
Senja mulai menampakkan jati dirinya. Semburat warna merah menghiasi langit Bali kala itu. Aksa yang belum pernah melihat senja seperti itu begitu takjub. Kepalanya terus mendongak, matanya menatap langit yang berwarna jingga kemerahan dan membuat kagum siapapun.
"Senja indah sekali, Mah, Pah," celetuknya terkagum- kagum.
"Jangan terus ditatap, nanti kamu ketagihan. Ngajak ke pantai papa terus." Keno menutup mata Aksa dengan kedua tangannya.
Aksa yang tak terima langsung menggigit tangan Papanya hingga mengaduh kesakitan. "Papa, kenapa nakal sekali. Nggak dikasih jatah sama Mama baru tau nanti!" ucap Aksa berkacak pinggang.
Aira yang mendengar perdebatan itu terkejut, apa yang anak kecil itu ketahui tentang jatah? Apa suaminya yang mengajari anaknya itu? Kalau pun iya, bersiaplah kau Keno tak akan diberi jatah malam ini.
"Tau apa kamu tentang jatah? Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Aira. Wanita itu menyejajarkan tubuhnya dengan anaknya dan menatapnya lekat.
Aksa hanya melirik Keno sebagai jawabannya. Aira pun langsung menatap Keno yang salah tingkah dan kelabakan.
"A- aku akan membelikan minuman dulu untuk kalian, tunggulah di sini. Aku akan kembali lagi," ucap Keno yang kemudian berlari terbirit- birit menuju ke warung untuk membeli minuman.
"Ishh...ishh...ishhh tak patut...." Aksa menggeleng- gelengkan kepalanya menatap sang papa yang ketakutan.
"Kamu pikir Papa saja yang akan dimarahi Mama?" Aira berdiri dan melipat tangannya di dada memandang anaknya yang sedang terkekeh geli melihat Keno.
"Hari ini Mama cantik ya, pakai topi pantai lebih cantik. Wahhh Mamanya siapa sih ini," ucap Aksa. Anak itu pandai sekali merayu sang Mama.
"Wahai bidadariku, aku sungguh menyayangimu. Kamu sangatlah cantik, kecantikanmu melebihi Ratu Cleopatra." Aksa berlutut sembari memegang tangan kanan Mamanya.
Tentu saja Aira tertawa gemas dibuatnya. Anaknya benar- benar menuruni sifat Keno.
"Wahhh, terima kasih atas pujiannya pangeran kecilku. Aku juga menyayangimu," balas Aira terkekeh.
__ADS_1
Keno sudah kembali dengan tiga cup jus jeruk di tangannya. Ia terheran- heran melihat Aksa yang bergaya seperti sedang melamar wanita.
"Kamu apain istriku?" tanya Keno sinis menatap anaknya.
"Dia bidadariku, iya kan, Mah?" Aksa langsung memeluk sang Mama.
Keno langsung menggendong anaknya supaya tak mendekat istrinya lagi. Ia mengajaknya berlari berkeliling pantai dengan Aira yang berjalan mengikuti mereka di belakang.
"Pah, turunin. Nanti kalau aku beneran terbang gimana," seru Aksa tergelak.
"Biar saja, bukankah kamu menyukainya?"
Cukup lelah karena berlarian ke sana kemari, Keno pun merebahkan tubuhnya dan Aksa di atas pasir. Mereka terdiam menatap langit senja yang masih terpancar indah sebelum ditelan kegelapan.
"Bangun dulu sayang, minumlah dulu kamu pasti lelah." Aira menyodorkan jus jeruk kepada suaminya dan duduk bersila di sampingnya.
"Lelah darimana? Bukannya tadi kamu yang digendong?"
"Iya tapi juga lelah, Mah. Aduhh..." Aksa berpura- pura kelelahan dan mengusap dahinya yang tak berkeringat itu.
Aira yang gemas pun langsung mendekat dan menggelitik perut Aksa. Hingga anak itu terpingkal- pingkal.
Pengunjung pantai yang melihat mereka pun sangatlah iri. Keluarga kecil yang sangat bahagia dan harmonis, siapapun menginginkannya. Tak heran jika senja kala itu yang menjadi pusat perhatian tak hanya langitnya tapi juga keluarga kecil itu.
"Pah, tolong fotoin aku sama mama dong." Aksa menyodorkan salah satu koleksi kamera Keno yang dibawa untuk berlibur.
"Kamu nggak ngajak papa?"
__ADS_1
Aksa menggeleng.
"Foto saja sendiri!"
Anak itu lalu kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat sang papa yang merajuk. Ia menangkup kedua pipi Keno dan menguyel- uyelnya dengan gemas.
"Papaku seperti anak kecil, uhhh menggemaskan sekali," celetuknya terkekeh geli.
Dalam posisi seperti itu, Aira langsung tanggap. Ia mengambil beberapa foto suami dan anaknya.
"Mah, aku kan belum siap? Kenapa difoto?" Aksa sedikit kesal dengan Mamanya yang tiba- tiba mengambil fotonya.
"Bagus kok sayang, kalian sangat lucu. Uwuu banget," ucap Aira memperlihatkan foto yang diambilnya tadi.
"Baiklah, karena Papa sudah foto sama Aksa, sekarang Aksa mau foto sama Mama doang. Ini Papa, cepat fotokan. Yang bagus, awas saja kalau nggak bagus." Aksa menyodorkan kamera dan ia mendekat ke Mamanya bergaya dan bersiap diambil gambarnya.
Keno hanya bisa pasrah, ia rela menjadi fotografer dadakan. Tak hanya satu atau dua tetapi puluhan dan itu tanpa Keno. Keno jadi kesal, ia lalu meminta tolong kepada seseorang untuk mengambil gambar mereka.
Keno menggendong Aksa dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Senyum bahagia terpancar indah dari ketiganya. Berbagai gaya telah dilakukan, Aksa yang bergantian mencium dan memeluk kedua orang tuanya, dan masih banyak gaya- gaya lain.
"Terima kasih," ucap Keno kepada orang yang telah memfotokan tadi, tak lupa memberikan sedikit tips karena Keno kasihan mungkin sudah tiga puluh menit orang itu menuruti kemauan mereka.
"Papa, thank you for taking me on holiday. I'm so happy," seru Aksa.
"You're welcome. There are still more days, let's have fun!" sahut Keno bersemangat.
"Thank you, Hubby," ucap Aira mengecup pipi Keno. Ia begitu senang karena jarang sekali bisa berlibur seperti ini, pekerjaan selalu saja menghalangi Keno tapi lelaki itu tetap bisa meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
Langit mulai menggelap, matahari telah kembali ke peraduannya. Sore telah tergantikan dengan sang malam. Bintang mulai muncul satu persatu menghiasi langit supaya tak kesepian.