Hello Presdir

Hello Presdir
Penolakan


__ADS_3

Pagi itu, Aira dan Keno sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia. Mereka telah berada di bandara Haneda.


"Apa kau sudah siap pulang?" tanya Keno.


"Kalau belum siap untuk apa aku kemari?"


"Ya siapa tahu kau hanya ingin melihat pesawat saja," jawab Keno terkikik geli.


"Kampungan banget !"


Keno duduk di dekat jendela, sedangkan Aira berada di sampingnya. Beberapa menit kemudian pesawat Take-Off dari Bandara Haneda.


"Sampai jumpa Jepang, aku akan kembali lagi," lirih Aira.


"Bersamaku untuk bulan madu," sahut Keno.


"Ih, jadi orang tuh jangan kepedean deh," timpal Aira kesal.


Mereka menikmati setiap pemandangan indah ciptaan Tuhan yang membawa mereka semakin tinggi.


"Aku mencintaimu," bisik Keno.


"Tapi aku tidak mencintaimu !"


"Ck, ku tarik ucapanku tadi. Menyesal aku mengatakannya," gerutu Keno langsung memalingkan wajahnya.


"Sudah tidak bisa ditarik lagi, haha," jawab Aira tertawa puas.


Aira menikmati perjalanan panjang itu dengan membaca buku yang ia bawa, sedangkan Keno asyik dengan dokumen- dokumen perusahaan. Walaupun pergi ke Jepang selama beberapa hari, ia tetap menyempatkan diri untuk bekerja. Sebegitu sibuknya kah seorang Presdir itu?


"Hufft, aku mengantuk sekali," ucap Aira.


"Mengantuk ya tidur, gitu aja susah," jawab Keno, ia masih kesal dengan Aira tadi.


"Dasar tidak peka, mendekatlah ! Aku ingin tidur di bahumu," Aira pun menyandarkan kepalanya di bahu Keno.


"Apa saat berangkat dulu kau juga begini dengan si tengik itu?"


"Tentu saja, bahu kak Alfa sangat nyaman sekali lebih nyaman dari milikmu. Ah, aku ingin tidur di bahunya lagi," jawab Aira, ia sengaja memanas- manasi Keno.


"Tidak boleh, kau hanya boleh tidur di bahuku. Kau milikku, bukan milik si tengik itu," Keno langsung mendekap erat tubuh Aira.


Setelah melewati 7 jam perjalanan, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat mulus di Bandara Soekarno hatta.


"Dimana Mama sama Papa mu? Sepertinya mereka belum datang," ucap Keno seraya melirik ke kanan dan ke kiri mencari Papa dan Mama Aira.


"Entahlah, mungkin mereka sedang dalam perjalanan."


Mereka berjalan menuju pintu keluar, di sana sudah ada Frido dan Niken berjalan menghampiri mereka.


"Mbak Niken," jerit Aira antusias saat bertemu dengan wanita hamil itu.


"Hai, Aira. Bagaimana liburanmu? Sepertinya menyenangkan, sayang aku tidak bisa liburan sepertimu karena lagi hamil besar," ucap Niken sendu.

__ADS_1


"Aku tidak liburan, mbak. Aku hanya mencari info- info untuk liputan saja, tidak bersenang- senang."


"Bagaimana baby? Kapan dia akan lahir?" tanya Aira seraya mengusap perut buncit Niken.


"Itu bukan urusanmu, jangan banyak bertanya kalau kau masih menyayangi nyawamu," jawab Frido ketus.


"Hey monyet hutan, aku bertanya dengan mbak Niken. Kenapa malah kau yang menjawab," sahut Aira melototkan matanya.


"Kenapa kau yang menjemputku? Dimana Mang Dadang? Aku tadi kan menyuruh Mang Dadang yang menjemput bukan kau," seru Keno kepada Frido.


"Apa kau lupa kalau semalam kau menyuruhku untuk menjemputmu. Lihatlah ponselmu."


Keno segera membuka ponselnya, dan ternyata ia memang mengirimkan pesan kepada Frido untuk menjemput. "Astaga, kenapa bisa salah kirim sih," lirih Keno menggelakkan tawa mereka.


"Hai, Aira. Kau sudah menunggu lama? Maaf ya tadi jalanannya macet," seru Alfa ngos-ngosan karena habis berlari.


Keno langsung menyembunyikan Aira di belakang tubuhnya, "Kenapa kau yang menjemput Aira?" tanyanya sinis.


"Karena Om Andi sendiri yang menyuruhku, katanya dia sedang ada urusan jadi aku yang menjemput Aira," jawab Alfa dengan senyum devil.


"Ah, tidak- tidak. Aira akan pulang bersamaku saja."


"Kasihan kak Alfa, dia sudah menyempatkan waktu untuk menjemputku. Masa iya dia pulang sendiri, aku akan pulang dengan kak Alfa saja." Aira tidak enak jika menolak Alfa, karena ia tahu Alfa sedang sibuk tapi masih menyempatkan dirinya untuk menjemput.


