Hello Presdir

Hello Presdir
Meratapi Kesalahan


__ADS_3

Di kamarnya, Keno terlihat gusar. Matanya tak bisa terpejam, ia terus saja menatap langit- langit kamarnya. Perlakuannya sangat jahat, ia sudah kehilangan akal sehatnya sampai- sampai melukai istrinya sendiri. Kobaran api cemburu mampu membuatnya seperti orang bodoh.


Ia begitu sakit, apalagi saat tahu jika di ruangan itu tak hanya ada Alfa dan Aira saja, melainkan ada Mira dan Maria. Istrinya juga telah menunggu di sana selama berjam- jam lamanya. Semua telah ia ketahui melalui CCTV dan para pengawal yang bertugas mengikuti istrinya dari jauh.


Air matanya keluar tanpa permisi, lelaki itu menangis menyadari kesalahannya. Menelungkupkan wajahnya diantara kedua kaki yang ditekuk. Tubuhnya bergetar hebat, lelaki itu menangis tersedu- sedu mengingat perbuatannya dengan sang istri.


"Aira maafkan aku..." lirihnya disela isakan.


Perbuatannya kali ini pasti akan sulit dimaafkan oleh wanita itu. Tak hanya luka batin saja yang ia berikan kepada wanita itu, tetapi juga luka fisik.


"Aku bodoh huuu...huu...huuu..." tangisnya semakin pecah.


Semalaman dirinya hanya menangis dan meratapi kesalahannya. Ia benar- benar tidak bisa tidur, matanya terlihat sembab, air mata yang mengering juga terlihat jelas di wajahnya.


Biasanya setiap pagi dia dan Aira sudah beradu mulut. Istrinya selalu membangunkan dirinya dan marah- marah ketika dia tak mau bangun. Bahkan Aira juga tak tanggung- tanggung untuk menyeretnya ke kamar mandi.


Dan akhir- akhir ini istrinya mengalami morning sickness, ia selalu terbangun ketika mendengar suara istrinya muntah. Dan ia memijat tengkuk Aira dengan kasih sayang. Tapi kini?


"Aira !"


Keno terperanjak dan langsung pergi meninggalkan rumahnya. Istrinya pasti membutuhkan dirinya.


***


Huekkkk....


Huekkkk....


Huekkkk....


Aira sedang memuntahkan isi perutnya, dan kali ini Mamanya yang memijat tengkuknya untuk mengurangi rasa mual. Biasanya Keno yang membantunya dan selalu setia menunggu sampai mualnya hilang. Ah tidak, mulai sekarang ia tidak akan berharap dengan lelaki itu lagi.


"Sudah enakan? Kalau sudah kembalilah berbaring, Mama akan membuatkanmu wedang jahe," seru Mira. Ia pun memapah Aira yang terlihat masih lemas ke ranjang.


"Mama tinggal dulu sebentar." Mira meninggalkan kamar usai mengecup kening anaknya.


Perlakuan Mamanya sama seperti Keno, Aira jadi kepikiran dengan lelaki itu. Bagaimana tidurnya semalam? Apa dia tidak bisa tidur nyenyak sama seperti dirinya? Atau jangan- jangan malah lebih nyenyak karena tak ada dirinya? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.


"Ah, bodomat itu bukan urusanku lagi. Keno benar- benar tak peduli lagi denganku, harusnya dia mengikutiku semalam, tapi nyatanya tidak !"

__ADS_1


***


Tin- Tin- Tin !


Suara klakson mobil Keno terdengar nyaring di telinga. Lelaki itu meminta untuk dibukakan pintu gerbang, tapi sepertinya satpam rumah mertuanya itu sedang tertidur nyenyak karena waktu masih menunjukkan pukul empat pagi.


Andi yang kala itu tengah berada di ruang tengah dan mendengar bunyi klakson mobil pun langsung menuju ke halaman depan.


"Loh, kok sudah pulang, Ken?" tanya Andi seraya membuka pintu pagar. Yang ia tahu Keno itu sedang pergi ke luar kota, ia pun terheran- heran karena mendapati menantunya itu sudah berada di hadapannya.


"Memangnya Keno dari mana? Kok pulang sih, Pah?" Keno mengernyitkan dahinya.


"Katanya semalam pergi ke luar kota, kenapa sekarang sudah pulang. Cepat banget urusanmu," gumam Andi.


Keno pun akhirnya mengerti, Aira pasti telah membohongi Mira dan Andi untuk menutupi aibnya. Istrinya terlalu baik.


***


Usai perbincangan kecil dengan papa mertuanya, Keno langsung menuju ke kamar istrinya. Dilihatnya Aira sedang tertidur dengan wajah yang pucat, ia tahu kalau istrinya itu pasti habis muntah- muntah.


