai.
Pak Andi dan bu Mira semakin sedih saat melihat luka lebam di wajah Aira. Mereka ingat jika tak hanya melukai wajah Aira saja, tetapi juga seluruh tubuh mereka jamah. Aira pasti merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Mereka semakin merasa bersalah.
"Aira, huuu...huuuu...Maafkan mama nak." Bu Mira memeluk Aira dengan erat, tapi Aira terus memberontak berusaha melepas, badannya gemetar ketakutan. Akhirnya ia berhasil lepas dari pelukan Mamanya, ia langsung memeluk Keno mencoba mencari perlindungan. Ia sangat takut, bayangan tentang tamparan, pukulan, tendangan, dan pencambukan itu terus terngiang di kepala Aira.
"Ken, aku takut hiks hiks hiks..." Aira terisak di pelukan Keno. Keno merasakan ketakutan yang dialami Aira, tubuh Aira bergemetar hebat.
"Sayang, ini Mama sama Papa. Jangan takut nak. Kemarilah, kami tidak akan menyakiti kamu lagi. Kami menyesal tidak percaya dengan mu." ucap Pak Andi membujuk Aira, namun itu malah membuat Aira semakin ketakutan dan menangis tersedu- sedu. Keno langsung mengajak Aira ke ruangan pribadi supaya tidak menjadi tontonan para karyawan dan pembeli. Ia menuntun Aira tanpa melepas pelukannya dan langsung mendudukkan Aira di sofa.
"Aku takut hikss hiksss hiksss. Aku takut mereka memukuli aku lagi, itu sakit sangat sakit. Aku tidak mauuu huuuuuuu huuu huuu...."
"Aira ! Aira ! Aira dengarkan aku, ada aku di sini. Kau tidak perlu takut lagi okay. Sekarang tenanglah, jangan menangis lagi." Keno mendekap tubuh Aira yang masih gemetaran dan tak terasa Keno ikut meneteskan air matanya saat melihat orang yang ia cintai menangis sedih.
Di sisi lain, Pak Andi dan Bu Mira terus menunggu di luar ruangan pribadi Aira. Terus menatap pintu dan berdoa supaya Aira mau menemui dan memaafkan mereka.
"Pah, Aira...Aira penuh luka, pasti sakit sekali." Bu Mira terisak di pelukan suaminya.
"Papa sudah jahat, Papa menghajar Aira habis- habisan waktu itu. Bagaimana kalau Aira tidak memaafkan papa." Mereka menangis saling memeluk tubuh satu sama lain.
*
"Kau pernah bilang bukan, kalau kita tidak boleh membenci orang tua kita sendiri. Kita juga harus bisa memaafkan semua kesalahan yang mereka perbuat. Apapun itu sebesar apa masalahnya, kita harus bisa memaafkan mereka." tutur Keno.
"Iya memang begitu, tapi aku tidak membenci mereka, aku bahkan sudah memaafkan kesalahan mereka. Hanya saja saat aku melihat mereka, aku merasa sangat ketakutan."
"Aku takut kejadian itu terulang kembali, aku tidak mau ditampar, dipukul, ditendang, dicekik, dicambuk. Aku takut mereka melakukannya lagi, hiks hiks hiks."
"Aku tahu itu, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama jika ada di posisimu. Bahkan mungkin aku akan sangat membenci mereka." batin Keno terisak.
Hening dan Hening...
Cukup lama wanita itu terisak dalam pelukan Keno. Wanita yang selalu terlihat ceria dan riang tiap harinya, kini menangis tersedu- sedu merasakan kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Heyy, berhentilah menangis. Aku tidak mau jika harus mengganti baju lagi. Lihat ini baju ku sudah sangat basah gara- gara kau terus menangis." seru Keno mencoba menghibur Aira.
Aira kesal langsung memukul dada Keno, bisa- bisanya dia lebih mementingkan bajunya daripada Aira.
"Awww, sudah dipeluk malah memukul ku. Harusnya itu di cium atau apa bukan malah dipukul."
Keno menangkup Kedua pipi Aira dan mulai menghapus air mata yang membasahi wajah Aira. "Jangan menangis kau tambah cantik nanti, membuat ku semakin tergila- gila saja."
Aira memukul dada Keno lagi, "Yang ada tuh tambah jelek kalau nangis, ini malah tambah cantik. Teori dari mana, dasar bodoh." Aira terkekeh dan mencubit perut Keno.
"Itu kau tau sendiri, jadi sudahlah jangan mencubit ku terus." Aira berhenti mencubit Keno dan memeluknya lagi.
"Apa tubuhku sangat nyaman dari tadi kau memelukku terus." sindir Keno.
"Kau itu banyak bicara, diam saja." gertak Aira seraya menenggelamkan wajahnya di dada Keno.
"Cihh galak sekali kau ini." gerutu Keno.
Lama mereka terdiam dan Keno mulai pegal tidak bisa bergerak sedikit pun, karena Aira mendekapnya erat sekali.
"Jadi, apa kau mau menemui mereka? Kasihan mereka sudah menunggu lama."
