Hello Presdir

Hello Presdir
Tak Boleh Ikut


__ADS_3

Brakkk!


Aksa terjatuh dan troli Clara masih berjalan dengan cepat sebelum akhirnya ikut terjatuh juga karena terpental tembok.


"Aaaaaaaa!"


"Aduhh, Clara terjungkal!" pekik Aksa menepuk keningnya. Ia lalu menghampiri Clara yang sudah menangis kencang.


Aira dan Mega yang mendengar kegaduhan pun segera menghampiri. Betapa terkejutnya mereka mendapati supermarket yang berantakan dan Clara yang menangis tersedu- sedu.


Aksa sebisa mungkin menahan tawanya melihat Clara yang keningnya benjol sebesar tahu bulat lima ratusan dan berwarna merah keunguan. "Clara, keningmu sangatlah lucu dan menggemaskan," seru Aksa sembari membantu Clara bangun.


"Clara ya ampun, Nak..." Mega langsung menggendong anaknya yang menangis sesegukan.


"Mami sakit..." ucap Clara sesegukan sembari menunjukkan keningnya yang benjol.


"Aksa!" gertak Aira kepada anaknya yang tengah menunduk dan tertawa. Ia tahu betul jika semua ini adalah ulah Aksa.


"Iya Mama, ini salah Aksa," jawab Aksa dengan entengnya. Anak itu membantu karyawan supermarket membereskan barang- barang yang jatuh karenanya tadi.


"Aira, tubuh anakku panas sekali. Boleh tolong antar aku ke rumah sakit? Aku takut Clara kenapa- kenapa..." ucap Mega. Clara langsung pucat dan badannya panas.


"Iya kak, kebetulan aku membawa mobil tadi." Aira segera membayar belanjaannya dan ganti rugi atas kekacauan yang telah Aksa perbuat. Ia segera mengajak masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit sanjaya.


*****


Aksa dan Aira duduk di ruang tunggu menantikan dokter memeriksa keadaan Clara. Aksa hanya diam, ia merasa bersalah. Ia pikir ini hanya masalah kecil, tapi ternyata malah membuat Clara harus dibawa ke rumah sakit. Yang ia pikirkan saat ini bukanlah Clara, tapi malah Mama dan Papanya. Ya, mereka pasti akan memarahi dirinya habis- habisan.


Aira melirik anaknya yang sedang menunduk meremas jarinya. Ia tahu betul jika Aksa pasti merasa bersalah dan takut terjadi apa- apa dengan Clara.


"Aksa..."


"Maafin Aksa, Mah. Tadi Aksa cuma bermain dorong- dorongan troli, dan Aksa nggak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini," lirih Aksa.


"Sudah tahu kalau kamu itu salah, tapi kenapa tadi malah menertawakan Clara? Itu bukan hal yang harus ditertawakan, Clara pasti sangat sakit!"


Derap langkah kaki terburu- buru menghampuri mereka, Sandi yang kala itu tengah melakukan siaran dan mendapat kabar dari istrinya segera datang ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aira, dimana Mega? Dan bagaimana keadaan Clara?" tanya Sandi.


"Masih di dalam kak, dari tadi belum keluar."


Sandi langsung masuk ke dalam dan menemui anak serta istrinya. Aira dan Aksa ikut masuk ke dalam. Sandi pun terkejut mendapati benjolan di kening anaknya.


"Papi..." rengek Clara dan langsung berhambur memeluk Sandi.


"Keningmu kenapa lucu sekali..." lirih Sandi menahan tawanya.


"Tuh kan, Mah. Apa Aksa bilang, kalau benjolan Clara itu sangatlah lucu dan menggemaskan," bisik Aksa di telinga Mamanya. Aira langsung mencubit tangan anaknya. Bisa- bisanya dia malah begitu.


"Kamu itu bagaimana sih! Anak benjol kaya gini malah diketawain!" gertak Mega menyentil telinga suaminya.


"Abisnya lucu sayang..."


"Papanya Clara saja begitu, Mah."


"Aksa, ayo minta maaf!"


Aksa pun mendekat dan mengulurkan tangannya, "maafin Aksa ya Om, Tante. Aksa yang sudah membuat Clara seperti ini. Clara, Aku minta maaf ya. Tapi benjolan di kepalamu itu sangatlah lucu," ucap Aksa terkekeh. Anak itu lalu pergi meninggalkan ruangan karena takut dimarahin Mamanya.


