Hello Presdir

Hello Presdir
Maaf Telah Melupakan


__ADS_3

"Nak Aira, ada yang nyariin di depan." ucap Mang Dadang.


"Siapa mang? Tumben ada yang nyariin pagi- pagi gini." ucap Aira yang seketika langsung meletakkan sendok dan menghentikan makannya.


"Fansnya Nak Aira kali." sahut Bi Ijah.


"Idih, Mana ada yang ngefans sama Aira. Galak gitu orangnya." celetuk Keno langsung mendapatkan cubitan dari Aira.


"Iri bilang boss! Kamu ngga tau aja sih kalau aku udah mirip artis, fans ku banyak apalagi followers di Instagram. Engga kaya kamu, haha." ledek Aira.


"Eh followers ku juga banyak lebih dari satu juta, cewek cantik semua lagi."


"Eh eh eh, ini kok malah pada ngeributin followers sih. Itu orangnya kasihan nunggu di depan pintu."


"Lah kok engga di suruh duduk dulu sih mang."


"Lupa ehe.." Aira langsung beranjak menemui orang yang dimaksud mang Dadang tadi.


Sesampainya di depan pintu, terlihat seorang lelaki dengan pakaian khas satpam membelakangi Aira.


"Cari siapa ya, Pak?"


Lelaki itu langsyng membalikkan badannya, "Halo Nona cantikkk..."


"Astaga, pak Dodit ternyata kirain siapa huh. Ngapain pak pagi- pagi ke sini, tumben amat. Mau ngerjain Aira lagi? atau mau ngajak berantem? Itu juga ngapain bawa buket bunga gede banget." ketus Aira


"Ya ampun Nona Aira ini cerewet banget sih, ini dari Nyonya Mira. Tadi beliau menyuruh saya mengantarnya. Dan ini ada makanan katanya nyonya yang memasak." Pak Dodit menyodorkan buket bunga besar itu dan juga paper bag ke Aira hingga kewalahan membawa.


"Ayiihhh, ini beneran untuk Aira? Salah kali pak."


"Ya beneran untuk Nona Aira lah, masa iya untuk pot samping Nona itu."


"Dalam rangka apa Mama mengirimkannya? Heuh, tumben sekali."


"Ya mana saya tempe, saya cuma disuruh mengantarnya saja."


"Tahu pak bukan Tempe."


"Ya terserah saya lah, saya lebih suka tempe kok daripada tahu."


Aira menepuk keningnya, "Udah- udah, buruan pak Dodit pulang. Bilangin ke Mama, Makasih."


"Tanpa disuruh pulang juga saya pulang sendiri Nona."


Aira langsung membanting pintu dengan kasar membuat pak Dodit sedikit tersentak. Ia membawa buket bunga dan makanannya ke dalam.


"Dari siapa ?!" tanya Keno dengan suara meninggi.


"Dari cowok kamu? Jadi kamu punya cowok lain gitu? kamu khianatin aku? Kok jahat banget sih ! Bisa- bisanya khianatin aku." seru Keno.


"Mulut itu di rem, banyak bicara. Mana engga ada yang bener lagi." Aira menoyor kepala Keno.


"Engga ada rem, bilang dulu dari siapa !" tanya Keno melototkan matanya.


"Dari Mama, kenapa sih? Gitu aja marah."


Dengan perlahan, Aira langsung membuka paper bag dan mengeluarkan beberapa kotak makanan dari sana. Ia pun segera membuka kotak makanan itu satu persatu. Dilihatnya ada Kentang balado, perkedel kentang, dan ada ayam geprek sambal matah. Juga ada botol minum berisi infused water. Semua makanan itu adalah makanan favorite Aira.


Ia terharu melihatnya, jarang sekali mamanya mengirimkan makanan untuk dirinya. Apalagi kata pak Dodit tadi, kalau ini semua adalah masakan Mamanya. Padahal yang ia tahu, setahun ini mamanya tidak pernah menyentuh dapur apalagi memasak karena kesibukannya. Tapi kali ini mama memasak khusus untuk Aira.


"Ini beneran dari Mama?"


"Katanya pak Dodit sih iya." Aira langsung mengambil sendok dan mencicipi makanan itu.