Aira menggeleng, "A- aku belum siap."
"Baiklah aku akan menemui mereka sebentar."
Keno keluar dari ruangan Aira dan menemui pak Andi dan bu Mira. Dilihatnya mereka sedang berpelukan seraya menangis tersedu- sedu. Pak Andi yang terlihat tegas dan penuh wibawa itu menangis tak memperdulikan harga dirinya lagi, begitu juga dengan bu Mira yang selama ini terkenal galak dan sangat menjaga harga dirinya kini menangis.
"Pah...Mah..."
Mendengar suara itu Pak Andi dan Bu Mira langsung berjalan menghampiri Keno tampak antusias ingin mendengar kabar baik darinya.
"Bagaimana, Nak? Apa kau sudah berbicara dengan Aira?" tanya Pak Andi tidak sabar.
"Keno sudah mencoba membujuk Aira, tapi maaf. Aira belum bisa menemui kalian. Dia masih sangat ketakutan akan kejadian waktu itu. Tapi Keno janji akan berusaha membujuknya lagi."
"Tidak perlu nak, kami juga tau diri. Perlakuan kami itu sangat keji dan sangat sulit untuk dimaafkan. Jadi wajar kalau Aira tidak bisa memaafkan kami. Mungkin saat ini Aira sangat membenci kami." ucap Bu Mira menundukkan wajahnya kecewa.
"Kami pamit dulu ya, saya titip Aira. Jaga dia baik- baik. Kami mempercayakan semuanya kepada kamu." ucap Pak Andi menepuk bahu Keno seraya tersenyum paksa.
Mereka pun melangkah pulang. Dengan rasa kecewa dan penuh penyesalan melangkah pelan keluar dari Toko Aira. Derai air mata terus bercucuran di pipi orang tua Aira. Mereka berusaha menerima kenyataan.
"Pah...Mah..."
Langkah mereka terhenti dan langsung menoleh ke belakang saat ada suara memanggil mereka.
"Aira..."
Aira yang memanggil mereka, ia langsung berlari menghampiri pak Andi dan bu Mira dan memeluk mereka. Ia kembali terisak saat memeluk orang tuanya.
"Maafin Aira. Aira tidak membenci kalian, aku sudah memaafkan semuanya mah, pah. Aku hanya masih takut dengan kejadian itu, aku takut kalau itu terulang lagi, hiks hiks hiks."
"Maaf, maaf kan papa. Papa yang salah, seharusnya papa percaya dengan perkataan mu waktu itu. Dan seharusnya papa bicara baik- baik bukan malah berlaku kasar kepada mu." Pak Andi menangis memeluk Aira.
"Mama juga minta maaf nak, maafkan mama." Mereka berpelukan, menangis, dan terus berucap maaf. Keno pun terharu melihatnya, matanya berkaca- kaca.
"Papa sangat menyayangi mu, kamu anak papa satu- satunya. Maafkan perkataan papa waktu itu."
"Iya pah, sampai kapan pun aku adalah anak kalian. Aku menyayangi kalian."
Pak Andi terus menghujani Aira dengan ciuman. Ia sangat senang saat Aira memaafkan kesalahannya bahkan juga tak membencinya sedikitpun.
"Sekarang ayo kita pulang, Aira. Kamu harus tinggal bersama kami lagi." ajak bu Mira.
"Maaf mah, Aira ingin sendiri dulu." jawab Aira menunduk.
"Jangan takut nak, kami tidak akan melakukannya lagi kepada kamu. Kamu tinggal lagi ya sama papa dan mama."
Aira menggeleng ia masih menyimpan ketakutan tersendiri, ia takut kembali ke rumah itu.
"Baiklah kalau kamu belum mau tinggal bersama kami. Kami selalu menunggu mu pulang ke rumah." seru Pak Andi.
"Nak Keno."
"iya pah.."
"Tolong jaga anak saya ya, saya pamit pulang dulu."
"Aira kamu jaga diri baik- baik ya, segera pulang. Kami sangat menanti mu." ucap Bu Mira mencium kening Aira lembut dan memeluk Aira lagi.
Aira menatap kedua punggung mereka hingga menghilang dari pandangannya. Perasaannya saat ini campur aduk antara bahagia atau sedih ketika mama dan papanya mengakuinya sebagai anak dan menyuruh kembali ke rumah. Yang jelas untuk saat ini Aira masih ingin sendiri dan masih berusaha menerima orang tuanya.
"Kenapa kau tidak ikut pulang saja?" tanya Keno.
"Kenapa memangnya? Kau tidak mau jika aku menginap di rumah mu lagi? Kalau begitu kemasi barang- barang ku, aku akan segera mencari apartemen."
"Hey bukan begitu, aku kasihan saja dengan papa dan mama mu. Dan Aku malah senang jika kau tinggal di rumah ku terus, serius."
Aira meninju kecil perut Keno, "Dasar !" ucapnya terkekeh.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA TEMAN- TEMAN.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA, TUNGGU EPISODE SELANJUTNYA HEHE :D :D :D
__ADS_1