
Aira hendak mengajak suaminya itu untuk sarapan. Ia tak tahu kalau Keno juga sudah siap dan hendak keluar dari kamar. Saat pintu terbuka, Aira tak sengaja menabrak tubuh Keno yang tengah berdiri dan ingin membuka pintu juga. Keno pun terjungkal dan Ipad yang berada dalam genggamannya tadi terlempar.
"Aww..." pekik Keno seraya mengusap pantatnya.
"Kenapa kau tidak bilang jika berada di belakang pintu ! Jadi jatuh kan," tegur Aira.
"Heyy kau yang salah, kenapa kau malah memarahiku. Pantatku jadi sakit..."
Bukannya membantu Keno berdiri tapi Aira langsung mengambil Ipad yang Keno bawa tadi.
"Untung saja tidak rusak atau retak," ucap Aira.
"Bukannya nolongin suami malah ngambil ipad itu duluan? Istri macam apa kau ini," gerutu Keno. Ia sangatlah jengkel dengan Aira.
"Maaf sayang. Ipadnya 'kan mahal banget. Aku khawatir kalau kenapa- kenapa. Apalagi Ipadnya baru," jawab Aira seraya membantu Keno berdiri.
"Jadi, Ipadnya lebih berharga dari pada suamimu yang tampan dan mempesona ini?"
Aira menghela nafas, ia sudah malas jika mendengar kesombongan suaminya itu.
"Bukan gitu...Ya udahlah aku minta maaf."
"Tidak akan aku maafkan," jawab Keno ketus. Ia langsung mengambil ipadnya dan meninggalkan istrinya.
Aira dengan susah payah mengejar suaminya itu, "Sayang, ayolah maafkan aku, jangan ngambek gitu dong."
"Sudah ku bilang, aku tidak akan memaafkanmu."
"Aku tidak akan mengulanginya lagi." Aira menggelayuti dan terus menggoda suaminya yang tengah merajuk itu.
"Bodoamat Zubaedah !"
"Aku cium ya, tapi jangan marah lagi," tawar Aira.
"Cium lima puluh kali !"
"Hey, kenapa banyak sekali. Sepuluh kali saja jangan banyak- banyak." Aira menjadi kesal dengan suaminya yang malah ngelunjak.
"Itu tidak seberapa. Tidak harus sekarang juga, kamu bisa mencicilnya sedikit demi sedikit."
"Memangnya aku lagi kredit barang apa !" gerutu Aira dalam hatinya.
"Huffttt baiklah- baiklah suamiku yang sangat tampan tiada tandingannya ini, hanya lima puluh kali saja tak masalah. Bahkan untuk ciuman setiap detiknya aku juga sanggup kok."
"Wahh itu lebih bagus, mulai sekarang kau harus menciumku setiap detik. Bukankah kau menyanggupinya, istriku?" goda Keno mengerlingkan matanya.
Dihhh, menyesal aku mengatakannya !
Aira pun mulai mencium pipi, hidung, mata, kening, dagu, dan semua bagian wajah Keno tak lupa dengan sapuan bibirnya.
"Sudah berapa kali?" tanya Aira. Ia mulai lelah untuk mencium suaminya lagi.
"Entahlah, aku lupa menghitungnya," jawab Keno terkekeh.
"Harusnya kau menghitung sudah berapa kali, ah menyebalkan." Aira sangat kesal, ia menoyor kepala suaminya.
"Kau berani menoyorku? Aku tambah hukumanmu dua kali lipat !"
"Ah terserah !"
***
__ADS_1
Usai perdebatan kecil yang cukup melelahkan, mereka pun langsung bergabung dengan Andi dan Mira untuk sarapan. Menu sarapan kali ini adalah nasi kuning dengan berbagai lauk, seperti sambal goreng udang, perkedel kentang, kering tempe, ayam goreng, dan masih banyak lagi.
Semuanya tampak menggiurkan, Aira segera mengambilkan nasi kuning dengan berbagai lauk ke piring Keno dan piringnya sendiri. Begitu juga dengan Mira, ia melayani suaminya dengan baik.
"Ayo nak Keno, cicipi masakan Mama mertuamu ini," ucap Mira. Keno mengangguk, ia segera menyendokkan makanan ke mulutnya. Betapa senangnya ia ketika rasa nasi kuning itu sangatlah enak, tidak seperti nasi kuning yang pernah ia makan sebelumnya.
"Rasanya enak sekali, Mah. Benar- benar beda dengan nasi kuning di tempat lain," ujar Keno penuh semangat.
"Wahh terima kasih..."
"Iya masakanmu sangat enak, Mah. Aku akan makan banyak pagi ini," celetuk Andi.
"Ayo habiskan, jangan sampai ada sisa."
Aira tampaklah bingung. Saat ia mulai memakan nasi kuning buatan Mamanya itu, yang ia rasakan hanyalah hambar tak ada asin, manis, atau pun pedas. Bagaimana bisa Papa dan suaminya itu berkata jika nasi kuning buatan Mamanya itu enak?
"Mah, apa Mama lupa ngasih bumbu ke nasi kuning dan lauknya ini? Kenapa rasanya hambar?"
Semuanya meletakkan sendok dan berhenti mengunyah. Andi, Keno, dan Mira sangatlah terkejut dengan perkataan Aira.