"Hm benar, rasanya enak sekali. Ini memang masakan mama, aku selalu ingat rasa masakan mama." batin Aira, matanya berkaca- kaca hendak menangis karena terharu. Ia berpikir apa mamanya memang menyayangi Aira dan akan memperbaiki sikapnya kepada Aira.


"Heyy, kenapa malah diam." seru Keno membuyarkan lamunan Aira.


"Ahh tidak." Aira buru- buru menyeka air matanya yang hampir saja menetes.


"Apa kau mau mencicipinya? Ini sangat enak, kau pasti akan menyukainya." tawar Aira.


"Itu memang terlihat menggoda, aku ingin sekali memakannya tapi perut ku sudah penuh." jawab Keno dengan tatapan sendu.


"Bagaimana kalau untuk makan siang saja? Aku akan menyiapkannya untuk mu."


"Baiklah, ambilkan nasinya yang banyak ya, kentang baladonya juga, perkedel juga, pokoknya aku akan makan banyak."


"Hey hey hey, apa kau tidak akan menyisakan sedikit untukku?"


"Baiklah kau boleh mengambil sedikit, jangan terlalu banyak."


"Dihh kenapa kau yang mengatur, ini kan untuk ku."


"Itu untuk ku juga, kau mana tau. Sudahlah siapkan semuanya lalu kita berangkat."


"Dasar anak manis yang menyebalkan." gerutu Aira.


"Aku mendengarnya." seru Keno terkekeh.


***


Keno berjalan menuju ruangannya dengan bersenandung seraya membawa paper bag di tangannya yang berisikan makanan. Karyawan yang berpapasan dibuat heran dengan presdir mereka yang akhir- akhir ini sering menenteng sesuatu, yang tak lain adalah bekal untuk makan siang. Jarang- jarang ada presdir yang mau menenteng paper bag di tangannya apalagi membawa bekal untuk makan siang. Itu karena orang yang menyiapkan bekal adalah Aira, kalau bukan karena Aira mana mau Keno menenteng makanan untuk makan siang.


"Selamat pagi Presdir tampan..." sapa Adel seraya bergelayut manja di lengan Keno.


"Lepaskan!"


"Biarkan saja seperti ini." seru Adel yang malah menyandarkan kepalanya di bahu Keno.


"Lepas atau ku pecat !" bentak Keno namun tak membuat Adel takut.


"Pecat saja kalau kau ingin di marahi papa mu."


Keno berdecak seraya melepas Adel dengan paksa. Ia bahkan mendorong tubuh Adel walaupun tidak sampai jatuh.


"Kenapa kau mendorongku, kasar sekali kau ini."


"Aku tidak perduli, selesaikan pekerjaan mu sekarang juga!" seru Keno dan langsung masuk ke ruangannya dengan membanting pintu hingga Adel tersentak.


"Huh, sabar. Sebentar lagi juga masuk perangkap, mana mungkin kau tidak tergoda dengan ku." gumam Adel tersenyum sinis.


Keno langsung duduk di kursinya. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Adel yang seperti itu terus. Rasanya ia ingin mematahkan tangan Adel sehingga tidak bisa bergelayut di lengan Keno lagi.


Setelah menenangkan pikirannya sejenak, lalu Keno segera menyelesaikan pekerjaannya. Lantunan musik yang terdengar dari ponselnya selalu menjadi temannya saat bekerja. Dengan sesekali bernyanyi mampu membuat Keno lebih semangat dalam bekerja.

__ADS_1


*Tok...


Tok...


Tokkk*...


"Masuk !" seru Keno saat pintu diketuk seseorang.


"Apa aku mengganggu mu?"


"Kau mau apa katakan saja." sahut Keno tanpa menoleh ke seseorang yang sedang bicara dengannya itu berfikir kalau Adel atau Frido yang masuk.


"Hanya ingin menemani mu bekerja."


Keno baru menoleh setelah orang tersebut berkata seperti itu, "Ele..."


"Haii." Ucap Ellen tersenyum manis.


"Kenapa kau kemari? Harusnya kau di rumah saja istirahat."


"Aku hanya bosan saja jika di rumah terus, semuanya pergi bekerja. Hanya aku yang di rumah, makanya aku kemari." Keno tersenyum mendengarnya, ia mengacak- acak rambut Ele.


