Hello Presdir

Hello Presdir
Pengadilan Agama


__ADS_3

Sang mentari mulai merangkak naik, sinarnya menyengat kulit. Aira sedang sibuk melamun, menatap ke arah luar dari kaca jendela ruangannya. Akhir- akhir ini wanita itu sering melamun, memikirkan hal yang tak begitu penting. Ia juga sering membolos bekerja dan lebih memilih untuk ke toko kuenya saja. Mungkin karena faktor kehamilan jadi ia lebih suka bermalas- malasan.


"Ishh, ngapain tuh anak ke sini lagi !" seru Aira ketika melihat mobil Keno terparkir di depan toko kuenya. Setiap siang, Keno menyempatkan diri untuk mendatangi istrinya. Sekedar untuk makan siang dan terus berusaha mendapatkan maaf dari sang istri.


Aira langsung menuju ke kamar mandinya, bersembunyi supaya tak bertemu dengan Keno.


"Sayang..." seru Keno dengan suara lembutnya.


"Kau dimana? Aku membawakan makanan dan bunga untukmu. Keluarlah dari sarangmu..."


"Kau di dalam kamar mandi, ya? Cepatlah keluar sayang, makanannya keburu dingin loh," teriak Keno lagi.


Aira menerka- nerka kenapa Keno bisa masuk dan mengetahui dirinya jika berada di dalam kamar mandi, padahal sebelum masuk ia sudah menyuruh karyawannya untuk mengatakan jika dirinya tidak berada di toko kue.


Ah, dirinya baru ingat kalau Keno itu orangnya tidak mudah percaya, dan Aira juga lupa jika tasnya masih tergeletak di mejanya. Pantas saja!


"Aishh, bodohnya diriku !" ucap Aira seraya menepuk jidatnya. Ia pun keluar dari kamar mandi, dilihatnya Keno sudah berada di depan pintu kamar mandi dengan sebuket bunga di tangannya.



Keno menunduk dan terlihat gugup, tangannya gemetaran. Terlihat juga keringat dingin bercucuran di keningnya. Aira melipat tangannya di dada dan mengernyitkan dahinya melihat suaminya itu.


"Kenapa sih?" tanya Aira.


"Ehm...A- aku..." ucap Keno terbata- bata.


"Aku akan membacakan puisi untukmu !"


Keno menarik nafas sedalam- dalamnya sebelum membacakan puisi untuk sang istri. Lelaki itu benar- benar gugup.


*KUPELUK KAU


(Boy Candra)


Aku suka liar matamu


membuyarkan segala kebekuanku.


kala pagi datang- di balik tirai jendela


kupeluk kau dengan manja.


agar kau percaya,


selain langit, Tuhan


juga menciptakan surga


di tatap matamu dan di setiap

__ADS_1


ketidakwarasanku akan kamu*.


Keno membaca puisi dengan nada datar dan lebih mirip dengan membaca pidato. Selama berceloteh, Aira sebisa mungkin menahan tawanya. Ia yakin jika suaminya itu sedang kerasukan setan atau apa, karena Keno itu tak pernah seromantis ini.


Sedangkan Keno, ia menarik nafas lega setelah puisi selesai terbaca. Dirinya lalu berdiri dan menyodorkan buket bunga itu kepada istrinya yang tengah menahan tawa.


"Nih, ambil !" ucapnya lalu ia kembali duduk di sofa dan langsung memakan makanan yang ia bawa tadi untuk menghilangkan kegugupannya.


"Astaga, tadi udah romantis gitu bacain puisi segala. Eh, ngasih bunganya tidak romantis ! Dasar presdir sinting !" gerutu Aira dalam hatinya. Ingin sekali dirinya melempar buket bunga itu ke wajah Keno.


"Kenapa masih berdiri di sana? Kemarilah !" Keno menepuk tempat kosong di sebelahnya dan membukakan makanan untuk Aira.


Aira hendak menolak, tapi perutnya meronta- ronta untuk diisi makanan. Padahal, dua jam yang lalu ia baru saja selesai makan.


"Kau tadi ke sini lewat mana? Kok kesambet kaya tadi sih," tanya Aira dengan mulut penuh.


"Tadi lewat makam, mungkin banyak yang numpang di mobilku. Entahlah aku tidak tahu!" jawab Keno sekenanya. Ia benar- benar malu jika mengingat kejadian tadi, karena seumur hidupnya baru kali ini membacakan puisi romantis untuk wanita.


