
Hari ini hari kedua Aira dan Keno ke kantor dengan motor. Bukan karena takut jika Aira telat seperti kemarin, tapi Keno ingin lebih dekat dengan Aira dan dipeluk terus modus maksudnya haha.
Hari ini Aira, Mega, dan Sandi mendapat tugas untuk mencari informasi tentang Menteri Keuangan yang sedang mengalami kecelakaan. Mereka akan menuju ke rumah sakit dengan mobil kantor.
Setelah satu jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi pun sampai di rumah sakit swasta besar di kota itu.
"Aduh udah banyak wartawan lain nih, desak- desakkan lagi dehh," lirih Sandi.
"Udahlah engga papa, ayok."
Mereka berlari ketika melihat brankar Menteri itu di dorong keluar.
Brughh. Aira menabrak salah satu dokter karena terburu- buru.
"Aduhh pak dokter maaf," teriak Aira dan tetap berlari.
"Heyy." Dokter laki- laki itu berteriak namun tak digubris Aira.
Mereka terus berlari dan sesegera mungkin mengambil gambar menteri itu. Setelah data dan informasi dirasa cukup mereka pun beristirahat sejenak di kantin rumah sakit.
Aira hendak memainkan ponselnya namun, tak ditemukan di kantongnya.
"Cari apa, Ra?" tanya Mega ketika melihat Aira gelisah.
"Ponsel gue engga ada."
"Ketinggalan di kantor kali," timpal Sandi.
"Gimana bisa ketinggalan, orang gue aja belum masuk kantor tadi kak."
"Oh iya ya, hehe."
"Cek di ransel lo coba."
"Engga ada, kak."
"Apa jatuh pas kita lari- larian tadi, ya."
"Mungkin tuh, Ra. Kita cari aja yuk, mumpung belum lama."
Mereka segera bergegas mencari ponsel Aira, setelah mencari di berbagai tempat yang mereka lewati namun tak kunjung menemukan ponsel Aira.
"Hey ngapain nyari ke tong sampah," tanya Mega kepada Sandi yang sedang melihat ke tong sampah.
"Siapa tau ada yang nemuin terus di buang ke tong sampah," jawab Sandi.
"Astaga, kak Sandi." Aira menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Sandi.
"Hey!" sapa dokter yang Aira tabrak tadi.
Haduh mati aku, pasti dia mau marahin aku gara- gara nabrak tadi. gumam Aira.
"Kenapa kalian diam saja."
"Hehe dokter tampan. Ada apa ya, dok?" tanya Sandi.
"Ah ini, aku menemukan ponsel ini. Sepertinya ini milikmu, tadi jatuh pas kau menabrakku tadi."
"Eh iya, ini punyaku. Astaga Dok, kami sampai lelah mencarinya. Terima kasih ya, Dok," ucap Aira kegirangan dan menjabat tangan sang dokter.
"Iya sama- sama. Oh ya kenalkan. Saya Alfa, dokter spesialis anak di sini."
ALFA DANENDRA
"Saya Aira dokter, ini sahabat saya Mega dan Sandi."
"Halo salam kenal." Alfa menjabat kedua sahabat Aira bergantian.
"Dokter saya minta maaf ya atas kejadian tadi, saya tidak sengaja tadi buru- buru serius," ucap Aira dengan menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V dan memasang wajah imutnya.
"Iya Dok, maafin sahabat saya. Kadang emang matanya suka berkeliaran sendiri jadi engga liat kalau ada orang," ujar Mega.
"It's okay. Oh ya, saya sudah menyimpan nomor ponselmu tadi Aira. Apa saya boleh menghubungimu nanti?"
"Dengan senang hati. Saya pamit dulu ya, byee dokter tampan. eh." Aira langsung menutup mulut dengan tangannya dan langsung berjalan menuju pintu keluar.
"Ganteng ya dokternya."
"Iya tuh, aduh jadi pengen peluk," ujar Mega
"Eheem."
"Eh sayang, bercanda kok, hehe."
"Hm, Aira punya gebetan baru nih. Kayanya dia suka sama lo deh," goda Sandi.
"Ah enggak."
"Sayang gimana sih kamu, kan Aira itu punyanya Keno."
"Ya siapa tau Aira kurang, jadi nambah lagi deh."