Seperti biasa, Ellen akan menunggu di sofa seraya mengobrol dengan Keno. Keno pun juga terbiasa akan hal itu malah ia sangat senang dengan kehadiran Ellen.


Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, sudah saatnya makan siang. Keno pun segera mematikan laptop dan menutup berkas- berkasnya. Segera ia menghampiri Ellen yang tak sengaja tertidur di sofa.


"Ele, ayo bangun..." ucap Keno membangunkan Ellen.


Ellen merasakan ada sesuatu di pipinya itupun menggeliat dan mengerjapkan matanya.


"Hm, kenapa kau membangunkan ku." ucap Ellen dengan suara khas bangun tidur.


"Ini sudah siang, kau tidak mau makan? Ayo makan dulu dan minum obat mu. Nanti kalau sudah, kau bisa melanjutkan tidur mu lagi." ucap Keno lembut.


"Kita mau makan siang dimana?"


"Sebenarnya aku membawa bekal tadi, tapi kalau kau mau yang lain aku akan memesankannya untuk mu."


"Kau membawa bekal makan siang?" tanya Ellen terheran- heran. Keno mengangguk dan segera membuka kotak makanan yang disiapkan Aira tadi pagi.


"Wahh sepertinya enak, aku mau ini saja." ucap Ellen girang saat Keno membuka kotak makanan itu.


Mereka pun segera menyantap makanan itu, dan Keno menyuapi Ellen. Tentu saja Ellen merasa senang, karena sudah lama ia tidak makan disuapi Keno.


"Enak sekali, aku jadi ingin memakannya setiap hari." seru Ellen dan terus mengunyah.


"Siapa yang memasaknya?"


"Bi Ijah." ucap Keno membohongi Ellen, tidak mungkin jika ia mengatakan kalau yang memasak adalah calon mama mertuanya.


"Sudah habis, apa kau sudah kenyang?" tanya Keno.


"Sudah, maaf ya gara- gara aku ikut memakaj bekalmu kau jadi makan sedikit."


"Tidak apa, aku juga sudah kenyang kok. Sekarang minumlah obat mu, dan lanjutkan tidur mu. Kalau kau mau kau bisa tidur di kamar ku biar lebih nyaman."


"Baiklah..."


***


Aira, Mega, dan Sandi sedang menikmati santap siang mereka. Mereka memilih untuk makan ketoprak yang ada di dekat kantor mereka. Duduk lesehan dengan beralaskan tikar tipis di bawah pohon yang sejuk, seraya menatap ke jalan raya menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang.


"Udah lama banget engga makan ketoprak di sini." ucap Sandi.


"Iya padahal deket banget, tapi karena ramai jadi males deh makan di sini. Untung kita tadi istirahatnya lebih awal." celetuk Mega.


Aira hanya tersenyum dan memainkan ponselnya. Akhir- akhir ini ia sering menghubungi Keno untuk mengingatkan sudah makan atau belum. Aira hanya khawatir saja jika sakit maag Keno kambuh seperti waktu itu.


"Chattingan sama siapa sih dari tadi senyum- senyum sendiri." ucap Sandi menyerobot ponsel milik Aira.


"Kak Sandi balikin!"


"Wihhh, Ken, jangan lupa makan siang ya. Awas saja kalau kau melewatkan makan siang mu lagi." Sandi membaca pesan yang Aira kirimkan untuk Keno dan membuat Aira malu.


"Ciyee Aira, makin lengket aja nih sama babang Keno." goda Mega mencoel dagu Aira.


"Kak Sandi balikin ngga ponselnya Aira." teriak Aira dan lompat- lompat merebut ponselnya dari tangan Sandi.


"Udah sayang, balikin aja biar mereka chattingan lagi kasihan haha." ucap Mega.


Sandi pun menurut dan mengembalikan ponsel milik Aira. Aira pun kesal lalu meninggalkan mereka berdua.


"Eh mau kemana." tanya Sandi saat Aira berjalan meninggalkan mereka.


"Balik ke kantor !"


"Eh zubaedah, lo belum bayar ketopraknya. Katanya kali ini mau bayarin kita." teriak Mega.


"Engga jadi ! Bayar aja sendiri."


