
"Sus, katakan kalau kekasihku belum pergi. Dia selamat dari kecelakaan itu, kan," racau Aira.
"Ken, jangan pergi hiks hiks hiks..."
"Lebih baik kau melihatnya dulu, Nona," seru Suster yang sedari tadi di samping Aira.
Aira pun berdiri, ia segera mengikuti langkah suster itu.
"Ini jenazah yang belum ditemukan keluarganya, kemungkinan kekasih Anda."
Aira kembali menangis, ia menatap tubuh jenazah itu seksama. Lekuk tubuh, tinggi badan, dan berat badannya mirip dengan Keno. Ia tak berani membuka kain yang menutupi tubuh itu.
"Ken, kenapa kau tega meninggalkanku. Katanya kau mencintaiku, kenapa kau pergi," jerit Aira memukuli jenazah itu.
"Apa kau menghukumku karena aku mengacuhkanmu akhir- akhir ini? Ken, bangunlah, aku sudah memaafkanmu. Aku akan menikah denganmu, huuu huuu huuu..."
"Aku tidak menyangka kalau kau pergi secepat ini. Walaupun kau menyebalkan tapi aku sangat menyayangimu, kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Selamat jalan, Tuan," lirih Frido menitikkan air matanya.
"Ken, jangan bercanda. Ayo menikah sekarang saja, kita akan bahagia bersama. Bangunlah, jangan pergiii..."
"Ajak aku kalau kau memang ingin pergi, apa kau ingin menemui Ellen? Apa kau ingin bersamanya sehingga meninggalkanku sendiri di sini?" Aira terus meracau dan memukuli jenazah di depannya.
"Do'akan yang terbaik untuknya, semoga dia tenang di sana. Jangan terus bersedih, ikhlaskan kalau jodoh kalian hanya sampai di sini saja. Aku yakin kau akan menemukan lelaki yang lebih baik darinya," tutur Frido sambil mengusap punggung Aira.
Ceklekk
Pintu kamar jenazah terbuka lebar.
"Nona, kenapa kau menangisi putra kami? Ada hubungan apa kau dengannya?" tanya Lelaki paruh baya yang berjalan menghampiri Aira. Dia bersama istrinya yang juga tengah menangis tersedu- sedu.
Aira dan Frido pun terkejut mendengarnya, ia tidak mengenali lelaki paruh baya itu.
"Kalian siapa? Kenapa kalian mengaku kalau jenazah ini putra kalian? Ini kekasih saya, bukan putra kalian," seru Aira dengan suara meninggi.
Tiba- tiba, Ada seorang suster yang masuk dengan tergesa- gesa. "Maaf Tuan, Nona," ucapnya dengan nafas tersengal.
"Maaf saya telah memberikan informasi yang salah, ternyata teman kalian tadi sedang melakukan operasi pemasangan ring di kakinya. Dan sekarang dia sudah di pindah di ruang perawatan," ujar suster itu.
Aira dan Frido semakin tertegun mendengarnya. Mereka saling berpandangan dan melirik ke jenazah yang sedari tadi mereka tangisi.
Frido yang penasaran pun segera membuka kain putih dan melihat wajahnya. Terkejut bukan main, ternyata yang mereka tangisi sejak tadi bukanlah Keno. Keno belum meninggal !
Aira dan Frido menjadi malu dibuatnya, mereka sudah menangis meronta- ronta menangisi jenazah orang lain.
"Beraninya kalian membohongi kami !" gertak Frido membuat ruang jenazah itu semakin mencekam.
"Ka- kami tidak bermaksud begitu, Tuan," jawab salah satu suster.
"Iy- iya, Tuan. Kami tadi juga sudah menyuruh kalian membukanya untuk memastikan, tapi kalian terus menolak. Jadi, ini bu- bukan salah kami," tambah salah suster lain ikut ketakutan.
"Sialan ! Sekarang, dimana Keno ! Jangan membodohi kami lagi, atau aku akan melenyapkan kalian dari dunia ini." Frido menutupi malunya dengan berlagak sangar di depan suster- suster dan keluarga korban meninggal itu.
"Sa- saya akan mengantar kalian, mari ikut saya."
__ADS_1
***
Mereka pun telah sampai di ruang VVIP, di sana sudah ada Nenek Ratih, Tante Maria, dan Pak Bram yang berada di samping brankar Keno.
Aira yang melihat Keno sedang terduduk pun segera menghampirinya dan memeluknya erat, menumpahkan tangisnya lagi.
"Jangan tinggalkan aku, jangan pergi huuu huuu," ucapnya pelan.
"Aku takut kehilanganmu, aku tidak mau itu terjadi. Syukur Alhamdulillah kau baik- baik saja, aku benar- benar takut."
"Sayang, Keno baik- baik saja jangan menangis ya," ujar Tante Maria mengusap kepala Aira.
"Kau tidak apa, kan?" Aira meneliti setiap inchi wajah Keno. "Kepalamu terluka, Kenapa kau diam saja dari tadi, apa masih ada yang sakit? Akan ku panggilkan dokter, ya," ucap Aira, Keno masih terdiam menatapnya.
"Kau siapa ! Kenapa daritadi memelukku dan menangis? Apakah aku mengenalmu?" tanya Keno.
Semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya, Aira menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kau siapa?" tanya Keno lagi.
