
Aira menyibakkan gorden kamarnya, terlihat matahari sudah memunculkan sinarnya. Weekend membuatnya menjadi malas, ia duduk di balkon kamarnya.
Mengambil ponsel lalu memutar lagu dari sana. Menyumbat telinganya dengan earphone berwarna putih.
Ia teringat masa- masa pertama kalinya bertemu dengan Ellen, pertemuan yang mampu membuat mereka menjadi dekat. Baru sesaat mereka bersama, namun Tuhan seakan jahat karena telah memisahkan mereka. Mungkin iri melihat hamba-Nya yang saling menyayangi ini. Ah, Aira tidak akan bisa melupakan Ellen. Sepenggal kisah pun tak akan dilupakannya.
Ia membuka foto- fotonya dengan Ellen, yang sempat terabadikan beberapa waktu lalu. Memeluk foto itu, seakan melepas kerinduan walau baru sebentar Ellen pergi.
Lalu, Aira teringat akan sebuah surat yang diberikan Papa Ellen waktu itu. Ia pun segera mengambilnya dan kembali duduk di balkon kamarnya. Dan mulai mengeluarkan kertas dari amplop.
Dear Aira, Sahabatku
Mata Aira kembali berkaca- kaca saat membaca sedikit tulisan yang tergores di kertas berwarna putih itu.
Kau pasti bertanya- tanya kenapa papa saat memberikan surat ini juga mengucapkan permintaan maaf dariku. Hehe iya Aira, aku sangat bersalah dengan mu.
Sebenarnya aku itu sudah tahu hubunganmu dengan Keno, aku memang sengaja untuk mendekati Keno. Aku hanya ingin tahu reaksimu bagaimana jika Keno dekat dengan wanita lain. Dan ternyata kau merasa cemburu denganku, haha. Dan dari sana aku bisa tahu kalau kau itu benar- benar mencintai dan menyayangi Keno.
Aku menjadi lega, akhirnya Keno memiliki wanita yang sempurna untuknya. Jadi aku akan pergi dengan tenang. Oh ya, perlu kau tahu aku memang mencintai dan menyayangi Keno. Tapi hanya sekadar teman saja tidak lebih, ya yang seperti kau ketahui sejak kecil aku tumbuh bersama Keno. Jadi bohong jika kami tidak memiliki perasaan satu sama lain.
Aira, aku senang sekali jika kau dan Keno bisa menikah dan bahagia bersama. Kalian sangat cocok dan akan ku pastikan kalau kalian akan menjadi pasangan paling bahagia. Maafkan aku karena sempat menjadi duri dalam hubungan kalian. Aku hanya ingin mengetahui seberapa besar cinta kalian, hehe. Aku sangat bahagia jika kalian tetap bersama dan akan selalu mendo'akan kalian dari sini.
Semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan, Selamat tinggal Aira, selamat tinggal Keno. Aku menyayangi kalian. Aku tunggu di dunia selanjutnya.
Sahabatmu,
Ellen Varadita.
Air mata Aira tak bisa terbendung lagi ketika selesai membaca surat dari Ellen. Ia menutup mulutnya supaya tidak terdengar oleh orang lain.
"Ele, maafkan aku. Sebenarnya yang menjadi duri itu aku bukan kau." lirih Aira seraya memeluk surat dari Ellen.
"Ada apa sayang?" tanya Bu Mira, ia pun segera meletakkan nampan berisi sarapan dan menghampiri anaknya. Aira langsung mengusap air matanya.
"Tidak mah."
"Sarapan dulu yuk, udah mama bawain tuh."
"Nanti saja, Mah. Aira mau mandi dulu terus mau ke makam Ellen sebentar."
Aira langsung bersiap, ia melajukan mobilnya perlahan membelah jalanan yang tidak padat menuju ke tempat pemakaman Ellen.
Sesampainya di sana ia melihat dua lelaki yang sudah duduk berjongkok dengan tangan menengadah ke atas dan memanjatkan do'a.
Ia pun melangkah mendekat dan ikut berjongkok di samping mereka.
"Selamat pagi, Om." sapa Aira mencium tangan Papa Ellen.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nak." balas Papa Ellen.
"Maaf ya, Om harus kembali sekarang juga. Sampai jumpa di lain waktu." pamit Papa Ellen.
Aira mengangguk, tinggalah ia dan Keno saja yang masih di sana. Aira menaburkan kelopak- kelopak mawar ke gundukan tanah yang menyelimuti tubuh Ellen.
"Ellen, maaf ya aku akan jarang kemari menemanimu. Tapi aku janji akan selalu meluangkan waktu untuk kemari." lirih Aira seraya menaburkan bunga.
Keno memandangi Aira, hingga mata mereka bertemu.
"Apa kau juga mendapatkan surat dari Ellen?" tanya Keno mendapat anggukan dan senyum tipis dari Aira.
"Aku pulang dulu, kau berhati- hatilah saat pulang nanti." Aira melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah tangannya dicekal Keno.
"Apa kita bisa bicara sebentar? Ah tapi kalau tidak mau tidak apa." seru Keno menundukkan wajahnya.
"Bicaralah." seru Aira, ia tetap melangkahkan kakinya. Keno pun mengekor Aira.