"Bagaimana bisa rasanya hambar? Ini sangat enak," seru Andi.
"Kau ini ada- ada aja deh. Apa lidahmu sudah mati rasa?" tanya Keno.
"Ishh, tapi ini memang nggak ada rasanya. Udahlah, aku nggak mau sarapan." Aira mendorong piringnya.
"Aneh banget sih kau ini, nanti ke dokter ya," ledek Keno.
"Sayang, kalau kau nggak mau makan nasi kuningnya, biar Bi Lidia membuatkanmu makanan lain ya?" ucap Mira membelai rambut anaknya.
"Nggak mau, Mah. Aku minum susu saja." Aira langsung menyeruput susu yang berada di depannya.
"Mah, kenapa susunya hambar juga? Tidak manis !" celetuk Aira. Mira semakin heran dengan anaknya, ia mencoba susu milik anaknya itu.
"Ini manis ! Sepertinya lidahmu benar- benar mati rasa. Aneh sekali kau ini..."
"Mama kok marahin aku sih, susunya itu emang tidak manis," ucap Aira dengan suara yang meninggi.
"Aira, kamu ini kenapa? Mama tidak marahin kamu loh," ujar Andi.
Sedangkan Keno, ia tak memperdulikan istrinya. Ia asyik mengunyah nasi kuning buatan mertuanya itu.
"Hey, kau ! Cepat habiskan makananmu, ayo kita berangkat," bentak Aira kepada Keno. Rasanya ia tak ingin menatap makanan di depannya, jadi lebih baik untuk segera berangkat ke kantor.
"Kenapa kau malah membentakku, tunggulah sebentar aku belum nambah untuk yang ketiga kali."
***
"Lo kenapa lesu gitu sih, Ra?" tanya Mega.
"Belum sarapan, tadi Mama masak tapi lupa dibumbuin. Rasanya hambar."
"Kok bisa lupa sih. Ya udah, lo mau makan apa sekarang, kebetulan gue juga mau nyari sarapan nih."
"Beliin jus jeruk aja, Kak. Aku lagi malas ketemu nasi."
"Dasar aneh !"
Tak lama kemudian, Mega kembali dengan kantong kresek berisi bubur ayam untuk sarapan dan tak lupa dengan jus jeruk untuk Aira.
"Nih..." ujar Mega menyodorkan jus jeruk ke meja kerja Aira.
__ADS_1
"Kok minuman kemasan sih? Aku maunya jus jeruk yang fresh." Aira kesal karena Mega tidak membelikan jus jeruk yang ia mau.
"Pagi- pagi gini ya belum ada yang buka, Zubaedah. Ini kan sama aja jus jeruk, udahlah minum aja jangan banyak bicara."
"Kenapa nih..." Sandi yang baru saja masuk tampak kebingungan ketika melihat Aira dan istrinya seperti sedang ribut.
"Tuh istrinya Kak Sandi..."
"Kok lo nyalahin gue. Lo tuh..."
"Kan emang Kak Mega yang salah, kenapa jadi aku sih !"
"Tau gini gue nggak nawarin lo tadinya."
Sandi memijat pelipisnya karena pusing melihat kedua wanita itu terus saja berdebat dan saling menyalahkan.
"Stopppp !!!" teriak Sandi yang mampu membuat kedua wanita itu diam. Tapi, mereka masih saja saling menyenggol dan melototi satu sama lain.
"Sayang, kamu terusin makannya jangan ribut lagi. Dan Aira, apa yang kamu inginkan? Jangan pada ribut lagi dong !"
"Aku mau jus jeruk !"
"Itu yang di depan lo 'kan jus jeruk."
"Bukan ini, aku mau yang di depan kantor kita itu." Aira terus merengek seperti anak kecil.
"Belum buka dodol ! Ntar gue beliin, minum dulu apa yang ada."
***
Di kantornya, Keno kepikiran dengan Aira yang tadi tidak mau sarapan. Ia terus saja menghubungi Aira dan menyuruhnya untuk pergi sarapan dulu.
"Frido..." lirih Keno.
"Apa?" Frido tampak enggan untuk berbicara dengan bosnya itu karena akhir- ini Keno bukan membahas pekerjaan tapi membahas hal- hal yang tak penting. Seperti bagaimana cara berhubungan yang baik, merayu istri, bersikap romantis dengan istri, dan semua hal tentang istri.
"Lidahnya Aira mati rasa, bisakah kau menyuruh dokter ahli di Rumah Sakit Sanjaya untuk datang ke rumahku nanti sore?"
Sontak ucapan Keno itu membuat Frido tertawa terbahak- bahak, bersandar di kursi dan memegang perutnya.
"Memangnya habis makan apa anak tengil itu? Kenapa bisa mati rasa lidahnya?"
"Hey, kenapa kau mengatai istriku anak tengil."
"Karena dia menyebalkan !"
"Tapi, benar juga sih. Dia sedikit menyebalkan, tapi hanya sedikit nggak banyak," ujar Keno terkikik geli.
"Siapa yang menyebalkan?!" seru wanita yang tiba- tiba memasuki ruangan Keno membuat kedua lelaki itu terkejut.
.
.
.
.
.
Happy reading🙂
__ADS_1