Mereka bertiga pun tertawa. Kemudian mereka langsung kembali ke kantor untuk menyerahkan data dan informasi yang didapat.
***
Sore harinya...
Aira menunggu Keno di pos satpam kantornya seperti biasa. Dan tak lama kemudian, sebuah motor N-max hitam datang menghampirinya, yang tak lain adalah Keno.
"Sorry ya, pasti nunggu lama," ucap Keno sembari mengacak- ngacak rambut Aira.
Aira menggeleng, "Engga kok."
Aira segera naik ke motor, tak lupa memakai helm yang dibawakan Keno dan segera meninggalkan kantor.
"Ken." Aira berteriak karena takut Keno tidak mendengarnya.
"Apaa?"
__ADS_1
"Tadi kamu engga lupa lepas helm, kan?"
"Engga dong, udah aku catet di spedometer motor soalnya tadi haha."
"Dasar ih."
Keno melajukan motornya dengan kecepatan sedang sembari mengobrol dengan Aira. Kemesraan Aira dan Keno membuat iri semua orang yang berpapasan dengan mereka.
"Ken, mendung banget nih."
"Iya nih kayanya bakal hujan."
Dan beberapa menit kemudian hujan benar- benar datang.
"Kita berteduh di warung itu dulu aja, Ken. Bahaya kalo lanjut jalan. Deres banget," ucap Aira.
Keno pun segera melajukan motornya menuju warung mie ayam. Mereka sudah basah namun tidak terlalu.
"Ah sial banget sih, pake hujan segala," gerutu Keno.
"Jangan gitu, hujan kan rahmat dari Tuhan. Kita harus syukuri."
"Hm." Keno mengusap wajahnya karena basah terkena air hujan. Aira segera mengambil tissue dari ranselnya dan mengusap wajah Keno yang basah dengan lembut.
Deg. Deg. Deg. Jantung mereka berpacu cepat. Mereka berada dalam posisi yang sangat dekat mungkin hanya berjarak 5 cm sehingga dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Ahh tampan sekali. batin Aira.
Benar- benar cantik. batin Keno.
Dan beberapa saat kemudian mereka tersadar dari lamunan karena ada petir yang menyambar. Dan karena kaget, Aira langsung memeluk Keno dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Keno.
"Eh maaf." Aira melepas pelukannya.
Lanjut aja kenapa sih, ah. gumam Keno dalam hatinya.
"Kok engga berhenti- berhenti ya hujannya, malah tambah deres."
"Iya nih, gimana kalau kita makan mie ayam dulu sambil nunggu reda," ajak Aira.
"Engga ah, engga boleh makan sembarangan kita itu."
"Engga papa tau, aku sering makan siang di sini kok sama kak Mega dan Kak Sandi. Udah Kuyyy lahh." Aira menarik lengan Keno. Dan mengajaknya duduk lesehan di warung mie ayam itu. Warungnya memang bersih namun Keno tetap merasa tidak nyaman apalagi lesehan.
"Mau pesan apa, Nak Aira?" tanya Bang Jo pemilik warung mie ayam itu yang sangatlah kenal dekat dengan Aira.
"Kamu mau apa, Ken?"
"Samain aja."
"Baiklah, pesan mie ayam bakso dua sama teh angetnya juga dua ya, Bang Jo," ucap Aira sopan dan tersenyum.
"Ashhiap neng Aira." Bang Jo pun segera menyiapkan pesanan Aira.
"Apa engga papa kalau aku makan mie ayam bakso?" Keno bertanya layaknya anak kecil dengan memasang wajah polos dan imutnya itu karena memang ia jarang memakan mie ayam, bahkan hanya beberapa kali saja selama hidupnya.
Aira terkekeh mendengar pertanyaan Keno. "Engga papa, engga bakal keracunan juga kok. Nyatanya aku juga masih baik- baik aja kan. Tapi juga engga tau sih kalau kamu yang makan haha," ledek Aira yang membuat Keno mendengus kesal.
"Makasih Bang Jo yang baik hati dan suka menabung," goda Aira.
"Ih neng Aira mah bisa aja. Oh ya neng, hampir lupa, cowok disebelah neng siapa yak?"
Dengan pede nya Keno menjulurkan tangannya kepada Bang Jo. "Perkenalkan saya Presdir Sanjaya Group."
Duh mulai deh sombongnya, batin Aira.