"Tidak, kau pulang bersamaku saja. Ayo !"


"Hey, kau dengar ucapan Aira tadi kan. Dia sendiri yang menginginkan pulang denganku."


"Denganku, ayo Aira naik ke mobilku." Alfa dan Keno terus berebut Aira, mereka menarik tangan wanita yang sedang kebingungan itu. Aira tidak enak jika menolak Alfa, tapi di sisi lain ia juga memikirkan perasaan Keno walaupun ia masih merasa jengkel dengan Presdir itu.


"Kalian diamlah, tanganku bisa putus nanti !" teriak Aira yang akhirnya mampu menghentikan dua lelaki tampan itu.


"Ken, biarkan aku pulang dengan kak Alfa ya. Kau berhati- hatilah, Ayo kak Alfa," Aira menggandeng lengan Alfa dan berjalan menuju mobil.


Alfa pun tampak senang karena Aira memilihnya, tak lupa ia memberikan senyum kemenangannya kepada Keno sebelum masuk ke mobil.


"Awas saja kau si tengik, aku akan memberikanmu pelajaran lagi."


Keno tampak kesal, wajahnya memerah menahan amarah. Sedangkan, Frido dan Niken menertawakannya karena telah ditolak mentah- mentah oleh Aira.


"Tidak menyangka, ternyata ada wanita yang berani menolakmu juga ya, haha." Frido dan Niken masih menertawakan Keno.


Awas kau Aira, gara- gara kau aku jadi ditertawakan sama asisten bodoh dan istrinya ini.


***


Malam harinya, Aira memilih untuk membeli nasi goreng di depan komplek perumahannya. Berjalan pelan seraya menikmati indahnya malam yang penuh bintang dan juga menikmati hembusan angin yang sangat dingin. Memandangi satu persatu rumah yang terang akan cahaya lampu.


"Loh, Kak Alfa mau kemana?" tanya Aira saat melihat Alfa keluar dari pintu gerbang rumahnya.


"Loh, Aira? Ngapain malam- malam jalan sendiri? Nyari mbak kunti?" Alfa kembali bertanya kepada Aira.


"Iya nih kak, dari tadi enggak nemu. Kakak tau nggak dia kemana?"

__ADS_1


Alfa terkekeh. "Aku serius nih kamu malah jawabnya bercanda."


"Mau cari makan kak, pengen nasi goreng depan komplek."


"Hm kebetulan, aku juga lagi cari makan. Barengan yok." Mereka pun berjalan beriringan menuju warung nasi goreng.


"Pak, nasi goreng seafoodnya dua ya sama teh angetnya dua," seru Aira kepada Pak Udin, penjual nasi goreng.


"Siap, Nak. Tumben nih kalian barengan."


"Hehe iya, kebetulan aja tadi." Aira pun menyusul Alfa duduk lesehan di tempat yang sudah tersedia.


Di sisi lain, Keno malam itu memutuskan untuk pergi ke rumah Aira. Namun, saat memasuki kompleks perumahan Aira, Ia mendapati wanita itu di warung nasi goreng bersama seorang pria. Yang tak lain adalah si tengik.


"Ngapain mereka makan berdua? Ck, menyebalkan sekali," gerutu Keno. Ia pun segera menepikan mobilnya dan langsung masuk menemui Aira.


"Aira, kenapa kau makan di sini tidak mengajakku," seru Keno dan langsung duduk di samping Aira membuat wanita itu tersentak akan kehadirannya yang tiba- tiba itu.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Alfa.


"Kenapa memangnya? Kau takut gara- gara ketahuan mengajak wanitaku kemari ya?"


"Ken, jangan-" ucap Aira terpotong karena Pak Udin mengantarkan nasi goreng ke hadapannya.


"Wahh, nasi goreng seafood. Terima kasih ya, Aira. Baru datang tapi sudah dipesankan nasi goreng," ucap Keno langsung menyendokkan nasi itu ke mulutnya.


"Apa seperti ini kelakuan Presdir Sanjaya Group? Cihh, memalukan sekali." ucap Alfa.


"Terserah aku dong, kalau kau tidak suka pergi saja dari sini." ucap Keno enteng.


"Kenooo ! Jangan seperti anak kecil," gertak Aira.


"Tak apa Aira, selera makanku sudah hilang. Aku akan pulang saja," ucap Alfa langsung berdiri.


"Aku juga akan segera pulang kak, tunggu aku."


"Hey, kau mau kemana? Temani aku dulu, jangan pergi," cegah Keno namun tetap pergi.


"Makan saja sendiri, habiskan tuh sama gerobaknya sekalian !" seru Aira lalu pergi meninggalkan warung nasi goreng itu.


Keno semakin kesal dibuatnya, ia pun berhenti menyantap nasi goreng lalu segera membayarnya dan mengikuti Aira.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya teman- teman hehe🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2