"Kau tahu kan kalau aku dan Ellen hanya sebatas menyayangi dan mencintai sebagai seorang teman. Aku hanya mencintaimu, Ra." lirih Keno.
"Aku minta maaf, aku selalu menyakitimu. Tapi aku janji aku tidak akan mengulangi kebodohanku untuk yang kedua kalinya.
Sungguh, aku tidak bisa jauh dari kamu. Aku menyayangimu, Ra. Ayo kita mulai lagi dari nol, ayo kita ikat cinta kita ke dalam ikatan pernikahan." seru Keno seraya memegang kedua tangan Aira, namun Aira hanya menatap Keno biasa saja.
"Kau mau kan memberiku kesempatan lagi?
"Sudah berapa kali aku memberimu kesempatan? Sudah berapa kali aku memaafkan semua kebodohanmu?
Orang yang tersakiti tapi masih memberi kesempatan, bukan semata dia terlalu baik. Dia sangat mencintaimu dan sudah selayaknya kamu tahu diri akan hal itu.
Bagaimana mungkin kamu tega melukai orang yang sangat menjaga perasaanmu, saat kamu bahkan tidak menjaga perasaannya sama sekali. Jika rasanya memang masih ingin menjadi penjahat perasaan, seharusnya kamu tidak berharap kembali pada dia yang begitu tulus dan teguh mempertahankan hubungan." tutur Aira. Keno terhenyak ketika mendengar kalimat terakhir yang terucap.
"Apa kau tidak mau mempertahankan hubungan kita lagi?"
"Bukan aku, tapi kau sendiri yang memulai. Aku hanya mengikutimu."
"Tapi, Ra. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak akan menyakitimu lagi. Sungguh."
"Maaf, aku harus segera pulang." pamit Aira, ia langsung pergi meninggalkan Keno.
"Aku tahu kau juga masih mencintaiku, aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan tetap memperjuangkanmu." teriak Keno, Aira tak menggubrisnya.
Keno merasa menyesal, jikalau saja ia tidak mengabaikan dan menjaga perasaan Aira pasti mereka akan segera menikah dan bahagia bersama. Namun, karena kebodohannya wanita itu malah pergi meninggalkannya.
Ia sangat yakin kalau Aira masih mencintainya, sorot mata wanita itu memperlihatkan cinta untuk Keno. Keno akan tetap memperjuangkan Aira, ia akan membuat Aira memaafkan dan menerima dirinya kembali.
***
__ADS_1
Aira berada di kamarnya, ia tengah sibuk menyiapkan keperluannya selama di Jepang nanti. Beberapa baju yang tergantung di lemari, ia lipat dan memasukkannya ke dalam koper dengan rapi.
"Sayang, apa kamu yakin akan pergi sendiri? Mama khawatir sayang, kalau kamu nanti kenapa- kenapa bagaimana?" tanya Bu Mira seraya membantu menyiapkan keperluan anaknya.
"Jangan khawatir, Mah. Aira akan baik- baik saja, Aira sudah besar. Lagipula Aira kan juga pernah ke Jepang, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
"Mama dan Papa ikut ya?" tanya Pak Andi.
"Ayihhh, Mama sama Papa itu mengganggu Aira saja. Kalau kalian mau, Aira akan mengatur jadwal supaya bisa berlibur dengan kalian."
"Jangan lama- lama di sana, awas kalau kau sampai tidak ingat pulang."
"Kenapa memangnya? bukankah Papa harusnya senang ya kalau Aira pergi, kan Papa jadi punya waktu banyak dengan Mama." goda Aira membuat Papa dan Mamanya tersipu malu.
"Dasar anak nakal." seru Pak Andi lalu pergi meninggalkan kamar anaknya. Aira pun hanya terkekeh melihatnya.
"Aira ponselmu berbunyi terus, kau tidak mau menerima telpon dari Keno? Dia sudah menghubungimu berkali- kali."
"Matikan saja, Mah. Aira lagi engga mau bicara sama dia."
"Apa kau tidak mau pamitan sama dia dulu, sayang? Nanti dia mencarimu bagaimana?"
"Su- sudah kok, Mah." jawab Aira berbohong.
"Aku tidak akan memberitahu dia, tapi aku juga harus memberitahu Tante Maria supaya dia tidak bingung mencariku. Ah tapi nanti pasti Tante Maria akan memberitahu Keno." gumam Aira.
Aira membuka ponsel, menatap lama foto bersama Keno yang telah terpasang menjadi wallpaper ponselnya. Senyum tipis muncul dari bibir Aira.
"Berjuanglah kalau kau benar- benar mencintaiku." serunya meneteskan air mata.
Di sisi lain, Keno merasa frustasi ketika telponnya selalu dimatikan Aira. Ratusan pesan yang ia kirimkan pun juga tak ada yang digubris, jangankan dibalas, dibaca saja tidak.
"Aira tolong jangan acuhkan aku seperti ini, aku tidak sanggup." lirih Keno.
Keno memandangi foto- foto dirinya dengan Aira. Momen- momen yang selalu terabadikan.
"Aku akan meluluhkan hatimu lagi, kita akan segera bersama." ucap Keno.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya kakakš¢kalau mau ehe :D