"Hah, yang benar? Jadi ini pewaris tunggal Sanjaya Group. Keno Arka Sanjaya ?"
"Iya betul sekali."
"Wahh suatu kehormatan warung saya didatangi orang penting seperti Anda. Oh ya tapi kenapa bisa sama neng Aira?"
"Karena saya calon suaminya, jadi saya akan selalu ada didekatnya." ucap Keno kepedean.
Aira dan Bang Jo membulatkan mulutnya kaget mendengar ucapan Keno.
"Ini teh serius?" tanya Bang Jo masih tidak percaya.
"Serius Bang."
"Wahh kalian memang cocok, tampan dan juga cantik. Selamat ya, saya tunggu undangannya. Kalau mau pesan bakso untuk jamuan makannya hubungi saya saja hehe."
"Ohh boleh tuh bang, nanti saya hubungi deh."
"Siap atuh, kalau begitu saya permisi dulu. Silakan menikmati." Setelah mengobrol Bang Jo segera meninggalkan mereka.
"Apaan sih kamu itu, bilang calon suami segala," ketus Aira sembari menyendokkan bakso ke mulutnya.
"Ya kan aku emang calon suami kamu," goda Keno.
Aira memutar bola matanya malas, "Udah dimakan tuh, mumpung masih anget."
"Kenapa cuma dilihatin, engga bakal keracunan kok tenang aja," seru Aira karena Keno hanya melihat makanannya saja.
Keno akhirnya mencoba satu suap mie ayam.
"Hm, enak juga nih."
"Iya dong, Mie ayam baksonya Bang Jo itu enggak ada tandingannya."
Mereka pun melahap makanannya hingga habis sembari menatap hujan yang tak kunjung reda.
"Kok engga reda- reda sih, Ra. Udah malam nih."
"Hujan- hujan aja yuk, seru deh. Ini juga lumayan engga deras amat." ajak Aira.
"Boleh deh."
Keno segera membayar mie ayam mereka dan berpamitan dengan bang Jo.
"Bang Jo kita pamit ya."
__ADS_1
"Tapi masih hujan neng, apa kalian membawa jas hujan?"
"Engga bang, kita mau hujan- hujanan aja engga terlalu deras juga ini."
"Yaudah neng hati- hati, oh ya nak Keno kapan- kapan mampir ke sini lagi ya. Jangan lupa pesenannya juga hehey."
"Iya bang siap, kapan- kapan mampir ke sini. Saya rekomendasikan ke temen- temen juga deh biar tambah laris."
"Wahh makasih banyak." Keno dan Aira segera pulang dan hujan- hujanan.
"Ra, kamu engga papa?"
"Engga kok, kamu gimana? Pasti kedinginan."
"Engga papa, bentar lagi juga nyampe." ucap Keno menggigil.
Dan tak lama kemudian mereka sampailah di rumah dengan baju yang sudah basah kuyup dan badan menggigil karena kedinginan walaupun hujannya tidak begitu deras.
"Aduhh dingin banget nih." ucap Aira menggigil.
"Hmm."
Bi Ijah dan Mang Dadang yang mendengar bel dari luar segera membuka pintu.
"Ya ampun Tuan, Nak Aira hujan- hujanan?" tanya Mang Dadang.
"Engga mang Dadang, kita habis main salju tadi." jawab Aira bercanda.
"Kamu itu masih bisa bercanda aja." celetuk Keno.
"Kenapa engga pakai jas hujan sih Tuan."
"Ya engga bawa lah gimana si, Bi."
"Loh loh, di jok motor kan ada. Ada dua yang biasa saya pakai sama Bi Ijah."
Keno dan Aira saling pandang dan menepuk kening mereka. "Bodohnya kita!!! Kenapa engga kepikiran sih!" celetuk mereka secara bersamaan. Mereka segera naik ke atas menuju kamar untuk mandi.
Bi Ijah dan Mang Dadang terkekeh melihat keduanya. Dan bi Ijah pun segera membuatkan jahe anget untuk menghangatkan tubuh mereka.
***
Paginya seperti biasa setelah bersiap diri Aira segera ke kamar Keno untuk membangunkan Keno dan menyiapkan keperluan.
"Dasar tukang tidur, jam segini belum bangun juga." gumam Aira. Ia segera berjalan menuju ranjang Keno.
"Ken bangun."