"Siapa yang mengajarimu membaca puisi? Bodoh sekali gurumu itu. Apa dia tidak bisa membedakan antara membaca pidato dan puisi!" Aira merasa geram, ia adalah anak sastra jadi apapun harus terlihat baik tidak seperti Keno tadi.


"Frido, dia mengajariku tadi pagi," ucap Keno malu- malu.


"Kau membayarnya?"


Keno mengangguk, "Lima juta untuk satu puisi. Tadi aku belajar sepuluh puisi, dan akan kubacakan sepuluh hari ke depan."


"Nanti kita pulang ke rumah ya, masa iya sebulan kita menginap di rumah Papa," ujar Keno.


"Pulang saja sendiri."


"Ishh, kau tidak kasihan dengan diriku? Masa iya aku sebulan berpuasa," rengek Keno seperti anak kecil.


"Puasa 'kan emang satu bulan."


"Bukan puasa Ramadhan, sayang!" Keno gemas dan mencubit pipi Aira. Wanita itu langsung menepis dan menggigit tangan Keno sekuat mungkin hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Sakithh sayang, hiks...hiks...hiks..." pekik Keno sembari mengusap bekas gigitan istrinya.


"Makanya jangan nakal!"


"Galak sekali kau itu! Tidak aku kasih uang bulanan baru tahu kamu." Keno mengancam istrinya, tapi wanita itu tak memiliki rasa takut sama sekali.


"Halah! Bulan kemarin saja kau tidak memberiku uang bulanan, dasar pelit," cerocos Aira.


"Memangnya aku belum memberimu uang bulanan?" Keno mencoba mengingatnya dan ternyata memang benar jika bulan kemarin dirinya tak memberi uang untuk Aira. Keno sebenarnya memberikan black card untuk Aira, tapi wanita itu lebih suka memakai uang cash. Jadi, Keno selalu memberikan uang cash setiap bulannya.


"Hehe, maaf sayang aku lupa. Nanti aku kasih empat kali lipat deh sebagai gantinya," ucap Keno meringis menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Beri aku sepuluh kali lipat dari biasanya."

__ADS_1


"Tidak masalah, bahkan dua puluh kali lipat aku juga sanggup kok!"


"Sombong!"


Ceklek


Pintu ruangan tiba- tiba terbuka, masuklah seorang wanita berbalut seragam toko kue Aira.


"Dasar tidak sopan! Masuk ruangan bosmu tidak mengetuk pintu dulu," ucap Keno sedikit kesal.


"Hehe, Maaf Om Presdir," ringis Nina, karyawan yang sangat dekat dengan Aira.


"Jangan memanggilku Om! Panggil Kak Keno, Oppa, atau apalah yang penting bukan Om." Keno kesal karena karyawan itu seperti tidak memiliki sopan santun saja mentang- mentang dekat dengan Bosnya.


Nina pun mengangguk, ia sudah biasa terkena semprot kalau ada Keno.


"Ada apa, Nina?" tanya Aira lembut.


"Mbak Aira, kita mau ke pengadilan agama kapan? Kalau sekarang saja bagaimana?" tanya Nina.


"Iya sekarang saja, aku ambil tas dulu ya."


Keno tercengang mendengar kata pengadilan agama, apalagi yang ke sana adalah istrinya. Mau apa istrinya itu ke pengadilan agama? Bukankah pengadilan agama itu untuk mengurus...Ah, tidak!


"Sayang, kau mau apa ke pengadilan agama?" tanya Keno, ia sedikit takut jika dugaannya benar.


"Mau mengurus surat cerai," jawab Aira dengan santainya.


"APAAA!" Keno kaget mendengarnya, ia terdiam. Istrinya akan mengurus surat cerai mereka. Aira ingin meninggalkan dirinya, istrinya tidak bisa memaafkan dirinya lagi. Ini tidak boleh terjadi!


"Hiks, jangan ke sana. Ku mohon jangan pergi hiks...hiks...hikss...." Keno tersedu- sedu dan merengek memegang lengan Aira.


"Jangan ceraikan aku, jangan..."


"Aku tidak mau kita pisah, huu...huuu...huuu..." Tangis Keno semakin pecah memenuhi ruangan itu.


.


.


.


.


.


Boleh dong vote poin/koin buat aku, biar nggak sia- sia ngetiknya wkwk


Kalau mau up lagi, jangan lupa votenya yang banyak๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2