"Kau melupakanku? Kau tidak boleh melupakanku, tolong panggilkan dokter segera !" teriak Aira kepada semuanya.
"Aku Aira, kau mencintaiku. Jangan bercanda, aku tidak suka. Katakan, kau sedang bercanda, kan?" Aira menangis dan menatap lekat wajah Keno.
Keno menggeleng, "Aku tidak bercanda."
"Om, Tante, tolong panggilkan dokter. Dok, dokter cepat kemari..." Keno yang melihat Aira semakin panik pun tertawa terbahak- bahak, begitu juga dengan Pak Bram, Tante Maria, Nenek Ratih, dan juga Frido.
"Hey hey stop, Aku nggak papa. Aku inget kamu kok, kamu itu cewek ngeselin, ngegemesin, sedikit nakal tapi aku sangat sayang. Dan aku juga mencintaimu, kau Aira, kan? Calon istriku?" tanya Keno membuat Aira lega dan tersenyum tipis. Aira pun memeluk Keno lagi, ia senang bukan kepalang mendengarnya.
"Sebegitu khawatirnya kau denganku?" Keno mengusap air mata yang membanjiri wajah Aira.
"Sangat khawatir, tadi aku ke ruang jenazah. Katanya kamu sudah meninggal," lirih Aira malu- malu.
Seisi ruangan menertawakannya, sedikit demi sedikit Frido pun menceritakan kejadian memalukan tadi.
"Jadi, kau mengira aku sudah meninggal?" Aira mengangguk membuat Keno gemas.
"Tapi ada baiknya juga, dia tadi meluapkan isi hatinya. Katanya dia tidak akan mengacuhkanmu lagi, dia sangat mencintaimu, dia juga ingin menikah denganmu, bukankah begitu, Aira?" tanya Frido mengerlingkan matanya. Aira yang geram karena Frido menyebar hal memalukan itu pun menendang kaki Frido.
"Oh jadi begitu, ya? Kenapa tidak mengatakan sebelumnya? Ayo katakan sekali lagi di hadapanku."
"Hufftt, i-itu aku bercanda saja supaya kau bangun."
"Masa?" Keno semakin gemas, ia mencubit kedua pipi Aira.
Aira mengangguk, "Dia tadi juga meluapkan isi hatinya, katanya dia sangat menyayangimu walaupun kau menyebalkan."
"Hey, aku tidak bilang begitu. Aku bilang kalau Tuan Keno itu baik hati tidak menyebalkan," elak Frido. Dan terjadilah perdebatan antara keduanya, membuat gelak tawa di ruangan itu semakin pecah.
"Ken, Mama pulang dulu ya. Aira tolong jaga anak nakal Mama ini ya. Bunuh saja kalau dia menyakitimu," ucap Tante Maria.
"Tentu saja, Tante. Aku akan membunuhnya."
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa membunuhku? Tadi saja saat mengira aku sudah meninggal kau menangis meronta- ronta, bagaimana jika aku meninggal beneran."
"Ah, jangan mengatakannya lagi, itu sangat-"
Cupp, satu kecupan mendarat mulus di kening Aira membuat wajah wanita itu memerah menahan malu karena banyak yang melihat adegan itu.
"Aaaa aku tidak melihatnya," seru Nenek Ratih.
"Aku juga tidak melihatnya, ayo lanjutkan lagi," goda Tante Maria.
"Kita pulang saja yuk, biarkan mereka melanjutkannya, haha," ajak Pak Bram, mereka pun benar- benar meninggalkan ruangan itu. Dan tinggalah Keno dan Aira saja.
"Kenapa kau menciumku." Aira memukul ringan dada Keno.
"Biar kau tidak cerewet," jawab Keno terkekeh.
Keno menyisihkan tempat tidurnya dan menyuruh Aira duduk di sampingnya itu. Aira pun menuruti permintaan Keno, brankar yang tak terlalu luas membuat jarak mereka begitu dekat. Keno memeluk Aira erat dari samping dan Aira pun menyandarkan kepalanya di dada Keno.
"Kau sudah tidak marah lagi, kan?" tanya Keno seraya mengecup puncak kepala Aira.
Aira menggeleng, "Tapi, kalau kau benar- benar nakal dan pergi aku akan marah denganmu."
"Jangan membuatku khawatir lagi."
"Iya, tidak akan. Jadi, kapan kita akan menikah?" tanya Keno.
"Setelah kau sembuh kita akan segera menikah," jawab Aira malu- malu. Mereka pun semakin mengeratkan pelukan satu sama lain.
"Aku tadi memukuli jenazah yang aku kira itu kau, aku takut kalau dia marah dan menghantuiku," ucap Aira layaknya anak kecil.
"Kau memukulinya? Wah, padahal kalau kau memukul itu sakit loh. Pasti dia akan marah denganmu, tunggu saja nanti malam pasti akan datang meminta pertanggung jawabanmu," jawab Keno menggoda.
"Ah, kau ini." Aira mencubit perut Keno.
"Apa?"
"Aku mencintaimu," bisik Aira.
"Aku tidak mendengarnya, katakan sekali lagi."
"Tidak mau."
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya😂maafkan author yang ngeselin ini wkwkw
__ADS_1
Mampir ke novelnya temenku ya, tapi siapin jantung kalian🤗😂