"Ken, ayo bangun udah siang ini. Kok kamu pucat sih." karena tidak ada reaksi apapun Aira pun menepuk pipi Keno dan menyentuh keningnya merasakan kalau badan Keno panas.
"Ken, kamu sakit. Kamu demam. Aku ambilin kompresan bentar ya." ucap Aira. Ia panik dan segera mengambil handuk dan air untuk mengompres Keno.
Merasakan ada sesuatu di keningnya Keno mengerjapkan matanya perlahan.
"Sudah bangun."
"Hm."
"Kamu demam, suhu tubuhmu sangat tinggi. Biarkan kompres itu tetap di keningmu dulu."
"Kepala ku pusing sekali."
"Kamu makan dulu ya, nanti biar bisa minum obatnya. Kalau nanti belum turun panasnya kita ke dokter."
Keno hanya mengangguk, badannya sangat lemas tak berdaya. Aira dengan telaten menyuapi bubur dan menyuruhnya untuk minum obat.
"Hari ini jangan ke kantor dulu, biar cepet sembuh."
"Jangan pergi tetaplah di sini." Keno menarik tangan Aira dan Aira pun terjatuh di samping Keno.
Keno langsung menyandarkan kepalanya di bahu Aira. Aira pun menuruti Keno, ia sudah izin untuk tidak berangkat hari ini dengan alasan sakit padahal yang sakit si Keno bukan dia hehe.
"Kenapa belum turun juga, ini sudah satu jam lebih."
"Tidak tahu, tapi aku merasa lebih baik saat berada di dekat mu."
"Cepatlah sembuh biar bicara mu tidak ngelantur kemana- mana." ketus Aira, Ia mengusap- usap kepala Keno lembut.
"Ken, kita ke dokter yuk demam mu belum turun juga. Aku takut kau kenapa- kenapa."
"Aku tidak mau berurusan dengan dokter, aku mau di sini saja."
Entah kenapa Aira malah menangis melihat keadaan Keno yang semakin tinggi suhu tubuhnya.
"Hei Kau kenapa menangis."
"Aku takut kau kenapa- kenapa, harusnya semalam aku tidak mengajak mu untuk hujan- hujan, ayo kita ke dokter hiks hiks hiks."
"Sudah aku bilang tidak apa- apa. Ini bukan salah mu, berhentilah menangis." ucap Keno sembari mengusap air mata Aira.
"Kalau begitu biarkan aku memegang dada mu, kalau aku sedang panas mama selalu memegang dada ku, namanya metode skin to skin. Panasnya akan berpindah ke tanganku nantinya."
"Cihh bilang saja kau tertarik dengan ku."
"Tidak!"
"Sudah- sudah jangan berteriak, kau membuat kepala ku semakin pusing." Keno pun membuka dua kancing piyamanya. Ia pun menarik telapak tangan Aira dan menempelkan pada dada bidangnya.
"Kenapa jantung mu berdetak cepat sekali padahal kau sedang tidak berlari, apa kau juga mempunyai penyakit jantung?" tanya Aira ketika merasakan detak jantung Keno yang cepat.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, aku tidak sedang sakit jantung. Ini karena kau berada di dekatku. Jantung ku terus saja berdetak kalau ada kau, apalagi kau menyentuhku seperti ini. Karena aku jatuh cinta sama kamu." tutur Keno pelan namun tetap terdengar jelas oleh Aira.
"Apa yang kau katakan, aku tidak mendengarnya." ucap Aira pura- pura tidak mendengar.
"Baguslah kalau kau tidak mendengar." ujar Keno merajuk.
Aira menggelengkan kepalanya ketika Keno merajuk. Ia tidak menyangka kalau Keno juga memiliki perasaan yang sama seperti dia. Namun Aira belum percaya sepenuhnya karena Keno bisa saja bercanda atau gara- gara sedang sakit ia berbicara seperti itu.
Dan beberapa saat kemudian, suhu tubuh Keno sudah mulai turun tapi Keno masih tertidur dengan nyenyaknya menyandar di bahu Aira.
Aira tidak tega jika harus membangunkan Keno, ia pun membiarkan Keno bangun dengan sendirinya. Aira terus memandangi wajah Keno yang tenang itu ketika tidur, dan tak terasa Aira ikut terlelap bersama Keno.
__ADS_1