Mega dan Sandi pun melongo menatap punggung Aira, "Yah engga jadi makan gratis deh yang, mana harus bayarin punya Aira juga lagi." seru Sandi dengan tatapan sendu.


"Kamu sih yang, main rebut ponselnya Aira aja. Jadi ngambek kan dia. Sudahlah, cepat bayar!" Mega pun mengejar Aira dan meninggalkan Sandi.


"Hiks, kenapa malah pada ninggalin sih." ucap Sandi menggaruk kepalanya.


"Eh bayar cepet dan pergi dari sini, gantian yang lain." seru penjual ketoprak kepada Sandi.


"Yaelah bang, engga sabaran banget jadi orang. Nihhh ambil, kembaliannya ambil aja. Baik kan gue." ucap Sandi menyodorkan uang kepada penjual Ketoprak.


"Eh bocah, ini mah pas mana ada kembaliaannya. Dasar sableng."


"Nama gue Sandi bang, bukan sableng." protes Sandi.


"Pergi sono ! Bikin gue emosi aja."


"Dasar babang galak." ucap Sandi menjulurkan lidahnya kepada penjual ketoprak itu dan kemudian berlari sekencangnya karena penjual itu melepas sandalnya dan hendak melemparkan ke Sandi.


***


"Ken, apa kau sudah mau pulang?" tanya Ellen.


"Iya, kenapa memangnya? Kau ingin kemana aku akan menemani mu."


"Bagaimana kalau kita pergi ke pantai dulu. Kata teman ku menikmati senja di pantai itu menyenangkan."

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita ke pantai."


Keno mengemudikan mobilnya menuju pantai yang dulu ia kunjungi bersama Aira. Pantai dimana ia mengungkapkan perasaannya kepada Aira. Kali ini ia mengunjungi pantai itu lagi, tapi dengan wanita yang berbeda.


"Indah sekali pemandangannya..." ucap Ellen memandangi laut.


"Iya, sebentar lagi akan lebih indah. Kita tunggu saja."


Ellen merasa senang melihat pemandangan pantai yang begitu indah, duduk bersama di tepi pantai bersama Keno.


"Apa kau sering ke sini?" tanya Ellen.


"Tidak sering, hanya sesekali saja."


"Dengan siapa? Wanita mu?" tanya Ellen tersenyum.


"Bukan, jangan membahas itu lagi."


"Siapa wanita yang bisa meluluhkan hati mu itu? Aku ingin mengenalnya juga." ucap Elle. dengan wajah sendu.


"Tidak ada, jangan kau pikirkan." jawab Keno membelai kepala Ellen.


Keno membohongi Ellen lagi, ia mengetahui raut wajah Ellen. Keno tahu walaupun Ellen tetap tersenyum tapi aslinya ia sedang sedih. Karena Keno juga tahu kalau Ellen masih mencintainya.


"Aku tidak tahu kapan aku dipanggil oleh Sang Pencipta, tapi aku selalu berdoa supaya dimasa- masa terakhir ku ini kau tetap di samping ku." ujar Ellen menyandarkan kepalanya di bahu Keno.


"Jangan berbicara seperti itu, kau tidak akan pergi. Dan aku akan selalu di samping mu. Kau harus tetap semangat. Aku yakin kau akan sembuh. Okay." Hati Keno selalu sakit jika Ellen berkata kalau dia akan segera pergi.


"Terima kasih Tuhan, telah menghadirkan lelaki yang sangat baik untukku. Lelaki yang menjadi alasan kenapa aku harus tetap bertahan." batin Ellen.


Mereka berjalan menyusuri bibir pantai dengan alas kaki yang sudah dilepas. Bergandengan tangan seraya menatap orang- orang yang berlarian kesana kemari bermain dengan riangnya.


Keno dan Ellen meninggalkan pantai saat matahari sudah terbenam. Keno sampai di rumahnya pukul 7 malam karena tadi ia harus mengantar Ellen pulang terlebih dahulu.


"Loh nak Aira kemana, kok tidak bersama Tuan?" tanya mang Dadang.


"Emang Aira belum pulang?"


"Belum Tuan."


"Astagaaaa aku lupa!" Keno langsung berlari menuju mobilnya lagi.