"Iya nyebelin, sama kaya bapaknya!"


*****


Selama perjalanan hingga sampai rumah, Aira tak henti- hentinya menasihati Aksa. Tapi anak itu malah tak peduli, ia hanya mengangguk acuh. Telinganya sungguh sakit mendengar ocehan sang Mama.


Aksa masuk ke rumah terlebih dahulu tanpa menunggu Mamanya. Ia langsung menemui Papanya dan mengadukan semuanya.


"Pah, Bu presiden nggak berhenti mengoceh. Aku sungguh pusing mendengarnya. Bicaralah sama dia, Pah."


Keno yang mendengarnya pun langsung mematikan ponselnya dan menatap anaknya secara seksama. "Bu presiden tak akan mengoceh jika kamu nggak nakal. Kamu pasti nakal kan? Kamu habis ngapain tadi sampai Bu Presiden ngoceh?"


"Iya Aksa tadi nakal, tapi nggak perlu dibilangin terus- terusan, Pah. Cukup sekali saja, tak perlu berkali- kali. Dari rumah sakit sampai sini Mama nggak diam- diam!"


"Rumah sakit?"

__ADS_1


Aksa pun menceritakan semuanya, Keno pun langsung menerkam anaknya. Ia membaringkan tubuh Aksa di sofa dan menggelitiknya hingga lemas.


"Kalau begitu ceritanya wajar dong Bu Presiden ngoceh terus. Sudah berapa kali Papa bilang nggak boleh nakal!"


"Iya papa, tolong berhenti menggelitik. Perutku sangat sakit karena tertawa terus."


Keno mendengus kesal, ia sudah muak dengan kelakuan anaknya yang sulit sekali dibilangin.


"Nggak usah ikut ke Bali, besok Mama sama Papa mau liburan ke sana seminggu. Kamu di rumah sama Bi Ijah dan Mang Dadang!" seru Keno membuat Aksa membelalakkan matanya.


"Kita mau ke Bali?" Aksa bersorak sorai dan melompat- lompat, ia begitu senang. Sudah lama ia tak merasakan liburan karena sekolah dan papa mamanya juga sibuk.


"Bukan kita! Papa dan Mama saja," ucap Keno.


"Ohh nggak bisa, Aksa harus ikut."


"Tadinya mau ngajak kamu, tapi gara- gara kamu nakal nggak jadi!"


"Ayolah Tuan Keno, kamu nggak kasihan sama anakmu yang tampan, lucu, menggemaskan, dan pintar ini?" Aksa memasang wajah sok imutnya dan bergaya ala chibby.


"Dihh, kamu tuh jelek kaya ingus!"


"Berarti Papa juga, aku kan keturunannya papa." Aksa lalu berlari meninggalkan Keno yang bersiap melemparkan sandal rumahnya kepada Aksa.


Aira yang baru saja datang setelah membereskan es krim Aksa pun tertawa terpingkal- pingkal melihat Keno dan anaknya.


"Yang sabar ya Tuan Keno," ucap Aira mengusap dada suaminya.


Aksa kembali denfan tiga cup es krim di tangannya, ia lalu duduk di tengah- tengah Aira dan Keno. Lalu memberikan mereka masing- masing satu cup.


"Ajak Aksa ke Bali ya..." lirih Aksa setelah memberikan es krim.


Keno ingin tertawa saat itu juga, anaknya benar- benar menggemaskan. Memberikan satu cup es krim supaya diajak ke Bali.


"Udah nggak bisa Aksa, tiket untukmu sudah papa jual lagi barusan. Kamu di rumah saja, nanti kami belikan oleh- oleh," ucap Keno.


"Baiklah kalau begitu, semoga liburan kalian menyenangkan," ucap Aksa tersenyum getir.

__ADS_1


Aksa langsung jadi sendu, ia meletakkan es krimnya dan berlalu meninggalkan mereka. Ia sangat sedih dibuatnya, Papa Mamanya akan pergi liburan tanpa dirinya.


Aksa termenung di kamarnya, menyangga dagunya. Ia menyesali perbuatannya, gara- gara membuat Clara jatuh ia jadi tak bisa ikut ke Bali. Ah, ini sangat menyedihkan.


__ADS_2