Ia memberanikan diri untuk mendekat ke samping ranjang, mengusap pipinya, dan mencium keningnya begitu lama. Hingga tak terasa bulir air mata menetes dari kelopak matanya. Rasa bersalah dan penyesalan menghantuinya.


"Mah...Biarkan aku tidur sebentar lagi, perutku masih mual..." rintih Aira, ia tak tahu jika suaminya lah yang mengusik tidurnya.


"Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergilah dari hadapanku!" Bentakan Aira membuat Keno kaget, istrinya belum bisa memaafkan dirinya, atau jangan- jangan ia tak akan mendapatkan maaf dari istrinya itu? Entahlah, Keno hanya bisa berdo'a supaya mendapat maaf dari istrinya, walaupun itu akan sulit ia dapatkan.


"Aku tidak akan pergi, biarkan aku menemanimu."


"Pergi ku bilang !" Aira kembali berteriak dan tangannya menunjuk ke arah pintu.


"Baiklah sayang jika kau masih ingin sendiri, aku akan pergi..."


"Jangan memanggilku dengan sebutan menjijikkan seperti itu!"


Air mata Keno kembali menetes dengan sendirinya mendengar perkataan istrinya. Ia lalu meninggalkan kamar istrinya.


"Suaminya datang kok malah diusir sih, sayang?" Mira memasuki kamar anaknya dengan membawa nampan yang berisi satu gelas wedang jahe.


"Biarkan saja, Mah. Aku tidak mau bertemu dengannya, kalau dia datang lagi jangan biarkan dia masuk dan menemuiku," ketus Aira. Ia kembali merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak boleh seperti itu dengan suami, itu kurang ajar namanya. Jangan jadi istri durhaka."


"Dia jahat, Mah..." Aira kembali terisak mengingat kejadian semalam.


***


Aira sudah bersiap bekerja, ia pun segera menuju ke meja makan untuk sarapan. Tapi langkahnya terhenti saat melihat suaminya juga duduk di sana, di samping Papa dan Mamanya.


Ia pun mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan mereka. Ia menemui Bi Ijah dan memintanya untuk mengambilkan sarapan, sementara dirinya menunggu di mobil.


"Permisi, Pak, Buk, saya akan mengambilkan sarapan untuk Nak Aira..." Bi Ijah mengambilkan beberapa makanan, buah, cemilan, dan tak lupa susu ibu hamil untuk Aira.


"Ambilkan yang banyak, Bi, dari semalam dia belum makan," seru Mira. Ia juga ikut menyiapkan sarapan untuk anaknya.


Hati Keno mencelos, Aira benar- benar tak mau melihatnya lagi sampai- sampai wanita itu tidak mau sarapan karena ada dirinya.


"Aku permisi dulu, Pah, Mah. Aku akan segera berangkat." Keno mencium tangan mertuanya secara bergantian.


"Sarapanmu 'kan belum habis? Selesaikanlah dulu," ucap Andi. Keno tak memiliki nafsu makan sedikitpun. Lelaki itu bahkan hanya memakan beberapa gigitan roti saja, padahal biasanya ia selalu makan banyak.


"Aku sudah kenyang, Pah, permisi..."


Saat keluar, Keno mendapati mobil istrinya terbuka dan memperlihatkan Aira tengah duduk memainkan Ipadnya. Keno melayangkan senyum tatkala Aira tak sengaja menatap dirinya. Tapi Aira tak membalas senyuman Keno dan langsung menutup mobilnya. Keno hanya bisa menghela nafasnya, ia berhak menerima semua ini.


"Mang..." serunya menghentikan Mang Dadang yang hendak memasuki mobil Aira.


"Iy- iya, Tuan..." jawab Mang Dadang terbata, pria paruh baya itu sedikit takut melihat Keno, ia selalu terbayang- bayang kejadian semalam.


"Hati- hati membawa mobilnya, kalau Aira butuh apa- apa tolong beritahu aku. Dan bilang sama Bi Ijah untuk menjaga Aira sebaik mungkin selama bekerja."


"Dan tolong sampaikan maafku kepadanya," tambah Keno menundukkan wajahnya.


"Siap, Tuan. Saya berangkat dulu." Mang Dadang segera masuk karena Bi Ijah juga sudah siap, ia melajukan mobilnya meninggalkan Keno yang masih berdiri di sana.


"Nak Aira..." seru Mang Dadang.


"Iya Mang?" Aira tengah menikmati sarapan yang telah disiapkan Bi Ijah tadi.


"Tadi Tuan Keno-"

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengarkannya, jangan berkata apapun tentang dirinya!" Aira berkata dengan tegas, membuat Mang Dadang hanya bisa terdiam.


Sementara Keno, ia mencoba menerima perlakuan Aira kepada dirinya. Meskipun sulit, ia akan berusaha meminta maaf dari wanita yang sangat ia cintai itu


__ADS_2