Karena menemani Ellen, Ia jadi lupa jika tadi mengatakan pada Aira bahwa akan menjemput dan akan pulang bersama. Keno yakin kalau Aira pasti masih menunggunya di kantor, padahal Aira pulang jam 5 sore tadi.


Dengan kecepatan tinggi, Keno melajukan mobilnya membelah jalanan yang lumayan padat. Hatinya tidak tenang, merasa kasihan dengan Aira yang sudah menunggunya lama.


Ia hendak menghubungi Aira namun ponselnya mati kehabisan daya. Hatinya semakin tidak tenang, merasa sangat bersalah dengan Aira. Beberapa menit kemudian, mobil Keno telah sampai di kantor Aira. Dilihatnya Aira memang masih menunggunya di depan pos satpam seraya mengobrol dengan satpam yang sedang bertugas.


Perasaan bersalah terus menyelimuti Keno, dengan langkah gontai ia menghampiri Aira yang tengah asyik mengobrol dengan satpam itu.


"Airaa.."


"Eh Hay, kau sudah datang rupanya." ucap Aira.


"Maafkan aku, kau pasti sudah menunggu lama sekali." lirih Keno menundukkan wajahnya.


"Tidak apa kenapa wajah mu sedih gitu?"


Keno menjadi tambah sedih melihat Aira yang tetap biasa saja dan tetap tersenyum, padahal ia sudah menunggu Keno sejak jam 5 sore tadi dan sekarang sudah jam setengah delapan malam. Itu sangat lama sekali, apalagi untuk menunggu.


"Tidak apa, ayo kita pulang sekarang."


Aira berpamitan kepada satpam yang telah menemaninya tadi dan langsung masuk ke mobil Keno.


"Sekali lagi aku minta maaf telah membuat mu menunggu lama. Harusnya aku menyuruh mu untuk pulang saja tadi, tidak perlu menunggu ku." ucap Keno dengan wajah sendu.


"Hanya menunggu dua setengah jam saja, itu tidak lama. Lagi pula pekerjaan mu pasti banyak kan hingga kau pulang jam segini."


Perkataan itu membuat Keno terdiam, ia tidak bekerja sampai malam begini. Tapi tadi ia menemani Ellen pergi ke pantai. Dirinya bersenang- senang dengan Ellen dan melupakan Aira, membuat wanita itu harus menunggu lama.


"Maaf..."


"Huufffttt, kau sudah bilang maaf berkali- kali. Apa kau tidak lelah, lagi pula aku tidak apa kenapa kau terus merasa bersalah. Aneh kau ini, haha."


"Aira, kau terlalu baik untukku. Kau selalu bisa menerima ku apapun keadaannya." batin Keno.


Keno menghentikan mobilnya ke restoran terdekat. Pasti Aira sudah sangat lapar, jadi Keno mengajak Aira untuk makan malam terlebih dahulu. Dengan sigap ia menarik kursi untuk Aira duduk.


"Eh aku bisa sendiri."


"Udah duduk aja."


"Kamu kenapa sih aneh banget hari ini."


"Aneh kenapa? Engga ada yang aneh kok."


Seraya menunggu makanan yang mereka pesan sampai, mereka mengobrol dan bercanda. Mereka juga menyempatkan untuk berselfie.



Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Karena terlalu lelah hari ini, Aira langsung merebahkan tubuhnya di ranjang setelah membersihkan dirinya. Meregangkan otot- ototnya yang serasa kaku itu.


Membuka ponselnya mengecek siapa yang mengirimkan pesan. Dan ternyata papa dan mamanya yang mengirimkan pesan.


Mereka mengingatkan Aira supaya menjaga kesehatan, jangan terlalu lelah, selalu makan tepat waktu, minum vitamin dan masih banyak lagi perhatian- perhatian yang mereka berikan untuk Aira.


"Kalian perhatian sekali dengan ku, terima kasih." lirih Aira menatap foto kedua orang tuanya di ponsel lalu memeluknya. Dengan mata berkaca- kaca.


Aira senang karena orang tuanya sedikit berubah atas kejadian itu, ia selalu berdoa supaya orang tuanya tetap seperti itu dengannya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya....


Oh ya, jangan lupa mampir juga ke novel karya Linanda Anggen judulnya "Menikah Karena Skandal"


__ADS_1


__ADS_2